Sang Pendekar

Sang Pendekar
Menjemput Putri Sekar Ayu


__ADS_3

Keadaan Patih Lembu Ireng sudah mulai membaik, Ajisaka telah mengobatinya dan menyalurkan tenaga dalamnya. Putri Sekar Ayu segera menemui Patih Lembu Ireng untuk berunding langkah apa yang sebaiknya diambil karena Patih Lembu Ireng sudah bergabung kembali ke rombongan.


“Bagaimana keadaanmu Patih Lembu Ireng, apakah masih sanggup melanjutkan perjalanan?” tanya Putri Sekar Ayu.


“Keadaan hamba sudah membaik, tuan putri. Hamba sanggup melanjutkan perjalanan mengawal tuan putri,” jawab Patih Lembu Ireng dengan mantap.


“Tuan putri, sebaiknya kita mengirim beberapa prajurit berkuda ke istana tanpa berhenti untuk melaporkan penyerangan gerombolan pemberontak Bajing Alas. Hal itu tidak dianggap enteng mereka terang-terangan berani menyerang rombongan kita dan membahayakan nyawa tuan putri. Mereka juga telah berbuat keonaran di sana sini yang merugikan rakyat. Raja Nagendra harus segera mengambil tindakan menumpas gerombolan pemberontak Bajing Alas,” ucap Ajisaka.


Patih Lembu Ireng memicingkan matanya, dia geram dengan usulan Ajisaka untuk mengirim prajurit ke istana kerajaan melaporkan penyerangan yang terjadi pada rombongan Putri Sekar Ayu.


“Baiklah, pilihlah beberapa prajurit yang tangguh untuk berkuda tanpa henti ke istana untuk melaporkan penyerangan yang dilakukan pemberontak Bajing Alas,” ucap Putri Sekar Ayu.


“Sebaiknya kau saja yang berkuda ke istana, karena kaulah prajurit yang paling tangguh,” ucap Patih Lembu Ireng.


Dia berencana menjauhkan Ajisaka dari Putri Sekar Ayu agar mudah menculik dan membawanya ke hadapan Paramarta.


“Tidak... aku tidak setuju Patih, Ajisaka selama ini selalu berhasil melindungiku. Biarlah Ajisaka tetap di sini,” ucap Putri Sekar Ayu.


“Baiklah hamba akan tetap berada di sini, sebaiknya Putri Sekar Ayu menulis surat untuk Raja Nagendra. Surat itu diikat ke kaki burung merpati, nantinya merpati itu akan terbang ke istana kerajaan. Surat itu untuk mengantisipasi jika para prajurit yang diutus pergi ke istana gagal di tengah jalan,” ucap Ajisaka.


“Tapi rombongan kita tidak ada yang membawa burung merpati untuk mengantar surat,” ucap Putri Sekar Ayu.


“Danu bisa memanggil burung merpati untuk mengirim surat, hamba tadi sudah berbicara dengannya.”


“Baiklah, aku akan segera menulis surat untuk ayahanda. Semoga surat ini segera sampai ke istana kerajaan,” Putri Sekar Ayu bergegas keluar tenda tempat Patih Lembu Ireng menuju tendanya.


“Kenapa Ajisaka selalu menghalangi langkahku, aku harus bisa segera menyingkirkannya,” Patih Lembu Ireng sangat geram dengan rencana Ajisaka.

__ADS_1


----------


~ Istana Kerajaan Dananjaya ~


Bayu yang tergabung menjadi prajurit penjaga perbatasan telah kembali ke istana. Keadaan di benteng pertahanan desa Bedog masih aman, belum ada tanda-tanda prajurit dari Kerajaan Langit menyerang. Dia kembali bersama rombongan pemimpin prajurit penjaga untuk melaporkan keadaan di sekitar benteng kepada Raja Nagendra.


Ketiga pemuda yang bersama-sama masuk menjadi prajurit kerajaan akhirnya bertemu kembali. Bayu, Aryo dan Jarwo sedang mengobrol di bawah pohon beringin di alun-alun (lapangan).


“Akhirnya kita bisa berkumpul kembali walaupun Ajisaka tidak bisa ikut, karena dia masih mengawal Putri Sekar Ayu,” ucap Aryo.


“Ajisaka beruntung sekali bisa melihat Putri Sekar Ayu ayu dari dekat, aku belum pernah melihatnya, kudengar dia sangat cantik,” ucap Bayu.


“Dia memang sangat cantik, aku pernah melihatnya saat dia keluar istana menuju ke padepokan Nya Gayatri,” ucap Jarwo.


“Bagaimana keadaan di perbatasan, apakah sudah ada tanda-tanda prajurit kerajaan Langit mulai menyerang?” tanya Aryo.


