
Di istana kerajaan, Raja Nagendra sedang bersama istrinya di taman keputren. Ratu sangat khawatir saat mendengar rombongan Putri Sekar Ayu diserang oleh gerombolan pemberontak Bajing Alas. Terlihat guratan kesedihan di wajah Ratu saat dia berbicara dengan Raja Nagendra.
“Rencana kunjungan ke desa-desa di wilayah kekuasaan kerajaan tidak berjalan lancar, berandalan Bajing Alas berani menyerang rombongan Putri Sekar Ayu, tidak hanya itu mereka juga membuat kekacauan di desa-desa, mereka merampok, mencuri dan menindas rakyat kecil,” ucap Raja Nagendra.
“Apa langkah selanjutnya mengenai para pemberontak Bajing Alas. Selama ini kanda terlalu bersikap lemah karena memandang Paramarta sebagai adik tiri kanda. Sekarang saatnya kanda harus tegas, tumpas para pemberontak Bajing alas dan tangkap Paramarta dan jatuhi dia dengan hukuman pancung di alun-alun agar rakyat melihatnya,” ucap Ratu dengan geram.
Raja Nagendra menghela nafas panjang.
“Kali ini aku tidak akan membiarkan gerombolan pemberontak Bajing Alas bertindak lebih jauh setelah apa yang telah dilakukan pada Putri Sekar Ayu. Paramarta pasti merasa puas telah mengacaukan rencana kunjungan ke desa-desa, apalagi dia telah mengerahkan anak buahnya untuk berbuat kerusuhan pada rakyat kecil," ucap Raja Nagendra.
----------
~ Alun-alun Desa Pagarsari ~
“Syukurlah hanya lenganmu saja yang terluka, aku sangat kaget melihat alun-alun penuh kobaran api,” ucap Aryo yang baru saja membalut luka bekas sabetan pedang di lengan Ajisaka.
“Untunglah kalian segera datang, kalau tidak entah bagaimana kami menghadapi berandal Bajing Alas yang jumlahnya sangat banyak. Sejak di desa Karangmojo sebagian prajurit pengawal Putri Sekar Ayu banyak yang terluka karena gigitan serigala. Jumlah prajurit pengawal yang siap bertarung hanya tinggal separuhnya saja. Bagaimana keadaan Patih Lembu Ireng?” tanya Ajisaka.
“Patih Lembu Ireng hanya mengalami luka bakar di kakinya, waktu itu dia sedang beristirahat di tenda memulihkan luka-lukanya, dia diselamatkan Danu, pemuda yang bisa mengendalikan binatang dengan seruling,” jawab Bayu.
“Berarti pemuda bernama Danu itu selamat dari serangan kelompok berandal Bajing Alas?” tanya Ajisaka.
“Iya, dia bersembunyi bersama Patih Lembu Ireng di atas pohon randu besar di pinggir lapangan. Pemuda itu dengan cerdik menyuruh seekor beruang menggendong Patih Lembu Ireng dan dirinya ke atas pohon randu,” jawab Bayu.
“Dia bukan seorang prajurit tetapi kemampuannya mengendalikan binatang sungguh sangat berguna, apalagi di saat terdesak,” ucap Ajisaka.
__ADS_1
“Panggil pemuda itu ke sini, aku ingin menanyakan sesuatu padanya,” ucap Ajisaka.
Beberapa saat kemudian Danu berdiri di hadapan Ajisaka.
“Bagaimana keadaan Paijo? Apakah dia selamat?” tanya Ajisaka.
“Paijo masih hidup tapi dia terluka sangat parah, dia kehilangan banyak darah terkena sabetan pedang di perutnya dan tusukan tombak di punggungnya,” ucap Danu.
“Sekarang dia dimana, aku harus segera menolongnya?” tanya Ajisaka.
“Dia ada di tenda pengobatan paling ujung, dia sudah diobati oleh tabib tetapi belum sadar,” jawab Danu.
“Aryo, Bayu ayo kita ke sana, berikanlah tenaga dalam kalian untuk mempercepat kesembuhannya,” ucap Ajisaka.
----------
“Ampun tuan putri, kita harus segera kembali ke istana kerajaan sekarang juga demi keselamatan tuan putri,” ucap Patih Samana.
“Tapi bagaimana dengan prajurit yang terluka, mereka masih dirawat di tenda-tenda pengobatan, belum mampu untuk meneruskan perjalanan. Lebih baik kita pulang bersama-sama setelah para prajurit yang terluka sembuh,” ucap Putri Sekar Ayu.
“Ampun tuan putri, titah dari Raja Nagendra harus segera membawa putri kembali ke istana. Ini demi keselamatan putri, untuk prajurit yang masih terluka mereka sudah ada yang menjaga ada tabib dan prajurit yang tidak terluka berjaga di luar tenda pengobatan,” ucap Patih Samana.
