
Di dalam pondok mereka bertiga saling menceritakan apa yang telah terjadi dengan mereka.
"Ki.. siapa pemuda ini..?" tanya kepala desa.
"Kepala Desa, aku adalah Sanjaya, putra dari Pangeran Kusuma.." ucap raden Sanjaya
Mengetahui jawaban raden Sanjaya, kepala desa langsung berlutut dan memberikan penghormatan kepada Raden Sanjaya.
"Maafkan hamba raden, hamba benar-benar tidak mengenali raden. Jika raden mau, silahkan hukum hamba karena tidak mengenali raden Sanjaya." ucap kepala desa.
"Bangunlah kepala desa. Jangan seperti itu. Akulah yang seharusnya minta maaf karena tidak langsung memperkenalkan diri." ucap raden Sanjaya sambil membantu kepala desa berdiri.
"Tapi aku mohon satu hal kepadamu kepala desa.." sambung raden Sanjaya.
"Tidak perlu raden memohon, apapun yang raden minta, itu perintah bagiku.." jawab kepala desa.
"Tolong sembunyikan identitasku dan kakekku. Aku tidak ingin kejadian tiga belas tahun yang lalu terulang lagi. Aku tidak ingin menarik orang-orang kelompok tengkorak hitam sementara waktu ini.."
"Jika ada yang bertanya, jawablah aku Jaka Pengalasan, cucu dari Ki Sumali." ucap raden Sanjaya.
"Baik raden.. maksud hamba den Jaka.."
"Lalu apa rencana kalian selanjutnya..?" tanya kepala desa.
"Aku ingin mendirikan sebuah padepokan disini, padepokan Naga Langit. Padepokan ini selain mengajarkan ilmu kanuragan, juga mengajarkan murid-muridnya ajaran budi pekerti dan jalan kebenaran."
"Dan aku akan menggunakan nama Ki Samadhi.." ucap ki Sumali.
"Lalu, siapa orang-orang diluar itu..? dari pakaiannya sepertinya mereka dari Tengkorak Hitam. Bagaimana mereka bisa bersama kalian..?" tanya kepala desa.
"Kepala desa tidak perlu khawatir. Mereka semua sekarang pengikutku dan aku jamin mereka tidak akan berani berkhianat kepadaku maupun ki Sumali kakekku.."
"Aku juga minta tolong, siapkan pakaian baru buat kami semua." ucap raden Sanjaya.
__ADS_1
"Baik.. aku akan memberitahukan kepada penduduk desa tentang rencana kalian. Kalau begitu aku mohon diri, akan kusiapkan beberapa pakaian untuk kalian.." ucap kepala desa.
Ki Sumali memberikan beberapa keping emas kepada kepala desa untuk membeli beberapa pakaian, sedangkan penduduk desa Lawean sibuk menyiapkan segala macam kebutuhan untuk pelaksanaan do'a bersama untuk arwah Ki Joyo dan Ki Tejo. Sebagian penduduk menyiapkan makanan dan sebagian lainnya menyiapkan buah-buahan.
-->
Dipimpin langsung oleh ki Sumali atau yang sekarang dikenal dengan Ki Samadhi, suasana do'a berlangsung dengan khidmad dan bernuansa sangat sakral. Mantram Kalimasada dilantunkan oleh Raden Sanjaya atau Jaka Pengalasan sebagai do'a pujian untuk arwah Ki Joyo dan Ki Tejo.
"Ki Joyo, Ki Tejo, semoga arwah kalian tenang disana. Wasiat kalian untuk menjaga dan mendidik raden Sanjaya telah aku jalankan."
"Sekarang raden Sanjaya telah menjadi orang hebat dan melebihi kemampuan kita semua. Jangan khawatir, aku dan raden Sanjaya akan menghancurkan Tengkorak Hitam sampai ke akarnya." batin Raden Sanjaya.
Setelah selesai mendo'akan Ki Joyo dan Ki Tejo, sambil menikmati makanan yang telah disiapkan, kepala desa mengumumkan kepada seluruh penduduk desa Lawean tentang tujuan Ki Sumali untuk mendirikan Padepokan Naga Langit di desa Lawean. Beragam reaksi dari penduduk menanggapi tujuan dari ki Sumali.
"Aku tidak setuju.!! Padepokan ini pasti akan mengundang Tengkorak Hitam kedepannya." ucap salah seorang warga.
"Benar.. Yang aku dengar, Tengkorak Hitam akan menarik upeti kepada setiap padepokan yang berdiri di kerajaan Kawi." sahut yang lainnya.
"Kalau aku setuju dengan pendirian padepokan ini. Selama ini kita hidup dalam ketakutan, takut akan serangan perampok yang tiap saat datang ke desa ini menjarah harta kita dan mengambil hasil panen."
"Benar.. bahkan di beberapa desa Sekte Tengkorak Hitam juga mengambil bayi."
"Setidaknya dengan adanya padepokan Naga Langit, kita bisa memiliki cukup kemampuan untuk melawan mereka." sahut warga lainnya.
Raden Sanjaya dan Ki Sumali dengan seksama mendengarkan semua keluhan warga desa Lawean.
