Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit

Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit
Pemuji 58: Interogasi Sang Prabu


__ADS_3

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*


 


Ternyata, setelah membekuk Pangeran Tirta Gambang dengan ilmu Pasungan Rantai Cantik yang berwujud tali-tali sinar warna-warni, belenggu sang pangeran diganti dengan tali biasa, tetapi ditambah dengan totokan semipermanen.


Pembelengguan itu dialami oleh Pangeran Tirta Gambang selama beberapa hari hingga benar-benar sampai ke Istana Pasir Langit dalam pengawalan yang ketat.


Ketika sang pangeran diturunkan di hadapan Prabu Galang Digdaya dan Permaisuri Titir Priya, semua pejabat yang ikut mengiringi kedatangan sang pangeran diperintahkan untuk pergi, sehingga yang tersisa tinggal anak dan kedua orangtuanya. Prajurit jaga pun diperintahkan keluar.


Setelah semua orang lain keluar, Prabu Galang melempar satu buah jeruk kepada anaknya yang berdiri dalam kondisi tinggal tertotok. Ikatan talinya sudah dilepas sebelumnya.


Puk!


Bersamaan dengan buah jeruk yang menghantam dada Pengeran Tirta Gambang, seluruh totokan yang melumpuhkan gerakan hingga suara terlepas.


“Ayahanda! Mengapa aku diperlakukan sehina ini?!” teriak marah Pangeran Tirta Gambang langsung. Seperti sebagian anak zaman sekarang yang tidak peduli bahwa orang yang dibentaknya adalah ayah dan rajanya.


Permaisuri Titir Priya segera menghampiri putranya.


“Anakku, Tirta,” sebut Permaisuri Titir lembut mencoba menenangkan putranya.


“Ibunda tidak usah lembut kepadaku!” hardik Pangeran Tirta lancang kepada ibunya yang membuat sang permaisuri terkejut dengan sikap putranya.


“Tirta!” kata Permaisuri Titir berubah warna muka. Tatapannya menunjukkan ketidaksukaan atas reaksi putranya.


“Ibunda juga membiarkan aku mengalami perlakuan hina ini. Berhari-hari aku diikat seperti binatang buruan. Aku seorang pangeran yang bahkan mungkin kelak paling pantas menggantikan Ayahanda daripada Kakak Putri. Namun, apa yang aku alami?” protes Pangeran Tirta masih marah.


“Jika sikapmu seperti ini, maka pantas jika Pipi Nira memperlakukan dirimu seperti ini,” kata Permaisuri Titir Priya, berubah tidak iba lagi kepada putranya. Selain hatinya sakit dibentak oleh putra bungsunya sendiri, dia juga selalu mendukung berbagai kebijakan suaminya.


Meski Permaisuri sayang kepada kedua anaknya, tetapi tingginya kepatuhan kepada sang raja membuatnya tidak terlalu sentimentil jika kedua anaknya mendapat hukuman.


“Hentikan pembangkanganmu, Tirta. Atau kau mau aku hukum di dalam penjara?” ancam Prabu Galang Digdaya.

__ADS_1


Pangeran Tirta Gambang terdiam dengan wajah masih menunjukkan kemarahan. Dia bahkan tidak mau memberi hormat kepada kedua orangtuanya.


“Apakah kau sudah tahu alasan kau dipulangkan paksa?” tanya Prabu Galang masih bisa menahan kemarahannya karena melihat sikap kurang ajar putranya.


“Seribu kali aku bertanya, seribu satu kali Pipi Nira bungkam,” jawab Pangeran Tirta ketus.


“Kau ingin membunuh kakakmu?” tanya Prabu Galang langsung tanpa basa basi.


Terbeliak terkejut Pangeran Tirta Gambang mendengar pertanyaan yang menuduh itu.


“Jadi karena tuduhan itu Ayahanda menjemputku paksa?!” teriak Pangeran Tirta gusar bukan main.


Plak!


Tahu-tahu Prabu Galang telah menampar putranya sampai terhuyung hendak jatuh. Dia seperti menghilang dari kursinya untuk sampai ke hadapan putranya.


“Kakang Prabu!” sebut Permaisuri Titir Priya terkejut melihat tindakan suaminya kepada putranya.


“Tirta!” sebut Permaisuri Titir sambil segera memegangi lengan putranya.


“Lepaskan!” pekik Pangeran Tirta marah sambil mengibaskan tangannya agar lepas dari pegangan sang ibu.


“Aku menamparmu bukan karena tuduhan itu, tetapi karena kelancanganmu terhadap raja dan permaisuri negeri ini,” tegas Prabu Galang.


“Aku terima, aku terima, Ayahanda. Namun, sebutkan siapa orang yang memfitnah aku di depan Ayahanda!” desis Pangeran Tirta dengan tatapan tajam.


