
Saat Ajisaka dan Putri Sekar Ayu memasuki rumah kakek tua itu, tercium bau rempah-rempah dan ramuan obat-obatan. Terdapat rak kayu dengan kendil-kendil kecil berjejer rapi. Rupanya kakek itu seorang tabib.
“Duduklah di amben itu, kakek akan merebus minuman dan ramuan obat. Aku tahu kamu sedang terluka anak muda. Luka dipunggungmu harus segera diobati, rembesan darahnya mengotori baju yang kau pakai,” ucap kakek tua itu.
Kakek tua itu keluar membawa wedang jahe dan minuman berwarna hijau yang baunya menyengat. Kakek tua itu memegang tangan Ajisaka menekan urat nadinya untuk mengetahui keadaannya.
“Kamu telah kehilangan banyak darah anak muda. Lukamu juga berair dan bernanah. Pedang yang mengenaimu ada racunnya. Untunglah tenaga dalammu cukup kuat racun itu belum sampai ke jantung”
Kakek itu mulai menyalurkan tenaga dalamnya di sekitar luka punggung Ajisaka yang memanjang dan menganga.
“Minumlah ramuan itu, tahan saja rasanya memang tidak enak tapi itu akan cepat mengeringkan luka di punggungmu.”
Putri Sekar Ayu kaget mendengar perkataan kakek tua itu. Dia tidak tahu selama berada di gua Ajisaka menahan rasa sakit dari pedang yang beracun. Ajisaka segera meminum ramuan yang rasanya pahit dan membakar kerongkongannya. Dia terbatuk-batuk menahan diri agar tidak memuntahkan ramuan itu. Putri Sekar Ayu segera mengusap-usap leher Ajisaka dan membersihkan sisa ramuan di bibirnya.
“Terima kasih banyak, kakek telah sudi menolong kami dan mengobati lukaku, kami berdua berhutang budi sama kakek...” ucap Ajisaka.
“Panggil saya Ki Probo, suatu kehormatan seorang putri raja sudi mampir ke gubug hamba,” ucap Ki Probo.
“Bagaimana kakek tahu kalau saya seorang putri raja?” tanya Putri Sekar Ayu.
Ki Probo hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan Putri Sekar Ayu.
----------
~ Di sebuah rumah yang tersembunyi dalam hutan belantara ~
“Maafkan kami... kami... telah kehilangan jejak Putri Sekar Ayu,” ucap salah seorang anak buah Paramarta.
“Dasar g*bl*k.... kalian beramai-ramai mengejar dua orang saja tidak becus\,” Paramarta sangat marah dan menendang anak buahnya yang melapor.
“Aku akan menyuruh seorang prajurit bayaran yang mahir mengendus jejak dan ilmu bela dirinya tinggi bernama Birowo, tetapi bayarannya sangat mahal,” ucap Patih Lembu Ireng.
__ADS_1
“Uang tidak menjadi masalah buatku yang penting Putri Sekar Ayu segera tertangkap,” Paramarta melempar kantong uang kepada Patih Lembu Ireng.
“Dimana terakhir kali kalian kehilangan jejak Putri Sekar Ayu?” tanya Patih Lembu Ireng.
“Di sebuah gua di seberang sungai di tengah hutan belantara.”
----------
Birowo mulai mencari jejak Putri Sekar Ayu. Prajurit itu mampu mengendus jejak seperti anjing.
Ajisaka dan Putri Sekar Ayu telah meninggalkan rumah Ki Probo saat ayam jantan mulai berkokok di pagi hari. Mereka telah melenceng jauh dari arah tujuan istana kerajaan Dananjaya.
Birowo telah mengendus jejak mereka, kudanya dipacu mengikuti kuda yang ditunggangi Ajisaka dan Putri Sekar Ayu. Kuda itu nampak kelelahan karena megangkut beban dua orang sekaligus. Saat kuda yang ditunggangi Ajisaka dan Putri Sekar Ayu terlihat di depan mata, Birowo melompat menerjang punggung Ajisaka hingga membuat tumbuhnya hampir terjungkal. Kuda yang ditunggangi Ajisaka mulai meringkik mendapat serangan tiba-tiba.
Bugh bugh bugh!
Ajisaka melompat dari kuda dan berusaha menjaga keseimbangannya.
Birowo segera melompat tinggi mengarahkan tendangan sekuat tenaga ke arah dada Ajisaka. Ajisaka dengan sigap menangkis serangan itu, kedua tangannya dengan cepat menjepit kaki Birowo dan memutarnya sekuat tenaga membuat tubuh Birowo ambruk jatuh ke tanah.
