
Jarot mendatangi meja raden Sanjaya, mendekati tempat duduk Sekar Wulan. Mengetahui Jarot sedang menuju ke arahnya, Sekar Wulan tetap duduk dengan tenang tapi dia telah bersiap dengan semua kemungkinan yang akan terjadi.
"Sialan kau Jarot. Kau pikir aku buta..? Jika kita tidak menyingkirkan pemuda ini, bagaimana kita bisa menikmati gadis itu..? Badanmu saja yang besar, tapi otakmu kecil.." ucap Cungkring membalas ejekan Jarot.
"Ciiiihh.. terserah kau saja mau ngomong apa.. Aku akan mencoba menyentuh kulit mulus gadis ini dulu.." ucap Jarot sambil tangannya mencoba menyentuh pipi Sekar Wulan.
Mengetahui istrinya akan dilecehkan, raden Sanjaya berdiri dan menahan tangan Jarot. Raden Sanjaya mencengkeram dengan erat pergelangan tangan Jarot.
"Maaf kisanak, kami tidak mengenal kalian. Sebaiknya kalian menjaga sikap kalian.." ucap raden Sanjaya sambil menghempaskan tangan Jarot.
Jarot mundur beberapa langkah, sedangkan Cungkring dan delapan anak buah jarot langsung mengeluarkan senjata mereka dan bersiap menyerang raden Sanjaya dan Sekar Wulan. Mendapat perlawanan dari Raden Sanjaya, Jarot mengangkat goloknya dan bersiap menyerang Raden Sanjaya.
"Hentikan Jarot, atau kalian akan berhadapan dengan kami..!!" ucap salah satu orang yang berada di kelompok lainnya.
"Siapa kalian..? aku tidak mengenal kalian. Sebaiknya jangan ikut campur urusanku atau kalian akan menyesal..!!" ucap Jarot marah.
Pemimpin kelompok itupun dengan cepat ke depan Jarot. Melihat keributan diantara mereka, Raden Sanjaya mengajak istrinya untuk pindah ke meja lainnya dan duduk untuk melihat apa yang selanjutnya terjadi.
"Kakang.... apakah sebaiknya kita ............" Sekar Wulan tidak melanjutkan ucapannya setelah raden Sanjaya memberikan kode untuk diam.
"Kita lihat saja bagaimana permainan mereka diajeng. Aku merasa ada sesuatu yang ganjil.." ucap raden Sanjaya pelan.
Pemimpin kelompok itu menatap tajam ke arah Jarot lalu dia memperkenalkan dirinya.
"Maaf Jarot.. Namaku adalah Pandu Bergolo. Aku adalah pemimpin pasukan Lencana Besi dari kerajaan Banon Sewu. Jika kau membuat kekacauan disini, maka jangan salahkan aku jika aku berbuat kasar pada kelompokmu.." ucap Pandu Bergolo sambil menunjukkan lencana besinya.
"Aku tidak perduli siapa kau ini. Tapi jika kau berani ikut campur urusan kami, maka kami tidak akan sungkan lagi.." ucap Jarot sambil menghunus goloknya dan ditujukan ke wajah Pandu Bergolo.
"Tempat ini terlalu kecil buat kita. Kalau kau memang menginginkannya, ayo kita lanjutkan diluar.." ucap Pandu sambil melesat keluar dan diikuti oleh anak buahnya.
Jarot yang sudah tersulut emosinya pun mengikuti Pandu Borgolo keluar. Kedua kelompok itu saling berhadapan, sepuluh orang dari kelompok Jarot dan tujuh orang dari kelompok Lencana Besi. Cungkring dengan cakar besi di tangannya mulai menyerang Pandu Bergolo.
JBAAAAAAGGGG.. BRAAAAKKK...!!
Sebuah tendangan dari Pandu Bergolo mendarat di dada cungkring dan membuat cungkring terpental belasan meter hingga menabrak tumpukan kayu bakar di depan kedai tersebut.
__ADS_1
"Akan kubalas perbuatan kalian...!!" ucap Jarot sambil menyerang..
Cungkring bangkit dan bersama dengan anak buah Jarot ikut menyerang kelompok Lencana Besi. Pertarungan terjadi diantara kedua kelompok itu. Pandu Bergolo berhadapan dengan Jarot dan Cungkring begitu lincah menghindari dan menangkis serangan mereka.
SRIIIIINGG.. TAAAAAKK.. TRIIIIIINGG...
JDUUUUGGG.. DHUEEEEESSSSS...
Pukulan dan tendangan Pandu Bergolo telak mengenai perut dan wajah Jarot sehingga dia terpental beberapa meter dan jatuh tersungkur.
-->
Sementara itu, raden Sanjaya dan Sekar Wulan mengamati pertarungan mereka dari dalam kedai sambil menyantap makanan yang disuguhkan oleh pelayan.
"Pelayan, kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Apa yang sebenarnya terjadi..? Apakah karena dua kelompok itu yang menyebabkan keadaan seperti ini..?" tanya raden Sanjaya.
"Maaf tuan, tidak hanya desa Polosan yang menjadi seperti ini. Tapi desa lain pun sama hal nya dengan desa kami. Penyebabnya adalah pasukan Kapak Darah." jawab pelayan itu.
"Lalu siapakah kedua kelompok itu..?" tanya Sekar Wulan.
"Jika kau belum pernah melihat mereka, mengapa kau begitu takut saat pria yang bernama Jarot itu membentakmu..?" tanya Sekar Wulan.
