Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit

Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit
Pemuji 63: Nyaris Gila


__ADS_3

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*


Tanpa pikir panjang atau pendek, Putri Ani Saraswani langsung melompat ke air sungai dan berenang sekencang-kencangnya untuk sampai ke seberang, ke Rumah Makan Muara Jerit.


Di saat berenang itu, sesekali Putri Ani memandang ke arah sosok yang sangat dia yakini adalah Joko Tenang. Dia tidak halusinasi, sebab beberapa kali dia memandang, sosok itu tidak hilang dan jelas-jelas itu Joko Tenang yang sedang makan, bukan banci kaleng karena tidak ada ciri gerakan gemulai sibuk menyibak-nyibak rambut.


Pagi itu, suasana Rumah Makan Muara Jerit sepi karena memang belum waktunya buka.


Ketika sampai di tengah sungai, Putri Ani ingin berteriak memanggil Joko. Namun dia urungkan seiring jantungnya terasa terjun ke dalam jurang kematian. Sosok Joko Tenang mendadak hilang dari pandangan mata.


Paniklah Putri Ani melihat rumah makan yang tanpa objek warna merah berambut lurus panjang. Ada rasa ingin menangis di dalam dadanya, tetapi dia tahan. Sang putri buru-buru mempercepat renangnya, padahal tadi sudah kayuhan maksimal.


“Joko. Joko. Jokooo! Kenapa kau mempermainkan mata dan perasaankuuu?!” teriak Putri Ani kencang, tapi itu hanya di dalam hati. Sebab, jika dia teriak kencang sungguhan, air sungai bisa menerobos masuk ke dalam tenggorokannya.


Berulang kali Putri Ani melemparkan pandangannya ke titik di mana tadi Joko Tenang duduk. Dia sangat berharap Joko Tenang tahu-tahu muncul lagi di sana dan berteriak kepadanya “ciluk baaa!”


Namun, hingga Putri Ani sampai ke tepi dan naik ke perahu-perahuan milik rumah makan, dia tetap tidak menemukan Joko Tenang. Tidak hanya di tempat tadi, di sekitar juga tidak ada sosok Joko Tenang. Dia hanya melihat keberadaan beberapa prajurit jaga yang jauh posisinya.


Jleg!


Putri Ani melompat naik ke lantai rumah makan yang memiliki pagar pembatas setinggi lutut. Dia mendarat dengan kondisi kuyup. Air di tubuh dan pakaiannya bertetesan ke lantai.


Pergerakan sang putri sempat mengejutkan prajurit jaga yang melihat. Namun, setelah mengenali siapa yang naik ke rumah makan, prajurit jaga kemudian bersikap abai.


Putri Ani terkejut meski Joko Tenang menghilang lagi, karena dia melihat di atas meja ada perangkat makan bekas makanan. Air minum di gelas bahkan masih ada separuh.


Putri Ani kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencari keberadaan Joko Tenang.


“Gusti Putri,” panggil satu suara lelaki dari belakang Putri Ani. Panggilannya lembut seperti bisikan lelembut.


Putri Ani terbeliak karena ternyata Joko Tenang benar-benar ada. Dia tidak berhalusinasi.


“Joko!” sebut Putri Ani sambil cepat menengok dan berbalik ke belakang.


Namun, tidak ada siapa-siapa yang Putri Ani temukan.


“Joko,” sebutnya lirih dan sedih dengan nada bergetar. Dia harus mengakui bahwa dirinya kurang tidur sehingga bisa berhalusinasi.


“Apakah kau mencariku, Gusti Putri?” tanya satu suara dari belakang sang putri.


Lagi-lagi itu membuat Putri Ani terkejut, tetapi dia tidak langsung menengok atau berbalik untuk melihat. Ilmu kependekarannya juga tidak bisa mendeteksi apakah benar ada orang di belakangnya. Namun, suara yang didengarnya sangat mirip suara Joko Tenang.