“Baiklah aku akan pulang, tapi Ajisaka harus ikut aku pulang ke istana,”
Akhirnya Patih Samana menuruti perintah Putri Sekar Ayu untuk mengikutsertakan Ajisaka pulang ke istana kerajaan.
__ADS_1
----------
~ Tenda pengobatan Patih Lembu Ireng ~
Patih Samana memasuki tenda pengobatan Patih Lembu Ireng. Kaki Patih Lembu Ireng mengalami luka bakar dari lutut sampai ke mata kaki. Sementara luka-luka bekas penganiayaan para berandal pemberontak Bajing Alas belum mengering. Patih Samana bertanya pada Patih Lembu Ireng mengenai kedekatan Putri Sekar Ayu dengan prajurit bernama Ajisaka sampai-sampai Putri Sekar Ayu hanya mau pulang ke istana kerajaan asal Ajisaka ikut menemaninya.
“Putri Sekar Ayu sungguh keterlaluan, dia tidak bisa menjaga martabatnya sebagai seorang putri raja,” ucap Patih Lembu Ireng.
“Putri Sekar Ayu masih terlalu muda, dia hanya menuruti kata hatinya, apalagi prajurit bernama Ajisaka itu telah menyelamatkan nyawanya,” ucap Patih Samana.
“Setelah kita sampai di istana kerajaan, kita harus melaporkan kelakuan Putri Sekar Ayu pada Raja Nagendra agar dia segera menasehati putrinya,” ucap Patih Lembu Ireng.
“Bagaimana kamu bisa lolos dari penyekapan yang dilakukan gerombolan Bajing Alas. Kudengar mereka meniupkan ilmu sirep untuk menjatuhkan para prajurit pengawal Putri Sekar Ayu. Hanya Ajisaka saja yang tidak terpengaruh hingga dia berhasil menyelamatkan Putri Sekar Ayu. Bukankah kau menguasai ilmu sirep tingkat tinggi seharusnya kau tidak terpengaruh seperti Ajisaka?” tanya Patih Samana.
Sebenarnya Patih Samana mulai curiga, ada sesuatu yang tidak beres. Namun, dia berusaha menepis rasa curiganya. Mengapa Patih Lembu Ireng menjadi sangat lemah. Pertama dia ikut terpengaruh ilmu sirep padahal dia sangat menguasi ilmu itu, kedua dia tertangkap oleh gerombolan pemberontak Bajing Alas tetapi mengapa dia disekap di tempat yang berbeda tidak seperti para prajurit pengawal lain yang disekap di penjara bawah tanah.
“Waktu itu aku ikut terpengaruh ilmu sirep karena aku tidak enak badan. Selama di perjalanan aku jarang tidur nyenyak karena was-was dengan keselamatan Putri Sekar Ayu sejak gerombolan Bajing Alas menggelindingkan batu besar dari atas tebing. Aku diseret oleh Paramarta sendiri karena dia mengenaliku sebagai Patih. Dia menyiksaku agar mengatakan kemana Ajisaka membawa lari Putri Sekar Ayu. Saat para penjaga yang lengah karena mabuk-mabukan aku berhasil melarikan diri dan berkuda menyusul rombongan prajurit pengawal Putri Sekar Ayu yang telah sampai di desa Pagarsari,” jawab Patih Lembu Ireng.
Setelah mendengar penuturan dari Patih Lembu Ireng, Patih Samana segera pergi meninggalkan tenda pengobatan untuk mencari Ajisaka. Dia meminta prajurit itu untuk mengawal Putri Sekar Ayu kembali ke istana kerajaan.
“Sebenarnya hamba masih mau di sini menemani para prajurit yang masih dalam keadaan terluka. Bisakah saya tetap berada di sini Patih?” tanya Ajisaka.
“Ini perintah dari Putri Sekar Ayu, dia tidak mau kembali ke istana kerajaan jika kau tidak ikut serta. Entah apa yang ada di pikiran Putri Sekar Ayu tapi karena titah Raja Nagendra bahwa Putri Sekar Ayu harus segera pulang ke istana maka kau harus bersedia mengawalnya,” ucap Patih Samana.
“Baiklah hamba akan ikut mengawal Putri Sekar Ayu pulang ke istana kerajaan,” ucap Ajisaka. Dia tidak mempunyai pilihan lain, harus ikut mengawal Putri Sekar Ayu pulang ke istana.
__ADS_1
----------
Siang itu Putri Sekar Ayu melakukan perjalanan pulang ke istana bersama Patih Samana, Patih Lembu Ireng dan beberapa prajurit termasuk Ajisaka, Bayu dan Aryo. Sebagian prajurit lain akan menyusul setelah prajurit yang terluka sembuh dan mampu melakukan perjalanan kembali ke istana kerajaan.