Sang Pendekar

Sang Pendekar
Mencari Jejak


__ADS_3

“Akhirnya... aku berhasil menculik Putri Sekar Ayu,” ucap Patih Lembu Ireng segera memacu kudanya ke arah hutan belantara ke tempat persembunyian Paramarta.


Patih Lembu Ireng memacu kudanya dengan kecepatan tinggi, tak diperdulikan lagi rasa sakit di kakinya yang terluka terkena api sewaktu di alun-alun desa Pagarsari. Tujuannya hanya satu membawa Putri Sekar Ayu ke hadapan Paramarta.


Tubuh Putri Sekar Ayu yang terikat bergoncang-goncang di atas kuda yang dikendarai Patih Lembu Ireng. Putri Sekar Ayu mulai terbangun karena goncangan itu, dia kaget mendapati dirinya terikat di atas kuda yang dikendarai oleh Patih Lembu Ireng.


“Patih Lembu Ireng... apa yang kau lakukan padaku?” teriak Putri Sekar Ayu panik.


Patih Lembu Ireng kaget melihat Putri Sekar Ayu sudah sadar dari pengaruh ilmu sirep. Matanya terbelalak lebar melotot ke arah Putri Sekar Ayu.


“Putri Sekar Ayu..., aku harus segera membawamu ke hadapan Paramarta. Raja Nagendra harus menyerahkan tahtanya ke tangan Paramarta. Dia lebih pantas menjadi Raja, aku tidak mau kerajaan Dananjaya hancur karena berperang melawan kerajaan Langit. Kalau Paramarta naik tahta dia dengan senang hati menjual perkebunan kopi ke kerajaan Langit dengan harga tinggi tidak perlu ada peperangan,” ucap Patih Lembu Ireng.


“Dasar pengkhianat, ayahanda lebih baik mati berperang daripada menjual perkebunan kopi milik rakyat ke kerajaan Langit. Apa kau tidak tahu kerajaan Langit adalah penjajah yang menindas kerajaan-kerajaan lain demi kemakmuran kerajaannya sendiri. Membeli lahan perkebunan berarti mereka bisa mulai menancapkan kekuasaannya di wilayah kerajaan Dananjaya. Patih jangan ikut-ikutan bodoh dan silau harta seperti paman Paramarta,” ucap Putri Sekar Ayu.


“Diam... gadis manja, kau tidak tahu apa-apa, jangan mengguruiku,” ucap Patih Lembu Ireng.


“Aku tahu! Dasar penghianat!” ucap Putri Sekar Ayu membuat Patih Lembu Ireng terbakar emosi. Ia menghentikan kudanya dan mencengkeram leher Putri Sekar Ayu.


Putri Sekar Ayu meronta-ronta dan berusaha menendang Patih Lembu Ireng. Patih Lembu Ireng segera melonggarkan cengkeramannya sebelum Putri Sekar Ayu kehabisan nafas.


“Kalau kau mati, kau tidak akan berguna di hadapan Paramarta. Dia akan memanfaatkanmu untuk menekan Raja Nagendra menyerahkan tahtanya. Kau jangan coba-coba memancing emosiku,” ucap Patih Lembu Ireng.


Patih Lembu Ireng segera memacu kudanya lagi, pergi menembuskan ke dalam gelapnya hutan belantara. Kuda hitam yang ditungganginya meringkik karena dipacu dengan sangat cepat.


“Lepaskan aku... tolong... tolong...!” teriak Putri Sekar Ayu.

__ADS_1


“Jangan harap ada yang menolongmu, Patih Samana dan Ajisaka jauh tertinggal di belakang. Mereka bisa saja sudah mati dibantai gerombolan pemberontak Bajing Alas,” ucap Patih Lembu Ireng.


Patih Lembu Ireng terus memacu kudanya menuju tempat persembunyian Paramarta. Sampailah kuda itu di sebuah rumah yang terletak di dalam hutan. Rumah itu sangat besar walaupun tersembunyi di tengah hutan belantara. Banyak penjaga di rumah itu, rumah itu adalah tempat persembunyian Paramarta.


Patih Lembu Ireng menghentikan kudanya dan menurunkan Putri Sekar Ayu. Diangkatnya tubuh Putri Sekar Ayu yang kedua tangannya teringat ke atas bahunya. Para prajurit penjaga rumah itu segera menyambut kedatangan Patih Lembu Ireng.


“Kosongkan sel tahanan untuk mengurung Putri Sekar Ayu, aku harus segera bertemu Paramarta,” ucap Patih Lembu Ireng.