"Tenang kalian semua..!! Kalian tidak perlu takut, justru padepokan ini akan membantu kita untuk menghadapi semua ancaman yang selama ini menganggu desa Lawean." ucap Barno.
"Untuk apa sekte Tengkorak Hitam menculik para gadis dan bayi..?" batin Raden Sanjaya.
"Paman, apakah paman tau sejak kapan Tengkorak Hitam menculik para gadis dan bayi..?" tanya raden Sanjaya.
"Dalam sepuluh hari terakhir ini, sudah dua kali Tengkorak Hitam datang ke desa ini untuk mengambil para gadis. Anak gadis Jagabaya dan anakku telah diambil paksa oleh mereka. Entah bagaimana nasib mereka sekarang." ucap penduduk itu.
__ADS_1
"Menurut informasi yang ku dengar, sudah sebulan ini tengkorak hitam juga mengambil paksa bayi-bayi penduduk, tidak perduli berjenis kelamin laki-laki atau perempuan." sahut jagabaya.
Raden Sanjaya tampak berfikir keras dengan semua informasi yang dia dapatkan. Dalam hatinya sangat geram atas semua tindakan Tengkorak Hitam.
"Slamet, Barno, Ujang, apakah kamu tau apa yang direncanakan oleh Tengkorak Hitam..?" tanya raden Sanjaya lirih.
"Maaf tuan, aku baru tau berita ini. Sebelumnya aku tidak pernah mendengar apapun mengenai masalah ini." jawab Slamet.
"Aku pun tidak mengetahuinya raden." sahut Barno dan Ujang.
"Berarti hanya orang-orang tertentu di Sekte Tengkorak Hitam yang tau, atau mungkin hal ini belum lama dilakukan oleh Tengkorak Hitam sehingga mereka tidak mengetahuinya..?." pikir Raden Sanjaya.
Mendengar perkataan jagabaya, seluruh penduduk desa Lawean terdiam. Kengerian terbayang dalam pikiran mereka jika sewaktu-waktu Tengkorak Hitam mengambil bayi-bayi mereka. Akhirnya setelah mendengar penjelasan Ki Sumali tentang bagaimana Padepokan Naga Langit beroperasi, mereka setuju didirikannya padepokan di desa Lawean.
Keesokan harinya, penduduk desa Lawean bergotong royong untuk membangun Padepokan Naga Langit yang berada di pondok tempat makam Ki Joyo dan Ki Tejo berada. Sedangkan Raden Sanjaya menuliskan terjemahan mantram Kalimasada yang berisi tentang ajaran budi dan jalan kebenaran untuk nantinya dapat diajarkan kepada seluruh anggota padepokan Naga Langit.
Dalam waktu satu minggu, bangunan padepokan Naga Langit telah berdiri kokoh, dan terjemahan mantram kalimasada telah selesai ditulis oleh raden Sanjaya dan diserahkan kepada Ki Sumali. Pada pagi hari Ki Sumali mengajarkan ajaran budi dan jalan kebenaran yang bersumber dari mantram kalimasada dan pada malam harinya ki Sumali mengajarkan ilmu kanuragan kepada semua anggota padepokan, yaitu warga desa Lawean. Ki Sumali juga mengajarkan tapak brajamusti kepada Slamet dan Ujang, sedangkan Barno belajar Jurus Tombak Halilintar.
"Besok pagi aku akan pergi ke desa-desa di sekitar desa Lawean ini. Aku akan mencari tau apa tujuan dari Tengkorak Hitam mengambil bayi-bayi itu dan para gadis itu.." ucap raden Sanjaya kepada Ki Sumali dan kepala desa.
"Raden, aku harap raden berhati-hati. Di desa-desa sebelah, banyak padepokan aliran hitam yang berdiri. Mereka semua tergabung dalam sekte Tengkorak Hitam." ucap kepala desa.
"Berapa lama kira-kira kau akan pergi cucuku..?" tanya Ki Sumali.
"Entahlah kek, jika aku sudah cukup mengumpulkan informasi aku akan kembali ke padepokan dan kita atur strategi selanjutnya.."
"Bawalah peluit ini kek, jika sewaktu-waktu ada musuh yang kuat datang menyerang, tiuplah peluit ini, maka kelima hewan spiritual suci akan datang membantumu.." ucap raden Sanjaya sambil menyerahkan peluit yang terbuat dari bulu burung rajawali paruh baja.
"Bawalah ini, kamu pasti akan membutuhkannya di perjalanan." Ki Sumali menyerahkan sekantong koin emas kepada raden Sanjaya.
"Harimau bertanduk, Singa hitam, Sanca kepala tiga, Serigala bermata tiga dan Rajawali merah, kalian mendengarku..? ucap raden Sanjaya dalam telepati.
"Hamba mendengar tuan. Apakah perintah tuan..?" jawab mereka serempak.
__ADS_1
"Tolong jaga desa Lawean. Jika kalian mendengar peluit dari bulu rajawali merah, datanglah kalian secepatnya ke desa Lawean. Bantulah kakekku dalam menghadapi musuh yang kuat.." perintah Raden Sanjaya.
"Sendiko dhawuh (hamba siap menjalankan perintah) tuan.." jawab mereka.