Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit

Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit
Pemuji 66: Pasukan Gajah Besi


__ADS_3

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*


 


Permaisuri berkulit terang dan bersih itu sedang bekerja di dalam dapur. Namun saat itu, sang permaisuri mengenakan jubah pendekar wanita warna merah dengan baju putih bergaris merah.


Permaisuri Tutsi Yuo Kai dibantu oleh pengawal pribadinya yang perempuan, tapi berdandan seperti lelaki, tanpa kumis dan jenggot. Jenis pakaiannya khas negeri seberang asal dirinya. Wanita bermata sipit itu bernama Bo Fei. Sejak dulu hingga sekarang usianya sedikit lebih tua dari junjungannya.


Rupanya di ruangan dapur rumah makan itu ada Riskaya, pengawal pribadi Joko Tenang sekaligus calon selirnya. Riskaya bisa disebut kembaran Permaisuri Sandaria versi besar dan versi melek, juga versi kalem.


Badur, si pelayan rumah makan, hanya duduk di atas dipan. Bo Fei menyuguhkan mangkuk-mangkuk yang berisi mie rebus panas dengan dua batang sumpit ke depan Riskaya dan Badur.


Badur yang bak seorang tuan kali ini, hanya bisa memandang bingung karena tidak pernah menggunakan sumpit. Berbeda dengan Joko Tenang dan yang lainnya. Semua makanan itu adalah hasil masakan Permaisuri Yuo Kai.


Di Istana Negeri Jang, istana kepermaisurian Permaisuri Yuo Kai di dalam Istana Kerajaan Sanggana Kecil, wanita cantik berusia matang itu sering menyuguhkan makanan khas Negeri Jang. Jangan ditanya apa saja nama jenis makanannya!


“Bo Fei, setelah makan, pergilah menyusul Pasukan Gajah Besi untuk mempercepat pergerakan mereka!” perintah Joko Tenang.


“Baik, Gusti,” ucap Bo Fei sembari mengangguk.


“Besok aku dan Putri Ani akan menyepakati perjanjian di hutan seberang sungai. Keesokannya, jika Pasukan Gajah Besi sudah tiba sesuai waktu, Permaisuri Negeri Jang akan memasuki Ibu Kota,” kata Joko Tenang.


“Tidak semudah itu Pasukan Gajah Besi untuk sampai di luar Ibu Kota. Mereka akan dihadang oleh pasukan Kerajaan Pasir Langit di perbatasan timur,” kata Permaisuri Yuo Kai.


“Aku yakin Panglima Raksasa Biru bisa mengatasi pasukan yang menghadang,” kata Joko Tenang sambil meraih mie rebusnya yang berhias daging dan potongan udang-udang besar.

__ADS_1


Badur yang menjadi orang asing di antara mereka hanya bisa memandang setiap orang yang bicara dengan kebingungan. Sepertinya dia ketinggalan mata pelajaran. Namun, dia paling suka jika memandang Permaisuri Yuo Kai berbicara. Seumur-umur dia tidak pernah melihat kecantikan yang seindah itu, khas dengan jenis kulit putihnya dan mata sipitnya.


“Ayo dimakan, Badur,” kata Joko Tenang karena melihat Badur hanya bengong sambil memegangi sumpitnya, satu batang, satu tangan.


“I-i-iya, Gusti Prabu,” ucap Badur tergagap sembari tersenyum kikuk. Dia sudah tahu identitas Joko Tenang.


“Dimakan, Kisanak. Kapan lagi kau dimasakkan makanan oleh seorang permaisuri?” kata Permaisuri Yuo Kai sembari tersenyum.


Sang permaisuri bahkan menyumpit potongan udang dan menyemplungkannya ke mangkuk Badur.


Betapa bahagianya Badur diberi sepotong udang. Tentu dia berharap diberi sepotong hati di masa depan. Sebab dia merasa, ketampanananya tidak kalah jauh dibandingkan Joko Tenang, hanya beda rambut dan warna bibir.


Joko Tenang tanpa khawatir mengungkapkan identitas dirinya kepada Badur. Joko Tenang sudah memberi Badur dan para prajurit jaga kantungan kepeng yang banyak isinya. Hanya satu syaratnya, yaitu tutup mulut.


Setelah makan, Bo Fei pun mohon diri untuk melaksanakan perintah Joko Tenang. Tentu jalur yang diambil pun jalur rahasia, maksudnya bukan jalur umum lewat di jalanan ibu kota Digdaya.


Ternyata, Bo Fei harus melewati dua kadipaten milik Kerajaan Pasir Langit. Namun, jaraknya tidak terlalu jauh, karena rute yang ditempuh wanita berpedang itu seperti memotong dua pisang.


