
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
“Sepulang dari Hutan Malam Abadi, aku mengasingkan diri di hutan seberang sana. Aku menjerit-jerit bersama monyet bibir putih meratapi nasib cintaku yang sangat menderita....”
Ngiaaak!
Tiba-tiba terdengar suara jeritan monyet bibir putih, seolah-olah merespon curhatan hati Putri Ani.
“Aku ingin memiliki orang yang mencintaiku dan aku juga mencintainya, seperti mendiang kekasihku Agi Lodya. Namun, sejak kematiannya, aku hanya memiliki Rincing Kila dan beberapa sahabatku. Namun, apalah mereka. Sekarang aku mencintaimu, Joko. Sangat mencintaimu. Tapi kenapa, di sekeliling cintamu banyak sekali duri yang melukaiku di saat aku mendekat?” kata Putri Ani. “Saat aku ke sungai, tanpa sengaja aku melihatmu sedang duduk di sini. Aku sangat bahagia, tapi juga ingin buru-buru memukulmu karena telah mempermainkanku. Dan sampai barusan, kau masih saja mempermainkan hatiku. Kau tiba-tiba menghilang lagi. Betapa sedih hatiku, Joko. Hiks hik hiks!”
Ujung-ujungnya Putri Ani menangis lagi.
“Kemarilah, biar aku peluk sebagai permohonan maafku,” kata Joko Tenang sembari tersenyum.
Joko Tenang yang berdiri di sisi Putri Ani merangkul bahu gadis itu dan menariknya pelan. Putri Ani kemudian dengan sendirinya menyandarkan kepalanya kepada bahu dan leher Joko Tenang. Itu membuatnya sangat bahagia, meski hanya sekedar pelukan ringan dan menyandar pada lelaki yang dicintainya.
“Ke mana tadi kau saat menghilang? Kau sengaja mempermainkan aku?” tanya Putri Ani pelan, seperti istri yang manja sedang merajuk.
“Aku hanya pergi kencing,” jawab Joko Tenang enteng.
“Hihihi!” tawa pendek Putri Ani, lalu dia menyikut rusuk Joko Tenang, tapi pelan. Dia memaki pelan, “Kurang ajar kau, Joko!”
Putri Ani sudah tersenyum. Semua kemarahan, kesal dan sedihnya sudah lumer disinari hangatnya rasa bahagia. Saat itu, untuk sementara dia tidak peduli dengan status Joko Tenang “suami orang”.
“Hahaha!” tawa rendah Joko Tenang mendapat sikutan mesra seperti itu.
Melihat pertengkaran yang berubah jadi kemesraan itu, prajurit jaga dan Badur tersenyum sendiri di tempatnya masing-masing. Mereka termasuk orang-orang yang mencintai majikan mereka, karena bagi mereka Putri Ani adalah orang baik yang kurang beruntung.
Badur lalu kembali ke tugasnya, tidak mau mengintip lagi.
“Sepasang kekasih itu memang suka tiba-tiba ribut, lalu tiba-tiba mesra lagi. Seperti cuaca di puncak gunung,” ucap Badur seorang diri, mirip pemeran pembantu Srimulat di pembukaan pentas.
“Ayo kita duduk, Gusti Putri!” ajak Joko Tenang.
Putri Ani menurut. Joko Tenang bahkan pakai acara menggandeng tangan sang putri. Mesra.
Adegan itu membuat Putri Ani tersenyum sembari memandangi wajah rupawan sang pujaan. Joko Tenang hanya tersenyum. Dia juga bahagia karena bisa melunakkan hati Putri Ani kembali.
Joko Tenang membawa Putri Ani ke meja yang lain.
“Badur! Bawakan minumah hangat untuk Gusti Putri!” teriak Joko Tenang sambil memandang ke arah posisi dapur.
“Baik, Pendekar!” sahut Badur dari kejauhan. Suaranya terdengar jauh karena memang cukup jauh.
“Gusti Putri,” sebut Joko Tenang lembut. Dia menatap wajah lembab sang putri dengan lembut pula.
__ADS_1
Tatapan itu membuat Putri Ani tidak kuat untuk lama-lama berbalas tatap. Hatinya bergetar asik sampai menyebar ke mana-mana. Dia memilih sekali melirik ke sungai, sekali melirik ke muara, sekali melirik ke jam tangan, tapi ujung-ujungnya melirik ke wajah Joko lagi.
“Gusti Putri sudah tahu aku beristri, bahkan istriku lebih dari satu, tapi kenapa masih merindukan aku?” tanya Joko Tenang, pertanyaan yang membuat sang putri merengut kembali.
“Aku sudah menemukan makanan lezat yang aku impikan selama ini. Sudah aku masukkan ke dalam mulutku. Aku tidak mau melepehnya kembali karena hanya mendengar makanan itu milik orang lain. Seperti itu perumpamaannya,” jawab Putri Ani. Lalu dia balik bertanya, “Lalu kenapa kau kembali lagi, Joko?”
“Pertama, aku ingin bertemu dengan Gusti Putri. Sebab aku juga memikirkan Gusti Putri. Aku menceritakan tentangmu kepada istriku....”
“Apa reaksi istrimu?” tanya Putri Ani cepat dan serius dengan tatapan fokus kepada wajah Joko Tenang.
“Biasa saja. Justru menganjurkan aku menikahi Gusti Putri,” jawab Joko Tenang enteng.
“Apa?! Kau mulai membual. Mungkin memang benar kata Joko Tingkir, istrimu tercecer di mana-mana,” tukas Putri Ani. “Perkataanmu itu pasti bermaksud untuk menjebakku agar aku mau kau nikahi.”
“Hahaha!” tawa Joko Tenang pendek. Lalu tegasnya, “Aku tidak akan menikahi Gusti Putri jika Gusti Putri tidak bisa menerima keberadaan istri-istriku.”
