Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit

Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit
Pemuji 89: Memasuki Ibu Kota


__ADS_3

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*


 


Drap drap drap…!


Krincing krincing!


Tepat ketika prajurit pembawa pesan melapor kepada Prajurit Wira Lutangan, ada rombongan kereta kuda megah warna merah-kuning yang ditarik empat ekor kuda putih datang menuju ke pos perbatasan ibu kota Digdaya.


Selain mendengar suara lari kaki kuda dan kaki manusia yang banyak, para prajurit yang banyak berkumpul di perbatasan Ibu Kota mendengar suara lonceng yang bersumber dari kalung keempat kuda penarik kereta.


“Lapor, Prajurit Wira! Gusti Prabu memerintahkan untuk membiarkan Permaisuri Kerajaan Sangggana Kecil sampai ke Istana!” lapor prajurit pembawa pesan.


Saat kereta kuda sudah mendekat, maka terlihat jelas puluhan sosok orang berpakaian pendekar berlari kecil di belakang kereta yang berlari santai.


Sebelum kereta kuda berhenti, sesosok wanita cantik berpakaian serba hitam melesat terbang di udara seperti burung, bukan berlari di udara. Sosok itu tidak lain adalah Murai Manikam alias Anak Halus.


Dia mendarat dengan lembut di hadapan Prajurit Wira Lutangan dan pasukannya. Kedatangan Anak Halus membuat kaum batangan itu terpesona. Aura kesaktian Murai Manikam begitu tinggi. Kedatangannya seolah-olah sudah mengalahkan Pasukan Kaki Gunung sebelum bertarung.


“Prajurit, apakah kedatangan Permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil sudah disampaikan kepada Gusti Prabu Galang Digdaya!” seru Murai Manikam berwibawa, menunjukkan level kedudukannya di dalam rombongan itu.


“Permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil diizinkan masuk sampai ke Istana,” jawab Lutangan. Lalu teriaknya kepada pasukannya, “Buka jalaaan!”


Maka para prajurit segera ramai-ramai mengangkat dan menggeser pagar-pagar kayu balok yang dipasang menutupi jalan. Para prajurit itu membuka jalan lebar-lebar.


Murai Manikam memberi tanda kepada kusir agar terus menjalankan keempat kudanya masuk ke Ibu Kota.


Para prajurit dari Pasukan Kaki Gunung yang tidak ikut memberi bantuan pasukan di pusat Ibu Kota itu, hanya memandangi rombongan tersebut lewat. Di dalam hati mereka cukup terkejut melihat pasukan pendekar sebanyak itu.


“Prajurit Wira!” sebut prajurit pembawa pesan.


“Apa?” tanya Praurit Wira Lutangan tanpa mengalihkan pandangannya dari pasukan yang mengawal kereta kuda megah.


“Ribuan pasukan Ibu Kota dan Pasukan Kaki Gunung dibantai oleh Raja Kerajaan Sanggana Kecil yang menyamar menjadi pendekar Joko Tenang,” kata prajurit pembawa pesan.


“Apa?!” kejut Prajurit Wira.


“Tapi Gusti Prabu sudah memerintahkan untuk tidak menyerang Joko Tenang itu. Dia sangat sakti. Hanya berdua dengan istrinya, dia menghancurkan dua pasukan kita,” kata prajurit pembawa pesan.


“Sekarang mereka masuk dengan membawa pasukan pendekar. Satu pendekar saja bisa membunuh ratusan prajurit, apalagi sebanyak itu. Aku rasa perintah Gusti Prabu justru membiarkan sekelompok musang masuk ke kandang ayam,” kata Lutangan.

__ADS_1


“Prajurit Wira benar juga. Tapi, bukankah Gusti Prabu Galang sangat sakti?”


Sementara itu di dalam Ibu Kota.


Di saat Pasukan Kaki Gunung menolong rekan-rekan mereka yang terluka dan mengevakuasi mayat-mayat teman mereka yang mati, Joko Tenang dan Riskaya memilih menikmati rujak cocol sambal gula aren, tanpa cabai rawit, cabai keriting atau cabai rebonding.


Sebenarnya warung rujak Mak Kudul tutup karena keadaan Ibu Kota yang mencekam, apalagi pada hari itu ada pertempuran di pusat Ibu Kota.


Setelah Joko Tenang dan Riskaya selesai bertempur, trio emak-emak istri pelaut yang memantau dari kejauhan segera berlarian menemui Joko Tenang.


“Hahaha!” tawa Joko Tenang saat bertemu kembali dengan trio emak-emak yang terdiri dari Subini, Nangita dan Rinda.


Khusus Subini dan Nangita, mereka sudah bertenaga kembali setelah menyempatkan diri makan. Namun, penampilan keduanya masih lusuh.


“Maaf, Joko. Apakah benar kau Raja Kerajaan Sanggana Kecil?” tanya Rinda dengan nada ragu-ragu.


“Benar, Nyai. Joko Tenang adalah Gusti Prabu Dira Pratakarsa Diwana, Prabu Kerajaan Sanggana Kecil.”


Yang menjawab adalah Riskaya yang seketika mengejutkan ketiga emak-emak itu dan membuat mereka gemetar.


