
Tanpa menghiraukan ada gurunya, Sekar Wulan melompat dan memeluk raden Sanjaya. Perasaan senang dan tenang bahwa raden Sanjaya bersedia menikahinya. Raden Sanjaya terkejut dengan sikap Sekar Wulan, tapi dia tak kuasa untuk menolak apa yang dilakukan Sekar Wulan..
"Ehhmm.. ehhmm.. apakah kalian menganggapku patung..?" sindir putri Nawang.
Sekar Wulan buru-buru melepas pelukannya kepada raden Sanjaya. Dia salah tingkah setelah mendengar sindiran dari gurunya..
"Eeeh... maafkan aku guru, aku benar-benar tidak dapat mengendalikan diriku. Aku terlalu senang karena raden Sanjaya mau bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya padaku.." ucap Sekar Wulan malu.
"Hhmmmmm.. bukannya kamu dari dulu mengidolakan putraku..? Sampai-sampai kau berjanji mengajaknya menikah bahkan kau sendiri lupa siapa Sanjaya.."
"Bukannya kau selalu menolak pemuda di desa ini dengan mengatakan bahwa kau adalah calon istri dari putraku..? sindir putri Nawang..
"Aaahhhhh.. guruuuuuu, kau membuatku malu...." ucap Sekar Wulan sambil berlari ke kamarnya..
"Wulan.. sampai kapan kau akan memanggilku guru..? Bukankah seharusnya sekarang kau memanggilku ibu..?" teriak putri Nawang Sari.
Wajah Sekar Wulan semakin memerah karena malu. Dia terus berlari dan masuk ke kamarnya. Raden Sanjaya hanya menatap kepergian Sekar Wulan dan bingung dengan apa yang baru saja dikatakan ibunya. Tapi dalam hatinya, raden Sanjaya merasa senang dan bahagia.
"Ternyata nona Wulan sangat dekat dengan ibuku, dan dia adalah perempuan yang baik. Semoga ini berkah buat ku dan ibu ku.." batin raden Sanjaya sambil tersenyum.
"Kenapa kau senyum-senyum sendiri..? Apakah kau merasa senang putraku..?" tanya putri Nawang..
"Eeh.. nngggggg.. anu..." raden Sanjaya salah tingkah..
"Oh iya aku hampir lupa, bagaimana dengan racun penghancur sukma yang ada di tubuhmu bu..?" tanya raden Sanjaya.
"Tenanglah, racun itu sudah tidak ada lagi di tubuhku. Semua berhasil dikeluarkan dari tubuhku.." jawab putri Nawang Sari.
__ADS_1
"Apakah kakek begawan yang melakukannya bu..?" tanya raden Sanjaya.
Belum sempat putri Nawang Sari menjawab, seorang perempuan yang berumur lima tahun lebih tua dari putri Nawang Sari keluar dari dalam rumah.
"Akulah yang telah mengeluarkan racun penghancur sukma dari tubuh ibu raden, tepatnya menawarkan racun itu.." ucap wanita itu.
"Oh.. Sanjaya, mungkin kamu lupa dengan bibi ini. Dialah selir Ling Lu, Ibu dari Pangeran Himawan." sahut putri Nawang.
"Selir Ling Lu..? kenapa Selir Ling bisa berada disini..? Apakah Selir Ling juga berada dalam rombongan kita waktu itu bu..?" tanya raden Sanjaya.
Selir Ling menceritakan semua kejadian yang terjadi di istana kerajaan Kawi, konspirasi pembunuhan pangeran Kusuma dan keluarganya hingga pangeran Pranoto yang memerintah Tengkorak Hitam memburu raden Sanjaya. Selir Ling juga mengungkapkan kekecewaannya kepada Putranya hingga dia melarikan diri sampai ke desa Gadungsari dan bertemu dengan putri Nawang Sari yang ternyata belum meninggal.
"Lagi-lagi paman Pranoto yang berada dibalik semua kejahatan ini.." batin Raden Sanjaya.
"Lalu bagaimana cara nyonya menawarkan racun di tubuh ibuku..?" tanya raden Sanjaya.
"Dan aku adalah seorang selir persembahan atau selir boyongan, seorang putri kerajaan yang harus menerima dijadikan selir oleh raja pemenang perang. Aku sangat tidak terima dengan kenyataan itu, aku merasa harga diriku hancur dengan status selir persembahan. Dan aku berniat menghancurkan raja Dewayana dan seluruh keturunannya."
"Sebagai seorang yang ahli membuat racun, aku membuat racun penghancur sukma, dengan racun itu raja Dewayana akan menjadi lemah dan seluruh keturunannya tidak dapat menjadi pendekar karena titik cakranya rusak oleh racun yang aku buat." Selir Ling menghentikan ceritanya.
"Lalu kenapa nyonya tidak jadi melakukannya..?" tanya raden Sanjaya.
