
Kematian begawan Sabdawala membuat pasukan aliansi kehilangan semangat bertempur. Para pemimpin aliran putih merasa bahwa kesempatan mereka untuk menang sangat kecil. Mereka merasa bahwa strategi yang dibuat raden Sanjaya telah membawa kekalahan bagi mereka.
"Apakah kita mampu mengalahkan tengkorak hitam..? Sedangkan begawan Sabdawala yang paling tinggi ilmunya saja berhasil dikalahkan oleh Ki Karto. Lalu bagaimana kita mengalahkannya..?" tanya Ki Mahesa patah semangat.
"Benar.. kami telah banyak kehilangan anggota, apakah usaha dan pengorbanan anggota kami akan sia-sia..?" sahut pemimpin lainnya
"Raden.... apakah strategi yang raden rencanakan akan gagal..? Seandainya saat pertama kali datang kita langsung menyerbu mereka, mungkin begawan Sabdawala masih hidup dan keadaan tidak seperti ini.." ucap Ki Harso.
"Kalian tenanglah. Apakah kalian meragukan kemampuan cucuku dan calon istrinya..?" raja Dewayana geram.
"Benar.... aku menyaksikan sendiri bagaimana kemampuan raden Sanjaya. Aku yakin kita tidak akan kalah dalam pertempuran ini.." sahut Ki Sumali.
"Ki Sumali.... Semua tau bahwa begawan Sabdawala adalah orang yang mempunyai tingkatan paling tinggi disini. Jika begawan Sabdawala saja kalah, apalagi kita..? Kami mau bergabung dengan pasukan aliansi ini karena begawan Sabdawala.." ucap Ki Mahesa yang diiyakan oleh pimpinan lainnya.
"Cucuku... bisakah kamu menjelaskan kepada mereka tentang semua kejadian ini..?" ucap ki Sumali pelan.
Raden Sanjaya yang dari awal terdiam dengan kegaduhan yang terjadi di tenda pasukan aliansi, kini angkat bicara.
"Apakah kalian masih ingat janji kita di padepokan Naga Langit..?" tanya raden Sanjaya.
"Bukankah kita semua telah berjanji kepada langit dan bumi bahwa ini adalah pertempuran hidup mati kita..? Bukankah sudah kita ikrarkan bahwa jiwa, raga dan darah kita korbankan untuk masa depan anak cucu kita..? Apakah kalian tidak malu kepada teman-teman kalian yang telah gugur..? Bukankah mereka juga mengucapkan janji yang sama seperti kalian..?" ucap Raja Dewayana lantang dan membuat semua terdiam.
"Kalau kita melihat diri kita sebagai individu, maka kita terlihat lemah. Tapi kalau kita melihat diri kita sebagai satu kesatuan, maka kita akan menjadi kekuatan yang besar.." ucap raden Sanjaya.
"Kalau boleh kami tau, kenapa saat itu kita tidak langsung menyerang saja raden, selagi mereka melakukan puja brata kepada penguasa kegelapan..?" tanya salah satu pemimpin kelompok.
"Pertama, kondisi pasukan kita yang lelah akan membawa kekalahan bagi kita. Bagaimanapun kita juga belum tau situasi di dalam istana kerajaan, sehingga kita tidak bisa sembarangan menyerang. Kedua, Tengkorak Hitam telah menyusup ke dalam pasukan kerajaan. Kita tidak tau mana yang terlibat dengan tengkorak hitam dan mana yang tidak terlibat. Bagaimanapun kita tidak mungkin membunuh mereka yang tidak terlibat dengan tengkorak hitam. Setelah acara pemujaan itu, kita menjadi tau mana anggota tengkorak hitam dan mana yang bukan. Ketiga, kita tidak hanya melawan tengkorak hitam, tapi yang kita lawan adalah angkara murka dan sumber angkara murka adalah penguasa kegelapan. Setelah acara pemujaan, penguasa kegelapan akan muncul dan itulah lawan kita yang sebenarnya.." jawab raden Sanjaya.
"Bukankah pada saat acara pemujaan kita semua merasakan tekanan yang luar biasa..? Apakah kita mampu bergerak saat itu jika saja raden Sanjaya tidak melindungi kita..? ucap Ki Sasongko.
Mendengar jawaban raden Sanjaya, Ki Mahesa akhirnya menyadari kesalahannya telah meragukan raden Sanjaya dan hampir membuat pengorbanan begawan Sabdawala dan anggota aliansi menjadi sia-sia.
__ADS_1
"Maafkan aku raden. Aku telah dipengaruhi oleh emosi sehingga meragukan kekuatan pasukan aliansi. Aku sungguh bodoh hingga tidak percaya kita bisa memenangkan pertempuran ini.." ucap Ki Mahesa.
"Siapa diantara kalian yang ingin menyerah dan menjadikan pengorbanan teman-teman kita juga begawan Sabdawala menjadi sia-sia..?" teriak Ki Sumali
"Kami siap bertempur sampai titik darah penghabisan. Raden, mohon maafkan kami telah menjadi bodoh karena emosi kami raden.." ucap pasukan Aliansi.
"Semuanya, beristirahatlah kalian. Kita akan menyelesaikan semuanya besok. Mantabkanlah hati kalian, semua demi masa depan anak cucu kita.." ucap raden Sanjaya.
Setelah pasukan aliansi membubarkan diri, Raden Sanjaya pergi ke sanggar pemujaan untuk bermeditasi. Raden Sanjaya memasuki dimensi jiwanyandan terus menyelam hingga ke dasar dimensi jiwanya. Disana raden Sanjaya dapat berkomunikasi dengan Sang Hyang Asa.
