
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Blar blar blar…!
Brak brok brek…!
“Aakk! Akk! Aaak…!”
Di saat hujan panah pasukan panah Kerajaan Pasir Langit justru membunuhi kereta kuda lengkap dengan kudanya, puluhan pendekar dari Pasukan Hantu Sanggana seperti sedang berpesta merayakan pelepasan masa lajangnya dengan berbagai ledakan energi sinar.
Sebagian besar pendekar dari Pasukan Hantu Sanggana memiliki ajian yang berwujud energi sinar dengan warna dan bentuk berbeda-beda. Cara kerja dan efek rusak pun berbeda-beda.
Ada yang melempar sinar merah bulat seperti tahu bulat, tetapi daya ledak dan hancurnya tinggi, membuat rapatnya benteng perisai pasukan Pasir Langit tidak berguna.
Ada yang melesatkan sinar biru tanpa putus seperti semprotan water canon ke massa pengunjuk rasa yang tidak rusuh, tapi kemudian ujung-ujung meledak seperti kembang api.
Ada yang perlu sampai kepada target untuk meledakkan sinar kuning di kedua tinjunya, yang ketika meledak dia pun kena mental, tetapi dia kebal.
Ada pula yang mengirimkan sepuluh butir sinar ungu kecil seperti kelereng kepada pasukan Kerajaan Pasir Langit yang kemudian meledak ramai-ramai.
Ada pula yang melesatkan sinar penghancur dari tendangannya.
Entah iseng atau mau lucu-lucuan. Ada pendekar yang menembakkan sinar abu-abu dari bokongnya, tapi dia tetap bercelana. Padahal, efek rusaknya hanya menyebarkan bau busuk yang mengganggu penciuman.
Serangan energi-energi perusak itu menghancurkan benteng tameng para pasukan, juga melukai dan membunuh para prajurit, serta mengacaukan formasi pasukan.
Ada pula sejumlah pendekar yang tidak memakai ajian berenergi sinar-sinaran.
Ada yang menghancurkan tameng-tameng dengan tinju-tinjunya, ada dengan tendangan-tendangan, bahkan ada yang menggunakan batok kepalanya langsung.
Tidak sedikit pula yang langsung menggunakan senjata yang mereka miliki. Pedang adalah senjata yang paling banyak digunakan untuk menangkis tombak-tombak dan membelah tameng-temang. Pasalnya, senjata-senjata yang dimiliki oleh para pendekar itu sudah mengandung tenaga sakti, membuat para prajurit militer merasa seperti sedang dilanda banjir bandang.
Dua puluh prajurit berbadan kekar dari Pasukan Gajah Besi pun mengamuk seperti orang kesurupan yang menggila dengan teriakan-teriakan garangnya. Tinju-tinju bertombak besi mereka menghajari prajurit-prajurit musuh yang mencoba bertahan.
Berbagai macam jenis senjata harus dihadapi oleh para prajurit Pasir Langit yang berposisi di barisan depan formasi pasukan.
__ADS_1
Komplitnya unsur-unsur keamanan pada seragam perang pasukan Kerajaan Pasir Langit ternyata tidak begitu bisa melindungi para prajurit dari luka dan maut. Melawan para pendekar jelas sangat berbeda jika melawan pasukan militer biasa.
Formasi depan pasukan yang mengepung justru jadi porak poranda diserbu oleh para pendekar yang jumlahnya jauh lebih sedikit.
Namun, ternyata ada juga pendekar yang kurang tangguh. Salah satu keahlian Pasukan Kaki Gunung adalah melesatkan tombak dari balik benteng perisainya. Ada beberapa pendekar yang harus tertusuk tombak karena telat menghindar.
Kematian beberapa rekan mereka sesama anggota Pasukan Hantu Sanggana, membuat pasukan pendekar itu kian menggila. Ajian-ajian pamungkas yang mereka miliki dikerahkan lebih awal untuk menghancurkan pasukan Kerajaan Pasir Langit lebih cepat.
Di saat pasukan di barisan depan dihujani maut oleh para pendekar, tiba-tiba barisan pasukan panah dibuat panik dan bergerak kacau saling dorong.
Sess! Sess!
Kekacauan di barisan panah terjadi karena muncul dua sinar merah berpijar yang diam melayang di udara setinggi pinggang.
“Menjauh! Menjauh!” teriak para prajurit saling mengingatkan.
Bluar! Bluar!
Belum lagi pasukan itu bubar, dua sinar merah yang melayang di udara di tengah-tengah mereka meledak dahsyat.
Para prajurit di pasukan yang belum berkonfrontasi jadi tegang dan heboh saat melihat apa yang terjadi di pasukan panah. Pasalnya, mereka tidak melihat ada musuh yang sudah sampai ke barisan pasukan panah.
Sess! Sess!
