
"Ahhhhhh.. sudahlah, aku benar-benar menyerah. Ternyata benar kata ki Sumali, tidak ada yang benar-benar menguasai kitab kalimasada ini.." gumam raden Sanjaya kesal..
"Raden, tenangkanlah dirimu. Hilangkan nafsumu untuk dapat menguasai kitab kalimasada. Semakin raden bernafsu menguasainya, semakin raden tidak bisa menguasainya" ucap ki Sumali lembut.
"Iya ki.. tapi aku memang benar-benar lelah, aku menyerah. Selama tiga minggu aku berusaha menggabungkannya, belum pernah sekalipun berhasil.." ucap raden Sanjaya sedih.
"Aku mengerti raden, tenangkanlah dirimu. Bersihkan pikiran dan hatimu.."
"Akan kusiapkan dulu makan siang, kembalilah ke goa saat raden sudah merasa tenang." ucap ki Sumali sambil berlalu.
Raden Sanjaya hanya memandangi ki Sumali yang pergi kembali ke goa. Dia lalu berbaring di atas tanah lapang sambil memandangi langit. Angin bertiup sepoi-sepoi, namun dapat menerbangkan daun-daun kering. Raden Sanjaya berusaha menangkis daun kering yang akan jatuh ke wajahnya karena tertiup angin, tapi tiba-tiba daun itu seperti mempunyai kesadaran dan menghindari tangan raden Sanjaya.
Raden Sanjaya bangun dari posisi tidurnya dan duduk bersila. Setiap ada daun kering yang hampir mengenai tubuhnya, dia berusaha menangkis dan lagi² daun itu menghindari tangan raden Sanjaya. Raden Sanjaya seperti mendapat pencerahan.
"Hhhmmmmm... mungkinkah sesederhana itu..?"
"Langkah Kalimasada bagaikan angin dan tapak kalimasada bagaikan daun. Sedangkan aku adalah alam ini.."
"Angin akan selalu bertiup dengan kesadarannya sendiri, dan daun akan mengikuti alur angin dengan kesadarannya sendiri juga. Sedangkan alam adalah pengendali kedadaran angin dan tempat jatuhnya daun kering itu.." ucap raden Sanjaya dalam hati.
Raden Sanjaya memejamkan mata dan mulai berkonsentrasi. Dengan menggunakan konsep alam, angin dan daun kering yang dia temukan, raden Sanjaya mulai melatih untuk menggabungkan jurus langkah kalimasada dan tapak kalimasada. Raden Sanjaya mulai mendapatkan kendali atas jurus langkah kalimasada dengan teknik pernafasan kalimasada dan disaat yang sama raden Sanjaya memperagakan jurus tapak kalimasada.
WHUUUUNG.. WHUUUNGG..
BEET.. BWEET.. WHUUSSSS..
Kecepatan jurus tapak kalimasada meningkat. Angin yang semula bertiup ringan, kini bertiup lebih kencang. Gerakan raden Sanjaya yang memperagakan jurus tapak kalimasada sangat gesit dan cepat, bahkan terkadang tidak bisa diikuti oleh kecepatan mata.
Dengan kesadarannya, raden Sanjaya mencabut pedang guntur angin dan melanjutkan memperagakan jurus pedang kalimasada.
SWIIING.. SWIIIING.. WHHEEETT..
SWUUUUNG.. SWIIINGG..
Suara pedang yang membelah angin terdengar dan seperti suara pertarungan antara dua pendekar. Ki Sumali yang mendengar seperti ada pertarungan lalu berlari ke tempat latihan raden Sanjaya.
"Suara ini... jangan-jangan raden Sanjaya sedang bertarung."
__ADS_1
"Tapi dengan siapa..? apakah ada hewan spiritual suci yang menyerang raden Sanjaya..?" tanya ki Sumali dalam hati.
Sesampainya di tempat latihan raden Sanjaya, ki Sumali terkejut luar biasa. Dia tercengang dengan apa yang dilihatnya. Ki Sumali tidak melihat raden Sanjaya, hanya kilatan pedang dan bayangan tangan yang dapat ditangkap mata ki Sumali.
"Inikah kekuatan dan kecepatan langkah kalimasada..?" pikir ki Sumali
TAPAK KALIMASADAA..
BHLAAAAARRR.. JDHAAARRRR..
Batu sebesar rumah yang ada di depan Raden Sanjaya hancur berkeping-keping.
PEDANG KALIMASADAA..
SRRIIIIINGG.. JDHAAAAARR..
Beberapa pohon besar seukuran tiga rangkulan orang dewasa tumbang dengan sebagian batang yang hancur..
PEDANG KALIMASADAA..
CRAAAAASSH.. JRAAAAAABBB..
