Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit

Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit
Pemuji 30: Pasukan Pengaman Putri Datang


__ADS_3

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*


“Siapa yang menyuruhmu?” tanya Putri Ani kepada Jalu yang sudah menderita luka sayatan pedang di betisnya.


“Pangeran Tirta Gambang! Hahaha...!” jawab Jalu Si Kumis Hitam lalu tertawa lagi.


“Apa?!” pekik Putri Ani Saraswani, Rincing Kila dan Badira.


Warga kediaman Menteri Keuangan pun heboh mendengar pengakuan lelaki yang terus tertawa.


“Kau jangan memfitnah adikku!” teriak Putri Ani marah sambil bergerak menyepak dengan keras, seolah-olah kepala Jalu adalah sebutir kelapa.


Dak!


“Hukh! Hahaha!” keluh Jalu dengan tubuh berguling lalu tertawa kencang lagi.


“Adikku Pangeran Tirta Gambang sedang berguru kesaktian di Lembah Gelagah di Teluk Busung, tidak mungkin dia memerintahkan untuk membunuhku dan menteri- menteri yang dekat denganku!” teriak Putri Ani memarahi orang tersebut.


“Hahaha! Aku mengaku jujur. Aku orang jujur! Hahaha!” teriak Jalu yang tidak jelas apakah dia bahagia atau dia menderita karena luka di kakinya.


“Katakan dengan sebenarnya, siapa yang memerintahkan kalian!” bentak Putri Ani kepada Jalu.


“Hahaha! Pangeran Tirta Gambang! Hahaha!”


“Seret orang ini dan bunuh!” perintah Putri Ani Saraswani tanpa ampun.


“Baik, Gusti,” ucap para prajurit tersebut.


Maka beberapa prajurit Keamanan Rumah Menteri segera menarik tubuh lelaki yang tidak henti-hentinya tertawa itu.


“Diam! Diam!” bentak salah satu prajurit sambil memukul wajah Jalu.


“Hahaha...!” Jalu kian tertawa setelah dipukul mukanya sehingga terkesan lucu.


“Semuanya bubar!” perintah Badira kepada pelayan dan pekerja di kediaman itu.


Para pemeran figuran itu segera membubarkan diri untuk kembali ke tempat tugasnya masing-masing.


Lalu bagaimana dengan nasib Jalu Si Kumis Hitam? Jangan jawab karena perintahnya sudah jelas!


Dalam kondisi dikuasai oleh pengaruh Cubitan Seribu Geli, seseorang akan sulit mengendalikan dirinya karena hanya akan tertawa terus. Meski kemudian harus mati, jeritannya tetap akan bernuansa bahagia.


Putri Ani Saraswani menghampiri Joko Tenang dan berdiri di hadapan pemuda berbibir merah itu dengan jantung yang berdebar kencang. Hentakan-hentakan jantung yang keras sampai terlihat samar pada getar dada baju sang putri. Walaupun hanya melihat kain bajunya, tetap saja pandangan Joko Tenang kepada dada. Untung itu tidak sebesar milik Dewi Bayang Kematian.


“Joko,” sebut Putri Ani Saraswani pelan dan lembut dengan senyum seperti pengantin baru.


Joko Tenang sudah tersenyum manis duluan. Bukan karena bahagia atau karena ikut berdebar-debar, tapi karena merasa lucu melihat sikap sang putri.


“Terima kasih,” ucap Putri Ani kian tersenyum malu sambil menyodorkan lipatan kain merah yang merupakan rompi pusaka milik Joko. “Sudah dua kali kau menyelamatkan nyawaku.”


“Senang bisa melayani Gusti Putri,” ucap Joko sembari merunduk sedikit dan menerima kembali rompinya.

__ADS_1


Rincing Kila dan Badira hanya tersenyum-senyum melihat ketaklukan junjungan mereka kepada Joko Tenang.


“Seandainya aku bisa membeli rompi itu,” ucap sang putri.


“Hahaha!” tawa kecil Joko mendengar perkataan gadis jelita itu. “Mohon maaf, Gusti Putri. Ini rompi warisan dari ayahku.”


Putri Ani Saraswani jadi tersenyum lebar.


“Hahaha! Aakk...!”


Samar-samar mereka mendengar suara tawa Jalu Si Kumis Hitam yang ditutup dengan jeritan panjang yang terputus. Bisa mereka duga bahwa itu adalah jerit kematian Jalu.


“Kenapa Gusti Putri terlalu cepat membunuhnya?” tanya Joko Tenang mengalihkan suasana, karena memang pertanyaan Joko membuat sang putri tidak malu-malu lagi.


“Aku merasa percuma mengorek keterangan dari orang yang bisa bertahan dalam kebohongan. Dan aku terlalu marah karena dia memfitnah adikku Pangeran Tirta Gambang. Aku yakin mereka adalah para pembunuh yang memilih mati daripada mengaku yang sebenarnya,” jawab Putri Ani.


“Tapi, bagaimana jika pengakuan pembunuh itu benar, Gusti Putri,” kata Rincing Kila.


“Tidak. Adikku sedang berguru, dia tidak jahat kepada kakaknya. Apakah kau pikir Pangeran Tirta bisa membayar pembunuh bayaran sebanyak itu? Kesaktian mereka lebih tinggi dari kita, Rincing,” bantah Putri Ani.


Joko Tenang kembali mengenakan rompi pusakanya yang telah berbagi jasa kepada Putri Ani.


“Badira, ambilkan pedang pembunuh itu yang jatuh di kamarmu!” perintah Putri Ani.