Alangkah terkejutnya pasukan yang lain, ketika tiba-tiba mereka mengalami kondisi yang sama dengan apa yang dialami oleh pasukan panah, yaitu munculnya dua sinar merah berpijar yang melayang di udara di tengah-tengah pasukan.
“Cepat menjauh! Cepaaat!” teriak seorang prajurit wira kepada pasukan yang dipimpinnya.
Bdak!
“Akk!” jerit prajurit wira itu saat seorang anak buahnya menabrak dirinya karena terlalu panik.
Bluar! Bluar!
“Akk! Akk! Akr…!” Para prajurit dalam pasukan itu berjeritan ketika dua ledakan dahsyat memporak-porandakan mereka.
__ADS_1
Bluar! Bluar!
“Akk! Akh! Akkr…!”
Ternyata, bola-bola sinar merah berpijar muncul di beberapa pasukan yang posisinya bahkan saling berjauhan. Lalu meledak dahsyat yang memakan banyak korban.
Ketika Pasukan Hantu Sanggana mengamuki barisan depan pasukan Kerajaan Pasir Langit, Murai Manikam alias Anak Halus mengancaukan barisan belakang pasukan musuh. Dengan ilmu Diam-Diam yang membuatnya tidak terlihat dan terasa, Murai Manikam dengan bebas menebar ilmu Amarah Penghancur di sejumlah titik di tengah-tengah pasukan musuh.
Itu jelas membuat pasukan Kerajaan Pasir Langit merasa sedang berperang melawan setan.
Di barisan depan, setelah menghancurkan benteng perisai, para pendekar Pasukan Hantu Sanggana mengamuki para prajurit Pasir Langit yang justru kewalahan meski jumlah mereka jauh lebih banyak. Masalahnya, para pendekar itu sedikit-sedikit main lepas ilmu ajian yang memiliki energi ledak-ledak merusak.
Dalam waktu singkat, ratusan prajurit pasukan Kerajaan Pasir Langit berguguran. Namun, karena belum ada perintah apa-apa dari pemimpin pasukan, mau tidak mau mereka harus terus bertempur sampai mati.
Prajurit tidak boleh takut mati. Toh kalau sudah mati, ya matilah. Tidak akan menyesal di alam kubur. Kira-kira seperti itulah sugesti yang setidaknya sedikit menghibur hati para prajurit Pasukan Sanggana.
Ada cerita lain bagi prajurit dari Pasukan Gajah Besi. Meski mereka tangguh dan termasuk mendulang banyak nyawa, karena mereka dikeroyok oleh banyak prajurit, lambat laun ada juga tombak yang membunuh mereka.
Dua puluh prajurit Pasukan Gajah Besi memang kebal, tetapi ada saja prajurit yang memiliki ilmu tombak yang bisa menembus kekebalan prajurit bercangkang besi itu.
Satu per satu dari prajurit Pasukan Gajah Besi berguguran dengan heroik, tapi setelah mereka membunuh banyak prajurit musuh.
Lama kelamaan pula, sejumlah pendekar dari Pasukan Hantu Sanggana ada yang lalai atau kecolongan dalam bertarung. Sejumlah pendekar juga pada akhirnya ada yang harus gugur dan terluka oleh keroyokan prajurit pasukan musuh.
Ctar ctar ctar…!
“Akh akh akk…!”
Selain ledak-ledak yang ditimbulkan oleh kesaktian Murai Manikam dan para pendekar Pasukan Hantu Sanggana, tiba-tiba terjadi ledakan-ledakan beruntun sinar-sinar kuning yang bersusulan tanpa jeda, dari area pasukan Pasir Langit paling pinggir di arah Ibu Kota, merembet menuju ke tengah-tengah perang.
Di tengah-tengah kebisingan ledakan yang terus-menerus terjadi, terdengar jeritan-jeritan prajurit Pasir Langit yang sangat memilukan. Namun, tidak ada rasa iba di dalam perang.
Para punggawa Kerajaan Pasir Langit dan seluruh pasukannya terkejut melihat fenomena baru yang terjadi. Apalagi mereka melihat ada seorang wanita berpakaian perang warna hitam, terbang seperti burung di atas ribuan prajurit yang ada di bawahnya.
“Permaisuri Tangan Peri dataaang!” teriak seorang pendekar dari Pasukan Hantu Sanggana yang segera mengenali siapa sosok wanita cantik yang terbang di udara seperti burung raksasa.
__ADS_1
Mengetahui bahwa salah satu permaisuri cantik mereka telah datang yang langsung melakukan pembantaian dari udara, maka berkobarlah semangat perang para pendekar itu, seolah-olah mereka ingin pamer kehebatan di depan mata Permaisuri Tangan Peri yang tidak lain adalah Permaisuri Ginari. (RH)