Sang Pendekar

Sang Pendekar
BAB LVIII


__ADS_3

Pasukan aliansi pun bersorak gembira atas kemenangan yang mereka peroleh. Kebahagiaan tampak pada wajah mereka. Dengan penuh semangat, mereka mengumpulkan mayat-mayat baik dari pasukan aliansi maupun pasukan tengkorak hitam. Untuk menghindari bau busuk dan penyakit yang diakibatkan oleh mayat-mayat tersebut, raja Dewayana memerintahkan kepada mantan pasukan tengkorak hitam untuk menguburkan rekan-rekannya secara masal sebagai awal dari hukuman mereka. Raja Dewayana dan memasuki aula istana kerajaan diikuti oleh raden Sanjaya, Sekar Wulan dan yang lainnya. Sedangkan pasukan aliansi menguburkan yang telah gugur di suatu tempat bernama Astana Giri Loka, yaitu sebuah tempat di dekat istana kerajaan, tempat dikuburkannya orang-orang yang telah berjasa kepada Kerajaan Kawi.


"Setelah sekian tahun, akhirnya aku kembali ke istanaku." batin raja Dewayana.


"Baginda, silahkan baginda naik dan menduduki kembali singgasana Kerajaan Kawi.." ucap Ki Sasongko.


Raja Dewayana berjalan menuju singgasananya dan kembali duduk di singgasana sebagai raja kerajaan Kawi. Semua menunduk memberikan hormat saat raja Dewayana menduduki singgasana kerajaan.


"Kalian semua, duduklah. Aku akan memulai pasewakan agung untuk pertama kalinya setelah singgasana ini diduduki Pranoto." ucap raja Dewayana.


Pangeran Himawan bersama dengan mantan anggota pengawal raja segera menghadap dan melaporkan kepada raja Dewayana keadaan di istana saat terjadi pertempuran antara pasukan aliansi dan tengkorak hitam.


"Lapor yang mulia, semua orang istana yang tidak terlibat dengan tengkorak hitam, saat ini dalam keadaan aman di markas pasukan pengawal Kepatihan Dalam.." lapor pangeran Himawan.


"Bagus anakku... Setelah pertemuan ini, kembalikan mereka ke tempat mereka semula. Selanjutnya aku akan memberikan titah kepada kalian semua.." ucap raja Dewayana


"Kami semua akan menerima titah paduka dengan senang hati.." sahut semua yang ada di aula istana kerajaan.


"Mulai hari ini, aku menyatakan Tengkorak Hitam atau yang sejenisnya adalah kelompok terlarang. Hukuman berat bagi siapapun yang secara diam-diam atau terang-terangan terlibat dalam kelompok Tengkorak Hitam atau yang sejenisnya. Selanjutnya, mulai saat ini aku akan menghapuskan pajak bagi seluruh rakyat kerajaan kawi dan akan menurunkan besaran upeti bagi kadipaten yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Kawi. Kerajaan akan membangun kembali sanggar-sanggar pemujaan bagi Sang Pencipta di seluruh wilayah kerajaan Kawi."


"Mendirikankan pos-pos penjagaan di setiap desa dengan prajurit bersenjata lengkap dan dipimpin oleh seorang Senopati untuk memberikan rasa aman kepada rakyat kerajaan Kawi. Selain itu pos penjagaan di setiap desa adalah sebagai langkah pencegahan agar kelompok tengkorak hitam atau sejenisnya tidak bisa hidup di kerajaan kawi."


"Kerajaan Kawi menganugerahi gelar pahlawan kepada anggota aliansi yang telah gugur dan akan memberikan santunan untuk keluarga yang ditinggalkannya. Bagi anggota Aliansi yang masih hidup, kepadanya diberikan kesempatan untuk dapat mengabdi langsung kepada kerajaan dengan menjadi prajurit dan diberikan pangkat sesuai dengan kemampuan mereka.." titah raja Dewayana.

__ADS_1


"Baginda raja Dewayana sangat bijaksana." ucap semua yang hadir di aula.


"Selanjutnya aku telah memutuskan untuk menyerahkan kerajaan Kawi kepada cucuku Sanjaya. Aku yakin Sanjaya bisa membawa kejayaan bagi kerajaan Kawi. Bagaimana menurut kalian..?" tanya raja Dewayana.


"Hamba sangat setuju paduka. Raden Sanjaya selain memiliki kesaktian yang tinggi, juga seorang ahli dalam strategi. Wawasan dan pengetahuannya juga luas.." ucap Ki Sasongko.


"Aku sepakat dengan ki Sasongko. Tidak hanya aku, bahkan Begawan Sabdawalapun juga mengakuinya.." ucap Ki Mahesa.


"Bagaimana Sanjaya, kami semua berharap kamu dapat memimpin kerajaan Kawi dan membawa kejayaan bagi kerajaan Kawi.." ucap raja Dewayana.


"Maaf kakek... Bukannya aku ingin membuat kalian semua kecewa, tapi ada tanggung jawab yang lebih besar yang harus aku selesaikan sebagai seseorang yang menguasai kitab kalimasada. Selain itu, ada yang jauh lebih pantas menjadi penerus kakek, yaitu paman Himawan.." jawab raden Sanjaya.


