
Ribuan tahun yang lalu, Sang Kala dan Sang Durga membuat masing-masing sebuah kitab sakti yang bernama Kitab Tapak Iblis dan Kitab Bolo Srewu. Kitab yang membuat keseimbangan dunia menjadi terganggu dan menyebabkan bencana tiada henti di muka bumi ini. Manusia yang mempelajari kitab itu akan menjadi beringas, dan akan dikuasai oleh nafsu angkara. Mengetahui hal itu Sang Hyang Guru menciptakan dua buah kitab sakti Kitab Brajamusti dan Kitab Lembu Sekilan, berharap agar kedua kitab itu dapat mengimbangi kitab yang dibuat oleh Kala dan Durga. Pertarungan, pertempuran dan pertumpahan darah terus terjadi antara pengamal kitab ciptaan Sang Hyang Guru dan pengamal kitab ciptaan Sang Kala dan Sang Durga Kali. Dari pertarungan yang panjang inilah awal terciptanya aliran putih dan aliran hitam. Aliran putih adalah aliran yang mempelajari kitab ciptaan Sang Hyang Guru sedangkan aliran hitam adalah aliran yang mempelajari kitab ciptaan Kala dan Durga yang selanjutnya akan menjadi pengikut Kala dan Durga.
Mengetahui dunia menjadi semakin rusak akibat pertarungan antara kedua kelompok ini, Sang Hyang Tunggal memberikan sasmita gaib kepada Sang Ismaya untuk menuliskan sebuah kitab yang akan menjadi raja dari keempat kitab yang sudah ada. Sasmita ghaib itu tidak hanya didengar oleh Sang Ismaya seorang, melainkan juga didengar oleh Dewi Kanastren, istri dari Sang Ismaya. Memiliki hati yang suci dan berbudi luhur tinggi membuat Dewi Kanastren mampu mendengar sasmita ghaib dari Sang Hyang Tunggal. Keduanya menuliskan sasmita ghaib yang didengarnya, akan tetapi karena memiliki pemahaman yang berbeda, Ismaya dan Dewi Kanastren menghasilkan kitab yang berbeda tapi keduanya saling melengkapi. Kitab Sakti yang ditulis oleh sang Ismaya dikenal dengan kitab Kalimasada, sedangkan kitab sakti yang ditulis dewi Kanastren disebut dengan Kitab Pedang Kilisuci. Kemunculan Sang Ismaya dan Dewi Kanastren dengan kedua kitab sakti itu dapat meredam pertempuran antara aliran putih dan aliran hitam. Meskipun kemunculan Sang Ismaya dan Dewi Kanastren sapat meredam pertempuran antara kedua aliran, akan tetapi watak angkara masih saja mendominasi di muka bumi. Hal ini disebabkan munculnya sifat sombong dari manusia yang merasa lebih hebat setelah berhasil menguasai salah satu dari empat kitab sakti.
Mengetahui keadaan yang seperti itu, Sang Hyang Wenang membuat mantram kalacakra dan mantram kasampurnan, dimana mantram kasampurnan adalah ilmu pamungkas dari segala ilmu yang ada. Ilmu kasampurnan hanya bisa didapat saat manusia berhasil mengenali dirinya dan dapat menaklukkan empat nafsu yang ada di dalam dirinya. Seseorang akan mendapatkan pemahaman yang sangat luas dan dalam, karena di dalam dirinya telah bersemayam Sang Hyang Asa, yang selalu memberikan petunjuk akan jalan kebenaran yang dilaluinya. Dengan mantram kalacakra dan mantram kasampurnan, seseorang dapat mengendalikan watak angkara yang ada di dalam dirinya maupun orang lain.
"Ternyata prasasti ini menceritakan awal permulaan terciptanya kitab kalimasada dan kitab pedang kilisuci, sekaligus awal permulaan bagaimana pertempuran panjang antara aliran putih dan hitam terjadi.." batin Raden Sanjaya.
Setelah melalui perjalanan yang sangat jauh, raden Sanjaya dan Sekar Wulan sampai di suatu tempat, sebuah sanggar pemujaan yang sudah tidak lagi digunakan. Disana terdapat sebuah prasasti yang berisi tentang cerita awal mula terciptanya kitab yang telah dikuasainya. Saat tangan raden Sanjaya menyentuh prasasti itu, kesadarannya dibawa ke menjelajah ke masa lampau dan melihat kejadian saat pertama kali kitab-kitab sakti itu dibuat.
"Ada apa kakang..? mengapa engkau melamun..?" tanya Sekar Wulan sambil memegang bahu suaminya
"Tidak diajeng, saat aku menyentuh batu prasasti ini, aku seperti melihat kejadian bagaimana kitab-kitab sakti itu diciptakan. Termasuk kitab yang telah kita pelajari.." jawab Raden Sanjaya.
"Pantas saja, beberapa kali aku memanggil, kakang tidak menjawabnya. Lihatlah ukiran di dinding itu kakang. Sepertinya sangat familiar sekali. Tergambar seorang laki-laki dengan membawa pedang, dan itu pedang kalimasada.." ucap Sekar Wulan.
"Hhmmmmmm.. benar. Dan yang disampingnya itu, tergambar seorang wanita dengan pedang yang mirip dengan pedang Es.." sahut raden Sanjaya.
