Sang Pendekar

Sang Pendekar
CH2.12 Markas telah dikuasai


__ADS_3

Raden Sanjaya, Sekar Wulan dan Ki Sumantri telah tiba di pinggiran hutan Pancer.


"Kakek dan diajeng tunggulah disini. Aku aman masuk untuk memastikan situasi di dalam hutan ini. Hutan ini tidak seperti yang terlihat, seperti ada dinding tebal yang melindungi hutan ini. Aku akan memberi tanda suara hewan saat situasi sudah dalam kendaliku.." ucap raden Sanjaya sambil melesat pergi.


Bukan perkara sulit raden Sanjaya untuk masuk ke dalam hutan. Dengan kekuatan dari mantram kalacakra dan kasampurnan, dinding pelindung tak kasat mata tidak mampu menahan raden Sanjaya. Jika saja itu orang lain, maka orang itu akan merasakan halusinasi seakan-akan dia telah masuk ke dalam hutan, tapi kenyataannya hanya berjalan di tempatnya. Tidak butuh waktu lama bagi raden Sanjaya menemukan titik pusat dari pelindung tak kasat mata itu.


"Ternyata ini kunci dari pelindung itu. Aku akan menetralisir kekuatan kunci ini dengan kekuatan mantram kalimasada dan ilmu kasampurnan.." batin raden Sanjaya.


Lalu raden Sanjaya menghancurkan pelindung itu dan menggantinya dengan rajah kalacakra. Jadi mereka yang berada diluar tidak dapat masuk ke dalam markas. Tudak butuh waktu lama kelompok raden Sanjaya yang beranggotakan Sekar Wulan dan Ki Sumali menguasai markas kapak darah yang berada di alas Pancer. Jatuhnya markas yang di alas pancer tidak diketahui oleh anggota kapak darah lainnya, karena hampir semua anggota kapak merah sedang melakukan penjagaan acara lelang di Penginapan Seribu Bunga.


"Selanjutnya bagaimana kakang..?" tanya Sekar Wulan.


"Kita bagi tugas, Aku akan menelusuri jalan bawah tanah ini sedangkan diajeng dan kakek menelusuri jalan umum untuk pergi ke penginapan Seribu Bunga.." jawab Raden Sanjaya.


"Tapi bukankah jalan bawah tanah menghubungkan ke markas lainnya..? Aku khawatir akan banyak anggota kapak darah di markas bawah tanah. Apakah tidak terlalu berbahaya jika kakang sendirian..?" tanya Sekar Wulan.


"Diajeng tenanglah.. tidak perlu menghawatirkanku. Kita bertemu di titik ini.." ucap raden Sanjaya sambil menunjuk lokasi di dalam peta.


Merekapun berpencar dan pergi sesuai dengan rencana yang mereka sepakati. Raden Sanjaya menelusuri jalan bawah tanah sesuai petunjuk di dalam peta. Setelah cukup lama berjalan, raden Sanjaya sampai pada markas bawah tanah.


"Jika sesuai dengan peta, maka markas ini adalah markas terdekat dengan penginapan tempat lelang diadakan. Benar juga kata istriku, disini banyak anggota kapak darah. Untung aku memakai pakaian kapak darah, sehingga mereka tidak curiga kepadaku.." batin raden Sanjaya.


Raden Sanjaya tiba di salah satu ruangan dan mendengar dua orang sedang bercakap-cakap. Raden Sanjaya mendengarkan percakapan dua orang itu dengan seksama.


"Ketua.. tamu undangan sudah datang. Sebaiknya malam ini kita mulai lelangnya.." ucap salah satu anggota kapak darah.


"Perintahkan Sairun untuk memulainya. Pastikan dia menggunakan identitasku sebagai ketua Kapak Darah. Ada yang harus aku kerjakan.." jawab Singoharjo.


"Baik ketua, aku akan menyampaikannya pada Sairun.." jawab Anggota tersebut.

__ADS_1


"Oh iya.. Jika ada hal yang tidak wajar terkait dengan peserta lelang, segera laporkan padaku. Aku akan duduk di kursi peserte lelang.." ucap Singoharjo.


Anggota tersebut mengangguk dan segera meninggalkan ruangan tersebut.


"Jadi dia ketua kapak darah yang sebenarnya..? Jadi yang membuka lelang bukanlah ketua yang sesungguhnya. Benar-benar licik.." batin raden Sanjaya.


Raden Sanjaya segera pergi menuju tempat dimana Sekar Wulan dan Ki Sumali menunggu. Hari berlalu dengan cepat, matahari sudah mendekati tempat terbenamnya. Ki Sumali dan Sekar Wulan telah sampai di tempat yang telah mereka sepakati sebelumnya. Tak berapa lama, raden Sanjaya telah sampai di tempat itu.


