
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Hari telah berganti. Putri Ani Saraswani tidak bisa tidur. Mau tidur pun, pikiran dan mata yang tidak mau. Dia ditemani oleh Rincing Kila sepanjang waktu di kamar putri.
“Apakah kita bisa keluar, Gusti Putri? Pasukan Pengaman Putri pasti tidak akan memberi izin kita keluar,” kata Rincing Kila.
“Setiap kamar anggota utama Keluarga Kerjaan memiliki jalan rahasia yang tidak diketahui oleh anggota yang lain. Makanya Ayahanda tidak mengetahui kepergianku dari wisma. Bersiaplah. Bawa lontar-lontar dan alat tulisnya!” perintah Putri Ani.
“Gusti Putri yakin akan melakukan ini?” tanya Rincing Kila.
“Kau mau aku bunuh atau ikut?” tawar Putri Ani, membuat Rincing Kila menelan ludah sendiri, bukan ludah yang lain.
Rincing Kila lalu merapikan lontar-lontar yang sudah berisi tulisan ke dalam sebuah kotak kayu, lengkap dengan kuas dan botol tintanya.
“Ayo!” ajak Putri Ani lalu masuk ke ruang mandi.
Putri Ani membuka pintu rahasia yang beberapa hari lalu dia gunakan untuk meninggalkan Istana.
“Jika kau tahu jalan rahasia ini, seharusnya kau wajib diunuh, Rincing,” kata Putri Ani.
“Jangan, Gusti. Aku belum menikah,” kata Rincing Kila.
“Kau ingin menikah? Dengan siapa?” tanya Putri Ani.
“Belum ada, Gusti,” jawab Rincing Kila. Padahal dia ingin menyebut nama “Joko Tenang”.
“Kau pantasnya dengan Ronda Galo,” kata Putri Ani menyebut nama pengawal pribadi Menteri Keuangan. “Kalau kau malu, aku bisa bicara langsung kepada Paman Badaragi.”
“Terima kasih, Gusti. Tidak perlu,” kata Rincing Kila.
“Ya sudah,” ucap Putri Ani.
Berbekal satu obor, mereka menelusuri lorong gelap yang sempit tapi agak tinggi, tapi masih bisa leluasa dilewati oleh satu tubuh yang ramping seperti sang putri dan pengawalnya.
Cukup jauh mereka menyusuri lorong sempit, hingga akhirnya mereka keluar di tempat terbuka yang gelap, karena memang masih terlalu pagi. Namun, terdengar jelas suara aliran air sungai.
Rincing Kila bisa menerka bahwa mereka sedang berada di pinggir sungai dekat Rumah Makan Muara Jerit.
__ADS_1
“Matikan obornya dan cari perahu!” perintah Putri Ani.
Seiring langit mulai memutih di ufuk timur, Putri Ani dan Rincing Kila berperahu menuju ke seberang Muara Jerit tanpa cahaya obor.
Setibanya di seberang, legalah Putri Ani yang sebenarnya sejak tadi berdebar-debar jantungnya. Entah berdebar karena ingin makar, atau berdebar karena ingin bertemu lagi dengan Prabu Dira Pratakarsa Diwana yang berbibir merah menggugah selera cinta.
Setelah menyembunyikan perahu dan menemukan tempat yang bagus untuk istirahat, Putri Ani akhirnya tertidur. Mendengkur pula, tapi halus, tidak seperti dengkuran perempuan gendut.
Ketika matahari telah terbit dan mulai naik tanpa tangga, Putri Ani terbangun oleh suara pedang yang ditarik keluar dari sarungnya.
Ketika Putri Ani membuka matanya yang masih begitu berat, dia terkejut, sontak menghilangkan kantuknya.
Putri Ani melihat Rincing Kila sedang menghunus pedang. Dua tombak di depannya berdiri seorang wanita cantik jelita bertubuh sekal dan serba besar, tapi tidak besar-besar amat seperti milik Dewi Bayang Kematian yang melegenda.
Wanita cantik jelita itu tidak lain adalah Riskaya, pengawal pribadi Prabu Dira dan calon selir pertama.
Riskaya juga memegang pedang bagus, tetapi dia tidak mencabut pedang.
“Siapa kau, Nisanak?” tanya Rincing Kila dengan tatapan yang tajam.
“Aku Riskaya, pengawal Gusti Prabu Dira,” jawab Riskaya seraya tersenyum.
Terkesiap Putri Ani dan Rincing Kila mendengar pengakuan itu.
“Gusti Prabu Dira sudah menunggu di dalam hutan. Mari ikut aku,” ujar Riskaya.
Rincing Kila menyarungkan kembali pedangnya.
“Sebentar, aku cuci wajah dulu,” kata Putri Ani.
“Silakan, Gusti Putri,” ucap Riskaya.
Putri Ani lalu pergi ke pinggir sungai untuk membersihkan wajahnya agar terlihat lebih cantik.
