
"Semuanya menjadi lebih baik sekarang, jika ada yang ingin pangeran sampaikan, maka katakanlah.." ucap Ki Harso
"Aku ingin bertanya, apakah pemuda ini putra dari kakak Kusuma..?" tanya pangeran Himawan.
"Benar.. dia adalah putra putri Nawang Sari dan Pangeran Kusuma.." jawab Selir Ling.
Pangeran Himawan lalu memeluk raden Sanjaya dan meminta maaf atas semua yang dilakukannya dulu.
"Maafkan pamanmu ini. Seharusnya paman melindungimu, tapi paman justru malah ingin mencelakakanmu." ucap pangeran Himawan lalu menceritakan semua kejadiannya.
"Sudahlah paman, seperti kata ibuku, ini semua adalah takdir. Jika paman tidak membocorkan keberadaanku kepada paman Pranoto, aku mungkin tidak akan lari ke alas Purba dan aku tidak akan menjadi sekuat ini.." jawab raden Sanjaya.
"Terimakasih keponakanku. Kau memang mirip sekali dengan ayahmu. Mulai sekarang apapun yang kau butuhkan, katakanlah padaku. Aku akan selalu membantumu.." ucap pangeran Himawan.
"Lalu apa tujuanmu datang ke desa ini Harso..?" sahut begawan Sabdawala.
"Sebenarnya aku hanya ingin membantu muridku ini untuk mencari ibunya. Tapi tidak kusangka aku bertemu dengan guru disini."
"Lalu apa yang guru lakukan disini..? Mengapa guru tidak kembali ke perguruan Wiji Sejati..? tanya Ki Harso.
Belum sempat menjawab pertanyaan Ki Harso, pangeran Himawan mengingatkan tentang kejadian dimana dia dan Ki Harso baru saja sampai di desa Gadungsari.
"Aku hampir lupa. Saat baru sampai di desa ini, kami melumpuhkan anggota Tengkorak Hitam. Saat itu mereka menyeret tiga orang gadis dan merebut bayi dari seorang ibu-ibu." sahut pangeran Himawan.
"Lalu bagaimana dengan gadis dan bayi itu..? Dan bagaimana dengan anggota Tengkorak Hitam..?" tanya raden Sanjaya.
"Bayi dan para gadis itu selamat. Anggota tengkorak hitam sebagian telah mati dan sebagian lainnya telah kuikat di tugu depan pasar desa.." jawab Ki Harso.
"Lebih baik bawa mereka kesini. Aku akan menginterogasi mereka." ucap raden Sanjaya.
Tidak butuh waktu lama mereka sampai di pasar desa. Tampak warga desa menghajar anggota Tengkorak Hitam hingga babak belur. Beberapa dari mereka bahkan telah kehilangan nyawanya.
__ADS_1
"Hentikan perbuatan kalian. Mereka akan mati jika kalian terus menghajarnya.." ucap Ki Harso.
"Biarkan tuan. Meraka pantas mendapatkannya. Mereka adalah kelompok penjahat dan aliran hitam. Mereka harus dibunuh agar tidak terus-terusan berbuat jahat.." jawab penduduk.
"Jadi menurut kalian jika mereka penjahat mereka pantas dibunuh..? Bukankah mereka sudah dilumpuhkan dan tidak berdaya..? Itu artinya mereka sudah tidak dapat lagi melakukan kejahatan. Lalu mengapa kalian masih menghajarnya..? Lalu apa bedanya kalian dengan mereka..?" sahut Raden Sanjaya.
"Maaf tuan, kami merasa kesal dengan perbuatan mereka. Mereka tidak punya rasa kemanusiaan. Para gadis yang mereka bawa tadi selain diseret mereka juga dilecehkan oleh mereka. Seorang ibu juga hampir kehilangan bayinya karena ulah mereka.." jawab salah satu penduduk.
"Apapun alasan kalian, tindakan kalian sudah melampaui batas. Bukankah sama tidak punya rasa kemanusiaan juga menghajar orang yang sudah tidak berdaya hingga mati..?"
"Aku paham maksud kalian benar, tapi cara kalian yang salah. Tindakan benar jika dilakukan dengan cara yang salah maka akibatnya juga tidak akan baik.." ucap raden Sanjaya.
"Sekarang kalian bubarlah. Serahkan masalah ini pada kami." ucap Ki Harso.
Penduduk membubarkan diri. Terlihat nafas Karman tersengal-sengal karena seluruh badannya remuk dihajar oleh penduduk. Raden Sanjaya memberikan ramuan penyambung nyawa dan mengalirkan tenaga dalamnya untuk menyembuhkan luka-luka karman. Setelah itu, raden Sanjaya dan yang lainnya membawa Karman dan anggota lainnya ke kediaman Nyai Nawang.