"Bagaimana cucuku..? Apa yang kau temukan di markas mereka..?" tanya Ki Sumali.


"Kakek, dapatkah kau menghubungi ki Sasongko..? Katakan bahwa yang membuka lelang bukanlah ketua Kapak Darah melainkan hanya tangan kanannya. Ketua Kapak darah akan duduk di kursi peserta lelang. Dia berumur antara lima puluh tahun, bertubuh kurus, berambut agak keriting.." ucap Raden Sanjaya.


"Tapi apa alasannya dia tidak membuka lelang kakang..?" tanya Sekar Wulan.


"Dia sedang mencariku, mencari orang yang telah menghancurkan dan membakar markas mereka yang berada di lereng Maskumambang.."


"Hhmmmm.. aku akan masuk ke tempat lelang. Kalian tunggulah disini dan tetap.waspada.." jawab Raden Sanjaya lalu pergi ke dalam penginapan.


Tidak butuh waktu lama raden Sanjaya memasuki pengingapan seribu bunga. Di depan pintu tampak anak buah kapak darah sedang berjaga. Melihat raden Sanjaya yang memakai pakaian anggota kapak darah, dia langsung menegur raden Sanjaya


"Darimana saja kau..? cepat masuk ke dalam aula, acar akan segera dimulai.." ucap salah satu anggota yang berbadan besar.


Raden Sanjaya mengikuti orang berbadan besar itu untuk masuk ke dalam aula penginapan. Raden Sanjaya mengedarkan pandangannya ke seluruh aula dan memeriksa semua yang hadir di dalam aula untuk mengikuti pelelangan.


"Itu... orang yang duduk disana adalah ketua yang sebenarnya.." batin Raden Sanjaya.


"SELAMAT DATANG TAMU UNDANGAN PARA BANGSAWAN DARI SELURUH NEGERI. KINI SAATNYA KITA BUKA ACARA PELELANGAN INI. AKU KETUA DARI KAPAK DARAH DENGAN INI MENYATAKAN ACARA PELELANGAN DIBUKA.." ucap Sairun diiringi tepuk tangan tamu undangan.


Acara berlangsung panas. Para bangsawan saling menaikkan harga untuk setiap budak yang ditawarkan. Tejomantri merasa geram terhadap perilaku kapak darah yang memperlakukan manusia seperti barang. Sairun berulang kali tertawa terbahak-bahak saat budak yang ditawarkan laku dengan harga tinggi. Tejomantri yang sudah hilang kesabarannya tiba-tiba berteriak.

__ADS_1


"Biadap kalian semua. Aku akan menghancurkan kalian semua kapak darah. Hyaaaaattttt...!!" Tejomantri melompat ke atas panggung lelang dan menyerang Sairun.


TAAAPPP.. CTAAAAAKK.. WHUUUUUSSS..


Serangan Tejomantri dapat ditangkis dan dihindari Sairun dengan mudah.


Situasi menjadi gaduh. Para pendekar yang disewa para bangsawan bersiap untuk melindungi tuan mereka. Para pemuda dan wanita yang dijadikan budak berlarian sambil berteriak histeris.


"Penjaga....!! Ringkus orang ini..!! Para pendekar, jika kalian ingin menyelamatkan tuan kalian, bunuh pengacau ini..!!" teriak Singoharjo dari kursi peserta.


Para pengawal merasa terprovokasi langsung bersiap menyerang Tejomantri. Ki Sasongko pun maju untuk melindungi Tejomantri, menghadang serangan para pengawal. Singoharjo memanfaatkan kegaduhan dan berencana untuk kabur dari acara pelalangan. Raden Sanjaya tiba-tiba menyerang Singoharjo tapi serangan itu masih bisa dihindari oleh Singoharjo. Raden Sanjaya lalu berteriak membongkar identitas Singoharjo.


"Kalian semua bodoh.. Ketua kapak darah bukanlah yang membuka acara tadi. Tapi dialah pemimpin kapak darah yang sesungguhnya..." teriak raden Sanjaya.


"Hei bocah.. Apa maksudmu..? Jangan omong sembarangan..!!" teriak Singoharjo.


"Tidak perlu menyembunyikan identitasmu lagi. Sebaiknya kau menyerah saja.." ucap raden Sanjaya.


-->


Assalamu'alaikum. Wr. Wb


Mohon maaf kepada para pembaca. Beberapa hari ini penulis kena flu berat, jadi gak bisa konsentrasi dalam menulis. Insyaa' Allah novel ini akan terus update hingga tamat chapter kedua ini.


Semoga pembaca sekalian tetap diberikan kesehatan dan selalu dalam lindungan Tuhan YME..


Aamiin.. Aamiin..


Wassalamu'alaikum Wr. Wb

__ADS_1


__ADS_2