Sang Pendekar

Sang Pendekar
BAB LIV


__ADS_3

"Keparaaaaatttt...!!! akan kubalas mereka berkali-kali lipat.." teriak Ki Karto sambil menggebrak meja.


"Tenanglah Karto... Besok adalah hari terakhir buat mereka. Kita hanya kehilangan beberapa pasukan dan satu orang senopati. Kekuatan kita masih sangat cukup untuk menghancurkan mereka.. Hahahaha.."


"Sekarang dimana para gadis yang kau siapkan..?" ucap pangeran Pranoto.


"Mohon ampun pangeran penguasa, kami hanya bisa mendapatkan dua puluh gadis saja.." ucap ki Karto.


"Bodoh.. hanya mencari gadis saja kalian tidak becus..!! Kekuatan kalian tidak akan maksimal jika syarat gadis itu tidak lengkap. Tapi sudahlah daripada tidak sama sekali."


"Sekarang bawa mereka kesini, aku akan memilih sendiri lima gadis yang akan kutanami benihku, sisanya nikmatilah bersama orang-orangmu.. Hahahahaha..." ucap pangeran Pranoto.


Malam itu merekapun berpesta, para gadis menjadi piala bergilir bagi mereka. Kekuatan kegelapan semakin kuat menyatu di dalam tubuh setiap mereka selesai menyetubuhi para gadis itu. Para gadis hanya bisa menangis dan mengutuk apa yang telah mereka lakukan pada dirinya. Beberapa diantara mereka memilih mengakhiri hidupnya karena tidak sanggup lagi menerima keadaan dirinya yang telah menjadi ajang pelampiasan nafsu binatang Ki Karto dan pengikutnya. Sebagian lain menjadi gila karena depresi yang dialaminya. Sedangkan Pangeran Pranoto menyetubuhi lima orang gadis yang telah dipilihnya secara bergantian, untuk menanam benih keturunannya di rahim para gadis itu. Kondisi kelima gadis itupun tidak jauh berbeda dengan gadis lainnya yang disetubuhi Ki Karto dan anak buahnya.


"Walaupun hanya lima gadis itu sudah cukup. Setelah perang ini aku akan mencari empat gadis lagi. Hhhmmmm... sepertinya gadis yang membantu pemuda itu cukup bagus. Selain cantik dia juga sangat kuat. Janinku pasti akan mendapat asupan energi yang cukup jika berada di dalam rahimnya. Hehehehe.." batin pangeran Pranoto.


Ki Among terus mengawasi yang dilakukan oleh Tengkorak Hitam terutama pangeran Pranoto dan pengikutnya. Ki Among tidak tega melihat para gadis diperlakukan tidak senonoh oleh pangeran Pranoto dan pengikutnya.


"Bahkan binatangpun tidak akan memperlakukan betinanya seperti itu. Mereka lebih rendah dari binatang.." batin ki Among geram.


Dengan menggunakan merpati raja, ki Among melaporkan semua kejadian yang dilihatnya kepada raden Sanjaya.

__ADS_1


"Sungguh mereka bukan manusia. Saat ini mereka sedang menyetubuhi para gadis secara bergiliran. Kondisi gadis-gadis itu sangat memprihatinkan, ada yang dengan sengaja bunuh diri setelah mereka menjadi pelampiasan nafsu Ki Karto dan pengikutnya. Sebagian lain berteriak-teriak histeris setelahnya. Gadis yang disetubuhi pageran Pranoto tidak jauh berbeda. Yang lebih mengejutkan lagi, di perut mereka terdapat aura hitam setelah disetubuhi pangeran Pranoto. Mohon raden memberikan perintah apa yang harus aku lakukan.." laporan Ki Among melalui merpati raja.


"Bagilah pasukan menjadi dua. Satu pasukan oleh pangeran Himawan menyelamatkan para gadis yang masih hidup terutama yang telah disetubuhi pangeran Pranoto dan pasukan kedua dipimpin oleh Ki Among sendiri membantu menyergap pasukan tengkorak hitam dari belakang.." jawab raden Sanjaya.


Malam berlalu dengan cepat. Raden Sanjaya dan pasukan aliansi telah bersiap melakukan serangan. Sedangkan pasukan Tengkorak Hitam juga telah bersiap menyambut kedatangan pasukan aliansi.


"Seraaaaanggg....!! perintah pangeran Pranoto.


"Majuuuuu...!! ayo habisi mereka..!! sahut Ki Karto.


