
TOOOOOKK.. TTOOOOOKK.. TOOOOOOOKKK..
TOOOOOKK.. TOOOOOOKK.. TOOOOOKKK.. TTOOOOOKK
Suara kentongan terdengar dari pos jaga di perbatasan desa, dan diikuti oleh kentongan lain di seluruh penjuru desa..
"Perampooookk..!! Perampoookk..!! Kelompok Taring Serigala datang untuk merampok..!!" teriak penduduk desa sambil berlari.
Kelompok Taring Serigala adalah salah satu kelompok aliran hitam yang sering merampok dari satu desa ke desa lainnya. Setelah merampok mereka akan pergi ke kota kerajaan Kawi untuk berjudi dan bersenang-senang di rumah bordil. Kelompok Taring Serigala terkenal sangat kejam dan tidak segan-segan membunuh korbannya.
Kelompok ini dipimpin oleh seorang pendekar tingkat Master tahap menengah, dan mempunyai sekitar 30 orang anggota yang rata-rata berada pada ringkat guru tahap menengah dan beberapa berada pada tingkat master tahap awal.
Suara penduduk desa saling bersahutan. Raden Sanjaya yang memiliki pendengaran tajam langsung bisa mendengar teriakan penduduk tentang perampok yang datang..
"Sepertinya desa kita kedatangan tamu kek. Lebih baik kita segera bergegas menuju ke perbatasan desa untuk menyambutnya."
"Kepala desa, segera kumpulkan warga untuk berjaga di samping lapangan desa." ucap raden Sanjaya.
Raden Sanjaya dan Ki Sumali melesat menuju perbatasan desa, sedangkan penduduk laki-laki yang dipimpin kepala desa, dengan senjata seadanya berjaga di dekat lapangan desa. Suasana desa menjadi begitu mencekam.
DRAAAAAPPP.. DERAAAAAPPP.. DRAAAAAPPP..
Sura langkah puluhan kuda yang dikendarai oleh anggota Taring Serigala terdengar mendekati perbatasan. Tidak butuh waktu lama kelompok Taring Serigala sampai di perbatasan desa.
"Berhenti..!!" perintah pimpinan perampok.
"Rupanya ada yang sengaja mengantarkan nyawanya kemari.."
"Hai anak muda, siapa kamu..? Dan mengapa kamu menghalangi jalan kami..?" ucap pimpinan perampok.
"Sebelum kau bertanya identitas orang lain, seharusnya perkenalkan dirimu dulu. Apakah ibumu tidak pernah mengajarimu..? jawab Raden Sanjaya tenang.
"Besar juga nyalimu anak muda. Baru belajar silat saja sudah begitu kurang ajar mulutmu.."
"Karena kau akan mati disini, aku akan memberitahumu. Aku Pimpinan Taring Serigala, Kebo Ireng. Kembali, siapa namamu anak muda..? Agar aku bisa membuatkan batu nisan untukmu.. Hahahaha.." ucap Kebo Ireng. disusul tawa anggotanya.
__ADS_1
"Aku Jaka Pengalasan, dan ini kakekku Ki Samadhi. Lebih baik kalian pergi dari sini." ucap raden Sanjaya.
"Lancang..!! Kamu mencari jalan kematianmu sendiri anak muda..!!" sahut Kebo Ireng marah.
Dengan sebuah isyarat dua orang anak buah Kebo Ireng melompat maju menyerang raden Sanjaya. Dengan sigap Slamet maju untuk menghadapi kedua anak buah Kebo Ireng. Slamet dengan lincah menghindari serangan kedua anak buah Kebo Ireng. Puluhan jurus sudah mereka keluarkan, Slamet tampak menikmati pertarungannya.
JBUUUUG.. JDUUUUG.. PLETAAAAAAKK..
Tendangan dan pukulan Slamet mendarat di perut, dada dan kepala kedua anggota taring serigala dan membuat mereka tersungkur.
"Hanya seperti inikah kemampuan dari anggota Taring Serigala..? Dengan kemampuan seperti ini kalian belum pantas berhadapan dengan tuan Jaka." ejek Slamet memprovakasi Taring Serigala
Mendengar ejekan Slamet, empat orang anak buah Kebo Ireng maju menyerang Slamet. Dengan sangat santai Slamet dapat menghindari dan menangkis serangan anggota taring serigala. Slamet yang berada pada tingkat master tahap awal ditambah jurus tapak brajamusti tampak begitu tenang dan menikmati pertarungannya dengan empat orang tingkat guru tahap menengah.
Barno tidak mampu lagi menahan keinginannya untuk bertarung, dengan tombak di tangannya merangsek maju ke arah Kebo Ireng. Dengan sangat mudah Kebo Ireng menghindari serangan Barno, dan anggota taring serigala segera menyerang Barno dari segala arah.
SEEETT.. SEEETT.. WHUUUUNG..
TRAAAAANGG.. SEEETTT.. TAAAAP.. SLAAAASH..
Dengan kepiawaian Barno, dia dapat menghindari dan menangkis serangan anggota taring serigala. Musuh yang terlalu banyak membuat Barno kewalahan, dan sebuah sabetan golok menggores lengan Barno. Mengetahui pertarungan tidak seimbang, Ujang dan Ki Sumali maju untuk membantu Barno dan Slamet.
BOOOOOMMM..
