
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Perhatian Prabu Galang Digdaya sedang fokus terhadap perang yang terjadi di wilayah timur dan hilangnya Mahapatih Olo Kadita. Rencana untuk pergi menuntut Prabu Dira Pratakarsa Diwana agar menikahi Putri Ani Saraswani jadi diurungkan, karena Prabu Dira sendiri berkeliaran di Istana Pasir Langit.
Mampunya Joko Tenang menculik Mahapatih Olo Kadita di dalam lingkungan Istana, dianggap oleh Prabu Galang sebagai satu tantangan.
“Berani-beraninya Prabu Dira pamer kesaktian di depan tahtaku. Jelas dia menantangku,” pikir Prabu Galang Digdaya.
Laporan-laporan dari medan perang dan pasukan yang lain terus datang bersusulan ke hadapan Prabu Galang Digdaya. Laporan tentang Kerajaan Teluk Busung menyerahkan Kelompok Manusia Atas dan Penempa Busur adalah salah satu kabar bagus bagi Prabu Galang.
Perhatiannya yang sedang terpusat kepada perkembangan di Istana, Ibu Kota dan medan perang, membuat Prabu Galang untuk sementara tidak begitu memerhatikan putrinya.
Putri Ani Saraswani sudah mendengar berita tentang diculiknya Mahapatih Olo Kadita oleh Joko Tenang. Karena itulah, pagi-pagi buta, Putri Ani dan Rincing Kila pergi meninggalkan Wisma Keputrian lewat jalan rahasia.
Ketika kedua gadis cantik berbeda level itu sampai di pinggir sungai, hari masih gelap.
“Hei! Berhenti!” teriak satu suara lelaki tiba-tiba dari belakang.
Teriakan itu membuat Putri Ani dan Rincing Kila berhenti.
“Bunuh!” kata Putri Ani berbisik kepada Rincing Kila.
Dari arah belakang yang gelap gulita, muncul dua orang prajurit yang membawa satu obor. Dari warna pakaiannya menunjukkan bahwa mereka adalah prajurit Pasukan Keamanan Ibu Kota.
“Kalian, berbalik!” perintah prajurit yang membawa obor.
Kedua prajurit itu bersenjatakan tombak. Mereka mendekati posisi Putri Ani dan Rincing Kila.
Diam-diam Rincing Kila telah menggenggam gagang pedangnya di depan perut yang tidak dilihat oleh kedua prajurit itu. Namun, Putri Ani kemudian berbalik. Gelapnya waktu subuh itu membuat kedua prajurit hanya melihat siluet hitam. Api obor belum mampu memperjelas wajah Putri Ani.
Kedua prajurit itu menerobos rumput ilalang pinggir sungai.
“Kau, perempuan satunya, berbalik juga!” perintah si prajurit karena melihat Rincing Kila tetap memunggungi mereka.
Sresrr!
Set set set!
__ADS_1
“Akk! Akk!” jerit kedua prajurit ketika tiba-tiba sosok Rincing Kila melesat mundur sambil berbalik dan menebaskan pedangnya.
Yang pertama ditebas Rincing adalah kedua batang tombak kedua prajurit, lalu berlanjut menebas kedua prajurit. Gerakan Rincing Kila yang cepat membuat kedua prajurit itu tidak bisa berbuat apa-apa selain mati terpaksa.
Ternyata status pemberontak membuat Putri Ani Saraswani lebih kejam.
Setelah tidak ada pengganggu lagi, Putri Ani dan Rincing Kila pergi mengambil perahu yang mereka sembunyikan. Dengan perahu itu mereka menyeberang ke hutan di seberang sungai atau muara.
Setelah menyembunyikan perahu di tempat aman, Putri Ani dan Rincing Kila langsung menuju ke lokasi Joko Tenang berkemah.
Saat sang putri tiba, Joko Tenang sedang duduk bertelanjang dada menghadap ke api unggun. Pemandangan raga yang kekar dan berkulit bersih itu langsung membuat darah cinta Putri Ani berdesir.
Bukan hanya Putri Ani yang berdesir darahnya, tetapi juga Rincing Kila. Untung saja saat itu Joko Tenang tidak bertelanjang paha.
Namun, Putri Ani dan Rincing Kila tidak mau terlihat genit atau terbawa perasaan. Mereka tidak mau terpergok oleh Permaisuri Yuo Kai atau pengawal Joko Tenang yang cantik menggoda meski tidak menggoda.
Namun, Putri Ani Saraswani dan pengawalnya itu tidak melihat tanda-tanda adanya orang lain di dalam tenda atau sekitarnya.
“Oh, Putri!” sebut Joko Tenang saat menengok ke arah sumber suara langkah kaki yang mendekat. Dia tersenyum begitu manis di suasana hutan yang mulai menerang oleh cahaya langit pagi. Hawanya pun demikian dingin.
