
TAAPPPP.. BWEEEEP.. TAAAAAAKKK..
Serangan Surojoyo berhasil ditangkis dan dihindari oleh Wongso. Walaupun berusia lebih muda, Wongso mempunyai kanuragan yang tinggi sehingga bisa mengimbangi jurus-jurus yang dikeluarkan oleh Surojoyo. Sedangkan Ki Mahesa tidak memberikan kesempatan kepada Lembupati untuk merebut kitab Bolo Srewu dari tangannya. Ki Mahesa terus menyerang Lembupati akan tetapi serangan Ki Mahesa masih dapat dihindari oleh Lembupati.
"Ternyata orang ini memiliki kanuragan yang cukup tinggi. Aku harus hati-hati, jagan sampai aku masuk dalam permainannya. Yang paling utama adalah menyelamatkan kitab ini agar jangan sampai jatuh ke tangan permaisuri Mai.." batin Ki Mahesa.
"Kurang ajar...!! ternyata orang ini hebat juga dan aku yakin dia belum mengeluarkan kemampuannya.." batin Lembupati.
BWEEEETTT.. WHUSSSS.. CTAAAAKK..
BWEEETT.. JBUUGGG..
JDUUUUUGGGG.. BRAAAAAKKKK...
Serangan Lembupati dengan mudah ditangkis oleh ki Mahesa. Karena terlalu bersemangat menyerang, Lembupati melihat ada celah untuk menyerang. Pukulan Lembupati mendarat di perut Ki Mahesa akan tetapi dengan cepat Ki Mahesa mengarahkan kakinya ke dada Lembupati, dan membuat keduanya terpental belasan meter.
"Kurang ajarrrrr....!! Jangan pernah panggil aku Lembupati jika aku tidak dapat membunuhmu..!! teriak Lembupati geram..
Lembupati maju dengan cepat dan menyerang Ki Mahesa dengan jurusnya..
"Cakar Siluman Macan..!! teriak Lembupati.
Ki Mahesa menangkis serangan Lembupati dengan jurus andalannya..
"Tapak Lembu Sekilan...!! teriak Ki Mahesa.
Serangan Lembupati berubah dengan cepat. Energi cakar harimau diarahkan pada kotak yang berisi kitab Bolo Srewu, kotak hitam yang terkena jurus Lembupati lepas dari tangan Ki Mahesa dan melayang tinggi ke udara, sedangkan jurus ki Mahesa telak mengenai dada Lembupati.
DHAAAAAARRRR.....
Lembupati terpental puluhan meter, di dadanya tampak bekas tapak berwarna hitam, Lembupati terluka parah dan ambruk dengan hidung dan mulut mengeluarkan darah segar. Lembupati tewas di tangan Ki Mahesa.
Surojoyo yang mengetahui kotak berisi kitab bolo srewu melayang di udara, dengan cepat melesat untuk menangkap kotak itu. Pada saat yang sama sebuah bayangan melesat mengarah ke kotak itu, mengetahui hal itu, Ki Mahesa dengan cepat memgeluarkan jurus andalannya dan mengarahkannya ke kotak berisi kitab bolo srewu berharap kitab itu hancur terkena pukulannya.
__ADS_1
"Tapak Lembu Sekilaaann...!!" teriak Ki Mahesa.
Sebuah cambuk segera menyambar kotak hitam itu dan menarik ke arah banyangan tersebut. Pukulan Ki Mahesa hanya mengenai udara kosong. Bayangan itu lalu berdiri di depan mayat Lembupati.
"Permaisuri Mai...?" ucap Surojoyo.
"Aku akan mengurus kalian nanti. Yang terpenting kitab ini telah aku dapatkan, kekuatanku akan menjadi tidak tertandingi..!! Hahahaha..." ucap permaisuri Mai.
Ki Mahesa dan Surojoyo menyerang Permaisuri Mai bersamaan, akan tetapi permaisuri Mai dengan cepat menghilang dari pandangan mereka bersama dengan Wongso dan mayat Lembupati.
"Siaaaallll...!! mereka melarikan diri. Aku harus segera melaporkan kejadian ini kepada Ki Harso.." ucap Ki Mahesa.
"Ki... ijinkan aku bertemu juga dengan Ki Harso. Kejadian hari ini membuatku ingin membantu kalian menyelesaikan masalah ini. Sepertinya ini bukan masalah yang sederhana.." ucap Surojoyo.
"Baiklah.. mari kita temui ki Harso.." ucap Ki Mahesa sambil melesat pergi ke tempat ki Harso.
-->
Raden Sanjaya dan yang lainnya telah sampai di sebuah penginapan dimana markas Kapak Darah berada, yaitu penginapan Kembang Sore. Sebuah penginapan yang berada di pinggiran kota kerajaan. Di markas itu masih ada beberapa anggota kapak darah yang akhirnya ikut bergabung dengan raden Sanjaya karena ketua mereka telah bergabung terlebih dahulu. Raden Sanjaya merasakan hawa gelap menyelimuti kota kerajaan terutama di lingkungan istana. Dengan tidak membuang waktu, raden Sanjaya segera mengumpulkan seluruh anggotanya di penginapan Kembang Sore.
Ki Sasongko mengirimkan merpati raja kepada Ki Harso dan Ki Mahesa agar mereka segera bertemu dengan Raden Sanjaya. Tidak butuh waktu lama merpati raja telah menyampaikan pesan kepada Ki Harso dan Ki Mahesa. Dengan segera ki Harso bersama dengan Ki Woko menuju penginapan dimana raden Sanjaya berada. Demikian pula Ki Mahesa bersama dengan Surojoyo dan Pandu Bergolo juga menuju tempat dimana raden Sanjaya berada. Tidak butuh waktu lama, mereka telah berkumpul bersama di penginapan Kembang Sore untuk membahas situasi istana kerajaan Banon Sewu.