"Sikap pangeran Kusuma yang membuatku tidak meneruskan rencanaku.." jawab Selir Ling sambil menghela nafas.
"Maksudnya..? tanya raden Sanjaya.
"Dengarkan dulu cerita selir Ling sampai selesai putraku.." sahut putri Nawang Sari.
__ADS_1
Raden Sanjaya terdiam, menunggu cerita dari Selir Ling. Selir Ling bernafas panjang sebelum melanjutkan ceritanya.
"Dari awal kedatanganku, disaat penghuni istana melihatku dengan pandangan merendahkan. Sudah menjadi suatu hal yang pasti, selir persembahan tidak pernah dianggap sebagai anggota istana, bahkan pelayan saja bisa dengan mudah mengacuhkannya. Tapi tidak dengan Pangeran Kusuma, dia sangat menghormatiku. Dia menganggapku bagian dari keluarga istana, dia akan menghukum siapapun yang berani mengacuhkan dan menghina ku, dan tidak ada sedikitpun sikap merendahkanku."
"Demikian juga dengan Putri Dyah Ayu, ibu dari Pangeran Kusuma, nenek raden. Walaupun telah diangkat menjadi permaisuri, putri Dyah Ayu memperlakukanku dengan sangat baik bahkan menjadikanku saudara angkatnya. Dan saat aku mengandung pangeran Himawan, pangeran Kusuma memperlakukanku seperti seorang ibu. Pada saat aku mengandung, aku sangat membenci kehamilanku, tapi pangeran Kusuma ingin sekali menanti kelahiran putraku."
"Kelahiran Himawan membuat pangeran Kusuma senang. Dia selalu memperlakukan Himawan seperti adik kandungnya. Siapapun yang berani mengganggunya, maka bisa dipastikan orang itu akan dihajar oleh pangeran Kusuma. Bahkan Himawan mendapatkan gelar pangeran atas permintaan pangeran Kusuma kepada Raja Dewayana. Jadi itulah alasan mengapa aku mengurungkan niat ku untuk meracuni raja Dewayana dan keluarganya." ucap Selir Ling.
"Hhmmmmm.. lalu bagaimana bisa ayah dan ibu ku sampai terkena racun itu..?" tanya raden Sanjaya seius..
"Itu adalah kesalahanku, ketidak mampuanku mendidik putraku Himawan. Jika raden ingin menghukumnya, aku pasrah. Aku tidak akan memohon pengampunan untuk nya." ucap Selir Ling.
"Sebentar nyonya, untuk menghukum siapa yang bersalah itu perkara mudah. Tapi apa hubungannya antara ayah yang terkena racun dengan Pangeran Himawan..?" tanya raden Sanjaya.
"Kesalahanku adalah tidak segera memusnahkan racun itu. Karena aku pikir tidak akan ada yang menyadari keberadaan racun itu selain aku dan putraku. Hingga pada suatu hari Pangeran Pranoto berhasil memprovokasi putraku dan membuat putraku menjadi sangat membenci pangeran Kusuma. Hingga pada suatu hari, tanpa sepengetahuanku dia menyerahkan racun itu kepada pangeran Pranoto." jawab selir Ling.
"Tapi bagaimana nyonya mengetahui bahwa putra nyonya menyerahkan kepada pangeran Pranoto dan digunakan meracuni ayah dan ibuku..?" tanya raden Sanjaya.
"Awalnya aku pun tidak mengetahui hingga tiba-tiba Himawan mendapat jabatan patih dalam dari pangeran Pranoto. Lalu setelah aku periksa ternyata racun itu telah hilang. Himawan mengakui semua perbuatannya hingga aku memilih meninggalkannya dan berlari sampai di desa ini." jawab Selir Ling Lu.
"Jadi seperti ini kebenarannya. Paman, apa salah ayah ku padamu..?" batin Raden Sanjaya.
"Sama seperti ibumu, aku diselamatkan oleh begawan Sabdawala dari perampok taring serigala dan bertemu dengan ibumu disini, sehingga aku bisa menetralisir racun di tubuh ibumu.." selir Ling melanjutkan.
Raden Sanjaya merasa tidak ada kebohongan sama sekali dari cerita Selir Ling. Justru dia merasa bersimpati kepadanya, dia rela meninggalkan istana dan memilih tinggal di desa terpencil untuk menghindari segala perbuatan angkara murka yang terjadi di dalam istana. Raden Sanjaya juga merasa salut terhadap keteguhan hati selir Ling, yang tidak dengan mudahnya melindungi kejahatan walaupun itu dilakukan oleh putranya sendiri.
"Aku pasti akan menghukum siapapun sesuai dengan apa yang dilakukannya. Nyonya tenang saja, aku pasti akan berlaku adil.." jawab raden Sanjaya.
__ADS_1