MANUSIA MUDA KAU AKHIRNYA DATANG MENEMUI KU DI DASAR DIMENSI JIWAMU.
"Mohon maaf Yang Mulia, Hamba ingin bertanya sesuatu kepada Yang Mulia.." ucap raden Sanjaya.
AKU TAU APA YANG SEDANG KAU PIKIRKAN. UNTUK MENGALAHKAN KALA GUNAKANLAH CARAKA BALIK. PAHAMILAH CARAKA BALIK DENGAN BAIK MAKA KAU AKAN MENEMUKAN KELEMAHAN DARI SANG KALA.
Belum sempat raden Sanjaya bertanya lagi, kesadarannya sudah terlempar ke dalam raganya kembali.
Raden Sanjaya berulang kali memahami makna caraka balik di dalam mantram kalimasada. Dia berusaha memahami makna dari caraka balik secara lebih mendalam sambil mengingat pertempuran yang selama ini dilakukannya bersama Sekar Wulan. Tiba-tiba tubuh raden Sanjaya bersinar bagai bulan purnama, Raden Sanjaya mendapatkan pencerahan bagaimana cara mengalahkan penguasa kegelapan.
"Gelap atau kegelapan sebenarnya tidak ada. Gelap hanyalah keadaan dimana tidak ada cahaya disana. Manusia akan berada pada kondisi tidak mendapat cahaya yaitu saat kesombongan menguasainya. Jadi penguasa kegelapan bukanlah yang menguasai gelapnya dunia, melainkan menguasai sisi gelap manusia yang diakibatkan kesombongan manusia itu sendiri."
"*Ak*u harus memberikan cahaya di sisi gelapku, artinya aku harus bisa mengalahkan kesombonganku untuk mengalahkan penguasa kegelapan. Mengalahkan diri sendiri hingga lawan tidak bisa mengalahkan kita." batin raden Sanjaya.
Setelah mendapatkan pencerahan, Raden Sanjaya menemui ki Sasongko, Ki Sumali dan Sekar Wulan untuk menceritakan yang telah di dapatkannya.
"Bagaimana raden, ada apa raden memanggil kami..?" ucap Ki Sasongko.
"Aku telah menemukan kelemahan dari penguasa kegelapan. Hilangkan semua sifat sombong yang ada di dalam diri kita, dan menyadari bahwa penguasa kegelapan juga merupakan utusan dari Sang Pencipta untuk menguji manusia dari sisi gelap manusia, yaitu kesombongan yang ada di dalam hati manusia itu sendiri.." ucap raden Sanjaya.
"Mungkin inilah sebab mengapa aku tidak mampu mengalahkan Ki Karto. Kesombonganku yang selalu merasa jika bersama Guru kami lebih hebat dari Karto.." ucap Ki Sasongko.
__ADS_1
"Benar Ki.. Yang terpenting tetap berjalan pada jalan kebenaran, dan menghentikan angkara murka akibat dari kesombongan kita sendiri.." ucap raden Sanjaya.
Pagi hari, saat matahari naik setinggi tombak, kedua pasukan telah siap untuk memulai pertempuran mereka. Dengan sekali perintah dari masing-masing pemimpin, pasukan aliansi dan pasukan tengkorak hitam saling menyerang. Ki Sumali dan Ki Sasongko berhadapan dengan Ki Karto. Dalam waktu singkat, mereka telah bertukar puluhan serangan. Ki Sasongko yang telah mendapatkan pencerahan dari raden Sanjaya tampak lebih menguasai pertarungan. Serangan Ki Sasongko dapat membaca semua gerakan ki Karto. Ki Sumali pun tidak ketinggalan. Serangannya sangat cepat dan efektif tidak memberikan celah kepada Ki Karto. Jurus Raga Abadi pun menjadi tidak efektif menahan serangan Ki Sasongko
"Tidak mungkin.. bagaimana mereka menjadi begitu hebat dalam waktu semalam..? Seluruh gerakanku terbaca oleh mereka. Keparaaaattt.. mereka sama sekali tidak memberikanku kesempatan.." batin Ki Karto.
"Tapak Kalimasadaa...." batin ki Sasongko.
Mengetahui lawannya mengeluarkan jurus andalan, Ki Karto menangkis serangan Ki Sasongko dengan jurus andalannya juga.
"Jurus Tapak Daraaahh...!!" teriak ki Karto
DHUAAAAAARRRR...
Ki Karto terpental belasan meter. Serangan Ki Sasongko tidak dapat ditangkis dengan sempurna oleh Ki Karto, yang mengakibatkan Ki Karto terluka. Darah segar tampak mengalir di bibir Ki Karto. Ki Sumali segera menyusul dengan serangan tombaknya.
"Tombak Petiiiirrrr....!! teriak Ki Sumali.
Ki Karto menahan jurus Ki Sumali dengan jurus goloknya.
"Tebasan Golok Setaaaan...!!" ki Karto mengeluarkan seluruh kemampuannya.
Ki Sumali dengan cepat menghindari benturan dengan golok kalabendana dan mengubah serangannya ke arah kaki Ki Karto.
JDHAAAAAARRRR....!!
Serangan Ki Sumali membuat luka yang sangat parah di kaki Ki Karto yang membuat Ki Karto tidak bisa berdiri dengan baik.
"Bagaimana kalian begitu hebat dalam semalam..?" tanya Ki Karto.
"Aku tidak lebih hebat dari kemarin. Hanya saja aku sudah mengetahui kelemahanmu Karto. Selagi ada kesempatan, bertobatlah Karto.." jawab Ki Sasongko.
__ADS_1