
Jumlah pasukan Tengkorak Hitam yang jauh lebih banyak, membuat pasukan aliansi terdesak. Walaupun pasukan aliansi telah banyak membunuh musuh, tapi seakan-akan musuh tidak ada habis-habisnya sehingga banyak pasukan aliansi yang terluka oleh serangan musuh dan ada juga yang mati terkena serangan pasukan Tengkorak Hitam. Menyadari hal itu, raden Sanjaya yang sedang bertempur melawan Pangeran Pranoto memanggil hewan spiritual suci untuk membantu pasukan Aliansi.
"Harimau putih, singa hitam, sanca kepala tiga, serigala biru dan rajawali merah, kalian bantulah pasukan aliansi untuk menghalau musuh." perintah raden Sanjaya.
"Baik tuan, hamba akan melaksanakan perintah dari tuan.." jawab mereka.
AAAUUUUUUMMMM... KWAAAAAAAKKK...
Mereka berlima langsung menyerang ke dalam pasukan tengkorak hitam. Harimau putih, singa hitam, serigala biru, dengan cakarnya menyerang pasukan tengkorak hitam sedangkan sanca berkepala tiga dengan ekor dan racunnya menyerang pasukan musuh. Rajawali merah dan elang emas menyerang dari udara, mencengkram musuhnya dan membuangnya saat berada di ketinggian. Dalam sekali serangan, belasan sampai puluhan pasukan musuh terpental hingga tidak dapat melanjutkan pertempuran lagi. Mereka terluka parah bahkan ada yang sampai mati terkena serangan hewan spiritual suci tersebut. Pasukan aliansi yang pada awalnya kewalahan menghadapi pasukan Tengkorak Hitam akhirnya kembali lagi bisa menguasai medan pertempuran. Dengan bekerja sama dengan hewan spiritual suci mereka mampu membalik keadaan.
Tidak tampak kekhawatiran sedikitpun di wajah pangeran Pranoto mengetahui ada hewan spiritual suci yang membantu pasukan aliansi. Bahkan tampak senyum di bibir pangeran Pranoto.
"Sangat menarik... Makhluk yang saling bermusuhan dalam mencari mangsa dan mempertahankan wilayahnya dan sangat membenci manusia, saat ini bersatu saling bekerja sama untuk mengalahkan ku dan pasukanku.."
"Baiklah.. akan kucoba keteguhan hati makhluk-makhluk itu, jika mereka dapat kutaklukkan adalah keuntungan buat ku dan pasukanku. Hehehehe.." batin pangeran Pranoto.
Pangeran Pranoto mengangkat tangan kirinya, dan kabut berwarna hitam keluar dari punggungnya menyerang keenam hewan spiritual suci tersebut. Kabut hitam terpental saat mengenai tubuh hewan-hewan itu. Mantram Kalacakra yang dipasang di dalam dimensi jiwa hewan spiritual suci itu melindungi hewan spiritual suci dari kabut hitam yang akan merasuki mereka.
Tapi tidak dengan elang emas. Kabut hitam masuk ke dalam tubuh elang emas dan membuat elang emas menjadi sangat ganas dan menyerang rajawali merah. Pertempuran terjadi antara rajawali merah dan elang emas. Pertempuran antara keduanya menghasilkan hembusan angin yang sangat besar. Dan setelah beberapa kali saling serang, serangan cakar rajawali merah berhasil mengenai tubuh elang emas.
KWWAAAAAAAAKKKK......
Terkena serangan rajawali merah, elang emas terpental dan menabrak beberapa bangunan di sekitar alun-alun istana hingga hancur oleh tubuh elang emas. Rajawali emas secepat kilat mengejar elang emas dan melancarkan serangan selanjutnya.
BOOOOOOOMMM...
__ADS_1
Cakar rajawali merah mendarat di dada elang emas. Rajawali merah menginjak dada dan leher elang emas sehingga elang emas tidak mampu bergerak. Rajawali merah mengumpulkan kekuatan di tenggorokannya, kekuatan yang telah mengandung mantram kalacakra. Rajawali merah melepaskan kekuatannya yang diarahkan di tubuh elang emas..
KWWAAAAAAAAKKKKK... WHUUUUUUSSSS...
Tubuh elang emas terkena kekuatan gelombang suara dari rajawali merah. Kabut hitam yang menyusup ke dalam tubuh elang emas terpental dan hancur. Elang emas kembali sadar, tapi menderita luka yang cukup parah akibat serangan rajawali merah. Sanca kepala tiga segera menyusul ke arah elang emas dan membelit tubuh elang emas untuk dibawa jauh dari lokasi pertempuran.
Pangeran Pranoto cukup terkejut dengan kejadian itu. Melihat keterkejutan di wajah pangeran Pranoto, Raden Sanjaya melanjutkan serangannya ke arah titik vital pangeran Pranoto. Pun demikian dengan Sekar Wulan, mengikuti raden Sanjaya dan melancarkan serangannya. Akan tetapi dengan sigap pangeran Pranoto menangkis dan menghindari serangan raden Sanjaya dan Sekar Wulan. Sebelumnya antara pangeran Pranoto dan raden Sanjaya yang dibantu Sekar Wulan telah terjadi pertempuran. Sudah ratusan jurus mereka keluarkan, sudah ratusan serangan mereka lakukan akan tetapi kedua belah pihak masih sama-sama unggul.
"Lawanmu ada disini paman..!!" teriak raden Sanjaya
"Menarik.. sangat menarik. Aku akan mengurus kalian nanti makhluk-makhluk rendahan, setelah aku menghabisi cacing-cacing ini.. Hahahah..." batin pangeran Pranoto.
