Sang Pendekar

Sang Pendekar
CH2.14 Permaisuri Mai


__ADS_3

Raden Sanjaya membawa Singoharjo dan sisa anak buahnya ke Desa Polosan untuk diinterogasi.


"Singoharjo, aku sedikit tau tentang pasukan kapak darah. Bukankah kau adalah mantan pengawal raja Dananjaya..? Karena sakit hatimu kepada Raja saat ini, pangeran Danayaksa, kalian menjadi seperti ini.." ucap Tejomantri.


"Lebih baik tebuslah kesalahanmu dengan membantu kami mengalahkan permaisuri Mai. Dia akan membawa negara Banon Sewu ini menuju kegelapan. Apakah kau menginginkan anak cucumu hidup dalam kegelapan..?" tanya raden Sanjaya.


"Apa yang bisa aku lakukan..? Jika kau bertanya tentang permaisuri Mai, akupun tidak tau banyak tentang dia. Tapi ada rumor yang berkembang, bahwa negeri Champa adalah negeri para siluman.." ucap Singoharjo.


"Apa maksudmu dengan negeri para siluman Singoharjo..?" tanya Tejomantri.


"Aku juga tidak yakin. Seorang bangsawan dari negeri Dimangkara yang mengatakannya kepadaku. Di daerah Dimangkara ada sebuah pulau bernama Champa, disana adalah kerajaan para Siluman. Pulau Champa tidak akan kalian temui di peta manapun karena terkadang pulau tersebut tidak kasat mata. Tapi kadang pulau itu tampak seperti sebuah kerajaan di tengah laut, dan orang yang melihatnya menamainya negeri Champa.." Singoharjo menjelaskan.


"Mungkinkah permaisuri Mai adalah siluman..? Lalu apakah kau tau bagaimana permaisuri Mai bisa berada di negeri Banon Sewu..?" tanya raden Sanjaya.


"Berita yang ku dengar, permaisuri Mai dibawa oleh patih Murjaya ke kerajaan Banon Sewu. Patih Murjaya menyelamatkan permaisuri Mai yang saat itu kapalnya hancur diterjang ombak. Saat itu patih Murjoyo dalam perjalanan pulang ke Kerajaan Banon Sewu setelah menghadiri acara pengangkatan putra Mahkota kerajaan Dimangkara. Setelah beberapa bulan dia berada di Istana, pangeran Danayaksa jatuh cinta kepadanya dan akhirnya menikah dengannya beberapa saat setelah dia naik tahta.." cerita Singoharjo.


"Apakah patih Murjaya adalah sekutu dari permaisuri Mai..?" tanya raden Sanjaya.


"Aku rasa tidak. Patih Murjaya adalah orang yang sangat loyal kepada raja Dananjaya dan pangeran Danayaksa.." ucap Tejomantri.


Mendengar informasi dari Singoharjo, Raden Sanjaya meminta Ki Sasongko mengirimkan pesan kepada Ki Woko untuk menemui patih Murjoyo dan meminta kepada Ki Harso untuk memeriksa penjara bawah tanah Istana, dimungkinkan anggota istana ada yang dihukum oleh permaisuri Mai.


"Maaf raden, desa ini cukup jauh dari kota kerajaan. Aku masih mempunyai tempat persembunyian di kota kerajaan yang tidak tergambar dalam peta yang kau bawa. Jika memang raden bersedia, tempat itu bisa raden pakai sebagai markas.." ucap Singoharjo.


"Apa yang kau rencanakan Singo..? Kau ini orang yang licik, kenapa kau tiba-tiba memberikan markasmu pada kami..? Apakah kau berniat mencelakakan kami..?" hardik Tejomantri.

__ADS_1


"Tejo... kau bisa melihat keadaanku sekarang, jika memang aku punya niatan buruk, apa yang bisa aku lakukan..? Jangankan raden Jaka, semutpun bisa mengalahkanku sekarang.. Hhhhehhh.... memang tidak mudah menjadi orang baik setelah melakukan kejahatan. Orang pasti tidak akan percaya bahwa kita sudah bertobat. Tapi semua aku kembalikan kepada raden Jaka apakah mau menerimanya atau tidak.." ucap Singoharjo.


"Baiklah... aku menerima niat baikmu. Mulai saat ini kau dan pasukanmu akan membantu kerajaan ini menghancurkan kekuatan hitam permaisuri Mai. Aku akan mengembalikan tenaga dalammu, tapi jika kau berkhianat maka dimensi jiwamu akan hancur.." ucap raden Sanjaya lalu menyalurkan kekuatan tenaga dalam dan memberikan rajah kalacakra di dimensi jiwa Singoharjo.


Walaupun hanya sedikit, Singoharjo merasakan kekuatannya kembali dan meningkat. Berulang kali dia mengucapkan terimakasih kepada raden Sanjaya dan memerintahkan anak buahnya untuk berjanji setia membantu raden Sanjaya.


"Tidak perlu berterimakasih.. Mulai sekarang aku umumkan pasukan kapak darah telah hancur dan seluruh anggotanya telah musnah. Sekarang kalian adalah pasukan Lencana Besi yang dipimpin oleh Pandu Bergolo dan Singoharjo sebagai wakil pemimpinnya.." ucap raden Sanjaya.