Setelah itu, Putri Ani dan Rincing Kila mengikuti Riskaya. Keduanya tidak henti-hentinya memandang punggung Riskaya, bahkan memandang pinggulnya yang berirama ketika berjalan di antara tanaman hutan.
Ngiaaak!
Tiba-tiba terdengar jeritan monyet bibir putih yang tidak terlihat wujudnya.
__ADS_1
Setelah berjalan beberapa puluh tombak, tibalah mereka di sebuah area lapang yang ada tenda birunya agak besar. Terlihat Joko Tenang sedang bakar daging di perapian. Itu bukan daging tikus, ular atau monyet bibir putih, tetapi daging burung. Tiga burung bakar yang cukup besar-besar.
Mendengar ada yang datang, Joko Tenang menengok dan langsung tersenyum manis, yang membuat benih cinta di dalam hati Putri Ani tumbuh mekar.
“Putri Ani,” sapa Joko Tenang dengan senyum dan wibawanya.
“Hormat hamba, Gusti Prabu,” ucap Putri Ani sambil menjura hormat semestinya kepada seorang raja.
“Tidak perlu sungkan, Putri. Aku membangun tempat persembunyian di sini agar aman dari para prajurit kerajaan,” kata Joko Tenang.
“Aku tidak tanya,” ketus Putri Ani, tapi itu hanya di dalam hati. Lahiriahnya dia tersenyum. Lalu katanya, “Gusti Prabu ternyata membawa pengawal.”
“Ya, mungkin akan banyak pertarungan yang terjadi setelah ini,” kata Joko Tenang. “Bagaimana, mau langsung melakukan perjanjian atau mau makan burung panggang dulu?"
“Langsung kepada kesepakatan,” jawab Putri Ani mantap.
“Baiklah, tentunya setelah menyepakati perjanjian, kita bisa lebih tenang dan lepas,” kata Joko Tenang yang selalu tersenyum. Mungkin dia memang bermaksud tebar pesona kepada sang putri. Lalu perintahnya kepada Riskaya, “Riskaya, panggil Permaisuri Negeri Jang!”
“Baik, Gusti,” ucap Riskaya patuh.
Agak melebar lingkar mata Putri Ani mendengar nama “Permaisuri” disebut. Mendadak perasaan Putri Ani tegang. Bagaimana jika permaisuri itu menuduhnya sebagai wanita penggoda? Kira-kira itulah kecemasan Putri Ani.
Berbeda dengan Rincing Kila. Waktu datang ke Istana Sanggana Kecil dia hanya bertemu dengan Ratu Tirana yang sangat cantik dan menyejukkan mata yang memandangnya. Dia jadi penasaran, secantik apa permaisuri yang lain.
“Silakan, Putri,” ucap Joko Tenang mempersilakan sang putri duduk di sebuah kursi kayu. Mereka menghadapi sebuah meja dari pokok pohon besar yang terpangkas rata. Joko Tenang pun duduk lebih dulu.
Putri Ani duduk di kursi, berhadapan meja dengan Joko Tenang, membuat jantungnya berdebar-debar. Dia menatap lekat kepada wajah Joko Tenang. Hati kecilnya tidak bisa berdusta. Dia benar-benar mencintai Joko Tenang.
Rincing Kila meletakkan kotak kayu yang dibawanya di hadapan junjungannya.
Riskaya masuk ke dalam tenda warna biru gelap. Tidak berapa lama, keluarlah Permaisuri Yuo Kai.
Posisi Putri Ani bisa memandang langsung ke arah tenda. Ketika Permaisuri Yuo Kai keluar dari tenda, Putri Ani dan Rincing Kila seketika terpukau melihat kecantikan yang unik dengan warna kulit yang terang dan sepasang mata yang sipit. Putri Ani harus mengakui keunggulan kecantikan Permaisuri Yuo Kai, meski dia menang di usia yang lebih muda.
Permaisuri Yuo Kai langsung memandang kepada Putri Ani. Tidak ada senyum di wajahnya. Meski di dalam hutan, langkah dan gerakan Permaisuri Yuo Kai tetap anggun dan terjaga. Tulang punggungnya tetap lurus.
Riskaya membawa lipatan kulit dan perlengkapan tulis pula. Benda-benda itu lalu diletakkan di depan Joko Tenang.
“Aku sudah menulis beberapa tuntutan dalam perjanjian yang aku namai Perjanjian Muara Jerit ini. Silakan Putri membacanya. Yang mana disetujui dan yang mana ditolak,” ujar Joko Tenang lalu menyodorkan lipatan kulit binatang yang sudah disamak.
__ADS_1
“Aku pun sudah menulis tuntutanku yang harus Gusti Prabu penuhi,” kata Putri Ani lalu menyodorkan rangkaian lontarnya.
Maka, Joko Tenang dan Putri Ani saling membaca poin-poin yang diajukan. Joko Tenang memberikan lontar itu kepada Permaisuri Yuo Kai untuk dimintai persetujuannya pula. (RH)