Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit

Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit
Pemuji 23: Pertolongan Joko


__ADS_3

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*


Joko Tenang berkesimpulan bahwa Putri Ani Saraswani perlu ditolong, setelah melihat para prajurit bertewasan dan Rincing Kila dalam bahaya. Pasalnya, penilaian sementara Joko Tenang, Putri Ani adalah seorang putri yang tidak bermasalah di matanya.


Berbeda dengan para penyerang yang memang berniat membunuh sang putri. Untuk sementara Joko Tenang mengenyampingkan apa alasan Putri Ani harus dibunuh.


Demi menolong Putri Ani Saraswani yang cantik jelita, Joko Tenang tiba-tiba muncul di tengah pertarungan di saat sang putri di ambang maut. Namun jangan salah paham, Joko Tenang menolong bukan semata-mata karena sang putri cantik, tetapi karena dia telah mengenalnya meski belum akrab.


Saat itu, Putri Ani telah terkena pukulan telapak bersinar biru di punggungnya. Jika melihat sejumlah prajurit rumah makan ada yang tewas oleh pukulan itu, jelas bahwa nyawa Putri Ani terancam dalam waktu hitungan napas.


Joko Tenang yang muncul di tengah-tengah pertarungan, membuat sang putri menabrak telak tubuh depan Joko Tenang, yang langsung disambut oleh pelukan tangan kiri Joko di pinggang sang putri, sementara tangan kanannya yang bersinar biru bening menempel di punggung Putri Ani yang menderita luka hangus. Tindakan itu membuat Joko Tenang benar-benar memeluk sang putri, sampai dada-dada keduanya saling menekan dan kepala sang putri berada di sisi kanan kepala Joko.


Paks! Paks!


Pada saat yang sama, dua pukulan telapak bersinar biru dari dua lelaki berpakaian serba putih menghantam punggung Joko Tenang.


Namun, kedua penyerang itu terpaksa terbeliak terkejut. Pukulan mereka yang bisa menghanguskan dan membunuh, tidak mempan. Jangankan melukai punggung Joko, untuk merusak sehelai benang pun dari Rompi Api Emas tidak bisa.


“Aak!” jerit Putri Ani di dalam pelukan Joko Tenang, saat merasakan sakit pada lukanya yang sedang diobati oleh ilmu Serap Luka dalam waktu yang sangat singkat, karena serangan baru kembali datang dari arah belakang Putri Ani.


Lelaki yang sebelumnya membokong Putri Ani sehingga kondisinya kritis, berlari datang hendak menusukkan pedangnya. Joko Tenang cepat mengehentakkan tangan kirinya ke arah lelaki itu.


Bakks!


“Hakhr!” pekik terakhir lelaki bertopeng kain itu saat tahu-tahu ada kekuatan tidak terlihat menjebol dadanya, membuatnya terlempar deras menghantam dinding papan rumah makan. Dia pun jatuh dengan kain putih pada wajahnya bernoda cairan merah.


Terkejut para lelaki berpakaian putih melihat kematian rekan mereka. Itu berarti mereka tinggal berempat. Satu lelaki berpakaian putih sudah berhasil membunuh pendekar keamanan rumah makan, sehingga dia pun bisa membantu rekan-rekannya untuk mengeroyok pendekar asing berbibir merah, yang mereka duga sedang “modus” memeluk sang putri dengan kuat.


Dalam waktu yang sangat singkat, sinar biru bening pada telapak tangan kanan Joko Tenang berubah warna menjadi biru keruh. Itu terjadi setelah ilmu Serap Luka Joko menyedot sebagian racun dari luka di punggung Putri Ani.


Cprak!


Joko Tenang menghentakkan pelan tangannya yang bersinar, membuang cairan gelap ke lantai. Itu adalah darah dan racun yang disedot oleh ilmu Serap Luka.


Tindakan darurat yang dilakukan oleh Joko Tenang itu karena dia sudah mempelajari kekejaman ilmu telapak sinar biru para penyerang tersebut. Jika Putri Ani ditolong tanpa mengobatinya saat itu juga, sang putri tetap akan mati. Karenanya Joko memprioritaskan pengobatan dalam kondisi yang tidak aman.


Saat dua lelaki yang ada di belakang Joko Tenang ingin menyerang kembali dengan pedang yang dicabut, Joko mengibaskan tendangannya yang bertenaga dalam tinggi, membuat kedua lawan terpaksa mundur dua tindak menghindari kaki Joko.


“Heaaat!” teriak satu lelaki berpakaian putih yang melompat dari belakang kedua rekannya sambil melesatkan pedangnya yang telah membara kuning.

__ADS_1


Set! Bakks! Bruakr!


Joko Tenang yang sudah melepaskan tubuh Putri Ani dari pelukan rapat kepada pelukan pinggang saja, cepat menghentakkan tangan kanannya, kembali melepas ilmu berbahayanya yang bernama Tapak Kucing.


Tubuh pelempar pedang membara itu langsung terpental miring ke atas menjebol atap pinggiran rumah makan, lalu jatuh ke air sungai yang mengalir. Jangan harap dia akan selamat dari maut dalam kondisi dada yang sudah jebol.


Sementara pedang yang dilesatkan, dengan mudah dihindari oleh Joko Tenang dengan mengajak tubuh sang putri menghindar.


Teb!


Pedang itu menancap di lantai papan dan memunculkan api yang membakar.


Wuss!


Joko Tenang melepaskan satu angin keras yang membuat dua lawannya terhempas bersama beberapa meja makan, tapi hanya sebatas pagar pinggiran lantai.


