Sang Pendekar

Sang Pendekar
BAB XLI


__ADS_3

"Mantram Kasampurnan..? Apakah kau menguasainya..?" tanya bagawan Sabdawala.


"Benar kek, bahkan juga mantram Kalacakra.." jawab raden Sanjaya.


"Pantas saja aku merasakan energi lain dalam ilmu kalimasada yang kau kuasai. Bagaimana kau bisa menguasainya..?" tanya begawan Sabdawala.


Raden Sanjaya lalu menceritakan perjalanannya mulai dari menemukan Hastana Hyang Asa sampai menguasai mantram kalacakra dan mantram kasampurnan. Begawan Sabdawala hanya bisa takjub dengan kemampuan Raden Sanjaya.


"Begitulah kek ceritanya. Bahkan di Hastana Hyang Asa aku juga mendapatkan kitab pedang kilisuci dan pedang kalimasada." ucal raden Sanjaya sambil mengeluarkan benda itu.


"Pedang Kalimasada, sudah lama kita tidak bertemu. Sekarang cucuku yang menjadi pemilikmu.." ucap begawan Sabdawala sambil memegang pedang kalimasada.


"Benar tuan, sudah sangat lama kita tidak bertemu. Tapi sekarang raden Sanjaya adalah tuanku. Mohon tuan Sabdawala memaafkan aku." ucap roh pedang Kalimasada.


"Hahahaha.. aku mengerti. Dan aku merasa lega kamu mengakui cucuku sebagai tuanmu.." ucap begawan Sabdawala.


"Bagaimana kakek bisa berkomunikasi dengan roh pedang kalimasada..?" tanya raden Sanjaya.


"Dulu akulah pemilik pedang kalimasada sebelum kamu. Jadi aku bisa berkomunikasi dengan roh pedang kalimasada." ucap begawan Sabdawala.


"Tapi bukankah kakek menggunakan pedang Guntur Angin ini..? Dan bagaimana pedang itu bisa berada di Hastana Hyang Asa..?" tanya raden Sanjaya Penasaran.


"Hahahaha.. kau memang banyak bertanya. Aku akan menceritakannya nanti. Sekarang nikmatilah waktu bersama ibumu, kakek tidak akan menganggu.." ucap begawan Sabdawala sambil pergi meninggalkan raden Sanjaya.


"Ahhhhh.. benar, aku sampai lupa dengan ibu dan nona cantik yang berpikir aku akan ......." sebuah jeweran membuat raden Sanjaya tidak meneruskan kata-katanya.


"Dasar anak nakal, bisa-bisanya kamu melupakan ibu dan kamu berani menggoda Sekar Wulan..?" ucap putri Nawang sambil menjewer putranya.


"Aduh... aduh... aduh... Maaf ibu aku salah. Mohon ampuni putramu ini ibu. Aku tidak menggodanya bu, tapi aku masih kesal setelah dikatakan cabul olehnya.." ucap raden Sanjaya sambil melirik Sekar Wulan.


"Wulan, inilah putraku Sanjaya yang sering aku ceritakan padamu dulu." putri Nawang memperkenalkan.


Sekar Wulan tertunduk malu, wajahnya memerah. Dia sama sekali tidak menghiraukan ucapan gurunya, karena teringat akan kejadian di sungai kedak.

__ADS_1


"Aduh.. bagaimana ini..? ternyata pemuda ini adalah raden Sanjaya putra guruku. Orang yang selama ini aku harapkan untuk dapat bertemu, tapi aku telah mengatainya dengan kata kasar dan telah menuduh dia akan memperkosaku.." batin Sekar Wulan bingung.


Sekar Wulan pun teringat saat dia berusia enam tahun, saat putri Nawang Sari selalu bercerita tentang masa kecil raden Sanjaya yang selalu perhatian kepadanya.


"Guru.. benarkah raden Sanjaya selalu perhatian padaku..?" tanya Sekar Wulan kecil.


"Benar, kalian selalu bermain bersama, apapun yang kamu minta, dia selalu memberikannya. Bahkan dia tidak segan meminta kepadaku apa yang kamu minta karena putraku tidak bisa memberikannya."


"Dan jika ada yang menganggumu, putraku selalu membelamu, walaupun berakhir dengan luka memar di wajahnya. Sanjaya tidak pernah takut apapun kalau itu berhubungan denganmu." jawab putri Nawang.


"Guru.. jika nanti aku sudah besar, bolehkah aku menikah dengan raden Sanjaya..?" tanya Sekar Wulan kecil dengan polos.


"Hahahaha.. Bagaimana kamu bisa menikah dengan orang yang bahkan kamu tidak ingat..? Tapi jika memang kalian berjodoh, aku pasti mengijinkannya." ucap putri Nawang sambil mencubit hidung muridnya itu.


"Horeeee... guru memang benar-benar baik." ucap Sekar Wulan gembira.


"Tapi aku tidak tau bagaimana nasib putraku sekarang. Dimana dia dan bagaimana keadaannya.." sahut putri Nawang sedih.


"Tenanglah guru, saat aku sudah kuat nanti, aku berjanji akan mencari raden Sanjaya dan membawanya pulang kemari, dan aku akan langsung mengajaknya menikah. Aku akan memberikan banyak cucu kepada guru.. Hehehehe.." sahut Sekar Wulan kecil riang.


"Wulan.. ada apa denganmu..?" putri Nawang menyentuh pundak muridnya itu.


