
Hal yang sama dengan kitab Brajamusti juga dialami oleh Ketiga kitab pusaka suci lainnya. Kitab Tapak Iblis, yang disimpan ki Karto di kediamannya. Akan tetapi ki Karto tidak mengetahui keanehan yang terjadi karena dia berada di Aula Istana Kerajaan Kawi. Kitab Lembu Sekilan yang berada di Padepokan Mahesa Sura yang berada di Kadipaten Kelud, salah satu negeri persemakuran Kerajaan Kawi. Kitab Bolo Srewu yang berada di Negeri Terbello Suket, salah satu negeri diluar wilayah Kerajaan Kawi.
Ki Sasongko dan Ki Among lalu menuju keluar gedung perpustakaan untuk melihat situasi alam yang sedang terjadi.
"Siapakah sebenarnya yang sedang mempelajari kitab kalimasada ketua..?
"Setau ku, saat engkau dan pangeran Kusuma mempelajarinya, tidak terjadi hal seperti sekarang ini.." tanya ki Among bingung.
"Aku juga tidak tahu siapa dan dimana dia sekarang. Yang jelas dia berada di wilayah timur. Lihatlah, seluruh awan ini seakan bergerak menuju timur. Awan di wilayah timur lebih pekat daripada disini." jawab ki Sasongko.
"Apa yang harus kita lakukan ketua..?" tanya ki Among.
"Tidak ada. Kita tunggu saja sampai situasi menjadi lebih baik."
"Tidak ada salahnya kita tetap waspada, yang aku takutkan, kelompok aliran hitam memanfaatkan situasi ini untuk berbuat onar." Ki Sasongko memperingatkan.
Sementara itu di daerah pedesaan di wilayah kerajaan Kawi, para penduduk lebih memilih bersembunyi di dalam rumahnya untuk berdo'a memohon perlindungan.
Sebelumnya di alas Purba, raden Sanjaya telah siap fisik maupun mentalnya untuk menyerap kekuatan mantram sakti dari jurus langkah kalimasada. Sementar ki Sumali membuat benteng pelindung di mulut goa untuk melindungi raden Sanjaya.
Raden Sanjaya duduk bersila diatas batu wulung hitam. Dia memejamkan matanya, berkonsentrasi sambil merapal mantram sakti jurus langkah kalimasada.
"Ngelmu iku kelakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani setya budaya pangekese dur angkara, angkara gung neng angga anggung gumulung, gegolonganira triloka lekeri kongsi yen den umbar ambabar dadi rubeda............" raden Sanjaya mulai merapal mantram langkah kalimasada.
Mantram yang panjang itu dirapalkan berulang kali sambil raden Sanjaya memahami jurus langkah kalimasada, teknik pernafasan kalimasada dan penggabungan jurusnya.
BLLAAAAARRR.. GLUDUUUUG.. HRUUUUUUGGGG..
Diluar goa tiba-tiba petir menyambar dan perlahan gulungan awan hitam membentuk pusaran dan suara gemuruh guntur terdengar. Kilat menyambar antar gulungan awan hitam itu dan sesekali menyambar ke arah goa. Fenomena alam yang sama seperti saat raden Sanjaya menyerap mantram sakti dari jurus sebelumya, tapi kali ini fenomena alam jauh lebih besar dan luas. Seluruh kerajaan Kawi juga mengalami fenomena alam yang sama, akan tetapi fenomena alam terpusat di alas Purba tempat raden Sanjaya bersemedi.
__ADS_1
Semakin lama gulungan awan hitam itu semakin besar dan luas. Petir semakin sering menyambar ke arah goa, akan tetapi penghalang yang dipasang ki Sumali masih dapat menahannya. Suara hewan hampir tidak terdengar lagi. Mereka lebih memilih bersembunyi dan diam di dalam sarangnya. Sementara itu, tubuh raden Sanjaya ditutupi oleh kabut energi berwarna emas terang yang sangat tebal, jauh lebih tebal dari yang sebelumnya. Ki Sumali tidak dapat melihat dengan jelas tubuh raden Sanjaya. Tapi saat ki Sumali mencoba mendekati raden Sanjaya, ki Sumali seperti didorong oleh kekuatan tak kasat mata yang membuatnya terpental.
"Energi ini jauh lebih kuat ratusan kali dari sebelumnya, apakah tubuhku mampu menahannya..?"
"Setiap energi itu masuk, badanku terasa seperti dihantam oleh ribuan ton batu, seluruh tubuhku terasa remuk.." batin raden Sanjaya berusaha menahan sakit.
