
"Ling..... benarkah itu kamu..? Apa yang kamu lakukan disini..?" tanya raja Dewayana.
"Benar paduka.. Bagaimana paduka bisa berada disini..? Kakak Dyah.... biar aku lihat kondisinya dulu.."
"Ini racun Kobra hitam yang sangat ganas. Sebentar, aku akan membuat penawarnya.." ucap selir Ling..
"Kka.. kamu..... kamu Nawang Sari.. Kamu masih hidup menantuku..?" tanya Raja Dewayana sambil memeluk menantunya..
"Benar ayah.. aku Nawang Sari, menantu ayah, istri dari Pangeran Kusuma." jawab putri Nawang Sari.
"Bagaimana kamu masih hidup..? Saat itu jelas² jenazahmu juga dibawa ke istana, bahkan aku sendiri yang memimpin upacara pemakamannya.." raja Dewayana merasa bingung.
Putri Nawang menceritakan semuanya kepada raja Dewayana dengan detail semua kejadian yang dialaminya. Juga tentang pertemuannya dengan putranya Raden Sanjaya. Dilanjutkan dengan selir Ling, sambil membuat penawar racun ganas dari kobra hitam, Selir Ling pun juga menceritakan kejadian yang sesungguhnya hingga dia bisa sampai di padepokan Naga Langit. Pangeran Himawanpun juga meminta maaf kepada raja Dewayana terhadap apa yang telah dilakukannya. Dengan besar hati raja Dewayana memaafkan semua yang telah dilakukan putranya itu.
Lalu giliran Ki Sumali juga menceritakan perjalannya di alas Purba bersama raden Sanjaya. Mendengar cucunya masih hidup, raja Dewayana sangat senang, dia berharap bisa segera bertemu dengan cucunya.
"Jadi cucuku Sanjaya masih hidup..?" raja Dewayana merasa sangat bahagia.
"Siapakah yang tiba-tiba mengaku sebagai kakekku..? Berapa orang lagi yang akan menjadi kakekku..?" ucap raden Sanjaya yang tiba-tiba sudah berada di dalam pendopo.
Semua yang ada di pendopo menoleh ke arah raden Sanjaya.
"Siapakah pemuda ini..? aku bahkan tidak merasakan kehadirannya." batin ki Sasongko.
"Sanjaya.. kamu sudah pulang anakku..? Ini, beliau adalah baginda raja Dewayana, ayah dari pangeran Kusuma ayahmu dan mertua ibu.." ucap putri Nawang.
"Benarkah dia Sanjaya..? Dia begitu tampan dan gagah, sangat mirip dengan Kusuma.." ucap raja Dewayana sambil memeluk raden Sanjaya.
"Jadi anda kakekku..? Maafkan aku kek, aku tidak mengenalimu.." ucap raden Sanjaya lalu memberi hormat.
__ADS_1
"Sudahlah.. kakek tidak akan menyalahkanmu. Sudah sewajarnya kau tidak mengenali kakek, kakek yang salah. Dulu kakek tidak sempat bermain denganmu, kakek terlalu sibuk dengan urusan kerajaan.."
"Oh.. iya..... itu yang terbaring disana adalah nenekmu, wanita yang telah melahirkan ayahmu. Nenekmu terkena racun kobra hitam yang sangat ganas.." ucap raja Dewayana sambil menunjuk Putri Dyah Ayu yang sedang diobati selir Ling.
"Racun kobra hitam..? bagaimana nenek bisa terkena gigitan ular kobra hitam..?" tanya raden Sanjaya.
"Tiba-tiba pondok kami diserang ribuan ular kobra hitam. Sepertinya mereka dipimpin oleh seekor ular kobra berwarna hijau tua dan bertanduk. Beruntung Ki Sasongko dan Ki Samijan cepat datang menolong kami." jawab raja Dewayana.
Setelah Selir Ling selesai memberikan penawar racun, raden Sanjaya dengan mantram kalacakra membantu menaklukkan racun ganas yang ada di tubuh putri Dyah Ayu. Perlahan uap berwarna hijau pekat keluar dari pori-pori kaki putri Dyah Ayu. Tercium aroma racun yang sangat menyengat saat bekas gigitan ular itu mengeluarkan cairan berwarna hijau kehitaman. Perlahan-lahan warna biru keunguan di kaki putri Dyah Ayu berangsur menghilang dan kembali seperti semula. Putri Dyah Ayu perlahan tersadar dan membuka matanya dan melihat raden Sanjaya berada di depannya sedang menyalurkan tenaga dalamnya.
"Terimakasih anak muda, apakah kau yang menolongku..?" tanya putri Dyah Ayu..
"Tidak perlu berterimakasih nek. Sudah menjadi kewajibanku menolong sesama. Sebenarnya Ki Sasongko dan bibi Ling lah yang telah menolong nenek, aku hanya membantu saja.." jawab raden Sanjaya.
Putri Dyah Ayu lalu melihat sekelilingnya.