Sementara itu, di arah timur di luar wilayah perbatasan Kerajaan Pasir Langit, ada tiga ribu pasukan berseragam biru-biru gelap yang dilapisi pelindung keamanan berbahan besi ringan. Mereka bergerak dengan langka cepat tapi rapi.


Jika melihat pasukan ini, seseorang akan langsung gentar pada umumnya. Itu karena semua personel prajuritnya memiliki tubuh yang besar-besar berotot. Meski ada yang pendek, tetapi tetap berotot besar.


Tidak hanya itu, mereka berhelm besi, punggungnya mengenakan cangkang besi seperti kura-kura tapi mode penggorengan. Lengan, batang tangan, hingga jari-jari tangan mengenakan pelindung besi. Demikian pula paha, tulang kering, hingga sepatu, dilapisi besi. Lapisan besi pelindung itu tidak menyelimuti semua sisi tubuh. Seperti dada dan perut serta di bawah perut, bagian itu tidak dilapisi dengan pelindung besi.


Dengan tubuh yang bertenaga kuat-kuat, pakaian besi yang itupun tidak begitu tebal, bukan beban berarti bagi para prajurit itu. Lapisan besi paling tebal ada pada cangkang di punggung.

__ADS_1


Mereka tidak terlihat membawa senjata. Namun, besi pelindung tangan memiliki sisi runcing seperti mata tombak, yang jika tangan mereka dikepal, keruncingannya akan menonjol.


Drak drak drak...!


Jadi, ketika mereka berjalan, apalagi berlari, suara gesekan-gesekan logam terdengar sangat ramai.


Hanya ada sepuluh prajurit berkuda dan satu prajurit bergajah.


Prajurit yang menunggang gajah seperti bukan orang karena dia besar seperti anak raksasa dan berkulit biru. Bibirnya juga biru dengan sepasang mata besar putih cemerlang, sepertinya rajin pakai obat tetes mata. Dia berpakaian biru terang, lebih terang dari warna kulitnya. Kepalanya dililit gelang warna perak. Lelaki raksasa itu bernama Panglima Raksasa Biru, pemimpin dari Pasukan Gajah Besi. Dia tidak mengenakan pakaian besi.


Raksasa Biru dulu peliharaan mertua Joko Tenang di Kerajaan Siluman. Dia pernah adu tanding melawan Joko Tenang yang jelas dimenangkan oleh Joko.


Saat Joko Tenang bersama ayahnya, Prabu Anjas Perjanalangit menyerang Kerajaan Siluman yang saat itu dikuasai oleh Ratu Aninda Serunai adik Joko Tenang, Raksasa Biru pilih ikut Joko Tenang ke Sanggana Kecil. Seperti itulah ceritanya.


Di jajaran prajurit berkuda, dua prajurit membawa bendera.


Satu prajurit berkuda membawa bendera biru terang, yang di tengah-tengahnya ada gambar burung rajawali warna emas yang sedang berkoak memandang ke atas. Itu adalah bendera kebangsaan Kerajaan Sanggana Kecil.


Prajurit satu lagi membawa panji pasukan. Bendera kain hitam, memiliki siluet kepala gajah warna putih di tengah-tengahnya. Itu panji utama Pasukan Gajah Besi.


Sementara itu, di setiap kelompok-kelompok pasukan ada pembawa panji masing-masing yang berbeda-beda warna.


Di tengah-tengah ada sebuah kereta kuda megah berwarna merah berhias kuning-kuning emas. Kereta ditarik oleh dua ekor kuda yang dibajui dan dihiasi sedemikian indah dan mewah.


Pasukan ini sangat berbeda dengan pasukan-pasukan kerajaan pada umumnya di Tanah Jawi atau sekitarnya. Entah, siapa yang punya ide menciptakan pasukan seperti itu? Jangan dijawab!

__ADS_1


Ide menciptakan pasukan semodel itu berawal ketika Joko Tenang dibawa langlang buana oleh Avabella ke alam masa lalunya, yang melihat peperangan pasukan dua negeri di Benua Biru. Salah satu pasukan sangat digdaya karena setiap prajuritnya berbadan besar-besar dan memakai zirah besi, sehingga yang tidak terlindungi adalah mata dan saluran pembuangan saja. Itulah ide dibentuknya Pasukan Gajah Besi.


Namun, jangan ditanya, dari mana saja Prabu Dira mengumpulkan ribuan orang berbadan besar dan berotot-otot gempal! (RH)


__ADS_2