
"Ki Sasongko, kirimkan pesan kepada Ki Among untuk bersiap. Minta mereka untuk menunggu sampai ada tanda dari pasukan aliansi." ucap raden Sanjaya
"Mengapa kita tidak menyerang saat ini juga raden...?" tanya salah satu pemimpin kelompok aliansi
"Sebagai kelompok aliran putih, kita harus menjunjung tinggi etika dalam bertempur, yaitu jangan menyerang saat lawan belum melakukan persiapan dan juga saat ini banyak anggota aliansi yang kelelahan. Sebaiknya kita menyerang setelah mereka melakukan ritual pemujaan." jawab Raja Dewayana.
"Ki Samijan, jemputlah pasukan patih Rekso Bumi, dan bersiaplah di gerbang utara istana kerajaan. Aku akan memberi tanda kapan kalian bisa menyerang.." ucap raden Sanjaya.
Pasukan yang tidak terlibat pertempuran telah bersiaga dan mulai mengevakuasi warga secara bertahap agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Pada pagi hari, sebelum matahari terbit, alun-alun istana kerajaan mulai ramai. Beberapa anggota Tengkorak Hitam tampak menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk ritual. Bunga tujuh rupa telah ditata, kemenyan dan dupa telah dibakar di depan patung Sang Kala. Anggota Tengkorak Hitam juga banyak yang telah berkumpul membentuk lingkaran mengelilingi patung Sang Kala.
Waktu terus berjalan hingga matahari naik setinggi dua tombak. Pangeran Pranoto, Ki Karso, Senopati Manto, Senopati Bawor dan Senopati Bondan pun telah sampai di tempat pemujaan. Dengan mengucapkan mantram-mantram pemujaan, Ki Karto memulai acara pemujaan. Suasana sangat hening dan mencekam. Aura kegelapan sangat terasa yang membuat semua orang yang merasakannya menjadi bergidik ketakutan.
"Kami adalah hambamu wahai Penguasa Kegelapan. Kami adalah hambamu wahai penguasa kegelapan. Kami adalah hambamu wahai Penguasa Kegelapan. Kami adalah pemujamu wahai Sang Kala.." teriak Ki Karto seluruh anggota Tengkorak Hitam.
Setalah mereka mengucapkan kalimat pemujaan, mereka lalu bersujud beberapa saat dan mengulang lagi kalimat pemujaan itu. Mereka terus melakukannya, sedang Ki Karto tampak memotong ayam hitam dan menuangkan darahnya di patung Penguasa Kegelapan. Setelah itu, seekor gagak dipotong kepalanya dan langsung dimasukkan ke dalam tungku api yang menyala. Begitu seterusnya sampai ayam hitam dan burung gagak ke tujuh.
Perlahan-lahan saat dimana matahari, bulan dan seluruh planet berada pada posisi sejajar terjadi. Semua yang hadir di alun-alun bersujud dan tetap melantunkan kalimat pemujaan. Perlahan sinar matahari tertutup oleh bulan dan menyebabkan keadaan menjadi semakin gelap dan akhirnya menjadi gelap gulita. Awan hitam dengan petir berwarna merah nampak bergulung tepat di atas patung Kala, dan kabut hitam turun dari langit dan bersatu dengan patung penguasa kegelapan. Lalu patung itu pun lenyap dan hanya tersisa kabut hitam yang menyerupai bentuk manusia. Kabut hitam itu maju mendekati pangeran Pranoto.
TUBUH INI SANGAT COCOK UNTUKKU. NAFSU ANGKARA, KEDENGKIAN DAN KESOMBONGANNYA SANGAT BESAR...!!
Kabut hitam itupun masuk ke dalam tubuh Pangeran Pranoto. Tubuh pangeran Pranoto perlahan berubah menjadi lebih besar dan muncul dua tanduk sepanjang satu jengkal di kepala pangeran Pranoto, mirip seperti tanduk banteng. Kekuatan pangeran Pranoto menjadi puluhan kali lebih kuat dari sebelumnya. Matanya berubah menjadi merah, kulit yang semula putih kini berubah menjadi kehitaman dengan banyak bulu di tangan dan kakinya.
"Bangunlah wahai pengikutku.. aku menerima penghambaan kalian.." teriak pangeran Pranoto.
Suara pangeran Pranoto lebih besar dan menggelegar menunjukkan kekuatan yang dimilikinya begitu besar.
"Pangeran Penguasa Kegelapan, hamba meminta sedikit kekuatan darimu. Hamba mohon pangeran penguasa mengabulkannya.." ucap Ki Karto.
__ADS_1
Dengan mengangkat tangan kirinya, kabut hitam turun dari langit dan masuk ke dalam tubuh semua yang hadir di alun-alun. Mereka yang memiliki sifat angkara langsung bisa beradaptasi dengan kabut hitam itu dan kekuatannya akan meningkat. Akan tetapi jika mereka masih memiliki sedikit saja sifat welas asih, maka tubuhnya akan mati dan jiwanya akan menjadi santapan pangeran Pranoto.
"Walaupun sudah tidak murni, tapi jiwa mereka dapat mengurangi rasa laparku.." gumam pangeran Pranoto.
"Wahai para pengikutku, selanjutnya mari kita hancurkan semut-semut.yang berada di gerbang istana.." teriak pangeran Pranoto.