"Aku hanya seorang pelayan kedai nona. Aku tidak memiliki ilmu kanuragan seperti mereka. Dan Jarot membawa sebuah kapak besar. Itulah yang membuat aku takut.." jawab pelayan.
"Lalu siapakah pasukan Kapak Darah itu..?" tanya raden Sanjaya.
"Maaf tuan, jika tuan ingin mengetahuinya, datanglah nanti malam ke rumahku. Rumahku ada ada di selatan desa dekat dengan sungai. Tuan ambillah jalan di sebelah balai desa, disana hanya ada satu gubuk yang menjadi rumahku.." ucap pelayan sambil undur diri.
-->
Mengetahui lawannya lebih hebat, Jarot memerintahkan anak buahnya untuk mundur. Mereka melarikan diri ke arah timur desa. Raden Sanjaya hanya tersenyum melihat pasukan Jarot lari tunggang langgang setelah kalah menghadapi pasukan Lencana Besi.
"Jangan dikejar...!! biarkan saja mereka. Aku yakin para pengacau itu tidak akan berani kembali kesini.. Sebaiknya kita kembali lagi ke kedai.." perintah Pandu Bergolo.
Pasukan lencana besi kembali ke tempat duduk mereka di dalam kedai. Pandu Bergolo menghampiri meja raden Sanjaya.
__ADS_1
"Terimakasih tuan, jika tidak ada pasukan tuan aku tidak tau bagaimana nasib kami.." ucap raden Sanjaya merendah.
"Tidak perlu sungkan kisanak... Perkenalkan, namaku Pandu Bergolo, pimpinan pasukan lencana besi kerajaan Banon Sewu.. Eeemmmmm... ngomong-ngomong siapakah kisanak ini dan bagaimana bisa sampai datang ke tempat ini..? Kemanakah tujuan kisanak..?" tanya Pandu Bergolo.
"Maaf tuan Pandu. Namaku Jaka Pengalasan. Aku berasal dari Negeri Kawi. Hanya kebetulan saja aku melewati tempat ini dan aku hanya ingin berkelana bersama istriku untuk mengubah nasib kami, karena di Negeri kami sedang terjadi wabah penyakit yang membuat kami pergi meninggalkan negeri kami.." jawab Raden Sanjaya berbohong.
"Oohhhh... jadi nona ini adalah istri anda..? Sepertinya anda adalah seorang pendekar. Bagaimana kalau anda ikut dengan kami untuk menjadi salah satu pasukan di kerajaan ini..?" ucap Pandu Bergolo.
"Terimakasih tuan. Tapi ijinkan aku berdiskusi dulu dengan istriku. Besok pagi aku akan memberikan jawaban kepada tuan.." jawab raden Sanjaya.
"Ooohhh.. tentu saja Jaka. Kalau seperti itu, nanti malam menginaplah di penginapan samping kedai ini. Pastinya kalian lelah setelah perjalanan jauh. Jika kau setuju, besok pagi kita berangkat bersama-sama menuju kota kerajaan.." ucap Pandu Bergolo lalu pergi bergabung dengan kelompoknya.
Raden Sanjaya dan Sekar Wulan pun menginap di penginapan yang berada di sebelah kedai makan. Hari berlalu dengan cepat, malam pun telah tiba.
"Diajeng, sebaiknya diajeng tunggulah disini. Aku akan pergi menemui pelayan itu. Jika Pandu Bergolo mencariku, katakan aku kelelahan dan telah tertidur.." ucap raden Sanjaya.
"Kakang, apakah kakang akan benar-benar ingin bergabung dengan Lencana Besi..? Aku merasa ada yang tidak beres dengan mereka.." ucap Sekar Wulan.
"Istriku memang mempunyai insting yang tajam. Aku pun merasakan hal yang sama. Kita ikuti dulu saja permainan mereka. Aku pergi dulu.." raden Sanjaya melesat setelah mencium kening istrinya.
Raden Sanjaya melompat dari satu atap ke atap lainnya. Sesampainya di atap balai desa, raden Sanjaya mendengar percakapan dari beberapa orang. Dengan hati-hati raden Sanjaya mencuri dengar percakapan mereka. Raden Sanjaya tersenyum setelah mengetahui bahwa Pandu Bergolo dan Jarot lah yang sedang berbincang.
"Hahahahaha... tidak percuma kita jauh-jauh datang ke desa ini. Sepertinya kita mendapat tangkapan yang istimewa. Pasukan Kapak Darah pasti akan memberikan hadiah yang besar untuk kita.." ucap Pandi Bergolo
"Sepertinya mereka adalah orang-orang bodoh yang dengan mudahnya kita tipu daya.. Tapi sungguh sayang, wanita yang bersama pemuda itu sungguh cantik.." ucap Jarot.
"Tenanglah, mereka bukan pendekar hebat. Nanti dalam perjalanan kita buat rencana lagi agar kita bisa bermain dengan istri pemuda itu. Mereka pasti akan menurut, bagaimanapun mereka sudah merasa berhutang budi pada kita.." jawab Pandu Bergolo.
"Ketua memang sungguh luar biasa. Tidak ada yang bisa menandingi ketua dalam tipu muslihat. Hahahaha.." ucap Cungkring.
Raden Sanjaya merasa geram dengan perbuatan mereka..
"Ternyata mereka adalah kaki tangan Pasukan Kapak Darah. Baik, akan kuiikuti dulu permainan kalian.." batin raden Sanjaya.
Raden Sanjaya pun melesat pergi meninggalkan mereka menuju rumah pelayan kedai untuk mengetahui rahasia dari Pasukan Kapak Darah.
__ADS_1