"Raden.. ka.. kamu berhasil menggabungkan jurus-jurus itu. Bahkan tidak hanya dua jurus, tapi ketiga jurus berhasil raden gabungkan.."
"Sungguh kecepatan dan kekuatan yang luar biasa.." batin ki Sumali tercengang.
Raden Sanjaya mengakhiri latihannya, dan melihat ki Sumali duduk bersimpuh sambil bergetar seluruh tubuhnya. Raden Sanjayapun menghampiri ki Sumali.
"Ki.. ada apa denganmu..? mengapa seluruh tubuhmu bergetar..?" tanya raden Sanjaya.
"Raden.. aku benar-benar tak kuasa menahan tubuhku. Aku benar-benar tidak percaya raden telah berhasil menggabungkan ketiga jurus itu." ucap ki Sumali dengan suara bergetar.
"Semua berkat bimbinganmu ki.. Aku sangat berterimakasih kepadamu.." ucap raden Sanjaya sambil bersujud di depan ki Sumali..
Ki Sumali terkejut dan reflek berusah mengangkat tubuh raden Sanjaya.
"Jangan lakukan itu raden, aku tidak pantas menerima sujudmu. Dan terlalu cepat merayakannya, raden masih harus menyerap kekuatan mantram sakti jurus langkah kalimasada." ucap Ki Sumali.
__ADS_1
"Tidak ki.. kamu sangat pantas mendapatkan sujudku."
"Disaksikan oleh alas Purba dan seisinya, disaksikan empat penjuru mata angin dan isi dari siang dan malam, mulai sekarang Ki Sumali adalah guruku..!!" teriak raden Sanjaya.
"Raden, aku tidak pantas menjadi guru raden. Kekuatanku bukanlah apa-apa dibandingkan dengan raden.." ucap ki Sumali terharu
"Tidak ki, bagaimanapun tanpa nasehatmu aku tidak akan bisa sampai ke tahap ini. Bahkan aku menyesal, baru sekarang aku mengakuimu sebagai guruku."
"Guru, murid memberikan hormat kepadamu." ucap raden Sanjaya sambil membungkukkan badan.
Ki Sumali memeluk raden Sanjaya sambil menitikkan air mata. Rasa bangga muncul dari dalam hati ki Sumali.
"Raden... kamu bukan hanya muridku, tapi kamu sudah aku anggap sebagai cucuku.." ucap ki Sumali bergetar.
"Mulai saat ini, jangan panggil aku dengan sebutan raden lagi. Sekarang aku adalah murid dan juga cucumu kakek.." ucap raden Sanjaya..
"Baiklah ra.. cucuku.." ki Sumali membalas sambil tersenyum.
Mereka berdua kembali ke goa, haripun sudah mendekati malam.
"Kakek, eehhmmmm.. Guru.., ah.. aku harus memanggilmu kakek apa guru kek..? tanya raden Sanjaya.
"Hahahaha.. terserah kamu saja. Apa yang membuatmu nyaman." hawab ki Sumali sambil memasak.
"Baik.. Selanjutnya apa yang harus aku lakukan kek..? apa aku harus puasa lagi 40 hari..? tanya Raden Sanjaya.
"Menurut petunjuk dalam kitab kalimasada, kekuatan mantram sakti dapat diserap jika pendekar tersebut sudah menguasainya."
"Itu artinya kekuatan mantram sakti dapat diserap kapanpun tanpa perlu puasa." ki Sumali menjelaskan
"Besok aku akan melatihnya lagi. Setelah itu baru aku akan menyerap energi mantram saktinya kek.." balas raden Sanjaya.
"Raden.. maksud kakek, cucuku..., ini adalah mutiara cempaka salju yang dulu dijaga oleh kera raksasa di dalam goa ini, seraplah agar kekuatan fisik dan jiwamu meningkat."
"Kakek rasa, kekuatan mantram sakti dari jurus ini tidaklah main-main. Pastinya membutuhkan fisik dan jiwa yang lebih kuat untuk dapat menyerapnya.." ucap Ki Sumali sambil menyerahkan Mutiara Cempaka Salju.
Setelah makan malam, raden Sanjaya duduk di atas batu wulung hitam untuk menyerap mutiara cempaka salju. Raden Sanjaya menelan mutiara salju tersebut dan mulai menyerap kekuatannya. Tampak kabut putih dingin menyelimuti tubuh raden Sanjaya. Perlahan kabut itu masuk ke dalam tubuh raden Sanjaya.
__ADS_1
Dalam waktu dua jam raden Sanjaya berhasil menyerap seluruh energi yang ada di dalam mutiara cempaka es. Kini tubuh raden Sanjaya semakin kuat dan mempunyai kekebalan terhadap segala jenis racun.