Sang Pendekar

Sang Pendekar
BAB XXIV


__ADS_3

Raden Sanjaya meletakkan telapak tangannya pada mutiara cempaka salju. Sambil berkonsentrasi, raden Sanjaya mulai menyerap energi mutiara cempaka salju. Kabut putih tipis mengelilingi tubuh roh raden Sanjaya, perlahan kabut putih itu menyatu dengan tubuh roh raden Sanjaya. Seiring dengan pemyatuan itu, dimensi jiwa raden Sanjaya perlahan menjadi lebih kuat, dan perlahan permukaan air di dalam dimensi jiwa raden Sanjaya menjadi berangsur tenang.


"Aku merasa lebih tenang dan jiwaku semakin kuat. Tapi mengapa mutiara cempaka salju menjadi begitu besar dan tidak terserap ayah..?" tanya Raden Sanjaya.


"Mutiara cempaka salju mempunyai dua jenis energi, energi untuk kekuatan fisik dan jiwa. Saat itu kau hanya menyerapnya untuk kekuatan tubuhmu. Sehingga energi untuk jiwa masih belum terurai dan energi itu tertahan dalam dimensi jiwamu."


"Energi tersebut terus tumbuh seiring dengan tenaga dalam yang ada di dimensi jiwamu yang bertambah besar. Itulah yang menyebabkan gelombang tak beraturan di dalam dimensi jiwamu. Sehingga kamu kesulitan untuk menyerap energi mantram sakti langkah kalimasada" Pangeran Kusuma menjelaskan. Raden Sanjaya hanya mengangguk-anggukkan kepala tanda memahami ucapan ayahnya.


"Ayah.. jika ayah sudah meninggal, tapi kenapa kekuatan roh ayah tidak ikut hilang..?" tanya raden Sanjaya.


"Kekuatan roh memiliki kesadarannya sendiri. Dimana ada energi kehidupan, disana kesadaran roh dapat bertahan. apabila energi kehidupan itu hilang, maka kesadaran roh pun juga akan ikut menghilang."


"Tapi kesadaran roh ini mempunyai batas waktu saat dia diaktifkan. Sama seperti sekarang, keadaan antara hidup dan mati yang kamu rasakan telah mengaktifkan kesadaran roh ku yang aku tinggalkan di dimensi jiwamu. Akhirnya aku bisa memanggilmu ke dalam dimensi jiwamu." Pangeran Kusuma menjelaskan.


"Aahhhhh iya.. terus bagaimana keadaan tubuhku sekarang ayah..? Aku sama sekali tidak bisa merasakan tubuh fisikku."


"Apakah kedepannya aku bisa memasuki dimensi jiwaku ayah..?" tanya raden Sanjaya.


"Tenanglah putraku, ki Sumali pasti akan menjaga tubuh fisikmu."


"Tentu saja, kau sewaktu-waktu dapat memasuki dimensi atau lautan jiwamu ini dengan cara bermeditasi, mengosongkan pikiran dan membiarkannya masuk ke dalam hatimu.."


"Di dalam dimensi jiwa, kamu bisa melakukan latihan untuk menguatkan jiwa dan rohmu. Semakin kuat jiwamu maka tubuh fisikmu juga akan semakin kuat.."


Pangeran Kusuma lalu memberikan petunjuk bagaimana agar raden Sanjaya dapat dengan mudah masuk ke dalam dimensi jiwanya, dan bagaimana dia melatih kekuatan jiwa dan roh nya. Raden Sanjaya dengan cepat bisa memahami apa yang pangeran Kusuma katakan.

__ADS_1


"Ayah bangga kepadamu, kau bisa dengan cepat mencerna apa yang ku katakan dan memahaminya. Pantas saja kitab kalimasada dapat kau kuasai sampai dengan tahap puncak."


"Bahkan aku sendiri tidak mampu mempelajarinya sampai dengan tahap ini.." puji pangeran Kusuma


"Ini semua berkat bimbingan kakek Sumali, Ki Joyo dan Ki Tejo. mereka telah memberikanku pengajaran dan pelajaran bagaimana menjalani kehidupan ini." jawab raden Sanjaya.


"Maafkan ayah anakku, ayah tidak bisa lagi mendampingi dan mengajarimu." ucap pangeran Kusuma lirih


"Tidak ayah, ini bukan salahmu. Ini semua karena perbuatan tengkorak hitam. Aku pasti akan membalas semua perbuatan mereka. Merekalah yang telah merenggut kebahagiaan kita.."


"Aku bersumpah, aku pasti akan menghancurkan mereka..!!" ucap raden Sanjaya geram.


"Sanjaya, anakku, jangan jadikan dendam sebagai alasan utama untuk menghancurkan angkara murka.."


"Dendam hanya akan membuatmu jatuh ke dalam lingkaran kebencian yang tidak berujung, yang akan menghancurkanmu perlahan-lahan.."