"Sekarang katakan yang sebenarnya apa rencana Sekte Tengkorak Hitam dengan bayi-bayi dan gadis-gadis itu..?!" tanya raden Sanjaya.
"Apa untungnya aku mengatakan kepada kalian..? Jika kalian ingin tau, mengapa kalian tidak bergabung saja dengan kami..? hahahahaha..." jawab Karman.
"Kekayaan dan kemewahan, juga dapat menikmati gadis-gadis cantik seperti dia setiap hari. Apakah kamu tertarik..?" jawab Karman sambil melihat Sekar Wulan
PRAAAAAAKK..
Pukulan dari putri Nawang mendarat di wajah Karman.
"Jaga ucapanmu keparat..!!" ucap putri Nawang geram.
"Ibu sebaiknya ibu dan nona Wulan pergi dari sini. Biar kami yang mengurusnya.." ucap Raden Sanjaya.
"Kau jangan main-main atau aku akan membuat kepalamu terpisah dari badanmu.." ucap pangeran Himawan sambil menghunuskan pedangnya.
__ADS_1
"Hahaha.. Tanyakan pada raja Yama di neraka." jawab Karman tanpa rasa takut.
Cukup lama mereka menginterogasi Karman. Tapi sepertinya tidak membuahkan hasil sama sekali.
"Minumkan ini padanya Sanjaya, ini adalah racun kejujuran. Saat dia tidak mengatakan hal yang sebenarnya, dia akan merasakan sakit di seluruh tubuhnya. Sakit yang belum pernah dirasakannya, tapi itu tidak akan membunuhnya.." ucap selir Ling sambil memberikan botol berisi cairan.
Ki Harso memaksa Karman untuk membuka mulutnya dan dengan sigap raden Sanjaya memasukkan cairan racun ke dalam mulut Karman. Dengan sekali totokan di punggung membuat Karman tidak dapat memuntahkan sedikitpun cairan racun itu.
"Hahahahaha... apa kalian pikir bisa mendapatkan informasi dengan cara ini..? Bagiku ini hanya seperti mainan anak-anak.." ucap Karman.
"Sekali lagi kutanya, apa rancana Tengkorak Hitam dengan bayi dan para gadis itu..?" tanya raden Sanjaya.
"Aaaaarrgg... sakiiiiittt... sakiiiitt.. Lebih baik bunuh saja aku.., ini sakiiit sekaliiii..." teriak Karman.
"Jika kau memberitahukan kami, maka kau tidak akan meradakan sakit. Apa rencana Tengkorak Hitam dengan bayi dan gadis-gadis itu..?" raden Sanjaya mengulangi pertanyaannya.
Lagi-lagi Karman tidak ingin mengatakannya dan rasa sakit yang dialaminya semakin meningkat dan akhirnya membuat dia menyerah.
"Baik.. aku menyerah. Bayi-bayi itu dijadikan tumbal oleh pemimpin kami kepada penguasa kegelapan. Kami membutuhkan 99 bayi sebagai tumbal dan saat ini kurang dari 20 bayi lagi. Setelah genap 99, maka penguasa kegelapan akan memberikan kami kekuatan hitam yang besar sebagai gantinya" ucap Karman.
"Lalu apakah para gadis juga akan dijadikan tumbal..?" tanya raden Sanjaya.
"Tidak.. para gadis akan kami gunakan bersenang-senang merayakan kekuatan hitam yang telah kami dapatkan. Mereka akan mengandung benih-benih kami dan akan menjadi penerus Tengkorak Hitam kedepannya.." jawab Karman.
"Perbuatan kalian sungguh biadab..!! Mungkin benar apa kata penduduk desa tadi, kalian tidak pantas dibiarkan hidup.." pangeran Himawan mengayunkan pedang ke arah Karman. Tapi dengan cepat begawan Sabdawala menahan tangan pangeran Himawan.
"Tenanglah paman, aku akan menghancurkan kekuatan dan lautan jiwanya. Sehingga dia tidak akan bisa lagi berlatih kanuragan lagi." ucap raden Sanjaya.
"Aku akan menghancurkan kekuatan dan lautan jiwamu. Setelah itu kau kubiarkan hidup, kembalilah kepada pimpinanmu. Katakanlah Jaka Pengalasan akan membuat perhitungan dengan Tengkorak Hitam dan menagih hutang meraka." ucap raden Sanjaya.
Dengan mantram kalacakra, raden Sanjaya menghancurkan kekuatan dan dimensi jiwa Karman. Raden Sanjaya juga menutup semua titik cakra Karman dengan mantram kalacakra sehingga Karman benar-benar tidak bisa berlatih kanuragan.
__ADS_1
Lalu raden Sanjaya melepaskan Karman agar dapat memberikan laporan kepada pemimpin sekte Tengkorak Hitam.
"Ingatlah kalian, Tengkorak Hitam pasti akan membalas perbuatan kalian." ancam Karman.