“Ampuni kami, Gusti Prabu! Ampuni kami, Gusti Prabu!” jerit ketiga emak-emak itu sambil turun bersujud di tanah lantaran begitu takutnya, terlebih mereka sudah melihat keganasan Joko Tenang dan Riskaya membantai pasukan kerajaan.


“Hahaha!” tawa Joko Tenang melihat apa yang melanda ketiga wanita itu.


“Bangunlah, Nyai. Tidak usah takut seperti ini. Anggaplah aku Joko Tenang yang selama ini kalian kenal. Aku tidak akan berbuat kejam kepada kalian,” kata Joko Tenang bersikap tanpa ada jarak sosial. “Ayo kita makan rujak di warung Mak Kudul.”


Awalnya Mak Kudul tidak mau melayani pelanggan karena memang warung sedang dilarang untuk beroperasi. Namun, setelah Rinda membisikkan sesuatu kepada Mak Kudul, gemetarlah pemilik warung rujak satu-satunya di Ibu Kota itu.


Maka seperti orang yang sangat takut dihukum, Mak Kudul segera membuka warungnya lalu melayani Joko Tenang dan keempat wanita yang bersamanya.


“Ini Riskaya, calon selirku,” kata Joko Tenang memperkenalkan Riskaya kepada ketiga emak-emak sahabatnya.


“Sangat cantik, Gusti Prabu,” puji Rinda yang diamini oleh dua rekannya dengan anggukan dan senyuman.


Riskaya hanya tersenyum.


Dengan tenang mereka makan rujak di warung pinggir jalan itu. Meski sesekali ada sekelompok prajurit yang lewat, mereka tidak diganggu. Jelas sudah tidak ada prajurit yang berani mengganggu orang yang bernama Joko Tenang. Apalagi Prabu Galang sudah menurunkan perintah untuk tidak mengganggu lelaki berbibir merah itu.


Namun, tidak seperti dulu. Kali ini trio istri pelaut itu tidak seramai dulu dan tidak sebebas dulu. Maklum, mereka sudah wajib menahan-nahan diri karena mereka sedang makan dengan seorang raja. Apalagi di antara mereka ada wanita keempat, yakni Riskaya.


Drap drap drap…!

__ADS_1


Krincing krincing!


Dari ujung jalan utama Ibu Kota, muncul kereta kuda dan Pasukan Hantu Sanggana.


“Gusti Prabu, rombongan Gusti Permaisuri Negeri Jang sudah tiba,” ucap Riskaya, meski Joko Tenang juga tahu.


“Mohon maaf, Nyai-Nyai. Rombongan permaisuriku sudah datang. Aku akan ikut rombongan untuk masuk ke Istana,” pamit Joko Tenang.


“Baik, Gusti Prabu,” ucap Subini, Nangita dan Rinda kompak.


Riskaya pergi ke pinggir jalan untuk menunjukkan dirinya kepada rombongan.


Sais yang merupakan salah satu prajurit Pasukan Gajah Besi, segera menghentikan keempat kudanya.


Joko Tenang sudah berdiri di pinggir warung menghadap ke jalan. Trio istri pelaut berdiri di belakangnya. Ketiganya takjub melihat kemegahan kereta kuda dan aneka penampilan para pendekar.


“Sembah hormat kami, Gusti Prabu!” teriak Murai Manikam mengawali dengan turun berlutut di tanah jalanan.


“Sembah hormat kami, Gusti Prabu!” seru para prajurit dan pendekar pasukan itu bersamaan sambil turun berlutut dengan baik.


Merinding Subini, Nangita dan Rinda mendengar dan menyaksikan penghormatan tersebut.


Pintu bilik kereta kuda dibuka dari dalam. Kemudian turunlah Bo Fei.


Ketiga emak-emak istri pelaut itu tanpa sengaja melihat keberadaan Permaisuri Yuo Kai yang duduk begitu anggun di dalam bilik kereta. Terpukau takjub ketiganya.


“Bangkitlah, para pendekarku!” seru Joko Tenang.


Para prajurit pendekar itu berbangkitan. Mereka merasa bangga bisa berhadapan langsung dengan raja sakti mereka.


“Kita ke Istana!” seru Joko Tenang.


Joko Tenang lebih dulu berbalik kepada ketiga sahabatnya.


“Sembah hormat kami, Gusti Prabu!” ucap mereka bertiga lalu turun bersujud.


“Bangunlah. Jika kondisi sudah aman, aku akan mengundang kalian ke Istana,” ujar Joko Tenang. “Sampai berjumpa lagi, Nyai.”


Betapa gembiranya trio emak-emak itu karena dijanjikan oleh Joko Tenang.


Joko Tenang lalu pergi memasuki bilik kereta kuda dan dia berdua saja dengan istrinya. Pintu bilik kereta ditutup oleh Bo Fei yang kini harus menyatu dengan pasukan tersebut, yaitu ikut berlari.

__ADS_1


Sementara Riskaya duduk di sisi prajurit yang mengendalikan kuda kereta.


“Heah!” gebah sais bertubuh kekar untuk melanjutkan perjalanannya. (RH)


__ADS_2