Sang Pendekar

Sang Pendekar
BAB XXXVIII


__ADS_3

Sementara itu, sudah satu bulan pangeran Himawan berada di perguruan Wiji Sejati untuk melakukan pelatihan tertutup. Sebelumnya pangeran Himawan telah mengungkapkan penyesalannya dan menceritakan semua yang terjadi di Istana kerajaan kepada Ki Sasongko dan tetua perguruan Wiji Sejati. Dalam satu bulan itu, Ki Sasongko bersama dengan tetua perguruan Wiji Sejati terus memikirkan informasi yang diberikan oleh pangeran Himawan dan mencari solusi untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang terjadi di Kerajaan Kawi.


"Aku sudah menyangka kematian pangeran Kusuma adalah sebuah konspirasi. Tapi aku tidak menyangka bahwa Pangeran Pranoto tega melakukan hal yang demikian kepada raja Dewayana." ucap Ki Among.


"Sekarang apa yang harus kita lakukan..? Apakah kita serang saja Tengkorak Hitam..?" tanya ki Harso.


"Aku yakin, dengan kekuatan kita ditambah murid-murid perguruan Wiji Sejati dan bantuan dari kelompok aliran putih, Tengkorak Hitam pasti akan hancur.." ucap ki Woko


"Sepertinya tidak akan mudah untuk menyelesaikan permasalah di kerajaan ini. Tengkorak Hitam telah menguasai segalanya dan memberi pengaruh kuat bahkan di dalam istana kerajaan ini.."


"Jika kita melakukan serangan, pasti istana akan ikut membantu Tengkorak Hitam. Pastinya pertempuran bukan hanya antara kita dan Tengkorak Hitam, tapi juga prajurit kerajaan."


"Seperti yang dikatakan Pangeran Himawan, hampir seluruh prajurit kerajaan telah bergabung dengan Tengkorak Hitam, bahkan separuh lebih pasukan elit istana dan pengawal istana juga menjadi anggota sekte Tengkorak Hitam." jawab ki Sasongko.


"Benar yang dikatakan ketua, kalau kita gegabah dan bergerak tanpa perhitungan yang matang, bukannya menghancurkan Tengkorak Hitam, justru malah kita yang hancur. Tidak hanya itu, seluruh kelompok putih dan rakyat kerajaan Kawi juga akan menjadi korban.." sahut ki Among.


"Lalu apa yang harus kita lakukan..? Apa kita hanya diam dan menunggu saja..?" tanya ki Harso.


"Tidak, yang paling utama sekarang adalah mencari baginda Raja Dewayana dan Ratu Dyah Ayu di pulau terasing." ucap ki Sasongko.


"Apakah ketua yakin kalau Baginda Raja dan Putri masih hidup..? Pulau Terasing bukanlah pulau sembarangan. Siapapun yang masuk kesana, kabarnya tidak ada satupun yang pernah kembali." Ki Samijan angkat bicara.


"Aku juga tidak tau apakah baginda masih hidup atau tidak. Walaupun Pulau Terasing bukan pulau sembarangan, tapi baginda juga seorang pendekar. Apalagi ada patih Rekso Bumi bersama baginda."


"Tidak ada salahnya kita memastikan keadaan baginda raja dan ratu." ucap ki Sasongko.


"Aku setuju dengan ketua. Sebaiknya segera lakukan persiapan, kita berangkat secepatnya ke pulau terasing.." ucap Ki Among.


"Tidak semua dari kita berangkat ke pulau terasing. Tetua Harso dan Tetua Among tetap di perguruan sambil menunggu pelatihan pangeran Himawan."

__ADS_1


"Aku dan tetua Samijan akan berangkat ke pulau terasing dan tetua Woko turun gunung Jamur Dipa untuk mengawasi keadaan di kota kerajaan." ucap Ki Sasongko.


"Baik ketua. Kami ikut rencana ketua.." jawab mereka.


Ki Samijan menyiapkan segala kebutuhan untuk bekal perjalanannya bersama ki Sasongko menuju pulau terasing. Pada pagi harinya dengan mengendarai Elang emas, Ki Sasongko dan Ki Samijan terbang menuju pulau terasing.


Elang emas adalah hewas spiritual suci tingkat menengah yang berhasil ditaklukkan oleh Ki Sasongko dan Ki Woko saat mereka muda dulu. Saat ini elang emas menjadi simbol perguruan Wiji Sejati dan menjadi tunggangan bagi ki Sasongko dan para tetua jika mereka melakukan perjalanan jauh.


Pangeran Himawan mengakhiri pelatihan tertutupnya. Pangeran Himawan yang sebelumnya menerobos ke tingkat master tahap awal, dalam waktu satu bulan dibantu dengan banyak ramuan tingkat tinggi dari Ki Harso gurunya, kini telah menembus tingkat master tahap menengah.


"Aku telah menyelesaikan pelatihanku, dalam lima tahun terakhir aku telah naik dua tingkat. Seandainya aku menurut apa kata ibu, mungkin sekarang aku sudah berada pada tingkat master tahap puncak.." batin pangeran Himawan.


