Sang Pendekar

Sang Pendekar
CH2.3 Pasukan Kapak Darah


__ADS_3

Tidak butuh lama raden Sanjaya telah sampai di sebuah rumah yang berada tidak jauh dari sungai. Tanpa ragu-ragu raden Sanjaya mengetuk pintu rumah itu.


TOK.. TOK.. TOK...


"Siapa diluar..?" suara pelayan itu membalas ketokan raden Sanjaya.


"Ini aku, Jaka Pengalasan. Bukankah tadi paman memintaku untuk datang ke rumahmu..?" tanya raden Sanjaya.


"Oohhhhh.. tuan Jaka... Mari tuan silahkan masuk.." pelayan itu mepersilahkan raden Sanjaya.


Walaupun terlihat sangat sederhana, tapi di dalam rumah semua barang tertata dengan rapi dan bersih.


"Terimakasih paman. Langsung saja paman, aku ingin paman menceritakan tentang yang pasukan Kapak Darah.." ucap raden Sanjaya.


"Baiklah raden, sebelumnya perkenalkan namaku adalah Timin. Keadaan ini bermula beberapa tahun yang lalu, setelah Pangeran Danayaksa naik tahta menggantikan ayahnya, raja Dananjaya. Beberapa bulan setelah naik tahta, Pangeran Danayaksa menikah dengan seorang putri Mai dari negeri Champa. Entah berhubungan atau tidak, setelah pangeran Danayaksa menikah, kemudian muncul sekelompok orang yang menamakan dirinya pasukan kapak darah, mereka berpakaian layaknya prajurit kerajaan dan mengaku sebagai utusan dari istana. Tapi yang mereka lakukan adalah merampok, dan mereka juga membawa pemuda dan gadis-gadis untuk dijual sebagai budak." ucap Timin


"Bagaimana paman tau kalu pemuda dan gadis-gadis itu dijual sebagai budak..? Apakah di kerajaan ini masih menganut sistem perbudakan..?" tanya raden Sanjaya.


"Tidak tuan.. Sejak dulu negeri Banon Sewu tidak mengenal sistem perbudakan. Sebagai pelayan kedai, aku banyak mendengar dari orang-orang yang datang ke kedai bahwa para gadis dan pemuda itu dijual sebagai budak kepada para bangsawan di negeri seberang." jawab pelayan kedai.


"Lalu apakah kalian tidak melaporkan kejadian ini kepada Istana..? Apakah tidak ada pasukan khusus kerajaan yang melakukan patroli di pedesaan..?" tanya raden Sanjaya.


"Kami sudah sering melaporkan kejadian ini kepada Istana. Sudah belasan kali kami mengirimkan orang untuk melapor ke Istana, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang kembali. Sehingga kami merasa tidak ada gunanya juga melaporkan kejadian ini ke Istana. Dan semenjak raja Dananjaya mangkat dan digantikan putranya Pangeran Danayaksa, tidak pernah ada patroli prajurit ke wilayah pedesaan.." ucap pelayan kedai.

__ADS_1


"Paman... apakah paman tau sanggar pemujaan di ujung desa ini..? Mengapa sanggar itu seperti ditelantarkan..?" tanya raden Sanjaya.


"Hhhmmmm.. masalah sanggar pemujaan, setelah menikah dengan putri dari negeri Champa, Istana melarang pemujaan kepada Sang Pencipta, tetapi pemujaan ditujukan kepada Sang Bathari Durga. Sehingga banyak sanggar-sanggar pemujaan ditinggalkan bahkan sebagian diubah menjadi tempat pemujaan kepada Sang Durga. Dari isu yang beredar, putri Mai mempunyai kesaktian yang tinggi dan gemar meminum darah manusia." kata pelayan kedai.


"Apakah paman tau penyebab penduduk desa tampak ketakutan saat aku dan istriku memasuki desa ini..?"


"Penduduk akan ketakutan saat ada orang asing masuk ke desa. Tidak hanya di desa ini, tapi penduduk desa sekitar pun akan seperti itu. Mereka trauma dengan kedatangan pasukan Kapak Darah. Mungkin mereka mengira tuan Jaka adalah mata-mata pasukan Kapak Darah.


Setelah mendengar penjelasan dari pelayan kedai, raden Sanjaya tidak langsung kembali ke penginapan, melainkan berkeliling desa Polosan untuk mempelajari situasi desa itu dan mencari beberapa bukti yang diperlukan.


-->


TOK... TOK... TOK....


