
Keesokan harinya Raden Sanjaya melatih jurus langkah kalimasada yang sudah berhasil digabungkan dengan jurus tapak dan pedang kalimasada.
Gerakan demi gerakan, diperagakan oleh raden Sanjaya dengan sempurna. Raden Sanjaya tidak lagi kehilangan keseimbangannya dalam memperagakan tiap gerakan jurus tapak kalimasada maupun pedang kalimasada.
"Aku rasa aku telah siap untuk menyerap mantram sakti langkah kalimasada."
"Lebih baik aku kembali ke goa menemui kakek." pikir raden Sanjaya.
Sementara itu di pulau terasing kehidupan Raja Dewayana atau Ki Yana bersama pengikutnya, menjalani profesi barunya sebagai petani. Mereka telah membuka beberapa hektar lahan yang ditanami tanaman pangan, sayuran dan buah-buahan. Mereka tidak sekalipun mengalami kekurangan pangan. Kehidupan yang damai saat ini mereka jalani. Hidup tersiksa yang diharapkan pangeran Pranoto sama sekali tidak dialami oleh Raja Dewayana dan pengikutnya.
Selain bertani, Darman, Parjo dan Sarko tetap melakukan latihan kanuragan dan tetap berusaha menaikkan tingkat tenaga dalamnya. Dengan latihan yang tekun dan bantuan ramuan yang dibuat oleh Ki Rekso, mereka bertiga telah mencapai tingkat guru tahap menengah. Sedangkan patih Rekso dan Raja Dewayana lebih memilih mempelajari kondisi alam dan perhitungan perbintangan. Bagaimanapun, karena racun pelumpuh sukma, titik cakra mereka telah rusak dan tidak akan pernah bisa melatih tenaga dalam mereka.
"Ki Rekso, semalam aku bermimpi melihat seorang pemuda sedang membawa bulan di kepalanya."
"Aku tidak dapat melihat wajahnya karena cahaya bulan yang begitu terang."
"Setelah terbangun, aku melihat bintang di timur bersinar sangat terang dan berwarna keemasan." Ki Yana memulai obrolannya.
"Kalau aku merasakan perubahan pada alam ini, sepertinya alam telah melakukan seleksi dan sudah memilih pendekarnya sendiri. Akhinya siapa yang menabur pasti akan menuai.." jawab Ki Rekso.
"Benar.. lihatlah langit di sebelah timur, walaupun matahari sedang terik, tapi sinarnya tidak mampu mengalahkan cahaya dari bintang itu.." ki Yana menunjuk ke arah bintang di sebelah timur.
"Siapapun dia, semoga dia akan membawa keadilan di kerajaan kawi ini.." ucap Raja Dewayana.
Tiba-tiba langit yang awalnya cerah berubah. Mendung hitam perlahan berkumpul bergulung-gulung dan menutupi cahaya matahari. Tampak kilat menyambar di balik awan dan gemuruh suara guntur terdengar saling bersahutan.
GLUDUUK.. GLUDUUUK.. LHAARRRR..
"Ada apa ini..? kenapa tiba² awan hitam ini terbentuk. Fenomena alam apakah ini..?" tanya ki Yana
"Apakah alam sedang marah..?" sahut Ki Rekso
__ADS_1
Melihat fenomena alam yang tidak normal ini, Parjo, Darman dan Sarko yang sedang mengolah tanah pertanian segera berlari mencari Nyai Ayu dan Nyai Dewi yang sedang mencari tanaman herbal. Selanjutnya mereka berlima kembali ke pondok bergabung dengan Ki Yana dan Ki Rekso.
"Ada apa ini suamiku..? kenapa tiba² langit yang cerah berubah menjadi mendung hitam seperti ini..?" tanya Nyai Ayu.
"Akupun juga tidak mengerti istriku. Jika akan turun hujan, tidak ada angin sedikitpun yang membawa mendung ini dan udara terasa kering."
"Dan mendung inipun terjadi secara tiba-tiba" jawab Ki Yana.
"Lebih baik kita berdo'a saja, semoga kita diberi keselamatan oleh Sang Pencipta."
"Mari kita masuk ke sanggar pemujaan untuk berdo'a." sahut ki Rakso.
Sebelumnya, di dalam istana kerajaan Pangeran Pranoto tampak ketakutan dan memanggil semua punggawa istana. Ki Karto, Senopati Manto, Senopati Bondan, Senopati Bawor dan semua pejabat kerajaan berkumpul di aula istana.
