Sang Pendekar

Sang Pendekar
BAB LI


__ADS_3

Tidak sampai satu hari, mantan pasukan pengawal telah siap dan secara bertahap bergabung dengan pasukan kepatihan dalam untuk menghindari kecurigaan. Lalu Ki Among menjelaskan situasinya kepada komandan Karyo bahwa pasukan mereka adalah pasukan pendukung yang akan menyerang dari dalam pada saat terjadi pertempuran antara pasukan aliansi dengan Tengkorak Hitam. Sebagai seorang mantan komandan pasukan pengawal, tentunya Karyo dengan mudah memahami situasi yang akan mereka hadapi nanti.


-->


Sementara itu di alun-alun istana kerajaan Kawi, Ki Karto memimpin langsung persiapan ritual pemujaan terhadap penguasa kegelapan. Sebuah patung dengan tinggi satu setengah meter diletakkan di tengah-tengah alun-alum istana. Tampak tujuh ekor ayam hitam dan tujuh ekor burung gagak diikat di kaki kiri dan kanan patung Sang Kala.


"Bagaimana persiapannya patih..?" tanya pangeran Pranoto.


"Semua sudah siap paduka. Tumbal 99 bayi juga sudah terpenuhi. Sekarang kita hanya tinggal menunggu hari yang telah dijanjikan oleh penguasa kegelapan." jawab Ki Karto.


"Bagus... bagus... setelah kekuatan hitam kita dapatkan, maka seluruh dunia akan tunduk dibawah kaki ku.. Hahahahaha..." ucap pangeran Pranoto.


"Manto, segera sebarkan berita kepada seluruh anggota kita termasuk para prajurit, lima hari lagi, tepat saat matahari naik seukuran dua tombak, semua saja berkumpul di alun-alun kerajaan Kawi. Kita melakukan pemujaan kepada penguasa kegelapan untuk mendapatkan kekuatan yang telah dijanjikan.." perintah Ki Karto.


"Siap melaksanakan perintah ketua.." jawab senopati Manto.


Dengan cepat informasi menyebar di kalangan anggota Tengkorak Hitam. Pembicaraan tentang pemujaan terhadap penguasa kegelapan terjadi diantara anggota Tengkorak Hitam membuat orang diluar Tengkorak Hitam juga mengetahuinya termasuk Ki Among. Tidak menunggu lama, Ki Among menyelidiki dan membuktikan kebenaran dari kabar yang didapatkannya itu. Kebenaran yang didapat ki Among dengan segera dilaporkan kepada Raden Sanjaya melalui merpati raja perguruan Wiji Sejati.


-->


Sementara itu di pendopo padepokan Naga Langit, raja Dewayana sedang memimpin pertemuan para pemimpin padepokan maupun kelompok aliran putih. Strategi dan kemungkinan yang terjadi disampaikan oleh raja Dewayana.


"Jumlah pasukan kita ditambah dengan pasukan kepatihan dalam dan pasukan khusus Patih Rekso Bumi tidak lebih dari delapan ratus orang. Sedangkan Tengkorak Hitam diperkirakan memiliki ribuan pasukan. Dari informasi yang aku terima dari Ki Among, Tengkorak Hitam memiliki tidak kurang dari lima ribu anggota. Ini akan menjadi pertempuran hidup dan mati kita.." ucap raja Dewayana.

__ADS_1


"Dari sisi jumlah kita memang kalah dari Tengkorak Hitam. Tapi aku yakin kualitas pasukan kita jauh lebih baik dari mereka. Jadi kita tidak perlu takut menghadapi mereka.." ucap Ki Mahesa dari padepokan Mahesa Sura.


"Benar... tapi walau bagaimanapun jangan sampai meremehkan kekuatan musuh. Jangan sampai kita merasa lebih hebat dari musuh. Sifat sombong akan membuat kehancuran bagi diri kita sendiri. Kita akan mudah tersusupi watak angkara apabila ada kesombongan dalam hati kita walaupun sebesar debu.." raden Sanjaya mengingatkan


"Benar aku setuju denganmu cucuku. Sebelum berangkat ada baiknya kita mengingatkan pasukan kita untuk tidak bersikap jumawa dan merasa lebih hebat dari musuh kita.." ucap begawan Sabdawala.


"Siap raden.. terimakasih raden sudah mengingatkan saya.." jawab Ki Mahesa.


"Lalu, kapan kita berangkat..?" tanya Ki Sasongko.


"Besok pagi sebelum matahari terbit kita berangkat ke kota kerajaan. Persiapkan segala sesuatunya dengan sebaik mungkin." jawab raja Dewayana.


Pada keesokan paginya, pemimpin masing-masing padepokan dan kelompok aliran putih mempersiapkan pasukannya. Raja Dewayana sebagai seorang pemimpin tertinggi pasukan aliansi memberikan semangat kepada seluruh pasukan aliansi.


