
Raden Sanjaya kembali ke penginapan. Sang istri menyambutnya dengan perasaan lega.
"Ada apa diajeng..? Apakah terjadi sesuatu saat aku pergi..?" tanya raden Sanjaya berbisik.
"Pandu Bergolo mencarimu kakang. Sepertinya dia memang mempunyai niat tidak baik pada kita. Dia berani memintaku menemani dia minum, padahal jelas-jelas aku katakan bahwa kakang sedang tidur. Besok pagi dia menunggu kita untuk pergi ke kota kerajaan.." ucap Sekar Wulan geram.
"Hhmmmmm.. tenanglah diajeng. Besok akan kita buat dia menyesali perbuatannya. Aku sudah mendapat banyak informasi, dan lagi-lagi kekuatan hitam yang berada di balik ini semua. Kita harus menyelesaikannya, sudah menjadi kewajiban kita untuk membasmi angkara murka di bumi ini.." ucap raden Sanjaya.
Raden Sanjaya lalu menceritakan semua informasi yang didapatkanya kepada Sekar Wulan. Tampak perasaan geram terlukis di wajah Sekar Wulan.
"Apakah semua ini ulah penguasa kegelapan..? Bukankah dia telah kalah saat pertempuran di kerajaan Kawi..?" tanya Sekar Wulan.
"Bukan.... Durga, ibu dari penguasa kegelapanlah yang ada dibalik semua ini. Durga adalah ratu dari segala tipu muslihat, dan juga penguasa sisi gelap dunia.." jawab raden Sanjaya.
"Lalu apa rencana kakang..? Apakah kakang akan mengikuti Pandu Bergolo ke kota kerajaan..?" tanya Sekar Wulan.
"Mereka tidak akan membawa kita ke kota kerajaan. Aku yakin di sekitar desa ini ada markas pasukan Kapak Darah. Sampai kita menemukan markas mereka, kita ikuti saja permainan Pandu Bergolo. Yang jelas, besok mereka akan merencanakan sesuatu hal yang buruk. Aku yakin diajeng tau apa yang harus diajeng lakukan nanti.." ucap raden Sanjaya.
Malam berlalu dengan cepat, pagi hari pun datang. Pandu Bergolo sudah menunggu raden Sanjaya dan Sekar Wulan di depan penginapan. Anak buah Pandu Bergolo juga telah bersiap dengan rencana mereka.
"Diajeng minumlah ini dulu. Ini ramuan seribu racun yang diberikan oleh bibi Ling..." ucap raden Sanjaya.
"Baik kakang.." ucap Sekar Wulan lalu meminum ramuan yang diberikan suaminya.
Tak lama raden Sanjaya telah menemui Pandu Bergolo di depan penginapan. Dengan mengendarai kudanya, raden Sanjaya dan Sekar Wulan mengikuti Pandu Bergolo dan anak buahnya.
"Tuan Pandu, dimana anak buahmu yang lainnya..? Sepertinya kemaren anda membawa enam anak buah, tapi sekarang hanya tinggal dua saja.." tanya Raden Sanjaya.
"Oohhhhh... Eeehhmmm.. mereka kembali ke kota kerajaan lebih dulu untuk mengurus segala keperluan mu nanti disana. Setelah bergabung dengan pasukan kerajaan, hidupmu dan istrimu tidak akan merasa kekurangan.." jawab Pandu Bergolo.
"Oohhhhh.. ternyata tuan Pandu orang yang teliti dan perhatian. Aku bahkan belum menyatakan setuju untuk bergabung, tapi tuan Pandu telah mempersiapkan semuanya. Aku sungguh sangat beruntung bertemu dengan anda.." jawab raden Sanjaya.
"Sudahlah... tidak perlu merasa sungkan. Aku hanya merasa perlu membantumu saja. Aku yakin setelah sampai kota kerajaan kamu akan setuju untuk bergabung dengan pasukan kerajaan.." ucap Pandu Bergolo.
Mereka pun terus berjalan, sampai mereka tiba di sebuah jalan diantara tebing. Jalan yang menghubungkan desa Polosan dengan Wilayah Pegunungan Maskumambang. Setelah sampai di tengah-tengah perjalanan, Jarot bersama anak buahnya menghadang perjalanan mereka.
"Hahahahaha.... kita bertemu lagi anak muda. Apakah kau masih ingat padaku..?" tanya Jarot.
"Tuan Pandu, kalau tidak salah dia adalah laki-laki yang bertarung dengan anda di depan kedai makan kemarin.. Kalau tidak salah namanya Jarot. Ada apa mereka menghadang kita..?" tanya raden Sanjaya.
__ADS_1
"Tenanglah Jaka. Aku akan mengurus masalah ini.." ucap Pandu Bergolo sambil turun dari kuda dan menghampiri Jarot.
"Hahahaha... bagaimana tuan Pandu, apakah rencana tetap dijalankan..? Aku sudah tidak sabar lagi bermain dengan gadis itu.." ucap Jarot.
"Tenanglah Jarot, asal kita bisa melumpuhkan pemuda itu dan menyerahkannya kepada tuan Pragoto, maka wanita itu akan menjadi milik kita.." ucap Pandu Bergolo sambil berdiri samping Jarot.
Dengan sekali tanda dari Pandu Bergolo, Cungkring dan empat orang anak buah lencana besi menghadang raden Sanjaya dari belakang.
"Diajeng... bersiaplah. Sepertinya kita akan mendapat tangkapan besar hari ini.." ucap raden Sanjaya.
"Aku sudah menduga dari awal bahwa kalian bersekongkol. Pertarungan kalian kemarin, terlihat seperti anak-anak yang sedang bermain. Dan sebenarnya aku sudah tau tujuan kalian." ucap raden Sanjaya.