“Sebenarnya berapa istrimu, Joko?” tanya Putri Ani.
“Baru sebelas orang,” jawab Joko enteng, tapi sangat berat bagi Putri Ani.
Putri Ani diam terpaku dan sepasang matanya mendelik menatap Joko Tenang yang hanya tersenyum ringan.
“A.... A....” Pada akhirnya Putri Ani menggerakkan bibirnya ingin bicara, tetapi sulit lidahnya untuk berucap. Lidahnya mendadak kelu.
Putri Ani begitu syok, terlihat dari reaksi wajah dan gerak matanya.
“Jangan melompat ke sungai lagi, Gusti Putri!” kata Joko Tenang mengingatkan.
“Aku mencintai lelaki beristri sebelas? Apakah aku terlalu bodoh atau aku memang sial?” ucap Putri Ani kepada dirinya sendiri.
Pertanyaan lirih yang terbawa sepoi-sepoinya angin pagi, tetap terdengar oleh Joko Tenang. Prabu Dira itu hanya tersenyum di tempat duduknya.
Pada akhirnya, Putri Ani berbalik dan kembali duduk berseberangan meja dengan Joko Tenang.
“Lebih baik aku menjadi perawan tua daripada harus berbagi suami dengan begitu banyak wanita,” tandas Putri Ani. Rasa bahgia di hatinya hilang.
“Tapi aku tidak pernah habis meski dibagi oleh sebelas istri, bahkan tidak berkuang sedikit pun,” kata Joko Tenang.
“Jangan memperdayai aku, Joko!” hardik Putri Ani. “Biarkan aku mencintaimu, tapi tidak memilikimu.”
“Tapi aku tidak mau berkasih dengan wanita yang bukan istriku,” kata Joko Tenang. “Yaaa, sebatas teman atau rekan dagang. Selain aku akan berlangganan kopi Gusti Menteri, aku juga ingin membeli telur ikanmu.”
“Aku tidak mau bicara perdagangan saat ini. Apa tujuan lainmu selain datang menemuiku dan melukai hatiku?”
“Kedua, aku ingin melanjutkan pembelian kopiku dan telur ikan. Ketiga aku ingin memaksa Gusti Prabu Galang Digdaya untuk membeli kayuku,” jawab Joko Tenang.
“Bukankah Ayahanda sudah menolak penawaranmu dan bahkan kau menjadi orang buruan di Ibu Kota? Apakah kau tidak bertemu dengan pasukan keamanan?” tanya Putri Ani.
__ADS_1
“Aku orang sakti,” jawab Joko Tenang tersenyum, menyombongkan diri, meski hanya bergurau.
Drap drap drap!
Tiba-tiba terdengar suara lari kuda tunggal alias tiada teman sesama kudanya.
Mereka berdua segera menengok dan memandang ke arah pintu gerbang rumah makan. Yang datang adalah Rincing Kila. Jika Joko Tenang dan Putri Ani bisa melihat kedatangan Rincing Kila, maka demikian pula dengan gadis pengawal itu.
“Mengganggu saja,” gerutu Putri Ani, membuat Joko Tenang tersenyum lebar.
Pada saat yang sama, Badur tiba lebih dulu dengan membawa segelas minuman hangat.
“Silakan, Gusti Putri,” ucap Badur.
“Terima kasih, Badur,” ucap Putri Ani.
Pelayan yang tinggal di rumah makan itu lalu segera berbalik pergi.
Sementara itu, melihat Joko Tenang dan Putri Ani sedang duduk berdua, terkejut Rincing Kila.
“Gusti Putri! Gusti Putri!” teriak Rincing Kila seperti orang panik. Dia berlari kecil ke tempat junjungannya berada. “Gusti Putri!”
“Kenapa? Ada menteri yang dibunuh lagi?” tanya Putri Ani dengan tatapan tidak bersahabat kepada pengawalnya yang telah sampai.
“Mohon maaf, Gusti,” ucap Rincing Kila dengan gestur merendah kepada Joko Tenang dan senyum yang getir.
Joko Tenang hanya tersenyum manis, tetapi pikirannya segera menerka-nerka karena Rincing Kila menyebutnya “Gusti”, sebutan yang tidak pernah tersebut kepadanya sebelumnya.
“Ikut hamba sebentar, Gusti!” ajak Rincing Kila kepada Putri Ani sambil meraih tangan kanan junjungannya.
Sang putri pun menurut karena dia yakin pengawalnya itu membawa berita penting tentang Joko Tenang sepulang dari Hutan Malam Abadi.
Rincing Kila membawa Putri Ani agak menjauh dari Joko Tenang, sejarak kira-kira Joko tidak akan mendengar.
Sementara Joko Tenang hanya membiarkan. Dia sudah siap menerima tuduhan apa pun yang tidak benar.
“Apa-apaan kau ini, Rincing?” tanya Putri Ani kesal, setengah berbisik.
“Joko Tenang itu adalah Gusti Prabu Dira Pratakarsa Diwana, raja Kerajaan Sanggana Kecil, yang punya dua ratu dan sembilan permaisuri!” kata Rincing Kila seperti menyampaikan berita yang super genting.
“Apa?!” pekik Putri Ani kencang, sampai-sampai terdengar oleh prajurit jaga dan Badur, termasuk Joko Tenang tentunya.
Tiba-tiba suasana berubah seperti film horor. Tegang.
“Aku sarankan, Gusti Putri lebih baik menikah dengan Gusti Prabu Dira, menjadi permaisuri kedua belas,” tandas Rincing Kila.
“Kau bicara apa?!” bentak Putri Ani sambil menepak kepala pengawalnya. (RH)
__ADS_1