“Paramarta tidak ada di sini, dia sedang menemui panglima perang Kerajaan Langit,” ucap salah satu perajurit penjaga.


“Rupanya dia benar-benar gila mau bekerjasama dengan Kerajaan Langit demi merebut tahta. Hmmm... dia pasti senang jika tahu aku telah berhasil menculik Putri Sekar Ayu,” ucap Patih Lembu Ireng.


Putri Sekar Ayu diletakkan di sebuah sel tahanan yang kotor dan berbau busuk.


Dia terus berteriak meminta dibebaskan, namun tak ada seorang pun yang datang menolongnya. Akhirnya dia merasa kelelahan dan duduk berdiam diri di pojokan sel tahanan.


----------


Patih Samana telah membagi prajurit pengawal Putri Sekar Ayu menjadi dua kelompok. Kelompok satu dipimpin oleh Bayu berkuda menuju istana kerajaan memastikan apakah Patih Lembu Ireng dan Putri Sekar Ayu telah kembali pulang ke istana. Kelompok dua dipimpin Patih Samana kembali ke tempat penyerangan gerombolan Bajing Alas dan mencari jejak Putri Sekar Ayu dari tempat itu. Ajisaka dan Aryo bergabung dengan kelompok yang dipimpin Patih Samana.


Mereka segera bergerak ke arah tujuan masing-masing. Tidak berselang lama Patih Samana dan prajurit pengawal sudah sampai di tempat penyerangan.


“Berpencar, cari jejak Putri Sekar Ayu dan Patih Lembu Ireng,” ucap Patih Samana.


Ajisaka dan Aryo berjalan di sekitar tempat penyerangan. Dia melihat ke arah tanah untuk melihat jejak-jejak yang tertinggal di tempat itu. Susah membedakan mana jejak Putri Sekar Ayu dan Patih Lembu Ireng atau jejak para pemberontak Bajing Alas. Tiba-tiba Ajisaka melihat sesuatu yang berkilau di tanah terkena cahaya obor yang dibawanya, dia segera memungut benda itu. Itu adalah kalung yang biasa dipakai Putri Sekar Ayu. Berarti tadi Putri Sekar Ayu berada di tempat ini. Ajisaka dan Aryo segera melihat jejak lain di sekitarnya dengan cermat. Tampaklah jejak sandal berukuran besar tercetak sangat dalam, tidak mungkin itu jejak Putri Sekar Ayu.

__ADS_1


“Jejak ini pasti milik Patih Lembu Ireng, jejak sandal ini besar ukurannya, tapi kenapa tidak ada jejak Putri Sekar Ayu padahal di tempatmu menemukan kalung masih ada jejak sandal Putri Sekar Ayu?” tanya Aryo.


“Tunggu, apakah Patih Lembu Ireng menggendong Putri Sekar Ayu, ini terlihat dari jejaknya yang tercetak dalam sedangkan jejak sandal Putri Sekar Ayu tidak terlihat lagi. Apa Putri Sekar Ayu terluka dan Patih Lembu Ireng menyelamatkannya?” ucap Ajisaka.


“Mungkin saja begitu,” jawab Aryo.


“Apakah ada Danu di kelompok kita?” tanya Ajisaka.


“Ada, dia tadi ikut dalam kelompok kita,” jawab Aryo.


Ajisaka segera mencari Danu. Dia akan meminta bantuan pemuda itu memanggil anjing hutan agar mengendus jejak Putri Sekar Ayu.


“Apakah kau bisa memanggil anjing hutan untuk mengendus jejak Putri Sekar Ayu?” tanya Ajisaka.


“Bisa, tapi anjing itu harus mengendus barang milik Putri Sekar Ayu, kalau tidak ada, maka tidak bisa mengendus jejaknya,” jawab Danu.


“Ini ada kalung milik Putri Sekar Ayu yang terjatuh dan saputangan dari Putri Sekar Ayu, aku belum pernah menggunakannya, bisakah itu dipakai?”


“Kita coba dulu, tapi belum tentu berhasil," ucap Danu.


Seekor anjing hutan berbulu hitam datang menghampiri setelah Danu meniup serulingnya. Danu mengarahkan kalung dan sapu tangan Putri Sekar Ayu ke hidung anjing hutan itu. Anjing itu segera berlari ke arah hutan belantara.


“Ayo kita ikuti anjing itu,” ucap Danu.


Ajisaka, Aryo dan Danu segera mengejar anjing hutan yang berlari ke arah hutan belantara. Patih Samana dan pasukan lainnya segera menyusul di belakangnya.

__ADS_1


__ADS_2