Sang Pendekar

Sang Pendekar
BAB XLVI


__ADS_3

Karman melesat pergi dengan kudanya kembali ke kota kerajaan. Satu hal yang dipikirkan Karman adalah segera melaporkan kejadian yang dialaminya kepada Senopati Manto. Dia ingin segera membalas sakit hatinya kepada Jaka Pengalasan yang telah menghancurkan seluruh usahanya selama bertahun-tahun mempelajari ilmu kanuragan. Rasa sakitnya juga semakin dalam karena mengetahui yang telah menghancurkan ilmunya adalah seorang yang berusia delapan belas tahun, dua puluh tahun lebih muda darinya dan memiliki tingkatan jauh di bawahnya.


"Aku akan membalas semua sakit hatiku ini. Sialan kau Jaka Pengalasan, aku akan membalasmu berpuluh-puluh kali lipat. Aku tidak perduli walau di sekitarmu adalah pendekar-pendekar hebat. Aku yakin, senopati Manto dan Tengkorak Hitam pasti bisa menghancurkan kalian semua.." gerutu Karman dalam hati.


Di pendopo kediaman putri Nawang, raden Sanjaya dan yang lainnya tampak membahas perihal pengakuan dari Karman. Rasa khawatir jelas terukir di wajah raden Sanjaya dan begawan Sabdawala.


"Kekuatan apa yang sampai membutuhkan tumbal 99 bayi..? Perasaanku mengatahan bahwa kekuatan itu pasti akan membawa bencana bagi kerajaan Kawi.." batin raden Sanjaya.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang..? Kalau menurut perhitunganku, dalam beberapa hari, Tengkorak Hitam pasti akan menuju kesini untuk membalas dendam." ucap pangeran Himawan.


"Tidak, aku yakin mereka tidak akan terburu-buru untuk datang kemari, karena tempat ini cukup jauh dari kota kerajaan. Mereka pasti akan menunggu sampai mereka mendapat kekuatan kegelapan itu. Itulah yang membuatku sangat khawatir.." ucap raden Sanjaya.


"Apa yang membuat raden khawatir..? Aku yakin dengan kekuatan kita, kita bisa menghadapi seberapa besarpun kekuatan hitam tersebut." ucap Ki Harso.


"Kamu salah Harso. Kekuatan Penguasa Kegelapan tidak dapat kamu bayangkan. Semua diluar kemampuan kita. Aku juga sama khawatirnya dengan cucuku, karena aku sendiri pernah berhadapan dengan Penguasa Kegelapan yang mengakibatkan istriku terbunuh dalam pertarungan itu." ucap begawan Sabdawala.


"Ja.. jadi kakek begawan pernah berhadapan dengan Sang Kala..?" tanya raden Sanjaya terkejut.


"Ya.. benar. Karena pertarungan itulah yang membuat kitab pedang kikisuci dan pedang kalimasada berada di dalam Hastana Hyang Asa." jawab begawan Sabdawala.


"Oh.. iya, kakek masih punya satu hutang kepadaku, yaitu bercerita tentang pedang kalimasada." ucap raden Sanjaya.


Semua yang berada di pendopo terdiam. Semua terkejut dengan ucapan begawan Sabdawala yang pernah menghadapi sendiri penguasa kegelapan. Begawan Sabdawala pun menceritakan kejadian yang pernah dialaminya itu.


"Berawal dari Penguasa Kegelapan yang selalu menebarkan angkara murka di muka bumi ini, tak terkecuali di kerajaan Kawi. Pertempuran panjang selama ratusan tahun antara kebaikan dan kejahatan terus terjadi." Begawan Sabdawala memulai ceritanya.

__ADS_1


Kejadian seratus tahun yang lalu disaat begawan Sabdawala dan Istrinya Nyai Hapsari bertarung dengan penguasa kegelapan yang ingin menguasai seluruh kerajaan Kawi. Rusaknya moral dan akhlak rakyat membuat kejahatan merajalela di kerajaan Kawi. Hingga terjadilah pertempuran antara Sabdawala dengan Penguasa Kegelapan.


"Kau sudah melampaui batasmu Penguasa Kegelapan. Bukankah kau hanya diperbolehkan menyesatkan manusia saja..? Lalu apa hakmu membunuh manusia-manusia yang tidak ingin tunduk kepadamu..?" tanya Sabdawala.


"Hahahahaha..... Manusia yang menyerahkan jiwanya kepadaku, akan selalu menemaniku dan menjadi pengikutku di sisi gelap dunia sampai akhir nanti. Sedangkan mereka yang tidak tunduk jiwanya akan menjadi makananku.." ucap Sang Kala.


"Bukankah itu sudah menyalahi kodrat dari semesta ini..? Yang kau lakukan akan mempengaruhi keseimbangan dari Semesta." ucap Sabdawala


"Kodrat semesta..? siapa yang peduli dengan kodrat semesta..? Siapa yang kuat akan memangsa yang lemah. Itulah kodrat yang seharusnya." jawab Sang Kala dengan sombong.


"Sudahlah kakang, tidak ada gunanya lagi bernegoisasi dengan Penguasa Kegelapan. Lebih baik segera akhiri saja.." ucap Nyai Hapsari.