"Terimakasih raden. Mulai saat ini hidup kami adalah milih raden Jaka.. Lalu dimanakah Pandu Bergolo pimpinan kami..?" tanya Singoharjo.


"Kau akan bertemu setelah kita sampai di kota kerajaan.."


"Kakek, Ki Sasongko, Paman Tejomantri, siapkan semuanya. Besok pagi sebelum matahari terbit, kita berangkat ke kota kerajaan.." perintah raden Sanjaya.


Ki Mahesa dan Pandu Bergolo telah berhasil mendapatkan akses ke dalam perpustakaan perguruan istana Banon Sewu. Setelah beberapa hari mencari, Ki Mahesa berhasil menemukan lokasi tersimpannya kitab Bolo Srewu, yaitu berada di dalam ruangan khusus buku kuno. Ruangan yang selalu dijaga oleh pengurus perpustakaan, bahkan keluarga istanapun harus mendapatkam ijin khusus dari Ketua Perguruan untuk memasukinya.


"Bagaimana ini Ki..? Apakah Ki Mahesa memiliki ide..?" tanya Pandu Bergolo.


"Hanya dengan ijin dari Ketua Perguruan kita baru bisa memasuki ruangan tersebut. Kita tidak tau apakah ketua perguruan ada di pihak kita atau di pihak permaisuri Mai.." jawab Ki Mahesa.


"Aku akan mencari tau perihal itu. Ki Mahesa sebaiknya memikirkan cara untuk mempelajari cara lain jika ketua perguruan bukan di pihak kita.." ucap Pandu Bergolo lalu dia meninggalkan Ki Mahesa.


Ki Mahesa yang berada di ruang baca terua memikirkan jalan agar bisa masuk ke dalam ruang khusus buku kuno. Tidak lama setelah kepergian Pandu Berbolo, beberapa orang prajurit yang dipimpin oleh Senopati Lembupati, salah satu tangan kanan permaisuri Mai, memasuki ruang perpustakaan.


"Atas perintah permaisuri Mai, ruang perpustakaan ini harus dikosongkan. Kalian semua keluarlah dari perpustakaan." ucap Lembupati.

__ADS_1


"Atas dasar apa permaisuri Mai ingin tempat ini dikosongkan..? Apakah kalian sudah mendapatkan ijin dari Ketua Perguruan..?" ucap Ki Samba penunggu perpustakaan.


"Kami menjalankan perintah permaisuri Mai. Jika ada yang membangkang, maka dia akan dihukum.." jawab Lembupati.


"Ciiihhhh... Aku tidak peduli atas perintah siapa. Jangankan permaisuri, bahkan jika raja memerintah kami tidak akan meninggalkan tempat ini kecuali Ketua Perguruan yang memerintah.." ucap Ki Samba.


"Lancang....!! beraninya kau orang tua melawan perintah. Prajurit...!! Seret mereka semua keluar. Perpustakaan ini harus segera dikosongkan.." ucap Lembupati.


Suasana menjadi tegang. Antara kedua belah pihak saling bersikukuh pada pendirian mereka masing-masing. Pertarunganpun tidak dapat dielakkan. Beberapa prajurit terlihat menyerang Ki Samba, akan tetapi kanuragan ki Samba jauh diatas prajurit-prajurit itu.


TAAAAPPPP.. SYUUUUUUU.. TAAAAAAPP..


CTAAAAAKK.. BWEEEEEETTT.. JBUUUUGG.. JDHAAAAAAKKKK...


Dengan mudah Ki Samba menghindari dan menangkis serangan para prajurit itu, bahkan serangan balasan Ki Samba tidak mampu ditahan oleh prajurit. Beberapa prajurit jatuh dan tidak mampu melanjutkan pertarungan.


"Bodooooohhh...!! hanya dengan satu orang tua saja kalian tidak mampu menghadapinya..!" teriak Lembupati marah lalu merangsek maju menyerang Ki Samba.


WHUUUUUSSS.. BWEEETTTT.. BWEEEETTT


TAAAAPPP.. JDUUUUGG.. BRAAAAAKKK..


Serangan Lembupati dapat dihindari oleh Ki Samba. Lembupati menyerang semakin ganas dan akhirnya sebuah pukulan mendarat di perut Ki Samba. Ki Samba terpental beberapa meter sebelum akhirnya menabrak rak gulungan lontar yang ada di belakangnya. Ki Samba dengan segera berdiri dan bersiap untuk menghadapi serangan dari Lembupati.


Sementara itu, Ki Mahesa mengawasi pertempuran antara Ki Samba dan Lembupati yang berjalan seimbang. Keduanya saling bertukar jurus dan serangan. Hingga tiba-tiba seseorang datang untuk menghentikan pertempuran mereka. Seorang pria yang terlihat masih muda dengan kanuragan yang sangat tinggi itu memegang pundak Lembupati dan melemparnya keluar perpustakaan.

__ADS_1


__ADS_2