
"Dasar pemuda cabul, apakah orang tuamu tidak mengajarimu berbuat baik sehingga kamu ingin melakukan perbuatan tercela itu..?"
"Atau mungkin ibumu bukanlah wanita baik-baik dan ayahmu pasti laki-laki yang tidak bertanggung jawab untuk mendidikmu.." ucap wanita itu melecehkan.
Mendengar ucapan wanita itu, raden Sanjaya menjadi marah. Dia tidak perduli lagi bahwa yang dihadapinya adalah wanita.
"Cukup..!!! teriak raden Sanjaya sambil mengeluarkan energi mantram kalacakra.
Wanita itu dengan cepat menghentikan serangannya dan melompat ke belakang. Sekuruh tubuhnya tiba-tiba menjadi berat digerakkan, karena merasa tertekan dengan energi mantram kalacakra.
"Aku sudah cukup bersabar dengan semua ucapan anda. Jika aku tidak melihat anda adalah orang baik, sudah dari tadi aku membunuh kalian berdua."
"Semua umpatan anda tentangku dapat kuterima, aku tidak mempermasalahkan. Tapi anda telah menyinggung orang tuaku. Walaupun mereka telah meninggalkanku dari aku kecil, tapi mereka bukanlah orang yang seperti anda katakan.."
"Aku tidak dapat memaafkan siapapun yang telah menghina orang tuaku.." ucap raden Sanjaya marah
Raden Sanjaya maju ke arah mereka berdua. Keduanya merasa tubuhnya kaku dan sulit untuk digerakkan. Di saat yang kritis bagi mereka berdua, tiba-tiba dari arah lain melesat seseorang dengan kekuatan besar menyerang raden Sanjaya. Dengan sigap raden Sanjaya menahan serangan tersebut dengan tapak kalimasada..
"Ahh.. apa ini..? Tapak Kalimasada.." batin raden Sanjaya.
DHUAAAARRRR..
Ledakan terjadi saat kedua tapak itu bertemu.. Raden Sanjaya mundur beberapa langkah dan orang itu berdiri tegak di depan gadis dan wanita itu.
"Siapa kakek tua ini..? Dia juga menguasai tapak kalimasada. Kekuatannya pun sungguh luar biasa. Aku tidak mampu melihat tingkatannya, mungkin kah dia pada tingkat jiwa abadi..? batin Raden Sanjaya.
"Luar biasa, siapa pemuda ini..? Dia menguasai tapak kalimasada, tapi ada energi asing yang kurasakan saat aku beradu pukulan."
"Dia masih muda tapi sudah mencapai tingkat raga abadi tahap awal, dan sebentar lagi memasuki tahap menengah. Hanya dengan 50% kekuatannya, dia mampu menahan 30% kekuatanku pada tingkat jiwa abadi. Sungguh luar biasa.." batin kakek itu.
"Kakek.. maaf, siapakah kakek ini..? dan kenapa kakek menyerangku..?" tanya raden Sanjaya
__ADS_1
"Kamu masih muda, seharusnya kamulah yang memperkenalkan diri mu terlebih dahulu.." ucap kakek itu.
"Oh.. maaf kek, aku Jaka Pengalasan. Kembali, siapa kakek ini..? dan kenapa tiba-tiba menyerangku dan melindungi mereka..?" tanya raden Sanjaya.
"Hehehehe.. Jaka Pengalasan, nama yang unik. Namaku Sabdawala, orang biasa memanggilku Bagawan Sabdawala.."
"Mereka berdua adalah murid sekaligus juga cucuku.." ucap Bagawan Sabdawala.
"Bagawan Sabdawala, sepertinya aku pernah mendengar nama itu, tapi dimana..?" batin raden Sanjaya.
"Mengapa kau ingin membunuh mereka..? Dari awal kau hanya bermain-main saja sambil mencoba menjelaskan sesuatu pada mereka.." tanya bagawan Sabdawala.
"Mereka telah menghina ayah dan ibuku. Walaupun sejak kecil aku telah ditinggal mereka, tapi ayah dan ibuku adalah orang yang berbudi pekerti luhur tidak seperti kata mereka." jawab raden Sanjaya geram.
"Lalu mengapa kau mengejar Sekar Wulan sampai ke tempat ini..?" tanya bagawan Sabdawala.
"Ee... eeeee... itu.. itu karena..........." pangeran Sanjaya merasa malu menjelaskannya.
"Karena kamu akan memperkosaku kan..? Setelah kau intip aku yang sedang mandi, kau telah melihat tubuhku tanpa sehelai benangpun, pikiranmu pasti sangat kotor dan kau pasti ingin melakukan hal yang tidak senonoh denganku kan..? Jawab jujur, jangan aaa.. eeee... aaaa.. eee saja.." sahut Sekar Wulan marah.
Tak butuh waktu lama mereka telah berada di pendopo.
"Apa benar yang diucapkan Wulan anak muda..?" tanya begawan memulai pembicaraan.
"Tidak seperti yang dipikirkan oleh cucu kakek." Raden Sanjaya lalu menceritakan kejadian di sungai kedak dengan detail.