Dipimpin oleh raden Sanjaya dan Sekar Wulan, pasukan aliansi menyambut serangan pasukan tengkorak hitam. Begawan Sabdawala dan Ki Sasongko masih berhadapan dengan Ki Karto. Sementara itu, Ki Woko yang telah berhasil membunuh senopati Bawor, kini membantu Ki Harso menghadapi senopati Bondan. Sementata itu, sesuai dengan perintah raden Sanjaya, pangeran Himawan menyelamatkan para gadis yang telah menjadi korban nafsu pangeran Pranoto dan pengikutnya.


"Pergi kalian...!! apakah kalian belum merasa puas..?" teriak salah satu gadis.


"Bagaimana kami percaya kepadamu..? semua nya sama saja, hanya menginginkam tubuh kami.."


"Kalau kalian menginginkan tubuh kami, lakukan saja disini dan setelah itu pergilah kalian.." teriak gadis lainnya.


"Tidak... tidak. Justru kami ingin menyelamatkan kalian. Di alun-alun istana, teman-teman kami sedang bertempur melawan tengkorak hitam. Kami mendapat perintah untuk membawa kalian ke tempat yang aman.." pangeran Himawan meyakinkan gadis-gadis itu.


Setelah cukup memberikan penjelasan, pangeran Himawan berhasil meyakinkan para gadis itu dan membawa mereka ke kepatihan dalam.

__ADS_1


Sementara itu, Ki Among memimpin mantan pasukan pengawal raja untuk menyerang tengkorak hitam. Walaupun jumlah mereka tidak banyak, dengan kemampuan Ki Among dan mantan pengawal raja, mereka mampu menghabisi ratusan pasukan tengkorak hitam. Sama hal nya dengan Ki Samijan dan Patih Rekso Bumi juga membantu penyerangan dari pintu utara istana kerajaan.


Menghadapi dua orang tetua perguruan Wiji Sejati yang berada pada tingkat raga abadi, membuat senopati Bondan kewalahan. Serangan Ki Harso dan Ki Woko membuat Senopati Bondan terluka. Pasukan tengkorak hitam yang dipimpinnya juga banyak yang terbunuh oleh pasukan aliansi. Dengan sisa-sisa tenaganya Senopati Bondan berusaha untuk bertahan, tapi serangan Ki Woko dan Ki Harso semakin ganas dan cepat. Tidak buruh waktu lama buat Ki Harso dan Ki Woko mengakhiri perlawanan senopati Bondan. Kematian senopati Bondan tentunya meningkatkan moral dan semangat pasukan Aliansi.


-->


Sementata itu, Ki Sumali dan Ki Mahesa yang menghadapi Senopati Manto bertarung dengan sangat sengit. Senopati Manto dapat mengimbangi kekuatan mereka. Dengan pedang hitamnya, senopati Manto menghadapi Ki Sumali dengan tombak petirnya dan Ki Mahesa yang bersenjatakan gada wesi kuning.


TRAAAANGGG.. THAAAAANGG.. WHUUUUUNGG..


TAAAAAP.. TRAAAAANGG..


Suara benturan senjata mereka, dengan gesit mereka saling menyerang, menangkis dan menghindar.


"Hahahaha... Sumali apakah kau tau bagaimana Ki Tejo mati..? Aku lah yang telah menebas lehernya dengan pedang ini.." senopati Manto berusaha memprovokasi Ki Sumali.


"Jangan dengarkan dia Ki. Dia hanya berusaha memancing amarahmu.." ucap Ki Mahesa mengingatkan.


"Manto.... apa yang kau tanam itulah yang akan kau panen. Apapun yang kau lakukan pada Tejo, itulah takdirnya. Dan saat ini, aku bukan membalas dendam apa telah kau lakukan pada Ki Tejo, tapi aku sedang berperang untuk menghancurkan angkara murka di muka bumi ini.." jawab Ki Sumali.


"Hahahahha.. terserah apa katamu. Tapi aku akan membuatmu menyusul Ki Tejo. Aku yakin Ki Tejo akan berterimakasih kepadaku.." ucap Manto mengejek.

__ADS_1


Ratusan serangan telah mereka keluarkan. Beberapa pukulan dan sabetan pedang mendarat di tubuh Ki Mahesa dan Ki Sumali. Demikian pula, luka akibat pukulan gada ki Mahesa dan tusukan tombak ki Sumali juga terlihat menghiasi tubuh senopati Manto. Dengan luka yang dideritanya, membuat serangan senopati Manto semakin ganas dan cepat. Tapi Ki Mahesa dan Ki Sumali tak kalah gesit menangkis dan menghindari serangan senopati Manto.


__ADS_2