
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Kemunculan tiba-tiba enam orang berpakaian putih-putih itu membuat Putri Ani Saraswani dan Rincing Kila bangkit bersiap. Rincing Kila sudah meloloskan pedangnya. Saat itu juga mereka melupakan Joko Tenang karena fokus pada penyerang.
Dalam kondisi kuyup dan tanpa pakai gaya-gaya lagi karena memang tidak ada kamera, keenam orang berpakaian putih maju dengan pedang di tangan kanan dan telapak tangan kiri membara biru.
“Ada penyerang!” teriak seorang prajurit jaga.
Terkejut semua prajurit yang mendengar teriakan itu dan melihat ke arah bagian rumah makan yang berada di atas air. Mereka serentak berlari terbirit-birit untuk membantu junjungan mereka.
Tang ting ting! Tang ting ting!
Rincing Kila dan dua orang penyerang beradu pedang berulang kali. Pada aduan pertama, Rincing Kila mendelik dan mengerenyit samar karena merasakan hantaman pedang lawannya sangat berat, membuat genggaman pada pedangnya gemetar.
Rincing Kila langsung menyimpulkan bahwa kondisinya akan berbahaya jika terus mengandalkan pedangnya karena kekuatan lawan lebih tinggi. Karenanya, Rincing Kila mengeluarkan ilmu Pagar Nyawa dan Tinju Tanpa Lawan.
Tang!
Pada akhirnya, satu peraduan pedang membuat pedang Rincing Kila terpental karena memang genggamannya sudah tidak kuat. Setelah itu, dia bertarung dengan tubuh di kelilingi oleh lapisan sinar hijau yang fleksibel dan kedua tinjunya berwarna merah gelap.
Sementa itu, Putri Ani Saraswani juga bertarung dengan sengit tanpa senjata. Dia dikeroyok oleh dua orang penyerang.
Adapun dua penyerang lainnya menyambut datangnya para prajurit dan dua orang pendekar keamanan rumah makan.
Di sisi lain, Joko Tenang menggeser tempat duduknya jadi menghadap ke arah lokasi pertarungan. Jadi, dia makan sambil menonton. Joko Tenang berpikir, jumlah yang banyak pasti akan menguntungkan pihak sang putri.
Para prajurit yang datang berguguran satu per satu. Dua orang berpakaian putih terlalu tangguh dan gerakannya sangat cepat. Para prajurit dibuat seperti orang-orang yang baru belajar bertarung. Selain mati oleh pedang, para prajurit itu juga mati oleh pukulan yang membuat dada mereka hangus dan remuk tulang-tulangnya.
Perlawanan cukup ulet ditunjukkan oleh dua pendekar keamanan rumah makan.
Kondisi para prajurit itu membuat Pantri Ewa khawatir karena para penyerang sangat handal, bahkan kedua pendekar keamanan dalam waktu singkat dibuat terdesak.
Joko Tenang pun jadi merubah penilaiannya.
Sert sert!
Pakk!
__ADS_1
Dua sabetan pedang menyerang Rincing Kila, tetapi sabetan pedang mengenai lapisan sinar hijau, menimbulkan percikan sinar hijau tanpa melukai.
Rincing Kila dengan cepat melesatkan tinjunya sebagai serangan balasan. Namun, Tinju Tanpa Lawan itu ditantang oleh telapak tangan sinar biru lawan.
Hasilnya, Rincing Kila terjajar dua tindak, sementara lawannya tidak. Kedua lawannya justru dengan cepat melancarkan kembali dua pukulan secara bersamaan.
Paks paks!
“Hukr!”
Dua pukulan telapak tangan lelaki berpakaian putih mendarat keras pada lapisan sinar hijau yang melindungi tubuh Rincing Kila. Pukulan yang tadi mengalahkan Tinju Tanpa Lawan itu, membuat Rincing Kila terdorong mundur dengan mulut menyemprotkan darah kental.
Dua hantaman itu juga membuat ilmu Pagar Nyawa Rincing Kila padam. Kondisi itu cepat dimanfaatkan oleh kedua lawannya.
Dua tusukan pedang menyerang Rincing Kila. Dalam kondisi terluka dalam parah, dia masih bisa menghindar dari kematian. Namun tidak juga seterusnya, karena kedua pengeroyok itu tidak mengurangi keagresifan serangannya.
Telapak bersinar biru terus memburu Rincing Kila yang kian terdesak. Rincing Kila masih mencoba mengadu Tinju Tanpa Lawan miliknya.
Pakk!
Tinju merah gelap dan telapak bersinar biru beradu lagi. Seperti sebelumnya, terlebih Rincing Kila telah terluka dalam, pengawal sang putri itu terlempar dengan darah kian banyak keluar lewat mulutnya.
Dalam kondisi kritis bagi Rincing Kila itu, tiba-tiba muncul begitu saja sosok lelaki berambut panjang berompi merah terang yang menangkap pinggangnya dan menariknya, sehingga pedang menusuk ruang kosong dan dia masuk dalam pelukan si penolong.
