
"Hahahahahha... sudah lama aku tidak merasakan pertarungan seperti ini. Aku berjanji akan kubuatkan makam yang indah untuk kalian berdua.." ejek senopati Manto.
"Jangan sombong Manto. Kau dan pengikutmu akan menuai apa yang telah kau tanam. Kejahatan kalian tidak akan pernah menang melawan kebenaran. Sebelum semua terlambat bertobatlah.." sahut Ki Sumali.
"Hahahahha... orang tua, kalianlah yang sombong. Apakah kalian pikir bisa mengalahkanku..? Tidak ada di dunia ini yang bisa mengalahkanku kecuali pangeran penguasa dan Ki Karto.." ucap senopati Manto dengan sombongnya.
"Banyak omong kau keparaaaattt..!! terimalah gada wesi kuningku ini.. Jurus gada penghancur buwana....!!" teriak Ki Mahesa.
Sekuat tenaga Ki Mahesa melemparkan gada wesi kuning yang terisi kekuatan jurusnya ke arah senopati Manto. Ki Sumali segera menyusul serangan ki Mahesa dengan jurus andalannya.
"Terima ini sebagai balasan dari perbuatanmu Manto...!! Tombak petiirrrr...!!" teriak Ki Sumali.
Mendapatkan serangan yang sangat cepat dari Ki Mahesa, Senopati Manto pun mengeluarkan jurus andalannya untuk menangkis jurus Ki Mahesa.
"Hahahaha.. Kau bukan apa-apa tanpa gadamu Mahesa. Tunggu sampai aku bisa mengkis seranganmu..!! Pedang Hitam Penghancur Gunung....!!" teriak senopati Manto.
DHUAAAAAARRR... PRAAAAANGGGG...
Senopati Manto berhasil menangkis jurus Ki Mahesa, akan tetapi pedang senopati Manto patah menjadi beberapa bagian. Gada Wesi Kuning terpental jauh dan mengenai pasukan tengkorak hitam.
BLAAAAAARRRR...
Ratusan pasukan tengkorak hitam mati terkena ledakan yang disebabkan oleh gada yang sudah terisi dengan jurus ki Mahesa. Belum hilang keterkejutan senopati Manto akibat pedangnya yang patah, tombak Ki Sumali menembus pertahanan senopati Manto dan menancap di tenggorokan senopati Manto tembus ke tengkuknya..
"Aaakkkhh... kkkhhhhh.. aaakk..." senopati Manto meregang nyawa dengan tombak tertancap tepat di lehernya.
"Aku sudah mengingatkanmu untuk bertobat sebelum semua terlambat. Tapi kau begitu sombong seakan-akan kau tidak bisa mati. Sekarang menghadaplah kepada raja Yama untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu.." ucap Ki Sumali sambil mencabut tombaknya.
Senopati Manto mati dengan lubang di lehernya. Ki Sumali dan Ki Mahesa, dibantu dengan tetua perguruan Wiji Sejati selanjutnya membantu pasukan aliansi melawan anggota tengkorak hitam.
-->
Tidak terasa pertempuran antara pasukan aliansi dan Tengkorak telah berlangsung selama lima hari. Baik pasukan aliansi maupun tengkorak hitam telah kehilangan lebih dari setengah pasukannya. Anggota aliansi yang dari awal tidak terlibat pertempuran pun akhirnya tergerak hatinya untuk ikut bertempur melawan pasukan tengkorak hitam. Sehingga terlihat pasukan aliansi seakan-akan tidak kehilangan banyak pasukan. Itulah yang menyebabkan pasukan tengkorak hitam menjadi jatuh mentalnya.
__ADS_1
Pada hari keenam, begawan Sabdawala dan Ki Sasongko masih menghadapi Ki Karto. Sedangkan Ki Sumali dan yang lainnya membantu pasukan aliansi untuk menghadapi anggota tengkorak hitam.
"Hahahaha... apakah hanya seperti ini kekuatanmu pak tua..? Sepertinya kau dan muridmu itu tidak akan bertahan sampai esok hari.." ucap Ki Karto dengan sombong.
"Diamlah Karto. Untuk apa kau menyombongkan diri..? apakah kau tau Manto tangan kananmu mati juga karena kesombongannya..?" sahut begawan Sabdawala.
"Manto bukanlah aku begawan. Kekuatan Manto memang tidak seberapa dibanding kekuatanku. Sudah suatu kewajaran dia mati..Hahahaha.." jawab Ki Karto.
"Guru.. tidak ada gunanya berbicara dengan orang sombong ini. Sebaiknya kita serang saja..." ucap ki Sasongko sambil maju menyerang Ki Karto.
WHUUUUUUSSS.. SRIIIINGG.. TAAAAANG....
TRAAAAAANGG.. TAAAAAP.. WHUUUUUNNGG...
Serangan pedang ki Sasongko dan begawan Sabdawala dapat dihindari dan ditangkis oleh ki Karto menggunakan golok Kalabendana miliknya. Pertempuran sengit terjadi diantara mereka, walaupun usia mereka sudah tua, tapi tidak mengurangi kelincahan dan kehandalan mereka memainkan pedang maupun golok. Jurus demi jurus telah mereka keluarkan, ratusan serangan, hindaran dan tangkisan mereka peragakan.
Sementara itu, raden Sanjaya dan Sekar Wulan juga bertarung sengit dengan pangeran Pranoto. Kecepatan serangan raden Sanjaya dan Sekar Wulan mampu diimbangi oleh pangeran Pranoto yang disusupi oleh penguasa kegelapan.
