Sang Pendekar

Sang Pendekar
CH2.13 Sebuah pengakuan


__ADS_3

Singoharjo melesat keluar penginapan Seribu Bunga. Ki Sumali dan Sekar Wulan yang telah berjaga-jaga di sekitar penginapan menghadang Singoharjo setelah mendengar teriakan raden Sanjaya.


"Hadang dia kakek...!! Dialah ketua kapak darah, jangan sampai lolos...!!" teriak raden Sanjaya.


Mengetahui dirinya dihadang, Singoharjo lantas menyerang Ki Sumali, tapi dengan tangkas Ki Sumali menangkis dan menghindari serangan Singoharjo. Raden Sanjaya melompat dan telah berada di hadapan Singoharjo.


"Kakek, Diajeng... bantulah paman Tejomantri dan Ki Sasongko. Aku akan menghadapi orang ini.." ucap raden Sanjaya disusul anggukan Ki Sumali dan Sekar Wulan.


Ki Sumali dan Sekar Wulan segera memasuki panginapan Seribu Bunga untuk membantu Tejomantri dan Sekar Wulan. Pertarungan sengit terjadi di dalam penginapan, membuat kondisi aula penginapan hancur di beberapa bagian. Pendekar yang mengawal para bangsawan mencoba menyelamatkan atasan mereka an tidak ikut campur dalam urusan kapak darah.


Tejomantri terus menyerang Sairun dengan segenap kekuatannya, Sairun pun menghindar dan menangkis serangan Tejomantri dan membalas serangan Tejomantri. Sementara itu Ki Sasongko, Ki Sumali dan Sekar Wulan menghadapi anggota kapak darah lainnya. Walaupun kapak darah menang secara jumlah, tapi kemampuan anggota kapak darah tidak sebanding dengan kekuatan Ki Sasongko dan yang lainnya, sehingga banyak anggota kapak darah yang terluka bahkan ada yang mati akibat pukulan atau tendangan mereka bertiga. Mengetahui hal itu, Sairun memerintahkan anggota kapak darah untuk mundur melarikan diri ke markas mereka.


"Guru dan Ki Sumali kita kejar kapak darah dan Sekar bantulah suamimu menghadapi ketua kapak darah.." ucap Tejomantri.


Pertarungan sengit terjadi antara raden Sanjaya dan Singoharjo. Tapi perbedaan kekuatan mereka cukup jauh sehingga beberapa pukulan dan tendangan raden Sanjaya mendarat di tubuh kurus Singoharjo.


"Jika seperti ini terus, tulang besi ku pun tidak akan bertahan lama. Sebenarnya siapa pemuda ini..? Mengapa dia memusuhi ku..?" batin Singoharjo.


Singoharjo melompat beberapa meter kebelakang untuk membuat jarak dengan raden Sanjaya. Dia berusaha bernegoisasi dengan raden Sanjaya.


"Tunggu anak muda. Kita tidak saling mengenal, tapi mengapa kau memusuhiku dan pasukanku..?" tanya Singoharjo.

__ADS_1


"Aku hanya punya satu alasan, segala bentuk angkara murka dan ketidak adilan adalah musuhku. Tidak peduli siapapun dia.." jawab raden Sanjaya tegas.


"Sepertinya tidak ada kesempatan bagiku untuk bernegoisasi dengannya. Baiklah, tidak ada cara lain, aku akan memerintahkan semuanya mundur dan berpindah markas secara diam-diam.." batin Singoharjo sambil mengirimkan pesan batin kepada petinggi kapak darah.


"Ripto, Sairun, Darmo bawalah beberapa orang kita untuk mundur ke markas lainnya.." ucap Singoharjo


Mendapat perintah dari pimpinannya ketiga petinggi itu langsung memerintahkan kepada anak buahnya untuk memuju markas kapak darah lainnya, kecuali Sairun yang sibuk berhadapan dengan kelompok Tejomantri. Sairun telah kehilangan hampir seluruh pasukannya, dan keadaannya kini juga tidak menguntungkan. Dengan beberapa kali serangan, Sairun dapat dilumpuhkan oleh Tejomantri.


Sementara itu, raden Sanjaya dan Sekar Wulan kembali menyerang Singoharjo. Kombinasi serangan keduanya sangat cepat dan ganas membuat Singoharjo kuwalahan, beberapa luka goresan pedang tampak di kulit Singoharjo.


TAAAAPP.. WHUUUSS.. DEEEEPPP..


SRIIIIINGGG.. WHIIIIINGGG.. SRAAAAASH..