"Kalian berani menyerang saat aku tidak siap. Kalian akan merasakan kemarahan ku..!!" teriak pangeran Pranoto geram.
Raden Sanjaya dan Sekar Wulan tidak menghiraukan ucapan pangeran Pranoto. Kombinasi serangan antara raden Sanjaya dan Sekar Wulan menjadi semakin ganas. Gerakan jurus raden Sanjaya dan jurus Sekar Wulan saling melengkapi. Gerakan menangkis, menghindar dan menyerang diperagakan oleh kedua pihak.
THIIIIIIIING.. THIIIIIIINGG.. CTAAAAANGGG..
Dengan menggunakan pedang kegelapan, pangeran Pranoto menangkis serangan dari pedang kalimasada milik raden Sanjaya dan pedang es milik Sekar Wulan.
Sementata itu, Ki Woko yang berhadapan dengan senopati Bawor tidak mengalami kesulitan sama sekali. Jurus tapak api bumi nya berkali-kali mendarat di tubuh senopati Bawor. Kabut hitam yang merasuki senopati Bawor membuatnya tidak merasakan sakit bahkan serangannya menjadi lebih ganas. Tidak hanya menyerang Ki Woko, tapi serangan senopati bawor juga melukai teman-temannya sendiri. Mengetahui serangan yang tidak terarah, Ki Woko memanfaatkan kesempatan itu agar senopati Bawor melukai teman-temannya sendiri, sehingga dengan mudah pasukan aliansi membunuh pasukan Tengkorak Hitam yang terluka karena serangan senopati Bawor. Mengetahui pasukannya dengan mudahnya dikalahkan oleh pasukan Aliansi, Senopati Bawor mengeluarkan jurus andalannya. Mengetahui hal itu, Ki Woko memutar sehingga berada di depan pasukan Tengkorak Hitam. Senopati Bawor yang telah kehilangan akal sehatnya melepaskan serangan terkuatnya kepada Ki Woko yang kini berada di depan pasukannya.
"Rasakan ini keparaaattt..!! Tebasan Pedang Bayangan....." teriak Senopati Bawor.
WHUUUUUUSSSS... NGGGIIIIIIIINGGG.. SRIIIIIIIINGGG..
__ADS_1
Energi hitam membentuk ribuan pedang menyerang Ki Woko. Dengan cepat ki Woko menghindarinya lalu melesat ke arah senopati Bawor.
SRAAAAAAASSSHHH.. SLAAAAAASSHH.. SWIIIIIIINGGGG..
Jurus tebasan pedang bayangan berhasil dihindari ki Woko dan selanjutnya justru mengenai pasukan Tengkorak Hitam. Ratusan pasukan tengkorak hitam terkena pedang bayangan mati dengan luka di tubuhnya bahkan ada yang kepalanya terpisah dari badannya. Ki Woko yang semakin dekat dengan senopati Bawor mengeluarkan jurus andalannya dan diarahkan ke kepala senopati Bawor.
"Rasakan jurusku ini..!! Pukulan Api Bumi...." ucap Ki Bawor.
BLAAAAAAARRRRR...
Senopati Bawor tidak sempat menghindar, sehingga pukulan ki Woko telak mengenai kepala Senopati Bawor dan membuat kepala senopati Bawor pecah. Tubuh Senopati Bawor ambruk ke tanah. Mengetahui salah satu pemimpin Tengkorak Hitam mati, membuat pasukan aliansi bersorak dan semangat pasukan aliansi bertambah.
"Hoooooreeeee.... salah satu pemimpin mereka mati.."
"Terus hajar pasukan musuh. Kita tidak kalah..." teriak pasukan aliansi.
Tidak terasa matahari sudah hampir terbenam. Baik Raden Sanjaya maupun pangeran Pranoto memerintahkan pasukannya untuk mundur sementara dan mereka akan melanjutkan pertempuran esok pagi. Di dekat kemah pasukan aliansi, raden Sanjaya sedang menyembuhkan luka elang emas.
"Maafkan hamba tuan. Hamba telah terpengaruh oleh sihir yang dikirmkan oleh penguasa malam. Hamba benar-benar tidak bisa mengontrol diri hamba sendiri.." ucap elang emas
"Sudahlah... tidak masalah, jangan menyalahkan dirimu sendiri elang emas. Semua ini karena di dalam dimensi jiwamu tidak terdapat mantram kalacakra, jadi dengan mudah kamu dikuasai oleh nafsu angkaramu. Setelah kau sembuh, aku akan memberimu kekuatan mantram kalacakra." ucap raden Sanjaya.
"Terimakasih banyak tuan.." jawab elang emas.
"Sekarang istirahatlah elang emas agar kekuatanmu segera pulih.." ucap raden Sanjaya.
__ADS_1
Setelah selesai memberi pengobatan elang hitam, Raden Sanjaya bergabung dengan pemimpin pasukan aliansi untuk membicarakan segala hal yang sudah mereka lalui hari ini dan menyusun rencana untuk pertempuran esok hari. Tidak kurang dari seribu orang pasukan tengkorak hitam mati dan tidak lebih dari seratus orang pasukan aliansi terluka sedang sampai parah dan ada beberapa puluh yang mati. Pasukan yang mati mendapat penguburan yang layak dan mampu menambah semangat pasukan aliansi untuk menghancurkan tengkorak hitam.
Sementara itu, di pihak tengkorak hitam, kematian senopati bawor dan seribu anggota tengkorak hitam membuat murka pangeran Pranoto. Ki Karto dan yang lainnya hanya bisa mendengar sumpah serapah dari junjungan mereka.