"Kematian ayah mungkin memang sudah takdir dari Sang Hyang Agung." ucap pangeran Kusuma sambil memeluk raden Sanjaya


"Baik ayah, aku bersumpah akan menghancurkan watak angkara, budi candala dan segala kekejian yang ada di negeri ini.." janji raden Sanjaya.


"Setelah kamu menyelesaikan tahap ini, kembalilah ke istana kerajaan Kawi. Kakekmu, yang mulia raja Dewayana pasti akan senang melihatmu."


"Kalung yang ayah titipkan kepada Ki Joyo adalah segel kerajaan Kawi. Kakekmu pasti akan langsung mengenalinya jika beliau melihat kalungmu itu.."


"Tapi sebelumnya, carilah Istana Penguasa di alas Purba ini, pedang es adalah kunci untuk membuka istana penguasa." ucap Pangeran Kusuma.

__ADS_1


Pangeran Kusuma lalu menjelaskan tentang istana penguasa kepada raden Sanjaya. Sama seperti penjelasan Ki Sumali, bahwa yang paling penting bagi raden Sanjaya adalah mempelajari ilmu kasampurnan, yang merupakan ilmu terakhir dari kitab kalimasada, dan pedang kalimasada yang merupakan senjata yang mampu menahan kekuatan dari jurus pedang kalimasada.


"Anakku, waktu ayah hampir habis. Sebelum kesadaran roh ayah menghilang, ayah akan memberikan kekuatan roh ayah kepadamu."


"Ingat akan dharmamu, bawa kedamaian di negeri Kawi dan basmi angkara murka dan ketidakadilan di muka bumi ini.." ucap pangeran Kusuma sambil memeluk raden Sanjaya.


Perlahan, kesadaran roh pangeran Kusuma bercahaya berwarna biru semakin terang dan berubah menjadi butiran-butiran. Tiap-tiap butiran itu menyebar ke seluruh tubuh raden Sanjaya.


Sementara itu tubuh fisik raden Sanjaya tampak bersinar dengan cahaya biru kehijauan. Kekuatan fisik dan jiwa raden Sanjaya meningkat dengan cepat. Kabut berwarna emas yang menyelimuti tubuh raden Sanjaya tiba-tiba terserap seluruhnya ke dalam tubuh raden Sanjaya. Terlihat cahaya berwarna hijau terkumpul di titik cakra jantung semakin terang, mendesak naik dan akhirnya membuka titik cakra nafas.


BBOOOOM.... WHUUUUUUSSSSS...


Ledakan tenaga dalam keluar dari tubuh raden Sanjaya, pelindung yang dibuat ki Sumali pecah. Raden Sanjaya menerobos naik ke tingkat master tahap awal. Energi itu terus masuk ke dalam tubuh raden Sanjaya dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Raden Sanjaya menyerap energi itu dan terus mengisi cakra nafas, tubuh raden Sanjaya bersinar kebiruan dan semakin terang. Titik cakra nafas raden Sanjaya terus terisi dengan tenaga dalam hingga penuh sehingga terbukalah cakra penghubung


BLOOOOOMM.. WWHUUUUUUUSSHH..


Raden Sanjaya naik tingkat master tahap menengah. Kekuatan mantram sakti terus mengalir masuk ke dalam tubuh raden Sanjaya dan belum menunjukkan tanda akan berakhir. Sementara itu petir terus menyambar dan mulai masuk ke dalam goa mengarah ke tubuh raden Sanjaya. Ki Sumali berusaha menghalangi petir yang berusaha menyerang raden Sanjaya dengan kekuatannya


SSRRRRTTTTT... JDUAAAAARRRR..


Tubuh Ki Sumali terpental terkena sambaran petir, seluruh tubuhnya terasa remuk. Sambaran petir itu membuat racun dingin bereaksi dan mulai menyerang ki Sumali. Petir selanjutnya pun menyusul, masuk ke dalam goa dan berusaha menyerang raden Sanjaya. Ki Sumali yang sedang bertarung dengan racun dingin pun tidak bisa berbuat apa-apa.


"Aaahhhh siaaallll.. kenapa harus terjadi saat sekarang..? Maafkan kakek cucuku, kakek tidak bisa melindungi mu. Semoga terjadi keajaiban yang ........." batin ki Sumali dan akhirnya ki Sumali tidak sadarkan diri.


BBLOOOOOMMM... WHUSSSSSSSH...

__ADS_1


Ledakan tenaga dalam terjadi lagi, petir yang masuk ke dalam goa dan akan menyerang raden Sanjaya tiba-tiba hancur terkena ledakan energi raden Sanjaya. Raden Sanjaya menerobos naik tingkat master tahap puncak.


Energi mantram sakti langkah kalimasada telah terserap sepenuhnya oleh raden Sanjaya. Perlahan gulungan awan dengan badai petir tiba-tiba menghilang. Langit menjadi cerah kembali. Hal yang sama juga terjadi di seluruh wilayah kerajaan Kawi. Raden Sanjaya membuka matanya, dan melihat ki Sumali yang tidak sadarkan diri.


__ADS_2