Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit

Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit
Pemuji 13: Perintah Rahasia Joko


__ADS_3

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*


Hari itu juga, Ratu Lembayung Mekar dan rombongan pulang meninggalkan Istana Pasir Angin dengan membawa ole-ole kegagalan dan kekecewaan. Meski tawaran Kerajaan Sanggana Kecil telah ditolak, Prabu Galang Digdaya tetap menjamu tamunya dengan santap siang.


Setelah penolakan itu, tidak ada lagi pembahasan tentang upaya kerja sama. Ratu Lembayung dan Mahapatih Batik Mida pun sudah tidak mau menyinggung hal itu lagi, demi menjaga norma sebagai tamu.


Rombongan Ratu Lembayung Mekar diantar oleh Prabu Galang Digdaya hingga tangga atas depan Istana. Setelah rombongan itu pergi, Prabu Digdaya hanya tersenyum sinis.


“Mereka pikir bisa membohongi raja hebat sepertiku,” ucap Prabu Galang kepada mahapatihnya.


“Betul kata Gusti Prabu. Bukankah mereka sudah bersekutu dengan kerajaan pesisir lain, lalu kenapa harus memilih perairan kita untuk membangun benteng laut dan angkatan laut?” kata Mahapatih Olo Kadita sepemikiran dengan Prabu Galang, atau dia sekedar menjilat terhadap junjungannya.


Itulah sepenggal obrolan Prabu Galang Digdaya dengan mahapatihnya setelah tamu kenegaraan pulang.


Sementara itu di pinggir jalanan ibu kota Digdaya, sambil menikmatik rujak cocol sambal gula aren, Joko Tenang melihat rombongan istrinya melintas. Joko Tenang membiarkannya melintas.


“Rombongan kerajaan dari mana itu?” tanya Subini.


“Jika melihat dari benderanya, itu dari Kerajaan Balilitan,” jawab Joko Tenang.


“Oooh,” desah Subini.


“Kau sendiri dari kerajaan mana, Joko?” tanya Rinda.


“Nyai, baru bertanya setelah sekian lama kita bersama,” kritik Joko Tenang.


“Maklum, keasikan bersama pemuda setampan kau, membuat pikiranku sulit berkembang. Hihihi!” kilah Rinda.


“Hihihi!” tawa Rinda dan Nangita pula.


Beruntung Ratu Lembayung Mekar tidak menyaksikan pemandangan selama dalam perjalanan. Dia lebih memilih berbincang-bincang dengan Dewi Bayang Kematian. Jadi dia tidak perlu cemburu karena tidak melihat keakraban suaminya dengan tiga wanita yang lebih muda darinya.


Hingga akhirnya, rombongan Ratu Lembayung Mekar pun berlalu.


Tidak berapa lama, acara makan rujak berakhir. Joko Tenang pun berpisah dengan Subini dan Rinda. Dia pulang bersama Nangita karena memang arah pulang mereka searah, hanya berseberangan jalan.


Saat berjalan pulang bersama, Joko Tenang dan Nangita seperti sepasang selingkuhan saja, tapi tanpa gandeng tangan.

__ADS_1


Saat itu, Joko Tenang mengetahui bahwa ada seorang lelaki yang memantau dan mengikuti mereka. Hal itu tidak diketahui oleh Nangita. Namun, Joko Tenang tetap tenang, bersikap seolah-olah kondisi asik-asik saja.


Di jalan depan rumahnya, Nangita berpisah dari Joko Tenang dengan perasaan bahagia.


Setelah Joko Tenang masuk ke rumah sewanya, seorang pemuda berambut ikal gondrong yang wajahnya dicat warna hijau berpola petir, segera bergerak mendekati rumah sewa lewat arah belakang. Pemuda berpakaian hijau gelap kegelap-gelapan itu membawa seruling warna hitam di pinggang belakangnya.


Ternyata Joko Tenang tidak menutup pintu rumahnya. Sementara si pemuda yang celingak-celinguk seperti manuk, bergerak mendekat ke pintu yang terbuka. Dia harus memastikan tidak ada yang melihatnya.


Tidak berapa lama, pemuda itu langsung masuk ke dalam rumah sewa tanpa ucap salam lebih dulu.


“Sembah hormat hamba, Gusti Prabu!” ucap pemuda itu sambil langsung turun bersujud di lantai, tepat di depan kedua kaki Joko Tenang yang ternyata sudah berdiri menunggu.


“Bangkitlah!” perintah Joko Tenang.


Wus! Dak!


Satu angin kecil muncul dari kibasan tangan kiri Joko Tenang, bukan untuk menerbangkan pemuda berwajah hijau, tetapi untuk menutup pintu.


Pemuda itu segera bangkit berdiri.


Petir Hijau adalah salah satu pendekar dari Pasukan Pengawal Bunga. Dia sebelumnya berada di dalam rombongan Ratu Lembayung Mekar.