"Benaaaarrr.. ayo kita wujudkan kehidupan yang lebih baik untuk anak cucu kita.."


"Hidup baginda Dewayana... Hidup pasukan aliansi... semua demi anak cucu kita.." teriak pasukan Aliansi serempak.


Di tengah berkobarnya semangat para pasukan, raden Sanjaya menambah rasa percaya diri pasukan dengan mengundang Singa hitam, Serigala biru, Rajawali merah, Harimau putih dan Sanca berkepala tiga. Awalnya kedatangan meraka membuat terkejut dan gentar para pasukan. Akan tetapi semangat dan kepercayaan diri pasukan aliansi kembali berkobar setelah mengetahui kelima hewan spiritual suci tersebut menundukkan kepala di hadapan raden Sanjaya. Bahkan Elang Emas milik perguruan Wiji Sejatipun ikut memberikan penghormatan kepada raden Sanjaya.


"Aku tidak tau bagaimana kau dapat melakukan semua ini. Tapi apapun yang kau lakukan selalu membuat orang tua ini terkejut sekaligus bangga padamu Sanjaya.." batin Begawan Sabdawala.


"Sungguh luar biasa. Walaupun masih sangat muda, tapi raden Sanjaya berada diatas kami semua. Sungguh sebuah keputusan yang tepat dapat menjalin persaudaraan dengan raden Sanjaya.." batin Ki Mahesa.

__ADS_1


"Lima hewan spiritual suci tingkat tinggi, semua tunduk dan patuh kepada raden Sanjaya. Bahkan elang emas simbol perguruan Wiji Sejati juga menunjukkan penghormatan kepadanya." batin Ki Sasongko.


"Sumali... sesungguhnya kamulah yang pantas disebut guru. Kau telah mendidik cucuku dengan sangat baik. Aku sangat berterima kasih kepadamu.." bisik begawan Sabdawala.


"Aku tidak akan mampu melakukan ini semua jika guru tidak pernah membimbingku dulu... Seharusnya akulah yang berterimakasih kepadamu guru.." jawab ki Sumali sambil menundukkan kepalanya.


"Aku rasa perguruan Wiji Sejati lebih pantas jika dipimpin oleh adik Sumali. Sungguh aku sangat malu kepadamu.." ucap Ki Sasongko.


"Tidak kakak... Kamulah yang lebih pantas. Jika pangeran Kusuma bukanlah muridmu, mungkin raden Sanjaya juga tidak akan seperti ini. Semua berkat guru dan kakak Sasongko.." jawab Ki Sumali.


"Horeeeeee... kekuatan kita bertambah.. Hidup raden Sanjaya.. Hidup raden Sanjaya..." teriak pasukan aliansi.


Dengan mengendarai kuda dan hewan spiritual suci mereka bergerak menuju ibu kota kerajaan. Butuh waktu antara empat sampai lima hari untuk sampai di ibukota kerajaan Kawi. Raden Sanjaya mengamati situasi dan kondisi pasukan aliansi dari atas punggung Rajawali merah. Mereka melaju dengan kecepatan penuh untuk menghemat waktu. Mereka akan beristirahat saat pasukan mulai merasakan lelah atau pada saat hari sudah mulai gelap dan akan melanjutkan perjalanan pagi hari sebelum matahari terbit.


Dalam empat hari, pasukan aliansi telah berada di perbatasan Kota Kerajaan. Anggota aliansi yang tidak terlibat langsung dengan pertempuran segera mendirikan tenda dan sebagian memasuki kota untuk memantau situasi dan mengamankan jalur evakuasi penduduk dan anggota aliansi yang terluka saat bertempur.


"Menurut laporan dari Ki Among, besok mereka akan mengadakan ritual pemujaan kepada penguasa kegelapan. Ki Among juga mengatakan bahwa besok saat tengah hari akan terjadi gerhana matahari total. Sebaiknya kita menyerang mereka saat pemujaan berlangsung.." ucap Ki Sasongko.


Beberapa anggota aliansi yang mengamankan jalur evakuasi melaporkan keanehan yang terjadi di kota kerajaan.


"Lapor raden... Gerbang Istana Kerajaan tertutup dan dijaga sangat ketat. Jalanan kota kerajaan juga tampak sepi, hanya terlihat beberapa penduduk saja yang berlalu lalang.." ucap salah satu anggota aliansi.


"Warga mengatakan bahwa gerbang istana sudah ditutup sejak kemaren dan warga tidak diperbolehkan masuk. Hanya anggota Tengkorak Hitam saja yang diijinkan masuk.." sahut anggota lainnya.

__ADS_1


"Ternyata acara pemujaan memang benar-benar akan dilaksanakan.." batin raden Sanjaya.


__ADS_2