CTAAAAANGG..
JDUUUUUUG.. DHEEEESSSSS..
Serangan raden Sanjaya dan Sekar Wulan mampu dihindari dan ditangkis pangeran Pranoto. Sebuah tendangan dan pukulan mendarat di dada raden Sanjaya dan perut Sekar Wulan yang membuat mereka terpental beberapa meter. Beruntung tenaga dalam mereka cukup tinggi sehingga mampu meredam kekuatan dari pangeran Pranoto sehingga tidak menyebabkan luka dalam.
"Ternyata selain cantik kau memiliki tubuh yang kuat dan hhhhhhhmmm.. wangi. Sangat bagus untuk kutitipi benih keturunanku. Lebih baik bergabunglah denganku, lalu kita bersama-sama menguasai negeri ini.." ucap pangeran Pranoto sambil mencium tangannya.
"Ciiiiihhh.. aku tidak sudi bergabung dengan manusia jahat sepertimu.. Lebih mati daripada harus bergabung denganmu..!! Sungguh menjijikkan..!!" hardik Sekar Wulan marah.
"Hahahahaha... Siapa yang akan membiarkanmu mati..? Aku tidak rela raja Yama menikmatimu jika kau mati.. Aku akan membereskan pemuda itu dulu dan setelah itu kita nikmati kebersamaan kita..." ucap Pangeran Pranoto mengejek.
"Sudahlah nona.. jangan terpancing dengan kata-katanya. Dia hanya membuatmu emosi saja. Jika amarah sudah menguasaimu, maka nona akan jatuh pada perangkapnya.." ucap radem Sanjaya mengingatkan.
"Hhhhhhhhaaah.. terimakasih raden telah mengingatkanku.." jawab Sekar Wulan sambil menghembuskan nafas panjang untuk meredakan amarahnya.
__ADS_1
Hari berlalu dengan cepat, pertarungan sengitpun berlanjut. Tanpa rasa lelah mereka saling menyerang dan bertahan. Mereka tampak seimbang dalam tiap serangannya. Tak jauh dari pertarungan raden Sanjaya dan pangeran Pranoto, Begawan Sabdawala dan Ki Sasongko tampak sedikit kewalahan menghadapi Ki Karto. Dengan jurus raga abadinya, Ki Karto hampir tidak merasakan serangan dari Ki Sasongko dan begawan Sabdawala. Akan tetapi serangan Ki Karto sangat berpengaruh pada mereka berdua. Hingga begawan Sabdawala mencoba menyerang ki Karto dengan jurus andalannya.
"Tapak Kalimasadaa..." batin begawan Sabdawala.
JDHAAAAARRRR.... BRAAAAAAKKKK...
Serangan begawan Sabdawala telah mengenai dada ki Karto. Tubuh ki Karto terpental belasan meter menghantam bangunan yang ada di alun-alun kerajaan. Dengan cepat begawan Sabdawala mengejar ki Karto hendak menyusulkan serangan kedua. Akan tetapi dengan jurus raga abadinya, serangan Begawan Sabdawala seperti tidak ada artinya bagi ki Karto. Dengan cepat pula ki Karto segera mengeluarkan jurus andalannya.
"Tebasan Golok Setaann..." teriak Ki Karto.
Sebuah siluet berbentuk golok raksasa keluar dari golok milik ki Karto. Begawan Sabdawala yang tidak sempat menghindar terkena tebasan golok Ki Karto dan terpental puluhan meter dengan luka yang sangat parah.
"Guruuuuuuuu...!!" teriak ki Sasongko.
Raden Sanjaya dan Sekar Wulan yang sedang bertarungpun melihat ke arah begawan Sabdawala setelah mendengar teriakan ki Sasongko.
"Kakek Begawaaaaann..!! teriak mereka berdua.
"Kemana kau melihat anak muda, musuhmu ada disini.." ucap pangeran Pranoto sambil menyerang raden Sanjaya.
"Pedang kalimasada... Energi pedang kikisuci" batin raden Sanjaya dan Sekar Wulan
Mengetahui serangan dari lawannya pangeran Pranoto menangkisnya dengan jurus andalannya.
"Tebasan pedang kegelapan.." teriak pangeran Pranoto.
BLAAAAAARRRRR....
Ledakan terjadi saat ketiga energi pedang itu bertabrakan. Ketiganya mundur beberapa meter imbas dari ledakan energi pedang mereka dan membuat jarak yang cukup jauh dari pangeran Pranoto. Kesempatan itu digunakan raden Sanajaya dan Sekar Wulan untuk menghampiri begawan Sabdawala.
Hari berangsur gelap. Baik raden Sanjaya dan pangeran Pranoto sama-sama menarik pasukannya untuk mundur. Ki Sumali membawa begawan Sabdawala yang kritis ke tenda pasukan aliansi, dan beberapa pasukan aliansi membawa teman-teman mereka yang terluka dan mati.
Kondisi begawan Sabdawala semakin menghawatirkan. Luka menganga dan berwarna hitam tampak di dada begawan Sabdawala. Dengan segala kemampuannya, Ki Sumali dan Selir Ling berusaha mengobati begawan Sabdawala. Raden Sanjaya pun berusaha menyalurkan tenaga dalamnya untuk menyelamatkan begawan Sabdawala. Akan tetapi nyawa begawan Sabdawala tidak mampu mereka selamatkan. Begawan Sabdawala gugur setelah terkena jurus Ki Karto.
__ADS_1