"Beberapa hari ini aku bermimpi, aku melihat awan hitam menggantung di seluruh wilayah kerajaan Kawi. Kilat menyambar di dalam gulungan awan itu dan suara langit bergemuruh seakan-akan langit akan runtuh."
"Nujum apa arti mimpiku ini..?" tanya pangeran Pranoto.
"Apa yang sebenarnya terjadi..? Kenapa tiba-tiba gelap..?" tanya pangeran Pranoto
Sebelum ada yang menjawab pertanyaan pangeran Pranoto, sorang prajurit berlari menghadap pangeran Pranoto.
"Ampun paduka, langit di kota kerajaan mendadak berubah. Terlihat gulungan awan hitam menutupi seluruh langit. Suara gemuruh guntur dan kilat di balik awan, seakan-akan langit akan runtuh.." lapor prajurit itu.
Pangeran Pranoto didampingi ki Karto berlari keluar memastikan laporan dari prajurit itu.
"I... i.... ini persis seperti yang terlihat di mimpiku, jelaskan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi..?" ucap pangeran Pranoto terbata-bata. wajahnya pucat pasi.
"Hamba juga tidak tahu paduka, selama hidup, hamba juga pertama kali mengalami hal seperti ini.." jawab Ki Karto.
"Nujum, apakah kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi..?" tanya pangeran Pranoto.
__ADS_1
"Mohon ampun paduka. hamba juga tidak mengerti, ini adalah kejadian yang tidak biasa. Hamba tidak bisa menjangkaunya dengan ilmu hamba.." sahut nujum istana.
"Panggil pandita agung istana, suruh dia menghadapku." perintah pangeran Istana.
Tak butuh waktu lama pandita agung istana datang menghadap.
"Pandita agung, dapatkah kamu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi..?" tanya pangeran Istana.
"Ampun paduka, hal semacam ini terjadi karena dua hal. Yang pertama kemunculan benda pusaka suci dan hewan spiritual suci yang berevolusi menjadi hewan ghaib."
"Tapi biasanya fenomena seperti ini terjadi di tempat kemunculan benda tersebut atau tempat hewan spiritual suci tersebut berevolusi"
"Tapi ini sepertinya terjadi di seluruh wilayah kota kerajaan paduka. Ini diluar kemampuan hamba, mohon ampun paduka." jawab pandita agung.
Mendengar jawaban pandita agung, Pangeran Pranoto jatuh bersimpuh. Seluruh badannya lemas, dia benar-benar ketakutan. Lalu Ki Karto menggendong pangeran Pranoto masuk ke dalam aula istana.
Sementara itu di Gunung Jamur Dipa, Ki Sasongko yang juga ketua Perguruan Wiji Sejati sedang melompat ke atas gedung tertinggi di perguruan Wiji Sejati, gedung Aula perguruan. Dia memandangi langit sambil sesekali merasakan fluktuasi energi akibat fenomena alam yang sedang terjadi.
"Siapa yang telah mempelajari kitab kalimasada sampai kentahap ini..?"
"Apakah seorang tingkat jiwa abadi..?" ucap Ki Sasongko dalam hati.
Ki Among yang sedang menjaga perpustakaan dibuat terkejut, tiba-tiba kitab Brajamusti seperti kehilangan auranya. Kitab tersebut tiba-tiba jatuh dari tempat penyimpanannya dan terbuka lembar demi lembar seperti sedang tertiup angin, dan tiba-tiba menutup sendiri. Hal ini terjadi berulang kali, saat ki Among akan mengambilnya, kitab Brajamusti terbang menghindar, seperti seekor burung yang ketakutan apabila ada yang mendekat.
Mengetahui hal ini, dengan menggunakan telepati, Ki Among melaporkan kejadian yang dialaminya kepada Ki Sasongko.
"Datanglah ke perpustakaan. Ada hal aneh yang terjadi dengan kitab Brajamusti.." ki Among melaporkan.
Tak lama kemudian Ki Sasongko masuk ke dalam gedung perpustakaan dan menyaksikan sendiri apa yang terjadi dengan kitab brajamusti. Ki Sasongko juga menjelaskan fenomena alam yang terjadi di atas gunung Jamur Dipa, fenomena yang disebabkan oleh seseorang yang mempelajari kitab kalimasada.
"Kitab Brajamusti ini seperti sedang ketakutan, takut akan kekuatan dari kitab kalimasada.." ucap ki Sasongko.
__ADS_1