"Benar ibu.. ini aku Nawang Sari. Dan pemuda tampan di depanmu itu adalah Sanjaya putra Pangeran Kusuma.." ucap Putri Nawang Sari sambil memeluk ibu mertuanya.
"Sanjaya cucuku... kau begitu tampan dan gagah sekarang. Tidak seperti masa kecilmu dulu yang lucu. Tapi bagaimana kalian kalian bisa berada disini..? Dan Adik Ling, bagaimana adik ............." Putri Dyah tidak melanjutkan kata-katanya karena raja Dewayana segera memotong pembicaraannya.
"Istriku.. aku akan menceritakan padamu nanti. Sekarang istirahatlah, pulihkan dulu kondisimu.." ucap raja Dewayana.
"Permaisuri, minumlah ramuan ini, ini akan memulihkan kondisimu dengan segera.." ucap Ki Sumali sambil memberikan botol berisi ramuan pemulih tenaga.
"Kakek.. Dimana nona Wulan..? Apakah dia sudah menguasai kitab pedang kilisuci..?" tanya raden Sanjaya.
"Gerakan jurus pedang kilisuci dan tinju kilisuci telah dikuasai dengan sangat baik oleh nona Wulan. Tetapi nona Wulan belum memahami mantram sakti kilisuci. Aku harap raden bisa membantunya.." ucap Ki Sumali.
Raden Sanjaya segera menemui Sekar Wulan di halaman belakang padepokan Naga Langit untuk membantunya memahami mantram sakti kitab pedang kilisuci. Berbeda dengan kitab kalimasada yang disetiap jurusnya memiliki mantram sakti, kitab pedang kilisuci memiliki satu mantram sakti yang dapat diserep energinya saat seseorang telah menguasai jurus-jurus yang ada di dalam kitab pedang kilisuci.
__ADS_1
Kata demi kata dijelaskan oleh raden Sanjaya sehingga Sekar Wulan dengan mudah dapat memahami makna dari mantram kilisuci tersebut. Dalam beberapa hari Sekar Wulan telah paham dengan makna mantram itu dan dia telah siap untuk menyerap energi dari mantram suci itu.
"Akhirnya nona Wulan berhasil memahami mantram sakti kitab pedang kilisuci. Seberapa banyak nona Wulan dapat menyerap energi mantram sakti itu, semua tergantung pada kekuatan fisik dan jiwanya. Aku akan meminta Kakek Sumali membuatkan ramuan untuk memperkuat fisik dan jiwa nona Wulan.." batin raden Sanjaya.
"Raden..... terimakasih telah sabar mengajariku memahami mantram sakti ini. Lalu kapan aku bisa memulai menyerap energinya..?" tanya Sekar Wulan.
"Sabarlah nona, butuh kekuatan fisik dan jiwa agar energi mantram bisa terserap dengan maksimal. Aku akan meminta kakek Sumali untuk membuatkan ramuan untuk memperkuat fisik dan jiwamu.." jawab raden Sanjaya.
"Sekarang sebaiknya kita ke pendopo. Sepertinya mereka sedang berkumpul disana dan aku merasakan kakek Sabdawala juga sudah datang.." sambung raden Sanjaya.
"Baik raden..." jawab Sekar Wulan sambil mengikuti raden Sanjaya menuju pendopo.
Sementara itu di pendopo padepokan Naga Langit, Begawan Sabdawala datang hampir bersamaan dengan ki Harso. Semua terkejut dengan kedatangan begawan Sabdawala terutama Ki Sasongko.
"Guru.... salam hormat dari murid mohon guru sudi menerimanya.." ucap Ki Sasongko.
"Hehehehehe... Bangunlah Sasongko. Aku telah menerima salam hormatmu.." jawab begawan Sabdawala
"Baginda raja Dewayana, salam hormat hamba haturkan.." ucap begawan Sabdawala dan Ki Harso.
"Tidak... tidak begawan. Walau bagaimanapun anda adalah ayah dari adipati Bumiaji mertua dari anakku Kusuma. Aku tidak pantas menerima hormat anda, sebaliknya akulah yang harusnya memberikan hormatku kepada anda. Bagiku anda adalah orang tuaku juga, dosa apa yang akan aku terima jika aku berani menerima salam hormat dari anda Begawan..?" ucap Raja Dewayana sambil membungkukkan badan.
Dengan sigap, begawan Sabdawala menahan tubuh raja Dewayana..
"Jangan paduka.. Jika paduka tidak bisa menerima hormatku, bagaimana aku bisa menerima hormat dari paduka..?" ucap begawan Sabdawala sambil memeluk raja Dewayana.
Raden Sanjaya merasa terharu dengan hubungan antar keluarga tersebut.
"Ternyata sebelum kejadian penyergapan itu, hubungan keluarga ayah dan ibu sangatlah erat. Tengkorak Hitam, kalian harus membayar semua hutang ini. Akan aku hancurkan kalian sampai ke akarnya, agar tidak ada lagi yang mengalami seperti yang aku alami.." batin raden Sanjaya.
__ADS_1