Tebasan pedang Sekar Wulan lagi-lagi berhasil melukai Singoharjo. Luka goresan pedang Sekar Wulan sedikit membuat konsentrasi Singoharjo terganggu sehingga tendangan, pukulan Raden Sanjaya berhasil mengenai perut dan dada Singoharjo yang membuatnya terpental beberapa meter. Jurus Tulang Besi Singoharjo benar-benar tidak mampu meredam kekuatan dari Raden Sanjaya. Singoharjo memuntahkan darah segar dan mengalami luka dalam yang cukup parah. Belum sempat Singoharjo bangkit, raden Sanjaya telah berjongkok di hadapan Singoharjo dan mengarahkan telapak tangannya pada dada Singoharjo. Raden Sanjaya menghancurkan kanuragan Singoharjo.


"Aaarrgghhh... Badanku.. mengapa badanku menjadi tidak bertenaga..? Apa yang kau lakukan anak muda..?!!" teriak Singoharjo.


"Bukan apa-apa. Kau tidak akan mati jika hanya kehilangan kanuraganmu. Aku telah melumpuhkan semua ilmu kanuraganmu. Saatnya kau bertobat dan membantuku, itu jika kau setuju. Tapi jika kau tidak setuju, maka kau dan seluruh pasukanmu akan ku hancurkan juga.." jawab Raden Sanjaya tegas.


"Hahahaha...!! Apa kau pikir mudah untuk memuskahkan Kapak Darah..? Selain aku, masih banyak anak buahku yang bisa memimpin kapak darah. Dan apakah kalau kau telah menghancurkan markasku di Gunung Maskumambang semua telah berakhir..? Kau hanya belum tau saja anak muda, bagaimana aku mempersiapkan semuanya dengan matang.." jawab Singoharjo.

__ADS_1


"Apakah dengan memasang pelindung di markasmu yang berada di alas Pancer itu maksudmu..? Atau banyaknya markas yang kau siapkan..? Memangnya seberapa banyak sisa anak buahmu setelah yang berada di markasmu alas Pancer ku kalahkan..? Atau masih adakah markas mu lainnya setelah semuanya berhasil ditaklukkan oleh teman-temanku..?" tanya raden Sanjaya.


"Ss... ssiapa sebenarnya kamu anak muda..? Bagaimana kau tau ada pelindung tak kasat mata di markas ku..? Dan darimana kau tau jumlah anggota beserta markasku lainnya..?" tanya Singoharjo.


"Ini bukan saatnya kau bertanya. Tapi sekarang saatnya kau menjawab pertanyaanku. Apa benar permaisuri Mai menginginkan perjaka dan perawan..? Untuk apa semua itu..?" tanya raden Sanjaya.


"Apa untungnya bagiku menjawab pertanyaanmu..? Permaisuri Mai akan sangat marah jika aku tidak membawakannya budak dan pasti penduduk yang akan jadi sasarannya. Kau belum tau siapa sebenarnya Permaisuri Mai.." jawab Singoharjo.


"Justru itulah, sekarang adalah kesempatanmu untuk menebus kesalahanmu. Ceritakan semuanya kepadaku dan aku jamin kau masih bisa bertobat dan diterima di masyarakat.." ucap raden Sanjaya.


Singoharjo terdiam. Dia memilih untuk tidak menjawab pertanyaan raden Sanjaya. Lalu raden Sanjaya mengeluarkan sebuah gulungan dari balik bajunya.


"Silahkan kalau kau tidak percaya padaku. Aku bisa saja mencari sendiri tentang permaisuri Mai.." ucap raden Sanjaya sambil mengeluarkan gulungan peta.


"Kau... aku tidak mengira akan kalah dengan anak muda sepertimu.." ucap Singoharjo pelan.


"Ini bukan soal menang atau kalah. Bagaimanapun kejahatan dan angkara murka tidak akan pernah menang melawan kebenaran.." jawab Raden Sanjaya.


"Baiklah. Akhir bulan depan aku harus mengantar dua orang perjaka dan perawan kepada permaisuri Mai. Aku akan bertemu dengan anak buah permaisuri Mai di halaman belakang keputren. Untuk apa permaisuri Mai meminta perjaka dan perawan aku tidak perduli. Aku hanya menyediakannya dan permaisuri Mai akan membayar dengan harga tinggi.." ucap Singoharjo.


"Apa yang kau ketahui tentang permaisuri Mai..?" tanya raden Sanjaya.

__ADS_1


"Yang ku tau permaisuri Mai tidaklah seperti kelihatannya. Begitu juga orang-orang yang ada di istana. Kau akan mengetahuinya sendiri anak muda.." ucap Singoharjo


Sementara itu anggota pasukan kapak darah yang berencana melarikan diri ke markas cadangan mereka, dengan strategi yang disusun oleh raden Sanjaya mereka harus melarikan diri ke markas lainnya dan begitu seterusnya. Raden Sanjaya dan Sekar Wulan membebaskan pemuda dan wanita yang ditahan oleh pasukan kapak darah. Ki Sumali bersama dengan Tejomantri dan Ki Sasongko melakukan pengejaran kepada sisa anggota pasukan kapak darah. Kelelahan dan frustasi membuat anggota kapak darah akhirnya menyerah.


__ADS_2