"Ehh.. eenggggg.. anu.. tidak ada apa-apa guru. Aku hanya merasa malu seorang pria telah melihat tubuhku tanpa sehelai benangpun.."


"Tapi aku tidak tau apa yang harus aku lakukan, ternyata yang telah melihatku adalah raden Sanjaya putra guru yang selama ini ........." Sekar Wulan tidak melanjutkan kata-katanya karena malu.


"Maafkan aku nona, ini benar-benar kesalahanku. Seharusnya aku segera meninggalkan tempat itu setelah tau ada nona Wulan disana yang sedang mandi."


"Tapi jujur aku akui, aku sangat terpesona dengan kecantikan nona Wulan. Ini pertama kalinya aku bertemu wanita yang sangat cantik dan mempesona sepertimu.." ucap raden Sanjaya dengan malu-malu.


"Guru..... guru lihat sendiri kan..? Guru mendengar sendiri kan..? Raden Sanjaya masih saja menggodaku setelah apa yang dilakukannya. Mungkin kakek salah menilai dia.." ucap Sekar Wulan lalu menggembungkan pipinya menutupi rasa malunya.


Raden Sanjaya menundukkan kepalanya. Sesaat terlintas apa yang dilihatnya di sungai kedak. Raden Sanjaya menutup matanya untuk menyembunyikan gejolak di dalam dirinya.

__ADS_1


"Kenapa..? raden pasti sedang membayangkan hal yang tidak senonoh kan..? Guru....... guru harus membelaku dan membalaskan rasa malu ku ini. Aku merasa diriku ternoda, terus laki-laki manakah yang mau menikah denganku nanti..?" rengek Sekar Wulan.


"Wulan.. guru berterimakasih padamu. Kau telah menepati satu janjimu, membawa putraku pulang ke tempat ini. Kurang satu lagi janjimu yang harus kau tepati. Kau masih ingat bukan..?" ucap putri Nawang lembut sambil membelai rambut muridnya itu.


Mendengar ucapan ibunya, raden Sanjaya menjadi bingung dan melihat mereka secara bergantian. Tapi tidak dengan Sekar Wulan. Dia menundukkan kepalanya, dia terkejut gurunya masih mengingat kejadian sepuluh tahun lalu.


"Apa maksud perkataan ibu..? apa janji yang dibuat oleh Sekar Wulan kepada ibuku. Kenapa jantungku berdebar-debar seperti ini.? batin raden Sanjaya.


"Tidak kusangka guru masih mengingatnya.."


"*Tapi a*ku kan perempuan..? Haruskah aku yang mengatakannya duluan..? Tapi aku telah berjanji pada guruku, dan apakah raden Sanjaya mau menerimanya..?" batin Sekar Wulan.


"Ada apa..? bukannya kamu akan memberikan gurumu ini cucu yang banyak..? Atau mungkin kamu lupa akan janjimu..?"


"Baiklah, mungkin muridku ini lupa apa yang dulu pernah diucapkannya. Aku akan membantu mu mengingatnya.." ucap putri Nawang.


"Ehh.. tidak.. tidak.. aku tidak lupa guru. Tapi eeeeeee... apakah harus aku yang mengucapkannya..? Sedangkan aku adalah perempuan. Bukankah seharusnya .........." Sekar Wulan tidak melanjutkan ucapannya. Putri Nawang Sari memotong ucapan Sekar Wulan.


"Janji tetaplah janji. Penuhi janjimu, selanjutnya biar guru yang mengurusnya.." sahut putri Nawang


Mendengar ucapan gurunya, Sekar Wulan menatap raden Sanjaya. Jantungnya berdegub kencang, saat raden Sanjaya juga menatapnya.


"Raden, kau telah melihat seluruh lekuk tubuhku. Kau harus menikahiku dan memberikan cucu yang banyak kepada guruku.." ucap Sekar Wulan tegas dengan wajah memerah.


Raden Sanjaya terkejut dengan ucapan Sekar Wulan yang memintanya menikahi Sekar Wulan. Pikirannya bergejolak, antara senang dan tidak percaya.


"Aa.. aaap.. aaapaa..? Menikah..? Memberikan cucu untuk ibu..? Apakah ini tidak terlalu terburu-buru..? Sedangkan kita belum saling mengenal."


"Apakah tidak sebaiknya kita saling mengenal dahulu..?" ucap raden Sanjaya gugup.


"Itu hanya alasan raden saja untuk menolakku kan..?. Apakah raden sudah memiliki kekasih sehingga raden menolakku..?" tanya Sekar Wulan.


"Nona Wulan salah paham. Aku tidak bermaksud begitu dan aku juga belum memiliki kekasih. Sudah kukatakan bahwa nona Wulan adalah gadis cantik pertama yang pernah aku lihat. Aku hanya ingin kita lebih saling mengenal, apalagi pertemuan pertama kita sangat tidak menyenangkan." jawab raden Sanjaya meyakinkan.

__ADS_1


"Alaaaahh.. gombal, aku tidak percaya ucapanmu. Jika memang begitu, berjanjilah bahwa raden hanya akan menikahiku.." sahut Sekar Wulan.


"Disaksikan empat penjuru mata angin dan seluruh isi dari siang dan malam, aku Sanjaya berjanji akan menikahi Sekar Wulan.." ucap raden Sanjaya.


__ADS_2