“Kenapa Gusti Putri kuyup seperti ini pagi-pagi?” tanya Joko Tenang sambil melangkah lewat di sisi Putri Ani tanpa memandangnya.


Seeer!

__ADS_1


Entah, desiran darah yang indah itu, apakah reaksi karena melihat sosok nyata Joko Tenang atau merasa bahwa sosok itu adalah jelmaan dedemit muara.


“Joko!” pekik Putri Ani kencang. Tidak jelas apakah itu pekik kegembiraan atau keterkejutan.


Pekikan Putri Ani memancing prajurit jaga dan seorang pelayan rumah makan memandang ke arahnya.


“Jokooo!” pekik Putri Ani lagi sambil menghamburkan diri hendak memeluk Joko Tenang dari belakang. Nada pekikannya pun terdengar girang.


Entah sengaja atau modus, Joko Tenang yang awalnya membelakangi Putri Ani berbalik, sehingga pelukan sang putri menabrak tubuh depan Joko Tenang, bahkan wajahnya menabrak wajah lelaki yang gantengnya selangit itu.


Itu tabrakan, bukan ciuman, jadi rasanya tidak sesedap di kala mencium dengan cinta.


“Joko, kau membuatku gila. Hiks hik hiks!” kata Putri Ani sambil memeluk erat Joko Tenang. Ada suara tangisnya.


Karena mendengar sang putri menangis, Joko Tenang balas memeluk lembut tubuh basah dan dingin sang putri. Dia memberi tepukan-tepukan halus pada bahu belakang gadis cantik jelita itu.


Prajurit jaga dan pelayan yang bernama Badur hanya bisa diam-diam mengintip. Mengintip dengan tubuh yang terlihat, tetapi diam saja. Itu maksudnya.


“Apa? Gusti Putri menjadi gila?” kejut Joko Tenang sambil mendorong halus bahu Putri Ani agar melepaskan pelukannya.


Namun, ternyata keterkejutan pura-pura Joko Tenang itu tidak berhasil. Putri Ani langsung bereaksi kian memperkencang pelukannya, seperti wanita yang sudah direnggut virgin-nya dan tidak mau kekasihnya kabur lepas tanggung jawab.


Joko Tenang hanya terbeliak karena putri raja itu kia kuat memeluknya, bahkan cenderung ingin mencekik tubuhnya.


“Gusti Putri, Gusti saat ini sedang memeluk suami orang,” ucap Joko Tenang.


“Kau jahat, Joko!” pekik Putri Ani sambil melancarkan satu pukulan bertenaga dalam tinggi.


Baks!


“Hukr!” keluh Joko Tenang dengan tubuh terdorong mundur dan jatuh menimpa meja.


Brakr!


Jatuh Joko Tenang keras, terbukti meja ambruk dan perlengkapan makan di atasnya berantakan.


Melihat itu, prajurit jaga dan Badur yang memantau dari jauh hanya terbeliak terkejut. Lalu mereka segera palingkan wajah, pura-pura tidak melihat, tetapi kemudian memerhatikan lagi.


Putri Ani terkejut melihat pukulannya membuat Joko Tenang sampai terjatuh seperti itu, mengurangi wibawa dan kegantengan Joko.


“Akk!” erang Joko Tenang menggeliat, pura-pura sakit.


“Joko!” sebut Putri Ani sambil bergerak berjongkok di sisi Joko. Dia menunjukkan wajah penyesalan.


“Sebenarnya apa yang terjadi denganmu, Gusti Putri?” tanya Joko Tenang dengan tatapan yang lembut. Posisinya setengah terbaring di atas meja yang roboh.

__ADS_1


“Huh!” dengus Putri Ani kesal sambil mendorong dada bidang Joko Tenang, sehingga raja itu terbaring penuh. Ternyata Joko hanya mengerjainya.