"Jaka.... apakah kau sudah tidur..? Ini aku Pandu Bergolo, jika kau belum tidur, temani aku minum di ruang makan penginapan.." ucap Pandu Bergolo.


"Maaf tuan, suamiku sangat lelah, dia telah tertidur. Aku tidak sampai hati membangunkannya.." jawab Sekar Wulan dari dalam kamar.


"Oohhh.. baiklah kalau begitu. Tapi apakah nyonya punya waktu..? Apakah kita bisa berbicara sambil menikmati minuman..? Nanti jika suamimu bangun, dia bisa menyusul ke ruang makan.." tanya Pandu Bergolo.


"Maaf tuan, sangat tidak pantas seorang istri berbicara dengan laki-laki lain disaat suaminya tidak tau. Jadi aku minta maaf, aku tidak bisa memenuhi undangan tuan Pandu.." jawab Sekar Wulan.


"Oohh... baiklah nyonya. Maafkan kelancanganku. Aku pergi dulu. Oh... iya, besok pagi aku menunggu kalian di depan penginapan. Jika suamimu setuju, kita bersama-sama pergi ke kota kerajaan.." ucap Pandu Bergolo sambil melangkah pergi.

__ADS_1


"Hhhmmmm.. Tidak masalah sekarang kau menolakku, tapi besok, kau pasti akan memohon kepadaku.." batin Pandu Bergolo.


-->


Raden Sanjaya telah sampai di atas rumah kepala desa Polosan. Dengan berhati-hati raden Sanjaya mengintip ke dalam rumah kepala desa melalui atap rumah yang berlubang. Tampak kepala desa sedang berbincang dengan seseorang.


"Situasinya semakin buruk. Pasukan Kapak Darah semakin merajalela, mereka selalu menggunakan identitas prajurit kerajaan dan melakukan banyak kejahatan..." ucap tamu kepala desa.


"Benar... tidak ada satupun yang mampu melawan pasukan Kapak Darah. Sepertinya istana tidak menanggapi laporan yang kita kirimkan. Beberapa orang yang ku perintahkan untuk melapor ke istana, tidak ada satu pun yang kembali. Aku khawatir ada orang istana di belakang pasukan Kapak Darah.." sahut kepala desa.


"Kabar yang ku dengar, Pangeran Danayaksa saat ini sedang sakit yang sangat aneh. Dia seperti orang linglung, pandangan matanya kosong dan seluruh kulitnya keriput dan memucat seperti seseorang yang tidak punya darah. Dan Pangeran Tarunayaksa juga meninggalkan istana kerajaan bersama ibunya, Permaisuri Gayatri.." ucap tamu kepala desa.


"Apakah kau tau kemana pangeran Tarunayaksa pergi..? Dia adalah harapan kita satu-satunya. Selain berilmu tinggi, dia juga sangat memperdulikan rakyat.." tanya kepala desa.


"Kabar yang ku dengar, pangeran Tarunayaksa dan permaisuri Gayatri menuju negeri Kawi untuk meminta bantuan kepada kerajaan Kawi menghadapi situasi di Kerajaan Banon Sewu. Banyak beredar kabar bahwa di kerajaan Kawi banyak orang yang sakti.." ucap tamu kepala desa.


"Negeri Kawi sangatlah jauh dari sini. Aku rasa memakan waktu lama, kita tidak bisa menunggu lagi Jarwo.." ucap kepala desa.


"Benar kepala desa kita tidak bisa diam saja dan menunggu. Kita harus melawan pasukan kapak darah walaupun kecil kemungkinan untuk menang. Kepala desa lainpun sudah bertekat untuk melawan kapak darah.." ucap Jarwo.


"Baiklah.... atur pertemuan dengan kepala desa lainnya. Pertengahan bulan ini, kita lakukan pertemuan disini. Kita harus melawan pasukan Kapak Darah apapun yang terjadi.." ucap kepala desa.


Raden Sanjaya merasa mendapat informasi yang sangat penting. Setelah merasa cukup dengan informasinya, raden Sanjaya segera kembali ke penginapan.

__ADS_1


"Sepertinya jelas, dibalik semua ini adalah putri Mai istri pangeran Danayaksa dan hhmmmm.. Durga, ibu dari penguasa kegelapan sudah pasti terlibat dalam situasi ini. Aku harus segera menemui diajeng Sekar Wulan dan membuat rencana. Walaupun ini bukan negeriku, aku tidak bisa membiarkan semua ini terjadi. Angkara murka harus dibasmi dimanapun dia berada dan ini adalah tugas utama ku dan diajeng Sekar Wulan..." batin raden Sanjaya sambil melesat pergi.


__ADS_2