"Aku tidak setuju...!! Bagaimanapun Himawan pernah berbuat kesalahan fatal.." sahut selir Ling.


"Tidak paman.. dengan sikap paman yang seperti ini, aku semakin yakin hanya paman yang pantas meneruskan perjuangan kakek untuk memimpin kerajaan ini.." ucap raden Sanjaya.


Semua yang hadir di aula kerajaan sangat terdiam mendengar pernyataan raden Sanjaya. Mereka tidak mengerti alasan raden Sanjaya menolak memimpin kerajaan Kawi.


"Apa alasanmu cucuku..? Beri orang tua ini penjelasan.." ucap raja Dewayana.


"Paman Himawan memang pernah melakukan kesalahan yang sangat fatal, bahkan hampir saja mencelakakanku. Tapi justru karena pamanlah aku bisa menjadi seperti ini. Artinya paman Himawan secara tidak langsung telah mendidikku hingga aku bisa menjadi seperti ini. Selain itu, sebagai orang yang melakukan kesalahan, paman Himawan telah menyadari kesalahannya dan ingin menebus semua yang pernah dilakukannya. Semua itu tidak hanya sekedar ucapan, tapi dibuktikan dengan apa yag telah dilakukan paman hingga hari ini. Sehingga aku yakin kedepan paman Himawan akan menjadi lebih berhati-hati dalam melangkah dan mengambil keputusan. Jadi aku rasa justru paman Himawanlah yang akan membawa kejayaan bagi kerajaan Kawi." raden Sanjaya memberikan penjelasan.


"Lalu bagaimana jika ternyata aku membuat kesalahan lagi..?" tanya pangeran Himawan.

__ADS_1


"Perguruan Wiji Sejati, Padepokan Naga Langit, Padepokan Mahesa dan yang lainnya akan senantiasa mengawasi dan mengingatkan paman.." jawab raden Sanjaya sambil tersenyum.


Raja Dewayana tidak dapat membantah apa yang dikatakan oleh cucunya tersebut, sehingga raja Dewayana menyerahkan tahta kerajaan Kawi kepada putranya, Pangeran Himawan.


"Selanjutnya apa rencanamu Sanjaya..?" tanya raja Dewayana.


"Aku dan nona Wulan akan mengelilingi dunia ini, menunaikan tugas yang telah diberikan kepada kami sebagai orang yang menguasai kitab kalimasada dan kitab pedang kilisuci.." ucap raden Sanjaya.


"Aku tidak setuju jika kau pergi bersama Sekar Wulan jika kalian belum menikah. Setidaknya kalian harus menikah dulu baru pergi bersama.." ucap Putri Nawang Sari.


"Aaahhhh.. itu baru benar. Aku akan mengadakan pesta selama tujuh hari untuk pernikahan cucuku. Patih Rekso Bumi, umumkan kepada seluruh rakyat kerajaan Kawi dan undang semua adipati untuk ikut merayakan pernikahan cucuku. Ki Sasongko, carilah hari baik untuk pernikahan Sanjaya dan Sekar Wulan.." titah raja Dewayana.


Pada hari yang telah ditentukan, Raden Sanjaya dan Sekar Wulan menikah. Pesta kerajaan dilangsungkan selama tujuh hari. Rakyat kerajaan Kawi dan semua adipati ikut berbahagia atas pernikahan pahlawan mereka.


-->


Sementata itu ribuah kilometer dari kerajaan kawi, tepatnya di sebuah goa di Alas Krendayana tampak seorang wanita tua yang dirantai tangan dan kakinya. Dia berteriak mengutuk semesta atas kematian putranya Sang Kala. Dialah Durga Kali yang sedang menjalani hukuman karena perbuatannya yang hampir menghancurkan dunia ini.


"Aaaaaarrrrrrgggg... Aku tidak terima.. Aku tidak terima atas kematian putraku.. Wahai Sang Hyang Guru, mengapa kau begitu tidak adil..? Mengapa kau mengutus Ismaya untuk membunuh putraku saat aku sedang menjalani hukuman..? Dimana keadilanmu Sang Hyang Guru..?" teriak Durga


DURGA AKU TIDAK PERNAH MENGUTUS ISMAYA UNTUK MEMBUNUH PUTRAMU. DAN PUTRAMU TERBUNUH KARENA KALA TELAH MENEBAR ANGKARA MURKA DI MUKA BUMI INI. PERBUATANNYA TELAH MEMBUAT KESEIMBANGAN DI BUMI INI MENJADI TERGANGGU. HARI INI HUKUMANMU TELAH BERAKHIR. AKU AKAN MEMBEBASKANMU.


Tiba-tiba rantai yang membelenggu tangan dan kaki Durga Kali menghilang.

__ADS_1


"Tunggulah siapapun kau yang telah membunuh putraku. Aku pasti akan membalaskan kematian putraku.." janji Durga dalam hati.


__ADS_2