“Menteri Aduh Mantang dan Menteri Balelewa telah mati dibunuh oleh para pendekar yang menyusup. Kakakmu sudah mendapat serangan beberapa kali, tapi untung nasib baik masih menaunginya. Dari orang-orang yang ditangkap, semuanya mengaku bahwa mereka diperintah oleh Pangeran Tirta Gambang. Apa pembelaanmu?” kata Prabu Galang Digdaya kembali tenang.


“Pembelaanku, aku difitnah. Aku tidak pernah meninggalkan Perguruan Tunas Mahkota dan tidak pernah bertemu dengan orang dari luar perguruan. Guru Panji Kubilang yang menjadi saksi. Bagaimana mungkin aku memerintahkan orang-orang yang tidak aku kenal untuk membunuh kakakku sendiri. Aku sayang Kakak Putri dan aku yakin, Kakak Putri juga sayang kepadaku,” kata Pangeran Tirta membela diri.


“Orang-orang itu mengaku kaulah yang memberi perintah. Para pendekar itu berasal dari Teluk Busung. Salah satu bukti kuat bahwa kau adalah dalangnya, pembunuh itu tahu jalan rahasia yang ada di dekat Kolam Merah. Petunjuk itu sangat jelas mengarah hanya kepadamu, Tirta,” kata Prabu Galang.


Semakin mendelik-delik Pangeran Tirta mendengar fakta yang dibeberkan sang ayah.

__ADS_1


“Apakah kau masih menyangkal?” desak Prabu Galang.


“Aku sangat menyangkal, Ayahanda!” teriak Pangeran Tirta kencang. Dia menunjukkan dirinya sangat marah, tetapi dia menahan diri karena tidak mau ditampar untuk kedua kalinya. Lalu katanya yang menohok otak ayahnya, “Jika Ayahanda memaksa percaya dengan fitnah itu, jadilah Ayahanda raja paling bodoh karena dengan mudahnya termakan oleh kebohongan yang memecah kita. Dalang yang sebenarnya pasti tertawa terpingkal-pingkal mengetahui kita saling mencurigai.”


“Kakang Prabu, aku lebih percaya bahwa bukan Tirta yang melakukannya. Tidak mungkin dia tega membunuh Ani. Pikirkanlah dengan jernih, Kakang,” kata Permaisuri Titir Priya kepada suaminya.


“Yang jelas, aku akan sangat menyayangkan jika sampai ternyata Ayahanda termakan oleh fitnah itu. Tunjukkan orang yang sudah menghitamkan namaku itu!”


“Mereka semua sudah mati dibunuh, Tirta,” kata Permaisuri Titir Priya kembali bernada lembut kepada putranya.


“Kenapa Ayahanda tidak menyiksanya lebih dulu?” sesal Pangeran Tirta.


“Mereka bahkan mati dalam siksaan,” jawab Prabu Galang.


“Aku sudah membantah tuduhan Ayahanda. Ayahanda Prabu bisa menanyakan kepada Guru Panji Kubilang kebenaran kata-kataku. Silakan, aku tidak bisa menentang kehendak Ayahanda. Terserah Ayahanda mau memenjarakan aku atau percaya kepadaku. Namun, kebodohan akan menjadi awal dari kehancuran Ayahanda sendiri,” kata Pangeran Tirta.


Perkataan putranya membuat Prabu Galang terdiam berpikir dan menimbang keras.


“Aku percaya kepadamu saat ini, Tirta. Namun, jika kau berani mengelabui ayahmu sendiri, tidak akan ada ampun bagimu,” tegas Prabu Galang.


“Biarpun aku lancang kepada Ayahanda Prabu dan Ibunda, aku masih bisa dipercaya. Aku marah karena diperlakukan sangat hina,” tandas Pangeran Tirta.


“Jika bukan kau, itu berarti dalangnya berasal dari dalam Istana,” ucap Prabu Galang pelan.


Itu membuat Permaisuri Titir Priya dan Pangeran Tirta Gambang terkejut.


“Ya ya ya. Tidak mungkin para pembunuh dari Teluk Busung itu tahu di mana putriku berada saat diserang, jika bukan karena petunjuk dari orang yang sudah hafal rutinitas sehari-hari putriku,” kata Prabu Galang yang dibenarkan oleh istri dan putranya di dalam hati.


“Jika Ayahanda sudah yakin dengan seseorang, beri tahu aku, biar aku langsung membunuhnya di tempat,” kata Pangeran Tirta yang nada amarahnya mulai mereda.


“Tidak, belum ada. Namun, aku minta kau tidak pergi ke mana-mana lebih dulu, Tirta. Aku ingin melihat, apakah kepulanganmu memang ditunggu-tunggu oleh seseorang,” kata Prabu Galang yang untuk sementara mencurigai semua pejabatnya.


“Baik, Ayahanda,” ucap Pangeran Tirta lalu turun berlutut menjura hormat kepada ayahnya. (RH)

__ADS_1


__ADS_2