Sang Pendekar

Sang Pendekar
Bukit Ular


__ADS_3

“Jalan di sini benar-benar buruk, seharusnya kita lewat jalan yang biasa dilewati para pedagang saja,” ucap Putri Sekar Ayu bersungut-sungut.


“Maaf tuan putri, hamba hanya ingin mempersingkat jarak perjalanan ke istana Kerajaan Dananjaya. Selain itu jalan ini jarang dilewati sehingga kemungkinan kita terlihat oleh berandal pemberontak Bajing Alas semakin kecil.”


Ajisaka dan Putri Sekar Ayu berusaha naik dari dasar jurang ke jalan di atasnya. Sesampainya di atas kuda-kuda mereka masih aman berada di jalan.


“Untung kudanya tidak lari kemana-mana. Kalau saja tidak ada ular kobra di tengah jalan kudaku tidak mungkin melemparkanku ke jurang.”


“Bukit ini bernama bukit ular, kukira hanya namanya saja ternyata banyak terdapat ular di bukit ini,” ucap Ajisaka.


“Aku baru melihat 1 ular kobra di tengah jalan mengapa kau mengatakan banyak ular di bukit ini?” tanya Putri Sekar Ayu.


“Di setiap pohon yang kita lewati hamba selalu melihat ular bertengger di dahannya,” jawab Ajisaka.


Putri Sekar Ayu segera melihat ke kiri dan kanan ke arah pepohonan. Benar saja di setiap pohon ada ular bertengger. Putri Sekar Ayu bergidik ngeri, merinding seluruh tubuhnya karena dia sangat takut dan jijik dengan ular. Mereka segera melanjutkan perjalanan menaiki kuda. Kali ini Putri Sekar Ayu memacu kuda dengan hati-hati, takut ada ular di jalan atau tiba-tiba ada ular jatuh dari pohon.


Ajisaka dan Putri Sekar Ayu masih harus melewati jalan tebing batu yang sangat terjal, jalanan mulai menurun sebentar lagi bukit ini akan terlewati dan mereka akan menemukan jalan yang biasa dilewati para pedagang dan pengembara menuju istana kerajaan Dananjaya.


Tiba-tiba dari atas tebing ada cahaya melesat ke arah Ajisaka dan Putri Sekar Ayu. Ajisaka segera menangkis serangan itu dengan tenaga dalamnya.


“Cepat menjauh dari sini Putri Sekar Ayu, ada sesuatu yang mencoba menyerang,” teriak Ajisaka. Putri Sekar Ayu segera memacu kudanya melewati jalan yang menurun. Sebentar lagi dia akan menemukan jalan besar.


Sebuah cahaya melesat lagi ke arah Ajisaka, ia segera bergerak dengan cepat untuk menghindarinya. Ia menggeser kedua kakinya dan tubuhnya membungkuk. Cahaya itu meledak tepat di sampingnya meninggalkan bekas tanah gosong terbakar api.


“Ssssttt... ssssttt... ssssttt,” terdengar suara ular mendesis.


Pohon-pohon dan rerumputan mulai tersibak, seekor ular besar berbentuk naga terlihat mengibaskan ekornya yang besar dan panjang ke arah pohon di samping Ajisaka berdiri.

__ADS_1


“Brakkk... brakk... brakk...” pohon di samping Ajisaka bergetar dengan hebat dan tumbang ke arahnya. Ajisaka segera meloncat menjauhi pohon yang akan jatuh menimpanya.


Ular raksasa itu terus mengejar Ajisaka dengan menyemburkan cahaya api yang membakar pohon dan rumput di sekitar. Ajisaka berlari menghindari ular raksasa gila yang tiba-tiba menyerangnya dengan cahaya api. Dia melompat dan berlari di antara dahan-dahan pepohonan.


Terdengar suara pepohonan yang bergesekan dengan tubuh ular raksasa. Pepohonan itu tumbang satu persatu.


“Kenapa ular gila itu terus mengejarku. Sepertinya dia ingin memangsaku.”


Ajisaka mengeluarkan pedangnya, siap menyerang ular raksasa itu. Ia berbalik menghadap ke belakang menantang ular raksasa.


“Ayo serang aku ular raksasa gila!”


Ular itu merasa terpancing dan menyemburkan cahaya api ke arah Ajisaka, ia segera berkelit melompat ke atas kepala ular raksasa itu. Merasa terganggung dengan Ajisaka yang berada di atas kepalanya ular itu menggoyangkan kepala dengan kuat. Dia mengamuk mengibaskan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Mulutnya terus mengeluarkan cahaya api.