“Hormat hamba, Gusti Prabu,” ucap Putri Ani sembari tersenyum tersipu malu.
“Tidak perlu sungkan, Putri. Kau pasti bisa tidur nyenyak tadi malam,” kata Joko Tenang sok tahu sambil beranjak meraih bajunya.
Di depan mata Putri Ani, Joko Tenang mengenakan pakaian, memperlihatkan otot-otot gagahnya yang sempat bergerak-gerak seolah-olah merengek minta sentuhan jari wanita. Namun, itu hanya ilusi Putri Ani saja.
“Justru Gusti Putri tidak bisa tidur, Gusti Prabu,” celetuk Rincing Kila.
“Apakah aku kurang meyakinkan untuk bisa membuatmu menjadi ratu, Putri?” tanya Joko Tenang dengan tatapan yang serius.
“Aku rasa Gusti Putri memikirkan pernikahan yang akan terjadi, Gusti,” kata Rincing Kila lagi, lebih berani.
“Tutup mulutmu, Rincing!” hardik Putri Ani cepat sambil menginjak satu kaki pengawalnya.
“Hahaha!” tawa Joko Tenang melihat tingkah Putri Ani. “Tidak apa-apa. Aku hanya berdua dengan Mahapatih Olo Kadita di sini. Permaisuri Negeri Jang dan pengawalku sedang tidak ada di sini.”
Legalah Putri Ani mendengar itu. Setidaknya dia tidak setegang kemarin jika ada Permaisuri Yuo Kai. Namun, dia lebih ingin bertemu dengan Mahapatih Olo Kadita.
__ADS_1
“Di mana Mahapatih Olo Kadita, Gusti Prabu?” tanya Putri Ani serius.
“Di balik pohon itu,” kata Joko Tenang sambil menunjuk batang pohon di dekat mereka dengan pandangan matanya. Joko Tenang sudah berpakaian lengkap dengan rompi merahnya.
Terbeliak sepasang mata kedua gadis itu mendengar jawaban Joko Tenang. Jika Mahapatih Olo Kadita ada di balik pohon di dekat mereka, itu artinya Mahapatih mendengar obrolan mereka barusan, obrolan yang isinya bisa disimpulkan sebagai rencana pemberontakan atau pengkhianatan.
Segera Putri Ani Saraswani pergi ke balik batang pohon besar yang dimaksud Joko Tenang. Rincing Kira ikut ke sana.
Ternyata benar, di balik batang pohon itu ada Mahapatih Olo Kadita yang berdiri bersandar pada pohon tanpa bisa bergerak sedikit pun, tetapi bola matanya masih bisa bergerak dan menatap tajam kepada Putri Ani yang kini berdiri dua tombak di depannya.
“Gusti Putri,” sebut Mahapatih Olo Kadita pelan.
Sing! Tsuk!
“Aakk!” jerit Mahapatih Olo Kadita saat pedang menusuk perut kirinya.
Putri Ani bergerak tiba-tiba mencabut pedang milik Rincing Kila dan menusuk Mahapatih Olo Kadita. Ketika sang putri mencabut pedangnya, darah pun keluar dengan deras tanpa bisa Mahapatih tutupi karena seluruh tubuhnya tertotok.
Joko Tenang lalu muncul dan berdiri di sisi Putri Ani.
“Ayahku sudah tahu bahwa kaulah dalang di balik penyerangan terhadapku, Mahapatih,” kata Putri Ani.
Sepasang mata Mahapatih Olo Kadita yang memerah dan berair kian mendelik mendengar perkataan Putri Ani.
“Apa yang kau lakukan, Putriii?” tanya Mahapatih sambil mengerang kesakitan.
“Kenapa kau ingin memberontak, Mahapatih?” tanya Putri Ani.
“Aku bukan pemberontak. Justru kaulah yang ingin memberontak kepada Gusti Prabu!” sangkal Mahapatih Olo Kadita.
“Aku memang ingin memberontak. Nanti juga Ayahanda Prabu akan tahu. Jadi, kau tidak perlu melapor kepada Ayahanda Prabu,” kata Putri Ani. Lalu katanya lagi, “Karena Ayahanda Prabu tidak bertindak cepat untuk menghukummu, maka akulah yang menghukummu!”
Tsuk!
“Aaakkkrr!” jerit Mahapatih Olo Kadita saat Putri Ani kembali menusuknya dengan pedang. Kali ini dadanya yang ditusuk dengan dalam.
Tusukan pada posisi jantung itu jelas tidak bisa membuat Mahapatih Olo Kadita bersiasat untuk pura-pura mati. (RH)
__ADS_1