Putri Ani bangkit berdiri dengan memendam gejolak hati yang merujak. Marah, sedih dan bahagia teraduk hingga rata, lalu didiamkan beberapa menit sampai adonannya dingin.


“Kau pergi meninggalkan aku begitu saja di malam itu dan tidak pernah kembali lagi!” kata Putri Ani dengan nada kesal, tapi dia memandang jauh ke hutan seberang sungai.


Ngiaaak!


Tiba-tiba terdengar jeritan monyet bibir putih dari dalam hutan.


“Aku telah kembali,” kata Joko Tenang sambil menempelkan rompi pusakannya ke pundak sang putri, lalu berdiri di sisi kanan sang putri dan memandang ke arah yang sama.


Putri Ani begitu berbahagia di dalam hati dan menengok memandang wajah Joko Tenang dari samping. Dia merasakan rompi merah itu mengalirkan energi panas yang menghangatkan kulitnya.


“Tapi, apakah kau tahu apa terjadi kepadaku selama kau pergi?” tanya Putri Ani tetap terdengar ketus.


“Tidak tahu. Kau belum cerita,” jawab Joko Tenang enteng, lalu menengok pula kepada wajah Putri Ani, menatap kedua matanya yang memerah oleh kesedihan. Joko Tenang emberikannya senyum manis.


“Sungguh menyebalkan!” rutuk Putri Ani kesal, tapi dia menahan senyum bahagianya.


Ingin rasanya dia menggigit keras bibir merah yang menggetarkan hatinya saat itu.


“Kau membuatku nyaris gila, Joko. Kau tahu, jika aku sudah mencintai seorang lelaki, itu artinya aku sangat jatuh cinta. Sangat,” kata Putri Ani menekankan. “Saat kau menghilang, aku mencarimu ke seluruh pelosok Ibu Kota seperti orang gila. Aku menangis sendiri. Bahkan aku menyusulmu ke Hutan Malam Abadi.”


Terbeliak Joko Tenang mendengar bahwa Putri Ani sudah sampai ke Kadipaten Hutan Malam Abadi.


“Kau pergi sampai ke sana?” tanya Joko Tenang seakan tidak percaya.


“Iya. Aku bertemu dengan sahabatmu yang bernama Joko Tingkir yang mengatakan istrimu bukan hanya satu, tapi tercecer di mana-mana....”


Terbeliak lagi sepasang mata Joko Tenang.


“Joko Tingkir mengatakan, kau pedagang kayu yang tidak pandai berdagang, tapi hanya pandai memikat wanita di mana-mana. Dan aku adalah korban pikatanmu yang kesekian puluh. Cerita itu sangat menyakitkan dan menghancurkan hatiku, Joko. Aku bahkan bertemu dengan istrinya, wanita yang kau hamili lalu kau campakkan, tapi dinikahi olehnya demi menjaga nama baikmu,” kata Putri Ani berair-air.


“Perlu digantung!” desis Joko Tenang pelan, tanpa prihatin atas apa yang dirasakan oleh sang putri.


“Siapa yang mau kau gantung?” tanya Putri Ani.


“Si Joko Tingkir itu,” jawab Joko Tenang. “Adalah musibah bagi wanita cantik sepertimu jika bertemu dengan Joko Tingkir, sahabatku itu. Hanya dia satu-satunya sahabatku yang berani membual tentang diriku. Kau pasti bertemu dengan istrinya, Siluman Lidah Kelu yang cadel?”


“Iya.”


“Siluman Lidah Kelu itu anak buah istriku. Kesaktiannya jauh di atas kesaktian suaminya. Joko Tingkir adalah cinta pertamanya, bukan Joko Tenang,” ralat Joko Tenang.


“Tapi, apakah ceritanya benar tentang dirimu?” tanya Putri Ani ketus.

__ADS_1


“Ada yang benar, tapi lebih banyak yang dusta,” jawab Joko Tenang. (RH)


__ADS_2