-->
Sementara itu pasukan aliansi yang berada di depan gerbang utama istana kerajaan, merasakan tekanan yang luar biasa. Beberapa diantara mereka menderita mual dan muntah. Tapi dengan mantram kalacakra, raden Sanjaya dapat mengurangi tekanan itu. Mereka telah bersiap, saat gerhana matahari selesai, mereka akan mendobrak gerbang istana dan menyerang Tengkorak Hitam.
Gerhana matahari telah melalui fase puncaknya. Sinar matahari kembali menyentuh permukaan bumi. Pasukan aliansi bersiap untuk mendobrak gerbang utama istana Kerajaan.
"Cepat... kumpulkan kekuatan, kita serang bersama-sama gerbang istana.." teriak Ki Samijan.
"Tapak Brajamusti.... Tapak Kalimasada.. Tapak Api Bumi... Pukulan Lembu Sekilan..." teriak para tetua perguruan.
Pintu gerbang Istana kerajaan terbuka. Kini dihadapan pasukan aliansi berdiri ribuan anggota Tengkorak Hitam yang telah disusupi kabut hitam, wajah beringas dengan mata merah tampak dari pasukan Tengkorak Hitam. Pasukan aliansi sempat merasakan kengerian di dalam diri mereka. Jika saja raden Sanjaya tidak mengobarkan semangat mereka, mungkin saat ini pasukan aliansi akan jatuh mentalnya.
"Jangan gentar, jangan biarkan mereka membuat kalian menjadi ketakutan. Ingat, semua yang kita lakukan adalah demi kedamaian negeri ini dan masa depan anak cucu kita nanti.." teriak radem Sanjaya.
"Tidak akan salah akan menang melawan kebenaran dan keadilan.." sambung Ki Sasongko.
"Benaaaaaarrrr...!! Hidup pasukan aliansi....!!" teriak mereka serentak..
Dengan telepati, raden Sanjaya mengirimkan pesan kepada Ki Among..
"Ki Among... Tugas kalian cari orang-orang yang berada di dalam istana yang tidak terlibat dengan Tengkorak Hitam. Bawa mereka ke tempat yang aman.." ucap raden Sanjaya dengan telepati.
"Patih Rekso Bumi... saat terjadi pertempuran, serang Tengkorak Hitam dari sisi utara." perintah Raden Sanjaya melalui telepati.
__ADS_1
Pangeran Pranoto memberikan perintah kepada pasukan Tengkorak Hitam...
"Majulah kalian para hambaku.. hancurkan mereka, tunjukkan mereka apa itu keputus asaan..!!" perintah pangeran Pranoto.
Seluruh anggota Tengkorak Hitam merangsek maju menyerang pasukan aliansi.
"Jangan gentar.. Hadapi mereka sekuat tenaga kalian." teriak raden Sanjaya.
Raden Sanjaya, Sekar Wulan dan para ketua dan tetua diikuti anggota pasukan aliansi maju menyambut serangan pasukan Tengkorak Hitam.
Begawan Sabdawala dan Ki Sasongko maju menghadapi Ki Karto, Ki Sumali dan Ki Mahesa menghadapi Senopati Manto, Ki Harso menghadapi senopati Bondan, Ki Woko menghadapi senopati Bawor. Sedangkan Raden Sanjaya dan Sekar Wulan maju untuk menghadapi Pangeran Pranoto. Sementara itu, raja Dewayana, Putri Dyah Ayu dan putri Nawang Sari membantu mengevakuasi penduduk dan mengobati pasukan yang terluka. Ujang, Slamet dan Barno bersama pasukan aliansi menghadapi anggota Tengkorak Hitam lainnya.
Begawan Sabdawala menyerang ki Karto dengan menggunakan pedang Guntur Anginnya, sedangkan Ki Sasongko menyerang menggunakan pedang Guntur Geni. Ki Karto yang kekuatannya telah meningkat beberapa kali lipat dapat menghindari dan menangkis serangan dari guru dan murid tersebut. Ki Karto pun juga beberapa kali membalas serangan begawan Sabdawala sambil menangkis serangan Ki Sasongko..
WHUUUUUNGG.. SIIIIIIIIING... CLAAAAANG
CTAAAAAKK.... WHUUUUUSS..... JDUUUUUUUNG..
Sebuah tendangan dari Ki Karto berhasil ditahan oleh begawan Sabdawala dengan pedangnya dan membuatnya mundur beberapa langkah..
"Ayolah pak tua.... apa hanya begini saja kekuatanmu..? Bahkan aku pun belum berkeringat.." ucap Ki Karto dengan sombong.
"Jangan sombong kau Karto.. terimalah seranganku...." ucap Ki Sasongko sambil menyerang Ki Karto.
Tanpa terasa mereka telah bertukar ratusan serangan, tapi masih belum terlihat siapakah yang unggul antara Ki Karto dan Begawan Sabdawala yang dibantu Ki Sasongko. Suara benturan pedang Guntur Geni milik Ki Sasongko dan Guntur Angin milik begawan Sabdawala dengan Golok Kalabendana milik Ki Karto menghasilkan suara yang keras dan memekakkan telinga.
CTIIIIINGG.. TIIIIINGG.. TRAAAAANGG...
Ratusan jurus telah mereka keluarkan dan kedua belah pihak masih sama-sama unggul.
__ADS_1