“Keadaan di perbatasan masih aman, belum ada tanda-tanda kedatangan prajurit kerajaan Langit. Hanya saja di desa Bedog keadaannya kurang aman, banyak terjadi perampokan dan pencurian ternak. Semua berandal yang merampok dan mencuri adalah anak buah Paramarta pemimpin pemberontakan Bajing Alas,” ucap Bayu.


“Lihat burung itu membawa surat,” teriak Aryo.


Jarwo segera menangkap burung merpati yang terlihat sangat jinak. Jarwo membuka tali yang mengikat surat ke kaki burung merpati. Diserahkan gulungan surat itu kepada Bayu.


“Bacalah, aku tidak bisa membaca, siapa tahu itu penting,” ucap Jarwo.


Bayu segera membuka gulungan surat itu. Di surat itu tertulis untuk ayahanda Raja Nagendra.


“Surat ini dari Putri Sekar Ayu untuk Raja Nagendra. Kita harus segera menghadap Raja Nagendra untuk menyampaikan surat ini,” ucap Bayu.

__ADS_1


Mereka bertiga berjalan ke dalam istana untuk menghadap Raja Nagendra.


“Ampun, Paduka Raja, hamba ingin menyampaikan surat yang ditulis Putri Sekar Ayu untuk Paduka,” ucap Bayu menyerahkan surat itu pada Raja Nagendra.


Raja Nagendra menghela nafas dan menerima surat itu. Dari kemarin Raja Nagendra seperti mempunyai firasat putrinya sedang berada dalam bahaya.


“Kami sedang berada di alun-alun saat seekor merpati turun dan membawa surat itu,” ucap Bayu.


Raja Nagendra melihat sesaat ke arah Bayu, Aryo dan Jarwo dan mulai membuka gulungan surat itu.


“Ini sangat aneh Paduka Raja kenapa Putri Sekar Ayu mengirimkan surat lewat burung merpati. Apakah ada kejadian yang menimpa rombongan Putri Sekar Ayu,” ucap Patih Samana.


“Iya, ini memang sangat aneh, semoga putriku baik-baik saja,” ucap Raja Nagendra mulai membaca surat itu.


Wajahnya tampak berkerut dan menahan amarah saat membaca surat itu. Ia lalu melihat ke arah Patih Samana.


“Patih Samana..., kelompok pemberontak Bajing Alas berani menyerang rombongan Putri Sekar Ayu. Patih Lembu Ireng terluka, rombongan Putri Sekar Ayu sekarang dalam perjalanan kembali ke istana kerajaan. Segera kirimkan kelompok prajurit lagi untuk menjemput rombongan Putri Sekar Ayu. Aku mengkhawatirkan keselamatannya apalagi Patih Lembu Ireng sedang terluka,” ucap Raja Nagendra.


“Baik, hamba akan siapkan prajurit lagi untuk menjemput Putri Sekar Ayu. Bagaimana dengan kelompok pemberontak Bajing Alas, kita harus secepatnya bergerak menumpas ke akar-akarnya,” ucap Patih Samana.


“Setelah Putri Sekar Ayu kembali ke istana, kerahkan prajurit untuk memberantas habis gerombolan pemberontak itu. Tangkap Paramarta, dia harus mendapatkan hukuman mati. Aku tidak peduli dia adik tiriku, beraninya dia membahayakan nyawa Putri Sekar Ayu,” ucap Raja Nagendra.


Patih Samana segera bergerak mengumpulkan prajurit untuk menjemput Putri Sekar Ayu. Bayu dan Aryo ikut terpilih dalam rombongan prajurit yang akan menjemput Putri Sekar Ayu.


“Semoga Ajisaka baik-baik saja, aku menghkawatirkan keadaannya apalagi saat kudengar Patih Lembu Ireng terluka padahal Patih Lembu Ireng ilmu bela dirinya tinggi dia telah beberapa kali maju perang dan pulang membawa kemenangan,” ucap Aryo.


“Aku yakin Ajisaka baik-baik saja, ilmu bela diri dan tenaga dalamnya cukup tinggi apalagi otaknya juga cerdas,” ucap Bayu.

__ADS_1


Seratus prajurit dipimpin langsung oleh Patih Samana bergerak keluar istana. Mereka memacu kuda mereka dengan kecepatan tinggi tanpa henti. Pasukan itu harus segera tiba ke tempat rombongan Putri Sekar Ayu berada. Raja Nagendra khawatir kelompok pemberontak Bajing Alas menyerang rombongan Putri Sekar Ayu lagi.


Bayu dan Aryo merasa bersemangat karena sebentar lagi mereka akan bertemu dengan Ajisaka teman seperguruan mereka di padepokan Ki Waskito.


__ADS_2