Ajisaka tetap mempertahankan posisinya di kepala ular itu. Ular itu terus mengamuk menggoyangkang kepalanya tanpa henti. Ajisaka hampir terjatuh tapi masih bisa mempertahankan posisinya. Ajisaka sekuat tenaga berusaha menancapkan pedangnya di kepala ular itu.


“Sleebbb”


“Maaf, aku tidak berniat membunuhmu, tapi kau yang duluan menyerangku,” ucap Ajisaka.


Setelah ular raksasa itu mati, Ajisaka segera memacu kudanya menyusul Putri Sekar Ayu.


“Pantas saja tidak ada yang berani melewati bukit ular rupanya ada ular raksasa yang menghadang,” ucap Ajisaka terus memacu kudanya dengan kencang.


Putri Sekar Ayu menunggu Ajisaka di pinggir jalan besar. Dia merasa sangat lega saat melihat Ajisaka berkuda kearahnya.


“Syukurlah kamu cepat datang, aku bosan sekali menunggumu di sini, apa tadi yang berusaha menyerang kita?” tanya Putri Sekar Ayu.

__ADS_1


“Seekor ular raksasa berbentuk naga, dia terus mengejarku dengan cahaya api. Aku terpaksa membunuhnya karena dia terus mengejarku dan mengamuk merobohkan pepohonan,” jawab Ajisaka.


“Kau benar-benar gila, berani-beraninya kau mengajakku melewati bukit penuh ular.”


“Sekali lagi maafkan hamba Putri Sekar Ayu, hamba sama sekali tidak mengetahui kalau di bukit itu terdapat banyak ular dan ada ular raksasanya.”


“Sudahlah, toh kita juga bisa keluar dari bukit itu hidup-hidup. Aku akan menyuruh seseorang dari kerajaan membuat papan di jalan masuk dan keluar bukit itu agar mereka tahu bukit itu bahaya banyak ularnya.”


Ajisaka hanya tersenyum menanggapi ide Putri Sekar Ayu yang sangat masuk akal itu. Mereka berjalan melewati sebuah kedai yang mengeluarkan aroma ikan bakar yang menggoda. Seketika Putri Sekar Ayu merasa lapar dan mengajak Ajisaka makan di kedai itu.


“Ayo berhenti sebentar ke kedai itu, aku lapar sekali,” ucap Putri Sekar Ayu.


“Hamba tidak membawa uang Putri Sekar Ayu,” jawab Ajisaka.


“Bagaimana kalau kamu merampok saja, kamu kan ahli bela diri,” ucap Putri Sekar Ayu.


“Maaf, Putri Sekar Ayu hamba tidak mau menggunakan kemampuan bela diri saya untuk berbuat kejahatan.”


“Ha...ha...ha..., kamu memang tidak bisa diajak bercanda. Ayo kita mampir saja, aku membawa perhiasan emas nanti aku tukar dengan makanan,” Putri Sekar Ayu segera turun dari kudanya dan menambatkannya di samping kedai.


Sebenarnya Ajisaka agak was-was, jangan-jangan ada berandal pemberontak Bajing Alas di kedai itu. Dia mulai melihat situasi sekitar kedai, ada beberapa pembeli di dalam kedai itu, kebanyakan para pedagang yang membawa kereta kuda dan gerobak pedati yang ditarik sapi, sebagian lagi para petani yang pulang dari ladang.


Putri Sekar Ayu segera mendekati pemilik kedai, seorang wanita paruh baya dengan rambut digelung rapi dan berkebaya warna coklat.


“Maaf bu, saya seorang pengembara yang kehabisan uang. Bolehkah saya makan di sini dan membayarnya dengan cincin ini,” ucap Putri Sekar Ayu sambil menyerahkan sebuah cincin emas.


Wanita itu menerima cincin emas itu dan mulai menggigitnya. Setelah yakin cincin itu emas, wanita itu tersenyum lebar.

__ADS_1


“Kamu bisa memesan apa saja yang kamu mau?” ucap wanita pemilik kedai.


“Saya hanya ingin 2 porsi ikan bakar dengan nasi dan air putih saja,” Putri Sekar Ayu segera berlalu dan duduk di salah satu meja di pojok kedai.


__ADS_2