Semakin lama energi yang masuk ke dalam tubuh raden Sanjaya semakin besar. Semakin besar pula tekanan yang dirasakan oleh raden Sanjaya.
"Bertahanlah cucuku, kakek yakin kamu mampu melalui ini semua."
"Pangeran Kusuma, bantulah putramu. Hanya pangeran yang dapat membantunya." ucap ki Sumali dalam hati.
Tiga hari telah berlalu, tidak ada tanda-tanda bahwa yang terjadi pada raden Sanjaya akan segera berakhir. Kabut energi masih begitu tebal menyelimuti tubuh raden Sanjaya. Raden Sanjayapun seperti sudah mencapai batasannya.
"Jika aku gagal, maka sia-sia semua usahaku selama ini. Pastinya aku akan kehilangan semua kekuatanku."
"Biarlah, aku pasrahkan kepada Sang Pencipta apapun yang akan terjadi pada diriku. Yang paling penting, aku sudah berusaha semampuku.." pikir raden Sanjaya
"Dimana aku..? kenapa aku bisa melayang..? dan ombak ini sangat mengerikan." ucap raden Sanjaya dalam hati.
Samar-samar raden Sanjaya melihat bayangan seseorang yang berdiri di depannya. Raden Sanjaya tidak dapat melihat dengan jelas siapa yang berdiri di depannya karena pandangannya terhalang oleh gelombang energi yang besar. Raden Sanjaya berusaha mendekati orang tersebut, tapi tekanan energinya membuat dia sulit untuk menggerakkan badannnya.
"Anakku.. kamu sudah dewasa sekarang.." ucap sosok itu sambil mendekati raden Sanjaya.
Setelah jarak cukup dekat, raden Sanjaya dapat melihat dengan jelas.
"Aa... aa.. ayaaahh.." suara raden Sanjaya bergetar
"Ayah kau masih hidup..? dimana ini, dan bagaimana kita bisa melayang diatas tempat yang mengerikan ini..?" tanya raden Sanjaya bingung.
__ADS_1
"Benar anakku.. ini aku ayahmu.."
"Tidak anakku, aku telah meninggal, ini adalah kekuatan roh ku yang kutanam di dalam tubuhmu saat kamu baru lahir.."
"Ini adalah dimensi jiwamu atau orang sering mengatakan lautan jiwa.." ucap Pangeran Kusuma.
"Lautan jiwa..? Jadi gelombang ombak ini apa dan bagaimana bisa terjadi..?
"Lalu bagaimana dengan kakek Sumali..? Beliau masih berada di goa tempat ku bersemedi.." tanya raden Sanjaya.
"Tenanglah anakku, tubuh fisikmu masih berada di goa bersama ki Sumali. Sedangkan yang berada disini adalah kesadaran roh mu."
"Air yang terlihat bergelombang itu sebenarnya adalah tenaga dalam yang selama ini telah kmu latih dan kumpulkan. Saat titik cakramu penuh dengan tenaga dalam, maka disinilah tenaga dalam itu terkumpul, di dimensi jiwa yang berada jauh di dalam hatimu."
"Dimensi jiwa adalah tempat ditampungnya energi yang paling murni di dalam tubuh manusia, sehingga apabila ada energi yang belum terurai di dalam lautan jiwamu, maka gelombang energi bisa menjadi sangat kacau, dan akan terlihat seperti yang kamu lihat sekarang ini." Pangeran Kusuma menjelaskan.
"Tapi bagaimana aku bisa masuk kedalam dimensi jiwaku..? tanya raden Sanjaya.
"Ayahlah yang telah menarikmu. Ayah akan membantumu agar kamu bisa menyelesaikan menyerap mantram sakti langkah kalimasada. Tapi sebelumnya tenangkanlah dulu gelombang lautan energimu.." ucap Pangeran Kusuma.
"Bagaimana caranya ayah..?" tanya pangeran Kusuma.
"Lihatlah disana, ada mutiara sebesar kepalamu."
"Seraplah kekuatan mutiara itu agar dimensi jiwamu menjadi lebih kuat." ucap pangeran Kusuma sambil menunjuk ke arah mutiara itu.
"Bukankah itu mutiara cempaka salju..? bukannya aku sudah menyerapnya, dan mengapa menjadi sebesar ini..? tanya raden Sanjaya bingung.
"Seraplah dulu kekuatan mutiara itu. Kita masih punya cukup waktu untuk mengobrol sebelum waktu ayah habis.." ucap pangeran Kusuma.
__ADS_1
Raden Sanjaya diikuti kekuatan roh pangeran Kusuma berjalan mendekati Mutiara Cempaka Salju.