"Maaf raden, sebelumnya aku akan mengenalkan kepada raden, beliau ini bernama Surojoyo, adalah ketua perguruan Istana.." ucap Ki Mahesa.
"Salam kenal Ki Surojoyo, namaku Sanjaya.." raden Sanjaya memperkenalkan diri diikuti oleh lainnya..
"Aku Tejomantri... aku Sasongko... aku Harso, dan ini saudaraku Woko........." ucap yang lainnya memperkenalkan diri.
"Sebuah kebanggaan dapat berkenalan dengan para pendekar pilih tanding dari negeri Kawi. Seperti yang disebutkan Ki Mahesa, aku Surojoyo. Aku sangat berterimakasih kepada kalian karena peduli dengan keadaan negeri kami. Tapi raden, jangan panggil aku Ki, panggil saja aku Surajaya.." ucap Surajaya.
"Tidak Ki.... walau terlihat mudah, sebenarnya umurmu hampir sama dengan Kakekku, akan lebih nyaman buatku memanggil anda dengan sebutan Ki..." ucap raden Sanjaya sambil tersenyum.
"Terserah raden saja.." jawab Surojoyo sambil tersenyum.
__ADS_1
"Lalu bagaimana kondisi istana Ki Harso..?" tanya raden Sanjaya.
"Maaf raden, aku memotong pembicaraanmu. Ada hal penting yang aku laporkan.." sahut Ki Mahesa.
"Tidak apa Ki.. apa yang ingin ki Mahesa laporkan..? Apakah ki Mahesa telah mendapatkan kitab bolo srewu..?" tanya raden Sanjaya.
"Benar, awalnya aku telah mendapat kitab itu. Tapi permaisuri Mai berhasil merebut kitab itu. Tentang kesaktian permaisuri Mai, semua itu bukanlah berita bohong. Dia memang mempunyai kanuragan yang tinggi.." jawab Ki Mahesa.
"Ijinkan aku menambahi raden, selain mempunyai kanuragan yang tinggi, permaisuri Mai juga mempunyai anak buah yang kesaktiannya juga tinggi.." ucap Surojoyo.
"Benar raden, terbukti banyak punggawa istana yang dimasukkan dalam penjara Istana kerajaan, bahkan patih Murjaya yang juga memiliki kanuragan tinggi pun juga kalah di tangan anak buah permaisuri Mai.." sahut Ki Woko.
"Aku juga berhasil membebaskan patih Murjaya, pangeran Tarunayaksa dan permaisuri Gayatri dari ruang bawah tanah istana. Permaisuri Mai sengaja menyebar isu bahwa pangeran Tarunayaksa dan ibunya pergi ke negeri Kawi agar keberadaan mereka berdua tidak dipertanyakan oleh penduduk.." ucap Ki Harso.
"Situasinya semakin gawat. Permaisuri Mai akan semakin sulit untuk dikalahkan jika dia menguasai kitab itu. Lalu dimana pangeran Tarunayaksa dan ibu nya sekarang..? Lalu apakah ki Woko membebaskan patih Murjaya..?" tanya Raden Sanjaya.
"Mereka bertiga ada di penginapan di dekat pintu barat istana, tempat dimana aku dan Ki Harso menginap.." jawab Ki Woko.
"Lebih baik pindahkan mereka ke penginapan ini. Selain lebih aman, ada hal yang ingin aku tanyakan kepada patih Murjoyo terkait permaisuri Mai. Aku curiga permaisuri Mai adalah siluman, sebab menurut informasi yang didapat oleh Singoharjo, negeri Champa adalah negeri para siluman.." ucap raden Sanjaya.
"Baik, aku akan menjemput mereka raden.." jawab Ki Woko.
"Mungkin saja raden, sebab permaisuri Mai mempunyai kebiasaan aneh. Dia lebih suka beraktifitas pada malam hari, pada saat siang dia selalu memakai jubah tebal untuk beraktifitas. Selain itu dia selalu berjalan di bawah bayang-bayang saat siang hari. Selain itu, beberapa kali kejadian pembunuhan di istana. Korbannya selalu prajurit yang masih muda dan ada bekas gigitan di lehernya, mayatnya kering seperti kehabisan darah. Beberapa hari yang lalu, aku sempat memergoki pelaku pembunuhan, tapi gerakannya sangat cepat dan gesit sehingga aku tidak mampu menangkapnya. Tapi seuatu barang jatuh dari tubuh si pelaku, dan barang itu adalah anting permaisuri Mai." ucap Surojoyo sambil menunjukkan barang yang dimaksud.
"Benarkah itu..? Jika seperti itu, kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Dalam dua hari kedepan, kita harus segera bergerak.." ucap raden Sanjaya.
-->
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Kepada seluruh pembaca yang budiman, penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya karena update dari novel ini sangat lambat. Yang awalnya penulis pikir hanya flu berat, ternyata penulis positif Covid19 yang mengharuskan penulis isolasi mandiri dan membuat penulis kurang bisa konsentrasi untuk melanjutkan cerita novel ini. Insyaa' Allah novel ini akan terus lanjut sampai tamat.
Pesan saya, tetap patuhi protokol kesehatan, jaga imunitas dan selalu berserah diri kepada Tuhan YME. Semoga pembaca sekalian dihindarkan dari Covid19 dan tetap dalam kondisi sehat dan selalu dalam lindungan Tuhan YME.
__ADS_1
Wassalamu'alaikum Wr. Wb