“Baik,” ucap Badira patuh. Dia bergegas masuk ke dalam rumah.


Drap drap drap...!


Mereka melihat ada satu pasukan prajurit berseragam warna cokelat-cokelat dengan atribut pelindung raga lebih lengkap daripada prajurit berseragam kuning-cokelat, yang biasa Joko Tenang lihat di lingkungan Ibu Kota.


“Pasukan apa itu?” tanya Joko Tenang.


“Itu Pasukan Kaki Gunung. Mereka pasti ingin memperketat keamanan Ibu Kota,” jawab Putri Ani. “Jika kau nanti berurusan dengan mereka, katakan bahwa kau adalah sahabatku, Joko.”


“Baik. Terima kasih, Gusti Putri,” ucap Joko Tenang seraya tersenyum.


“Apakah kau akan tetap di sini?” tanya Putri Ani kepada pemuda dewasa itu.


“Aku berjanji akan menemui Gusti Menteri nanti sore untuk mendengar kabar tawaran kayuku. Aku juga membeli kopi. Jadi aku akan pulang lebih dulu. Namun, sepertinya aku juga tertarik untuk membeli ikan darimu, Gusti,” jawab Joko Tenang.


“Oh, kabar gembira bagiku,” kata Putri Ani dengan wajah yang sumringah. “Emmm, bagaimana kalau kita melihat budidaya ikan perut emasku?”


Sepertinya Putri Ani Saraswani menemukan cara untuk lebih berlama-lama dengan raja Kerajaan Sanggana Kecil itu.


“Baik,” jawab Joko Tenang seraya tersenyum, membuat hati Putri Ani kian bahagia.


Dari dalam rumah, keluar Badira membawa pedang milik pembunuh tadi.


“Ini, Gusti,” ucap Badira sembari memberikan pedang tersebut.


Putri Ani menerima pedang tersebut dan melihat tanda pada pangkal bilah pedang.

__ADS_1


“Tandanya sama dengan pedang penyerang di Muara,” kata Putri Ani kepada Joko Tenang.


Rincing Kila ikut melongokkan wajahnya untuk melihat apa yang dilihat oleh junjungannya.


“Jelas mereka satu kelompok. Namun, apakah pembunuh ini memang mengincar Gusti Putri? Tidak mungkin dia tahu Gusti Putri akan datang ke sini dan dia menunggu di kamar Badira,” kata Joko Tenang yang seketika membuka pikiran para gadis itu.


“Berarti pembunuh itu mengincarku?” terka Badira.


“Sepertinya memang kau yang diincar, Badira,” kata Rincing Kila.


“Aku yakin bukan Badira yang diincar, tetapi Paman Badaragi,” kata Putri Ani yakin.


Terbeliak Badira selaku putri dari Menteri Badaragi.


“Rincing, taruh pedang ini di kudaku!” perintah Putri Ani.


“Baik, Gusti,” ucap Rincing Kila, lalu melaksanakan perintah junjungannya.


“Pembunuh itu pasti bodoh sehingga bersembunyi menunggu di dalam kamarmu,” kata Putri Ani kepada Badira.


“Hahaha!” tawa pendek Joko Tenang.


“Apanya yang lucu, Joko?” tanya sang putri dengan lirikan yang begitu jelita.


Tak disangka, ternyata Putri Ani memiliki lirikan maut, buktinya Joko Tenang betah memandang lirikan itu sembari tersenyum lebar, memaksa sang putri jadi buru-buru memindahkan pandangannya, khawatir jika dia tiba-tiba minta kawin.


“Jika pembunuh itu bodoh, maka dia pembunuh yang beruntung. Menunggu Gusti Menteri atau Badira, tetapi yang dia dapat justru Gusti Putri yang sangat cantik,” kata Joko Tenang.


Mekarlah cuping hidung dan telinga Putri Ani dipuji oleh Joko Tenang. “Joko sangat jujur,” pikirnya.


“Apa maksud Joko menyebutku seperti itu? Apakah memang memujiku atau dia punya niat terselubung?” batin Putri Ani. Untuk menutupi bahwa perasaannya sedang melayang-layang tidak sampai ke awan, Putri Ani lalu berkata, “Ayo kita ke bawah melihat ikan!”


Drap drap drap...!


Namun, baru saja mereka hendak berangkat, tiba-tiba satu pasukan prajurit berseragam hitam-hitam muncul dan langsung masuk ke dalam halaman. Pasukan itu dipimpin oleh Komandan Ati Urat.


Terkejut Putri Ani Saraswani, Rincing Kila dan Badira melihat kedatangan Pasukan Pengaman Putri. Kedatangan pasukan itu membuat Putri Ani dan yang lainnya menghentikan langkah.


“Sembah hormat kami, Gusti Putri!” ucap Komandan Ati Urat sambil turun berlutut.


“Sembah hormat kami, Gusti Putri!” ucap dua puluh prajurit yang datang bersama Komandan Ati Urat. Mereka semua juga berlutut menghormat.


“Siapa yang memerintahkan kalian meninggalkan Wisma Keputrian?!” Putri Ani langsung membentak mereka.


“Gusti Prabu, Gusti,” jawab Komandan Ati Urat.


“Apa?!” kejut Putri Ani. Lalu tanyanya, “Apakah Ayahanda sudah tahu bahwa aku diserang?”


“Benar, Gusti.”


Putri Ani terkejut lagi mengetahui kenyataan itu. Yang lebih terkejut adalah Rincing Kila. Dia langsung menduga, pasti karena mulutnya tidak bisa jaga diri. (RH)

__ADS_1


__ADS_2