Keduanya melihat dengan seksama lukisan yang ada di dinding di belakang prasasti itu. Pertanyaan tentang siapakah yang telukis dalam dinding itu muncul di pikiran mereka berdua.
"Kakang, apakah kakang tidak merasakan sesuatu yang aneh..? Sanggar sebesar ini tidak lagi digunakan dan tempat ini sepertinya sudah lama ditinggalkan oleh penduduk. Apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini..?" tanya Sekar Wulan.
__ADS_1
"Aku juga tidak tau. Sebaiknya kita pergi ke desa terdekat dan mencari tau apa yang sebenarnya terjadi disini.." jawab Raden Sanjaya.
Setelah merasa cukup mengamati sanggar pamujan yang terbengkalai itupun mereka melanjutkan perjalanan menuju desa terdekat. Terlihat sebuah tugu perbatasan desa bertuliskan Desa Polosan. Suasana desa tampak sepi, penduduk desa Polosan kebanyakan berprofesi sebagai petani. Beberapa penduduk desa yang berada sedang berada di luar rumah, langsung masuk ke dalam rumah mereka dan menutup pintu rumah mereka. Mereka mengintip raden Sanjaya dan Sekar Wulan yang sedang berjalan pelan di atas kudanya.
"Sepertinya penduduk disini ketakutan saat melihat orang asing. Ada apa sebenarnya sampai mereka ketakutan seperti ini..?" batin Raden Sanjaya.
"Kakang.... Sepertinya penduduk desa ini sangat ketakutan dengan kehadiran kita. Apakah karena kita terlihat menakutkan bagi mereka..?" tanya Sekar Wulan.
"Aku juga tidak tau diajeng. Mungkin mereka mengira kita adalah penjahat. Penduduk melihat penampilan kita yang membawa senjata.. Sebaiknya kita mencari kedai atau rumah makan untuk sedikit mendapat informasi apa yang sedang terjadi.." jawab raden Sanjaya.
"Benar kakang.. Pasti terjadi sesuatu di desa ini.." ucap Sekar Wulan.
"Maa.. maaf tuan. Tuan dan nona ingin memesan apa..? Kami menyediakan aneka makanan dari daging ayam dan aneka sayuran.." tanya pelayan.
"Berikan kami dua porsi ayam bakar dan dua porsi sayuran paman.." ucap raden Sanjaya.
"Lalu apakah tuan ingin memesan minuman..? kami menyediakan arak dan tuak terbaik di kerajaan Banon Sewu ini.." tanya pelayan.
"Tidak paman, sediakan saja air putih dan wedang uwuh kalau ada.. Eehh.. paman, bolehkah aku bertanya..?" tanya raden Sanjaya.
"Eeee.. eehhmmm.. asal tuan tidak menanyakan perihal pasukan kapak darah, aku pasti akan menjawabnya.." ucap pelayan lirih.
__ADS_1
"Hhmmmmm.. pasukan kapak darah.. Siapakah mereka..?" batin raden Sanjaya.
"Oh... tidak paman. Aku hanya ingin tau kenapa saat aku memasuki desa Polosan ini, semua penduduk terlihat takut dan bersembunyi di dalam rumah mereka masing-masing..? Lalu dapatkah paman memberikan penjelasan singkat tentang siapa pasukan kapak darah..?" tanya raden Sanjaya.
Salah satu kelompok yang ada di dalam kedai mendadak berteriak kepada pelayan dan membuat pelayan itu ketakutan.
"Pelayan....!! Jika pemuda itu sudah memesan makanannya, segera buatkan. Kau jangan terlalu banyak bicara..!!" hardik pria gendut dengan bekas goresan di wajahnya.
Belum sempat menjawab pertanyaan raden Sanjaya, dengan wajah ketakutan, pelayan kedai itu segera pergi menyiapkan makanan yang dipesan raden Sanjaya. Lalu seorang dari kelompok itu, pria dengan perawakan kurus mendekati meja raden Sanjaya dan Sekar Wulan.
"Hai anak muda, sepertinya kamu orang baru disini. Darimana asalmu dan apa tujuanmu datang ke tempat ini..?" tanya pria kurus itu.
"Seharusnya kisanak lebih dulu memperkenalkan diri sebelum bertanya tentang identitas seseorang. Jadi aku tidak akan menjawab pertanyaanmu sebelum kisanak memperkenalkan diri terlebih dahulu.." jawab raden Sanjaya tenang.
"Hahahahahha... Sungguh besar nyalimu anak muda. Kau belum layak tau siapa aku.. Hai Jarot....!! ada pemuda yang sudah bosan hidup. Dia tidak ingin mengatakan siapa dirinya sebelum dia tau siapa aku..!!" ucap pria kurus itu kepada temannya.
Seorang pria gendut yang telah membentak pelayan kedai itu pun berdiri sambil memanggul sebuah golok yang besar. Dialah Jarot yang telah dipanggil oleh pria kurus itu.
"Cungkring....!! apa matamu sudah buta..? Mengapa kau berurusan dengan pemuda yang tidak tau diri ini, sedangkam di depannya ada wanita yang sangat cantik..!! Lihatlah parasnya begitu cantik dan kulitnya sangat mulus tanpa cacat.." ucap Jarot sambil menatap Sekar Wulan.
Melihat situasi memanas, kelompok lainnya terlihat sedang bersiap-siap jika terjadi sesuatu nantinya.
__ADS_1