"Hahahahaha..... Jika kau sudah mengetahui tujuan kami, mengapa kau masih saja mengikuti ku..?" tanya Pandu Bergolo.
"Karena aku pun juga punya rencana buat kalian.." jawab raden Sanjaya singkat.
"Sudahlah.... jangan kebanyakan omong. Cungkring habisi pemuda itu, tapi jangan lukai wanitanya.." perintah Jarot.
Cungkring dengan cakar besi beracunnya maju menyerang raden Sanjaya diikuti oleh anak buah Jarot dan anggota lencana besi. Dengan sigap, raden Sanjaya menghindari serangan Cungkring. Sekar Wulanpun membantu suaminya yang sedang diserang oleh Cungkring dan teman-temannya.
TAAAAAKK.. TAAAPPP... WHIIIIINGGG..
JBUUUUUUUGG.. DHUUUUUUGG.. DHEEEEESSSS...
Hanya berjalan beberapa menit, pedang es milik Sekar Wulan memisahkan tangan cungkring dari badannya. Tendangan dan pukulan raden Sanjaya pun berhasil mengenai perut dan dada anggota Lencana Besi yang membuat mereka terpental belasan meter dan tidak dapat melanjutkan pertarungan.
"Aaaaaarrrgggg.....!!!! tanganku.... wanita sialan itu telah memotong tanganku... Aaarrrgghhh...!!" teriak Cungkring kesakitan.
Mengetahui tangan Cungkring terpotong, Jarot menjadi sangat marah. Dia merangsek maju sambil menyerang Sekar Wulan dengan goloknya. Sementara itu Pandu Bergolo menyerang raden Sanjaya dengan pedangnya.
"Keparat kau.....!! Akan kubalas perbuatanmu wanita ja***g...!! teriak Jarot sambil mengayunkan goloknya.
TTRAAAAANGG... CTAAAAANGG... JDUUUUUGG..
Sekar Wulan menangkis serangan golok Jarot dengan pedang es miliknya dan tendangan Sekar Wulan di perut Jarot membuat Jarot mundur beberapa langkah. Jarot kembali maju menyerang Sekar Wulan. Dengan lincah, Sekar Wulan menghindari serangan Jarot dengan golok beratnya. Walau menggunakan golok yang besar dan berat, Jarot mampu menyerang dengan cepat dan gesit.
TRAAAAANGGG....
Sekar Wulan mundur beberapa langkah setelah menahan tebasan golok Jarot..
__ADS_1
"Diajeng.... hati-hati. Jangan remehkan lawanmu.." ucap raden Sanjaya.
"Kemana kau melihat Jaka... Lawanmu ada disini.." ucap Pandu Bergolo sambil menyerang raden Sanjaya.
SEEEEETTT.. TAAAAAPPP.... CTAAAAAKK
JDUUUUGGG.. DHEEEEESSSSH...
Raden Sanjaya dengan gesit menangkis dan menghindari serangan Pandu Bergolo. Sebagai gantinya tendangan raden Sanjaya mengenai perut dan dada Pandu Bergolo dan membuatnya jatuh tersungkur. Pandu Bergolo kembali menyerang raden Sanjaya dengan pedangnya. Serangan Pandu Bergolo dihadapi raden Sanjaya dengan tangan kosong. Pertarungan mereka sudah berjalan puluhan menit. Ratusan jurus telah mereka keluarkan. Hingga Jarot kembali mengeluarkan jurusnya..
"Jurus Tebasan Mauutt...!! teriak Jarot..
Mengetahui serangan lawannya penuh dengan tenaga dalam, Sekar Wulan mengeluarkan jurusnya..
"Energi Pedang Kilisuci..." batin Sekar Wulan.
DHAAAAAARRRRR... CLAAAAAANGGGG..
Golok besar milik Jarot patah setelah berbenturan dengan pedang es. Jarotpun terpental belasan meter dan memuntahkan darah segar. Karena telah dikuasai oleh amarah, Jarot kembali bangkit dan menyerang Sekar Wulan dengan jurus andalannya.
"Tapak Besiiii....!!" teriak Jarot sambil menyerang Sekar Wulan dengan tapaknya.
Segera Sekar Wulan dengan sigap melawan pukulan Jarot dengan jurus andalannya juga.
"Tinju Dewi Kilisuci..." batin Sekar Wulan.
BLAAAAARRRR.. KRAAAAAAKKK...
Jarot kembali terpental belasan meter. Darah kembali keluar dari mulut dan hidung Jarot, menandakan dia terluka dalam. Tulang tangan Jarotpun hancur dan membuat Jarot berteriak kesakitan..
"Aaaaargghh... sakiiiitt...!!! Tanganku sangat sakit....!!" teriak Jarot.
Sekar Wulan berjalan mendekati Jarot.
"Bukankah kau ingin bersenang-senang denganku..? Itulah balasan dari orang yang punya niat tidak baik terhadap istri orang.." ucap Sekar Wulan.
"Kau wanita sialan... Ternyata kau menyembunyikan kekuatanmu.. Dasar wanita ja......" Jarot tidak melanjutkan kata-katanya setelah tendangan Sekar Wulan mendarat tepat di mulutnya.
"Diajeng..... jangan....!! Kau bisa membunuhnya kalau seperti itu. Tenangkan dirimu, duduklah di atas kuda..." ucap raden Sanjaya.
__ADS_1
Ucapan raden Sanjaya menyadarkan Sekar Wulan dari amarahnya. Dengan segera dia mengikuti ucapan suaminya untuk duduk diatas kudanya. Tidak lama setelah kekalahan Jarot, Raden Sanjaya juga berhasil melumpuhkan Pandu Bergolo.