Begawan Sabdawala dan Nyai Hapsari maju menyerang Penguasa Kegelapan. Selama 7 hari mereka bertarung. Pertarungan yang menciptakan kehancuran di sebagian wilayah kerajaan Kawi. Tapi pada akhirnya begawan Sabdawala dan Nyai Hapsari merasa kelelahan dan membuat Nyai Hapsari terbunuh oleh serangan Penguasa Kegelapan. Kematian istrinya membuat begawan Sabdawala mempertaruhkan kekuatan terakhirnya untuk menyegel kekuatan penguasa kegelapan walaupun nyawanya menjadi taruhannya.


"Werdi suksmo rehing tresno gegambaran suwargoluko Prapti suci wosing ati .................... Duh Gusti Moho Mukti sun suwiji mring sejati sekaring sunyo ngombak rogo ........... Nga Tha Ba Ga Ma Nya Ya Ja Dha Pa La Wa Sa Ta Da Ka Ra Ca Na Ha."begawan Sabdawala membaca mantram kalimasada.


"Aaaaarrrgggghh.. manusia rendahan...... apa yang kau lakukan..? Panaaaasssss.... aaaaarrrgggghh.." teriak penguasa kegelapan.


Sebuah sinar berwarna putih dan menyilaukan keluar dari dada Begawan Sabdawala dan melesat menghantam tubuh Sang Kala. Tiba-tiba tubuh penguasa kegelapan terbelah menjadi dua dan salah satu tubuhnya berubah menjadi patung setinggi satu setengah meter sedangkan tubuh lainnya ambruk tidak berdaya. Disaat itu muncullah cahaya berwarna hijau dan merah, cahaya hijau menaungi begawan Sabdawala dan cahaya merah menaungi penguasa kegelapan, beberapa saat kemudian tubuh begawan Sabdawala dan Penguasa Kegelapan lenyap.


"Seharuanya aku sudah mati saat mengeluarkan segel itu. Tapi cahaya hijau itu membawaku ke suatu tempat yang bernama Hastana Hyang Asa." begawan Sabdawala mengakhiri ceritanya.


"Apakah kakek tau cahaya hijau itu siapa..?" tanya raden Sanjaya.


"Ini hanya dugaanku saja, dialah Sang Hyang Asa. Di ruangan itu perlahan-lahan kondisiku membaik, dan tenagaku menjadi jauh lebih besar dari sebelumnya. Tapi sayang, ujian Sang Hyang Asa tidak mampu kakek selesaikan, sehingga kakek harus meninggalkan Kitab Pedang Kilisuci dan pedang kalimasada disana." ucap begawan Sabdawala.

__ADS_1


"Ujian..? apakah melawan patung kalacakra..?" tanya raden Sanjaya penasaran.


"Benar.. kakek tidak bisa menang melawan patung kalacakra. Lalu Sang Hyang Asa memerintah kakek untuk menuju desa ini dan menunggu seorang pemuda yang mampu menyelesaikan tantangan Sang Hyang Asa, dan ternyata itu kamu Sanjaya, cucuku.."


"Lalu bagaimanakah yang namanya mantram kasampurnan..?" tanya begawan Sabdawala.


"Mantram Kalimasada, mantram kalacakra dan mantram kadampurnan adalah tri tunggal. Artiya ketiganya adalah satu dan tidak dapat dipisahkan. Ketiganya saling memperkuat satu dengan lainnya." jawab raden Sanjaya.


"Yang kakek baca untuk menyegel penguasa kegelapan adalah Mantram Caraka Balik dan ada satu lagi mantram Kumbolo Geni yang berfungsi untuk menghancurkan Durga Kali. Keduanya juga berfungsi untuk menghancurkan watak angkara dalam diri manusia." raden Sanjaya menjelaskan.


Semua menyimak penjelasan raden Sanjaya dengan seksama. Semua akhirnya menyadari bahwa apa yang mereka kuasai tidak sebanding dengan apa yang dikuasai oleh raden Sanjaya.


"Lalu apa rencana raden..?" tanya Ki Harso.


"Lebih baik kita tinggalkan dulu tempat ini. Kita menuju desa Lawean dimana padepokan Naga Langit berada. Kita manfaatkan waktu sebaik mungkin untuk meningkatkan kekuatan kita dalam menghadapi Tengkorak Hitam." ucap raden Sanjaya.


"Apakah tidak sebaiknya kita ke gunung Jamur Dipa, tempat perguruan Wiji Sejati berada..? Disana banyak sumber daya yang bisa kita manfaatkan untuk meningkatkan kekuatan kita." tanya pangeran Himawan.


"Tidak... terlalu riskan berada di perguruan Wiji Sejati. Disana banyak murid yang berasal dari negara tetangga. Selain itu tidak sedikit anggota keluarga kerajaan dari negara tetangga yang belajar. Jika Tengkorak Hitam mengetahui kita berada disana, aku khawatir mereka akan menyerang sebelum waktunya. Akan terjadi banyak korban dari kalangan murid dan itu akan menyebabkan kekecewaan dari negara tetangga. Resikonya jauh lebih besar." kata ki Harso.


"Benar... aku setuju dengan ki Harso.." sahut raden Sanjaya.


"Mari kita bersiap untuk pergi ke desa Lawean.." sambungnya.


"Aku akan mengirimkan berita kepada Ki Sasongko dan Ki Among, agar beliau bisa bergabung dengan kita segera. Perguruan Wii Sejati sementara biar dikendalikan oleh Ki Barjo dan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2