Birowo mengerang kesakitan, Ajisaka segera menarik kerah leher bajunya.
“Siapa yang menyuruhmu menyerangku, apakah kau salah satu gerombolan pemberontak Bajing Alas?” tanya Ajisaka.
“Aku bisa saja membunuhmu kalau kau diam saja.”
Birowo masih diam saja tidak menjawab. Ajisaka segera menyarangkan pukulan ke wajah Birowo berkali-kali. Setelah beberapa kali pukulan Birowo meminta ampun, nafasnya memburu menahan sakit dan tersengal-sengal.
“Ampun... ampun... tuan... aku hanya seorang prajurit bayaran. Gerombolan pemberontak Bajing Alas memberiku sekantong uang untuk mencari jejak Putri Sekar Ayu. Aku seharusnya segera melapor saat sudah menemukan jejak Putri Sekar Ayu. Tapi aku terlalu tamak ingin menangkap sendiri Putri Sekar Ayu agar mendapat lebih banyak uang,” ucap Birowo terbata-bata.
“Sekarang pergi dari sini menjauhlah dari gerombolan pemberontak Bajing Alas. Jangan melaporkan apapun pada mereka, tinggalkan kudamu di sini aku akan memakainya,” Ajisaka segera memacu kudanya menyusul Putri Sekar Ayu.
__ADS_1
----------
Ajisaka bisa menyusul kuda yang ditunggangi Putri Sekar Ayu. Mereka segera memacu kudanya ke arah istana kerajaan Dananjaya.
“Putri Sekar Ayu kita berhenti dulu di sini, di sebelah kanan ada jalan kecil menuju bukit yang tinggi dan jalannya terjal. Medan itu sangat sulit dilewati karena jalannya sempit dan terdapat jurang di kanan kirinya tetapi jika kita berhasil melewatinya itu akan mempercepat perjalanan kita menuju istana kerajaan Dananjaya. Selain itu kita lebih aman daripada melewati jalan yang biasa dilewati para pedagang,” ucap Ajisaka.
Putri Sekar Ayu dan Ajisaka mulai menaiki jalan setapak ke atas bukit. Mereka tidak berpapasan dengan orang atau rombongan pedagang. Jalan itu sangat sepi hanya terdengar suara dari kera-kera yang bergelantungan di atas pohon.
“Berhenti dulu, aku lapar,” ucap Putri Sekar Ayu tiba-tiba.
“Baiklah kita istirahat dulu sebentar di bawah pohon itu, biarkan kudanya di sini memakan rumput.”
“Untung saja Ki Probo membawakan kita makanan, di sini tidak ada binatang yang bisa diburu selain segerombolan kera.”
Mereka segera melanjutkan perjalanan setelah makan dan beristirahat. Putri Sekar Ayu memacu kudanya dengan gegabah di jalan berbatu yang sempit.
“Hati-hati Putri, jangan memacu kuda terlalu cepat,” Ajisaka berusa memperingatkan Putri Sekar Ayu.
Ada seekor ular kobra di tengah jalan. Kuda yang ditunggangi Putri Sekar Ayu kaget dan mengangkat kaki depannya. Putri Sekar Ayu hilang keseimbangan dan jatuh ke dalam jurang di sisi kanan.
Ajisaka segera turun dari kudanya dan melompat ke jurang untuk menyelamatkan Putri Sekar Ayu.
“Brukk” Ajisaka terjatuh ke dasar jurang.
“Akhh, aku gagal mendarat dengan sempurna. Luka di punggungku benar-benar sangat mengganggu, sakit sekali rasanya,” Ajisaka menahan rasa sakit di punggungnya.
Ajisaka segera berdiri. Aku harus segera menemukan Putri Sekar Ayu, untung saja jurang ini tidak terlalu dalam.
“Semoga Putri Sekar Ayu baik-baik saja, aku telah membuat kesalahan dengan melewati jalan ini. Dimana Putri Sekar Ayu kenapa dia tidak kelihatan seharusnya dia tidak terlalu jauh dari tempatku jatuh.”
“Ajisaka... tolong... aku di sini....”
__ADS_1
Ajisaka segera berlari menuju arah suara dan menemukan Putri Sekar Ayu terjatuh di sebelah akar pohon yang mencuat. Wajahnya pucat pasi, tapi tidak terdapat luka serius di tubuhnya.