“Prabu Galang Digdaya menolak semua tawaran kita, Gusti,” lapor Petir Hijau.


Joko Tenang terdiam sejenak mendengar kabar itu. Dia memikirkan sesuatu, tetapi apa yang dia pikirkan tidak tertulis di atas kepalanya.


“Sampaikan kepada Gusti Ratu dan Mahapatih, kembalilah dengan damai. Sampaikan pula perintahku kepada Mahapatih Batik Mida untuk mengirim seluruh Pasukan Hantu Sanggana ke Kerajaan Pasir Langit,” perintah Joko Tenang.


“Baik, Gusti Prabu,” ucap Petir Hijau patuh.


“Kau boleh pergi!” perintah Joko Tenang.


“Baik, Gusti Prabu.”


Maka Petir Hijau menjura hormat. Dia tidak langsung keluar, tetapi membuka pintu sedikit, kemudian melongokkan sebentar kepalanya di ambang pintu. Setelah dipastikan tidak ada orang tukang ngintip, dia pun keluar dan berlari pergi tanpa suara.


Joko Tenang pergi masuk ke kamarnya. Sebentar lagi senja, dia tidak boleh ke mana-mana karena sesuai janji, Ronda Galo akan datang.

__ADS_1


“Joko!”


Benar saja, Joko Tenang yang tertidur, dibangunkan oleh satu suara lelaki yang memanggilnya dari luar rumah sewanya.


Joko Tenang segera bangun dan keluar. Benar saja, Ronda Galo sudah berdiri di depan pintu bersama kakaknya, Rinda.


“Gusti Menteri bersedia bertemu denganmu sekarang,” ujar Ronda Galo.


“Ah, syukurlah. Tunggu, aku cuci wajah dulu,” ucap Joko Tenang.


Joko Tenang bergegas masuk ke dalam, di mana ada gentong air tempat untuk sekedar cuci piring atau cuci wajah. Joko menunjukkan bahwa dia antusias.


Meski Rinda mengantar adiknya ke rumah sewa Joko, tetapi ketika pergi ke kediaman Menteri Keuangan, dia tidak ikut.


Joko Tenang dan Ronda Galo pergi berkuda ke kediaman Menteri Keuangan Badaragi. Rumah sang menteri berada tidak jauh dari gerbang benteng Istana.


Rumah itu besar dan luas. Luas lantai rumah juga seluas kolam ikan yang dimiliki di bawahnya. Rumah dan kolam dipadu sehingga membentuk tempat yang nyaman bagi mata untuk memandangnya. Ikan-ikan hias di dalam kolam pun besar-besar. Suara aliran air menjadi musik alami yang merdu.


Kediaman berhalaman luas itu memiliki penjagaan beberapa prajurit berseragam cokelat-kuning.


Drap drap drap!


Seiring tibanya Joko Tenang dan Ronda Galo di depan pintu pagar kediaman Menteri Keuangan di senja itu, tiba pula dua ekor kuda dari arah jalan menuju gerbang benteng Istana.


Kedua kuda itu ditunggangi oleh dua orang wanita muda cantik dengan kecantikan yang berbeda level.


Gadis cantik berlevel biasa mengenakan pakaian warna hijau muda. Dia menyandang pedang yang menggantung di pingging kirinya. Penampilannya lebih mencirikan dia sebagai seorang pendekar atau pengawal.


Adapun gadis cantik berlevel keterlaluan, dia mengenakan baju putih bersabuk dan kain kebat warna kuning tua. Celananya berwarna putih. Kombinasi warna yang cantik seperti telur rebus dibelah.


Ada sejumlah perhiasan emas di jemari tangannya, pergelangan tangan, leher, telinga dan kepalanya. Di pergelangan kakinya pun ada gelang emas. Gilanya, dia punya hidung kecil tapi mancung sempurna dan bibir yang belah, meski dagunya tidak belah. Itulah uniknya. Ditambah alis yang panjang dengan ketebalan yang sedang. Giwang permata birunya berkilau ketika mendapat bias yang tepat dari matahari sore.


Berpapasannya keempat kuda itu membuat Ronda Galo segera menghentikan kudanya dan turun. Sementara Joko Tenang fokus memerhatikan kecantikan yang selevel dengan para permaisurinya. Namun, akan berbeda rasanya di hati jika melihat kecantikan yang usianya sudah terekam selama sepuluh tahun, dibandingkan melihat kecantikan yang baru pertama kali dilihat. Itulah yang dialami oleh Joko Tenang.


“Aku hanya berpesan kepada Kakang Prabu, jangan jatuh hati lagi.”


Seketika terngiang pesan Permaisuri Nara di dalam benak Joko Tenang, di saat hatinya sedang mengagumi kecantikan gadis berambut lurus sepunggung itu. (RH)

__ADS_1


__ADS_2