"Hhmmmm.. jadi begitu. Brarti ini hanya salah paham saja. Aku bisa melihat tidak ada niat jahat dari pemuda ini, Jaka Pengalasan. Apakah kamu mau memaafkan pemuda ini Wulan..?" tanya begawan kepada Sekar Wulan.
Sekar Wulan hanya terdiam, tertunduk dengan wajah memerah. Dia sangat malu tubuhnya telah dilihat oleh orang lain yang bukan suaminya. Dia merasa dirinya telah ternoda tapi Sekar Wulan tidak mampu mengucapkannya.
"Baiklah, masalah ini sudah aku anggap selesai. Ada hal lain yang ingin aku tanyakan kepada pemuda ini. Apakah kau belajar Kitab Kalimadada..?" tanya bagawan Sabdawala.
__ADS_1
Belum sempat raden Sanjaya menjawab, kuda raden Sanjaya tiba-tiba meringkik. Bagawan Sabdawala melihat ke arah kuda raden Sanjaya dan melihat sebilah pedang tergantung di pelana kuda tersebut. Secepat kilat Begawan Sabdawala mengangambil pedang itu dan kembali ke pendopo.
"Pedang Guntur Angin, sudah sangat lama aku tidak melihatnya. Darimana kau mendapatkan pedang ini..? Pedang ini dulu aku titipkan kepada salah seorang muridku, Sumali. Apa hubunganmu dengan Sumali..?" tanya bagawan Sabdawala.
"Kakek adalah guru dari Ki Sumali, kakekku..?" tanya raden Sanjaya terkejut.
"Ki Sumali lah yang telah memberikannya padaku saat aku berlatih pedang Kalimasada. Beliau bilang bahwa pedang ini ditinggalkan oleh gurunya untuk diberikan kepada ayahku, Pangeran Kusuma" jawab raden Sanjaya.
"Sanjaya.. kau Sanjaya bukan Jaka Pengalasan." ucap guru Sekar Wulan.
"Bagaimana anda tau bahwa namaku sebenarnya adalah Sanjaya..?" tanya raden Sanjaya bingung.
Tiba-tiba wanita itu memeluk raden Sanjaya sambil menangis..
"Sanjaya, kau putraku Sanjaya. Aku ibumu, Nawang Sari" ucap putri Nawang sambil memeluk raden Sanjaya.
"Tunggu.. tidak mungkin.. Ayah dan ibuku sudah lama meninggal, bagaimana anda adalah ibuku..?" tanya raden Sanjaya bingung.
"Ibu akan menceritakan kepadamu. Pada saat penyerangan itu, seorang dayang bernama Setyorini yang juga ibu dari Sekar Wulan yang telah menyelamatkan ibu. Kami memiliki wajah yang hampir sama, karena ibu Sekar Wulan adalah saudara sepupu ibu. Tengkorak Hitam mengira dia adalah ibu. Pada saat itu, ibu sedang menitipkanmu dengan beberapa barang pada pengawal ayahmu yaitu Ki Joyo agar kamu bisa selamat."
"Pada saat ibu akan kembali membantu ayahmu, dia dan bibimu telah terbunuh oleh tengkorak hitam. Lalu kakek buyutmu, begawan Sabdawala datang untuk menyelamatkan ibu dan Sekar Wulan yang saat itu bersembunyi di bawah kereta kuda. Jika kakek buyutmu ini tidak datang, mungkin ibu dan Wulan juga telah terbunuh oleh mereka." cerita putri Nawang.
"Aa... aan.. anda kakek buyutku..? Maafkan aku kek, aku tidak mengenali kakek.." ucap raden Sanjaya sambil meraih dan mencium tangan bagawan Sabdawala.
Bagawan Sabdawala lalu mengusap kepala raden Sanjaya sebagai ungkapan kasih sayangnya kepada raden Sanjaya.
"Eee... tapi ibu, kakek Sumali pernah mengatakan padaku, kombinasi jurus ayah dan ibu tidak akan terkalahkan, walaupun berhadapan dengan tingkat raga abadi tahap puncak sekalipun. Tapi kenapa ibu dan ayah dengan mudah dikalahkan oleh mereka..?" tanya raden Sanjaya.
"Ayah dan ibu telah diracun dengan Racun Penghancur Sukma. Ayah dan ibu merasa bahwa dalam titik cakra dan lautan jiwa kami terjadi masalah, setelah meminum minuman yang diberikan oleh pamanmu, pangeran Pranoto. Itulah yang menyebabkan kami tidak bisa mengeluarkan kemampuan kami, lalu ayahmu meminta ibu untuk menitipkanmu kepada Ki Joyo." jawab Putri Nawang
"Racun Penghancur Sukma..? Racun apakah itu bu..?" tanya raden Sanjaya.
__ADS_1
"Racun itu adalah racun yang menghancurkan titik cakra dan mengacaukan aliran tenaga dalam yang membuat seseorang akan kehilangan kekuatannya. Racun itu tidak mematikan, hanya membuat orang kehilangan kemampuannya. Bahkan orang dengan tingkat raga abadi tidak bisa mendeteksi racun itu." jawab bagawan Sabdawala.
"Lalu bagaimana kondisi ibu sekarang..? apakah racunnya sudah hilang..? jika racun itu masih ada di dalam tubuh ibu, aku akan mengeluarkannya dengan mantram kasampurnan.." ucap raden Sanjaya.