
Pertarungan raden Sanjaya bersama Sekar Wulan melawan pangeran Pranoto berlangsung sangat sengit. Mereka telah bertukar ratusan serangan. Tidak berbeda dengan Ki Sasongko, Raden Sanjaya dan Sekar Wulan tampak lebih menguasai pertarungan mereka. Raden Sanjaya dan Sekar Wulan seperti bisa mengetahui gerakan yang akan pangeran Pranoto lakukan sehingga dengan mudah mereka dapat menghindari dan membalas serangan pangeran Pranoto.
"Bagaimana mereka bisa membaca tiap gerakanku..? Apakah aku telah meremehkan mereka..?" pikir Pangeran Pranoto.
WHUUUUUNG... TAAAAAAPP... WHUUUUUUSS
SRIIIIIINGG.. TRAAAAAANG... JBUUUUUUGGGG..
JDUUUUUG... TAAAAAPPPP... DHIEEEEEEESSS..
Berulang kali tendangan dan pukulan raden Sanjaya dan Sekar Wulan mengenai tubuh pangeran Pranoto. Walaupun tidak mengakibatkan luka yang serius, tapi cukup membuat pangeran Pranoto merasakan ngilu di tubuhnya.
"Kenapa aku tidak bisa lagi mengontrol serangan mereka seperti biasanya..?" batin pangeran Pranoto.
"Tidak kusangka dalam semalam kalian bertambah hebat. Ternyata selama ini kalian menyembunyikan kemampuan kalian. Aku akan menemani kalian bermain sampai puas.." ucap pangeran Pranoto memprovokasi raden Sanjaya dan Sekar Wulan.
"Tidak paman... kami tetaplah seperti kemarin, tidak bertambah hebat atau menyembunyikan kekuatan. Hanya saja sudah tau bagaimana cara bertarung paman dan kelemahan paman.." ucap raden Sanjaya.
"Omong kosong...!! Baiklah, aku akan membuat kejutan untuk kalian.." ucap pangeran Pranoto sambil mundur untuk mengambil jarak.
Pangeran Pranoto melipat tangannya di depan dada dan membaca mantram.
"Apa yang dilakukan oleh paman Paranoto..?" batin raden Sanjaya.
"Bolo Srewuuu....!!! Keluarlah saatnya untuk kalian makan...!! teriak pangeran Pranoto.
Muncul dua makhluk berbentuk seperti manusia di belakang pangeran Pranoto. Makhluk berbadan kekar setinggi dua meter itu memiliki wajah berwarna merah dan bertaring. Segera sosok itu menyerang Sekar Wulan dan Raden Sanjaya, sedangkan pangeran Pranoto tetap dalam posisinya.
Dengan lincah raden Sanjaya dan Sekar Wulan menghindari serangan kedua sosok itu. Sekar Wulan dengan pedang kilisucinya berhasil menebas leher makhluk itu. Belum sempat bernafas lega, makhkuk itu pun bangkit dan muncul lagi makhluk yang sama di sampingnya. Hal yang sama juga dialami raden Sanjaya. Tiap kali serangan raden Sanjaya dan Sekar Wula mengenai makhluk itu, makhluk itu pun langsung bangkit dan menciptakan makhluk lainnya. Sehingga semakin lama makhluk itu semakin banyak yang membuat raden Sanjaya dan Sekar Wulan semakin kewalahan.
"Apa sebenarnya ini..? mereka semakin banyak dan serangannya pun juga ganas. Apa yang harus aku lakukan..?" pikir raden Sanjaya.
"Bagaimana raden..? Makhkuk ini bukan semakin habis tapi semakin banyak.." ucap Sekar Wulan.
__ADS_1
"Ini adalah ajian bolo srewu tuan salah satu jurus yang ada di dalam kitab bolo srewu. Bolo Srewu tercipta dari kemarahan penggunanya.." ucap roh pedang kalimasada.
"Lalu bagaimana caraku mengalahkannya..?" tanya raden Sanjaya dalam hati.
"Dengan menghilangkan amarah pada para raksasa ini dan menusuk jantung dari penggunanya. Saat ini adalah saat paling lemah dari pengguna ajian bolo srewu.." jawab roh pedang kalimasada.
"Ilmu yang diciptakan biyung Durga Kali memang sangat luar biasa. Siapa yang bisa mengalahkan jurus ini..? Sebentar lagi, pemuda itu akan tamat..Hahahaha.." batin pangeran Pranoto.
Raden Sanjaya akhirnya tau bagaimana mengalahkan bolo srewu.
"Nona Wulan... aku akan menghadapi para makhluk ini. Carilah kesempatan untuk menyerang pangeran Pranoto. Gunakan energi pedang kilisuci, tusukan dewi kilisuci, arahkan tepat pada jantung pangeran Pranoto.." ucap raden Sanjaya.
Dengan menggunakan energi mantram kasampurnan, Raden Sanjaya menyerang pasukan bolo srewu. Makhluk bolo srewu langsung menghilang setelah terkena pukulan raden Sanjaya dan tidak muncul lagi makhluk bolo srewu lainnya. Sementara itu, Sekar Wulan segera mengeluarkan jurusnya sesuai dengan yang dikatakan raden Sanjaya.
"Energi Pedang Kilisuci... Tusukan Dewi Kilisuci..." batin Sekar Wulan.