Beberapa anggota taring serigala terkena jurus dari ujang terpental belasan meter dan tidak mampu melanjutkan pertarungan. Walaupun sudah berumur, Ki Sumali tampak santai menghadapi lima orang tingkat master tahap awal.
TAAAAPP.. SSEEETT.. SEEEETT..
JDUUUGG.. JBBAAAAG.. JBAAAAGGGGG.. JDAAAARRR..
Ki Sumali dengan lincah menghindari dan menangkis tiap serangan yang dikeluarkan oleh anak buah Kebo Ireng. Tendangan dan pukulan Ki Sumali telak mengenai dada anggota taring serigala dan satu pukulan tapak brajamusti membuat seorang anggota taring serigala terkapar.
Mengetahui anak buahnya tidak mampu mengimbangi Ki Sumali, Kebo Ireng dengan senjata toyanya bergerak menyerang Ki Sumali. Raden Sanjaya dengan sigap mencegat Kebo Ireng dan melepaskan tendangan ke arah perut Kebo Ireng. Kebo Ireng dengan sigap menangkis tendangan Raden Sanjaya dengan toya nya.
"Lawanmu adalah aku, jika kau merasa tidak mampu kau boleh meminta anak buahmu untuk membantu.." ucap raden Sanjaya.
__ADS_1
"Besar mulut juga kau anak muda. Apa yang bisa dilakukan pendekar tingkat guru untuk menghadapi tingkat master..?" jawab Kebo Ireng sambil menyerang raden Sanjaya.
WHUUUUNGG.. WHEEEEETTTS.. SEEETTT..
TAAAAAP.. CTAAAAAKK.. WHUUUUUUNGS..
Serangan toya Kebo Ireng sangat cepat dan penuh dengan tenaga. Sepertinya Kebo Ireng ingin segera menyelesaikan pertarungannya dengan raden Sanjaya. Puluhan jurus telah mereka keluarkan. Raden Sanjaya bergerak dengan sangat lincah dan gesit menghindari dan menangkis serangan Kebo Ireng.
JBUUUUGG..
Sebuah pukulan raden Sanjaya telak mengenai dada Kebo Ireng dan membuatnya terpental belasan meter dan memuntahkan darah segar. Tampak darah mengalir di sudut bibir Kebo Ireng. Sambil meludahkan sisa darah di mulutnya, Kebo Ireng dengan cepat melesat maju untuk membalas pukulan Raden Sanjaya.
"Aku sudah meremehkan dia. Tapi benarkah dia hanya berada pada tingkat guru tahap menengah..? Kecepatan dan kekuatannya tidak mencerminkan kekuatan tingkat guru tahap menengah.." pikir Kebo Ireng.
Kebo Ireng mengeluarkan kekuatan penuhnya untuk menyerang raden Sanjaya. Tidak ingin meremehkan lawannya, Raden Sanjaya mencabut pedang Guntur Angin, dengan menggunakan jurus pedang kalimasada Raden Sanjaya menghadapi jurus Kebo Ireng.
"Dua orang ikut aku untuk membantu ketua. Yang lainnya hadapi orang tua dan pengikutnya ini.." ucap salah seorang anggota taring serigala.
"Beraninya kalian meremehkan aku. Sudahlah, walaupun mereka berempat, tetap bukan tandingan raden Sanjaya." batin Ki Sumali.
Kelompok taring serigala menang dari segi jumlah, tapi kekuatan mereka walaupun bersama-sama masih belum mampu mengimbangi kekuatan Ki Sumali, Barno, Slamet dan Ujang. Satu per satu anggota taring hitam roboh dan tidak bisa melanjutkan pertarungan. Sebagian dari mereka telah mati.
Raden Sanjaya menjadi lebih waspada setelah Kebo Ireng mendapat bantuan dari keempat anak buahnya. Walaupun kekuatan mereka masih tidak sebanding dengan raden Sanjaya, tapi Raden Sanjaya tetap tidak mau meremehkan kekuatan lawan.
SRIIIIIINGGGG.. TRAAAAANG.. SEEETTTT.. TRAAAANGGG..
SRIIIIINGGG.. WHUUUUUNGG.. SLIIIIICE... CRAAAAASH..
Dalam beberapa gerakan jurus pedang kalimasada, raden Sanjaya berhasil merobohkan dua orang tingkat master tahap awal anak buah Kebo Ireng. Kebo Ireng semakin geram dan menyerang dengan membabi buta.
"Jurus Toya Siluman Kera...!!" Kebo Ireng berteriak mengeluarkan jurus andalannya.
Sebuah siluet berbentuk kera membawa toya raksasa terlihat di belakang tubuh Kebo Ireng menyerang raden Sanjaya.
"Pedang Kalimasada.." batin Raden Sanjaya..
__ADS_1
WHUUUUUUSSSSH... DHUUUUUUARRRR.. SRAAAAASH..
Benturan energi pedang kalimasada dan Jurus Toya Siluman Kera terdengar sangat keras. Semua menghentikan pertarungan dan melihat ke arah raden Sanjaya. Tampak raden Sanjaya berdiri tegak dengan membawa pedang. Di sisi lain, Kebo Ireng berdiri dengan kepala tergeletak di tanah dan anak buah Kebo Ireng terbelah bagian perutnya. Kebo Ireng roboh dan mati. Dari tiga puluh anggota taring serigala, hanya delapan yang tersisa dan mereka menyerahkan diri kepada Raden Sanjaya.