"Kau sudah menyelesaikan pelatihanmu pangeran..?" tanya Ki Harso mengagetkan pangeran Himawan.


"Ii.. iya guru. tapi aku hanya berhasil naik satu tingkat saja." jawab pangeran Himawan.


"Tidak masalah pangeran. Sekarang lebih baik kita bersiap mencari ibunda pangeran. Aku akan menemani pangeran mencari Selir Ling.." ucap Ki Harso.


"Tenanglah pangeran. Kerajaan Kawi memiliki satu desa yang menjadi tujuan orang-orang yang ingin bersembunyi dan menghindari masalah."


"Mungkin kita bisa mulai mencari dari desa itu.." ucap Ki Harso.


"Dimana itu guru..? Dan apa nama desa itu..?" tanya pangeran Himawan penuh harap.


"Di timur gunung Jamur Dipa ini, termasuk wilayah utara kerajaan Kawi. Desa itu bernama Gadungsari." jawab Ki Harso.


"Baik guru. Aku sangat berterimakasih guru masih mau membantuku setelah mengetahui apa yang telah aku perbuat kepada ayah dan kakakku.." kata pangeran Himawan.


"Setiap orang pasti pernah melakukan salah. Mengakui kesalahan dan meminta maaf itu penting, tapi ada yang jauh lebih penting yaitu mau bertanggung jawab dan memperbaiki akibat dari kesalahan itu.." ki Harso menasehati.

__ADS_1


"Baik guru. Aku akan berusaha untuk memperbaiki semuanya." ucap pangeran Himawan penuh keyakinan.


Setelah mempersiapkan semuanya dan berpamitan dengan Ki Among, dengan mengendarai kuda Ki Harso dan pangeran Himawan berangkat menuju desa Gadungsari untuk mencari selir Ling Lu.


-->


Sementara itu, Sekte Tengkorak Hitam terus mencari bayi dan para gadis untuk dijadikan tumbal pada ritual yang akan dilakukan oleh Ki Karto. Ritual yang bertujuan untuk menyerap energi kegelapan, yaitu pada saat seluruh planet berada pada posisi sejajar dan saat terjadinya gerhana matahari total di wilayah Kerajaan Kawi yang akan terjadi dua puluh lima hari lagi.


Di kediaman pangeran Pranoto, Ki Karto, Senopati Manto dan Senopati Bawor sedang menghadap pangeran Pranoto untuk membicarakan persiapan ritual penyerapan kekuatan kegelapan. Ki Karto telah menjadikan pangeran Pranoto muridnya dan mengajari kitab tapak iblis, sehingga posisi Tengkorak Hitam di dalam lingkungan istana menjadi semakin kuat. Dalam enam tahun terakhir, pangeran Pranoto telah menguasai hampir seluruh kitab tapak iblis dan naik menjadi tingkat master tahap puncak.


"Bagaimana persiapan ritualnya patih..? Apakah semua berjalan dengan lancar..?" tanya pangeran Pranoto.


"Semua berjalan sesuai dengan rencana. Semua akan siap sebelum hari itu tiba baginda.."


"Selain kekuatan, Penguasa Kegelapan juga akan memberikan kita pasukan, yaitu keturunan penguasa kegelapan. Aku yakin dengan pasukan dari penguasa kegelapan, semua akan tunduk kepada paduka." jawab Ki Karto.


"Keturunan penguasa kegelapan pasti akan menjadi pasukan yang kuat. Lalu, apa syaratnya..?" tanya pangeran Pranoto.


"99 gadis yang berumur antara 15 - 18 tahun."


"Pada saatnya nanti, sebelas orang terbaik kita, termasuk paduka tentunya, akan menyetubuhi masing-masing sembilan gadis itu. Penguasa Kegelapan akan menanamkan benihnya saat persetubuhan itu.." ucap ki Karto.


"Hahahahaha.. Syarat seperti inilah yang aku suka. Menikmati sembilan gadis dalam satu waktu, sungguh tidak dapat kubayangkan.." ucap pangeran Pranoto sambil tertawa.


"Maaf paduka, hamba baru saja mendapat laporan dari anak buah hamba, mereka sedang mengirimkan lima belas bayi dan mendapat sepuluh gadis. Saat ini mereka sudah sampai di perbatasan Kota Kerajaan." ucap Senopati Manto.


"Baguuuss.. bagus. Tapi jangan pernah gunakan prajurit kerajaan untuk mencari bayi dan gadis-gadis, walaupun mereka juga anggota Tengkorak Hitam. Aku tidak mau rakyat berfikir istana terlibat dalam masalah ini, agar kepercayaan rakyat tidak hilang.."


"Aku selalu memberikan kompensasi sekantong emas kepada siapa saja yang melaporkan perbuatan tengkorak hitam sebagai uang tutup mulut. Hahahaha...." ucap pangeran Pranoto.

__ADS_1


"Paduka tenang saja. Rakyat hanya tau bahwa semua ini perbuatan tengkorak hitam." jawab Ki Karto.


__ADS_2