Pangeran Pranoto sangat terkejut mengetahui bolo srewu dengan mudah dikalahkan oleh raden Sanjaya. Belum hilang rasa terkejutnya, sebuah energi berbentuk pedang keluar dari pedang es, dan Sekar Wulan mengarahkan tusukan pedangnya ke arah pangeran Pranoto. Energi pedang yang sangat kuat menembus makhluk bolo srewu yang berada di depannya dan akhirnya berhasil menembus jantung pangeran Pranoto.
Pedang Es tertancap di jantung pangeran Pranoto. Seketika ratusan makhluk bolo srewu menghilang.
Dengan cepat raden Sanjaya segera mengeluarkan jurus pedang kalimasada. Tebasan pedang kalimasada mengarah pada leher pangeran Pranoto.
"Uhhhhuk.. uuhhhhuk.. ukhhhhhh... I... ini tii.. tiiidak mungkin. Kkhh.. kkalian manusia rend........."
Pangeran Pranoto tidak sempat meneruskan ucapannya. Tebasan pedang kalimasada lebih dulu mendarat di lehernya dan memisahkan kepala dan tubuh nya. Lalu Raden Sanjaya melanjutkan serangannya dengan jurus andalannya.
"Tapak Kalimasadaa...!! batin raden Sanjaya sambil mengarahkan tapak nya pada tubuh pangeran Paranoto.
Sekar Wulan dengam cepat melompat ke belakang sambil mencabut pedangnya dan mengeluarkan juga jurusnya..
"Tinju Dewi Kilisuciii...." batin Sekar Wulan
JDAAAAAARRRRR...
__ADS_1
Tubuh pangeran Pranoto terbakar setelah tapak kalimasada dan tinju dewi kilisuci mengenai tubuhnya. Gumpalan asap hitam keluar dari tubuh pangeran Pranoto yang terbakar.
HAHAHAHAHA... APAKAH KALIAN KIRA SUDAH MENGALAHKANKU..? AKU PENGUASA KEGELAPAN TIDAK AKAN KALAH OLEH MANUSIA RENDAHAN SEPERTI KALIAN. AKAN SELALU ADA MANUSIA YANG MENJADI WADAHKU DAN SUATU SAAT AKU AKAN MEMBALAS KALIAN.
Raden Sanjaya dan Sekar Wulan tidak memperdulikan apa yang dikatakan penguasa kegelapan. Sebaliknya, sambil mengarahkan kedua tangannya ke arah kabut hitam perwujudan dari penguasa kegelapan, mereka berdua membaca mantram caraka balik yang ada di dalam kitab kalimasada dan kitab pedang kilisuci.
"Werdi suksmo rehing tresno gegambaran suwargoluko Prapti suci wosing ati .................... Duh Gusti Moho Mukti sun suwiji mring sejati sekaring sunyo ngombak rogo ........... Nga Tha Ba Ga Ma Nya Ya Ja Dha Pa La Wa Sa Ta Da Ka Ra Ca Na Ha..." raden Sanjaya dan Sekar Wulan membaca mantram caraka balik.
Tubuh raden Sanjaya dan Sekar Wulan mengeluarkan cahaya menyilaukan dan tampak cahaya berwarna emas berbentuk telapak tangan mencengkeram kabut hitam itu.
AARRRGGHHHH.... INI... INI.... AAAAAAARGGHHHH.. PANAAAAASSSS.. PANAAAAASSSSS...
KALIAN....... TIDAK MUNGKIN AAAAARRRGGHHHHH..
Penguasa kegelapan merasakan kesakitan dan panas yang luar biasa. Perlahan-lahan kabut hitam perewujudan penguasa kegelapan terbakar. Teriakannya pun tidak lagi terdengar. Energi hitam yang merasuki Ki Karto dan anggota tengkorak hitam tiba-tiba lenyap. Suasana menjadi hening hingga Ki Karto berteriak.
"Akan kubalas kalian semua..." teriak ki Karto sambil berusaha berdiri.
Dengan cepat raden Sanjaya melompat dan berada di depan Ki Karto. Raden Sanjaya menempelkan tangannya di dada ki Karto, dengan menggunakan mantram kalacakra, raden Sanjaya menghancurkan seluruh ilmu dan tenaga dalam ki Karto.
"Aaaaaarrrhh.. apa yang kau lakukan keparat...?" bentak Ki Karto.
"Kekuatanmu telah aku hancurkan. Bertobatlah Ki, tebus semua kesalahanmu.." jawab raden Sanjaya.
"Tidak mungkin. Aku tidak mengijinkanmu menghancurkan kekuatanku, tidak mungkin kamu dapat melakukannya.." ucap Ki Karto tidak percaya.
"Aku telah mengetahui semua rahasia dari kitab Kalimasada dan mantram kalacakra. Aku pun telah mengetahui makna setiap kata dalam mantram kasampurnan. Jadi walaupun kau tidak merelakan, aku tetap bisa menghancurkan kanuraganmu. Meskipun kini tulang tangan dan kakimu hancur, setidaknya kau tidak akan mengajarkan ilmu sesat itu kepada orang lain.." jawab raden Sanjaya.
"Lebih baik aku mati daripada harus menjadi orang cacat.." ucap ki Karto sambil menusukkan golok ke perutnya.
"Setidaknya aku telah memberikan kesempatan buatmu untuk menebus semua dosa-dosamu.." ucap raden Sanjaya.
Mengetahui pimpinannya bunuh diri, sisa pasukan tengkorah hitam yang tidak lebih dari seribu orang itupun meletakkan senjatanya dan berlutut tanda mereka menyerah. Mereka yang menyerah, dipaksa untuk meminum racun pemusnah untuk memusnahkan tenaga dalam mereka dan mereka harus menjalani hukuman.
__ADS_1