Rincing Kila bisa melihat dengan jelas wajah tampan berbibir merah orang yang menolongnya, orang yang muncul tiba-tiba tanpa terlihat kedatangannya.
Lelaki berpakaian putih juga terkejut dengan kemunculan Joko Tenang. Gagal tusukannya terhadap Rincing Kila, dia melanjutkan dengan sabetan kencang kepada Joko.
Ting!
Joko dengan gerakan tenang menangkis dengan sentilan jari tanpa harus menggeser posisi tubuhnya yang memeluk pinggang Rincing Kila, mirip adegan di film-film saat jagoan menyelamatkan sang putri.
Terkejut lelaki berpakaian putih saat pedangnya disentil dengan tenang. Pedang itu langsung terpental jauh ke air sungai yang mengalir.
Karena merasakan tangan kanannya gemetar, lelaki berpakaian putih melesatkan telapak tangan kirinya yang bersinar biru.
Paks! Brakr! Jbur!
__ADS_1
Joko Tenang memilih mengadu telapak tangannya yang terbebas. Telapak tangan itu berwarna hijau dari ilmu Tinju Dewa Hijau.
Dan ketika tinju hijau dan telapak sinar biru bertemu, tubuh lelaki berpakaian putih langsung melesat mundur menghantam pagar tepian rumah makan hingga hancur, lalu jatuh sampai ke tengah sungai.
Alangkah terkejutnya rekan setim lelaki berpakaian putih melihat rekannya bisa terpental sedahsyat itu. Dia bangkan terdiam menunggu tubuh rekannya muncul ke permukaan. Ternyata rekannya timbul dalam kondisi mengambang tanpa gerakan di air yang menuju muara.
Durasi terperangah si lelaki berpedang itu membuat Joko Tenang berkesempatan melepas dan mendudukkan Rincing Kila.
“Terima kasih, Joko,” ucap Rincing Kila lemah.
Pada saat itu, Putri Ani Saraswani yang bertarung mengandalkan ilmu Kipas Cahaya dalam posisi terdesak. Dia bisa menangkis serangan-serangan pedang menggunakan dua kipas sinar putih yang berenergi padat. Dia pun bisa menangkal serangan telapak tangan bersinar biru dengan ilmu itu. Namun, hampir sama seperti Tinju Tanpa Lawan milik Rincing Kila, kekuatannya masih kalah sedikit.
Yang membuat Putri Ani Saraswani terdesak hebat adalah bertambahnya orang yang mengeroyoknya menjadi tiga orang. Satu orang penyerang berasal dari dua orang yang menghabisi para prajurit dan telah membunuh satu pendekar keamanan. Jadi, tinggal satu orang berpakaian putih yang melawan pendekar keamanan rumah makan.
Karena serangan pedang tidak berfungsi, kedua pengeroyok sang putri memilih menyarungkan pedangnya, lalu mengagresi sang putri dengan kedua telapak tangan yang bersinar biru.
Putri Ani Saraswani menangkis dengan kipas sinar putihnya. Kuatnya hantaman telapak tangan yang datang susul-menyusul, membuat Putri Ani sulit bertahan dengan kuda-kudanya.
Paks!
Hingga suatu ketika, dua telapak tangan bersinar biru datang bersamaan kepada Putri Ani. Meski bisa ditangkis dengan kedua kipas sinarnya, tetapi sang putri harus terdorong keras ke belakang dan kehilangan keseimbangan.
Paks!
“Aaak!” pekik nyaring Putri Ani Saraswani karena tahu-tahu punggungnya ada yang menapak dengan keras.
Tubuh Putri Ani Saraswani jadi kembali terdorong ke depan dengan kipas sinar putih yang mendadak padam. Meski serangan bokongan tadi sudah bisa membunuh Putri Ani, tetapi kedua lelaki penyerang tetap memanfaatkan momentum untuk mendaratkan dua telapak bersinar birunya ke tubuh depan sang putri.
“Gusti Putriii!” teriak Rincing Kila histeris saat baru saja didudukkan oleh Joko Tenang.
“Gusti Putriii!” teriak Pantri Ewa dan para pelayannya pula melihat keadaan junjungan mereka.
Clap!
Seperti ketika muncul menolong Rincing Kila, Joko Tenang tahu-tahu muncul seperti setan di tengah-tengah pertarungan. Posisi berdirinya menghadap kepada Putri Ani dan membelakangi kedua lelaki berpakaian putih.
Bluk! Paks!
__ADS_1
Akibat kemunculan Joko Tenang itu, Putri Ani menabrak tubuh depan pemuda berbibir merah itu. Pada saat yang bersamaan, kedua telapak bersinar biru lelaki berpakaian putih menapak punggung Joko Tenang yang dilapisi Rompi Api Emas. (RH)