Sesss!


Dari arah yang berlawanan, satu lelaki berpakaian putih melepaskan ilmu lain, yaitu berupa bola api merah sebesar kelapa tua. Sedari jauh hawa panasnya sudah terasa menyengat kulit.


Untuk menghindari kerusakan yang semakin parah di tempat itu, Joko Tenang memilih memasang punggungnya dengan tetap memeluk pinggang Putri Ani. Itu bukanlah modus terhadap gadis cantik anak raja itu, tetapi sang putri memang masih lemah kondisinya dan belum bisa berdiri sendiri.


Seff!


Bukan hanya dia yang terkejut, tetapi juga Putri Ani Saraswani, Rincing Kila, lelaki berpakaian putih, dan Pantri Ewa bersama para pelayannya.


Sest! Bluar!


Satu sinar hijau berwujud pisau dilesatkan oleh telapak tangan kanan Joko Tenang. Pisau sinar dari ilmu Pisau Neraka itu terlalu cepat menyerang orang yang sedang terkejut. Telak mengenai perut orang pemilik bola api tadi. Badan orang itu meledak pecah mengerikan dengan daging terpental ke mana-mana, semakin melengkapi kotornya rumah makan itu oleh darah dan daging.


Mendapati tinggal mereka berdua yang tersisa dan lawan mereka sangat sakti, kedua lelaki berpakaian putih saling pandang dan saling angguk sekali.


Jbur jbur!


Ternyata kedua lelaki itu sepakat kabur dengan cara melompat terjun ke air, lalu menyelam. Melihat tindakan tersebut, Joko Tenang cepat mendudukkan Putri Ani di lantai dan dia menyambar pedang yang menancap. Joko cepat ke pinggir dan melesatkan pedang ke air untuk memburu salah satu dari mereka yang kabur.


Namun, sepertinya upaya Joko Tenang gagal. Sebab, tidak ada mayat atau darah yang muncul ke permukaan. Kedua orang yang kabur pun tidak muncul-muncul lagi, seolah-olah mereka kabur ke dunia bawah air.


Ngiaaak!

__ADS_1


Terdengar satu jeritan monyet bibir putih di hutan seberang sungai, tetapi itu dianggap angin lalu saja.


“Badur, cepat beri tanda di pintu gerbang bahwa kita tutup hari ini!” perintah Pantri Ewa kepada pelayannya.


“Baik, Gusti,” ucap Badur.


Hari itu rumah makan memang harus tutup. Mereka jelas harus mengurusi mayat-mayat prajurit dan membersihkan kekotoran yang tercipta. Tidak lama lagi, mungkin Pasukan Kaki Gunung akan berdatangan untuk mengamankan TKP dan Tim Selidik Istana akan melakukan investigasi dan olah TKP.


Bisa-bisa Pantri Ewa dan para pelayannya akan dipenjara karena terkena status “tersangka sementara”, karena hukum pidana Kerajaan Pasir Langit tidak menganut “asas praduga tidak bersalah”. Joko Tenang pun selaku penolong bisa dijerat dengan pasal tersebut.


Karena para penyerang tidak dikenal itu sudah mati dan dua orang telah kabur, Pantri Ewa segera berlari ke lokasi pertarungan. Di belakang, para pelayan lelaki dan perempuan mengikuti majikannya. Mereka hanya bisa mengerenyit melihat mayat-mayat prajurit yang bergelimpangan di lantai.


“Gusti Putri, bagaimana keadaanmu?” tanya Pantri Ewa sangat cemas kepada Putri Ani yang terduduk di lantai.


Rincing Kila pun mengesot untuk sampai ke sisi junjungannya.


“Aku hanya hampir mati, Paman. Joko menyelamatkan nyawaku,” jawab Putri Ani lemah sembari mengerenyit menahan rasa sakit pada punggung dan seluruh tubuhnya.


“Biar aku kirim orang untuk melapor kepada Gusti Prabu,” kata Pantri Ewa.


“Jangan lakukan. Tunggu sampai aku memberi perintah,” larang Putri Ani.


“Mohon maafkan aku, Gusti Putri. Aku telat membantu,” ucap Joko Tenang yang telah berlutut satu kaki di dekat mereka.


“Aku sangat berterima kasih kepadamu, Joko. Aku pasti sudah mati jika kau tidak cepat menyelamatkanku,” ucap Putri Ani, tanpa canda tawa lagi.


“Aku memiliki cara pengobatan yang ajaib. Jika Gusti Putri dan Nisanak tidak keberatan, aku bisa menyembuhkan luka kalian berdua secepatnya,” ujar Joko Tenang kepada Putri Ani dan pengawalnya.


“Kau sudah menolong Gusti Putri, Pendekar. Lebih baik tuntaskan dengan sempurna pertolonganmu, Pendekar,” kata Pantri Ewa.


“Lakukanlah, Joko!” perintah Putri Ani Saraswani.


“Adakah ruangan yang layak untuk mengobati Gusti Putri, Ki?” tanya Joko Tenang kepada Pantri Ewa.


“Ada. Mari!” jawab Pantri Ewa.


“Maaf, Gusti,” ucap Joko Tenang, lalu dia meraih tubuh Putri Ani dan mengangkatnya dengan kedua tangan kekarnya.


Memang, Putri Ani Saraswani saat itu masih belum kuasa untuk berjalan karena terlalu lemah kondisi fisiknya. Sementara Rincing Kila dipapah oleh pelayan perempuan rumah makan tersebut.

__ADS_1


Putri Ani Saraswani menahan rasa malu, malu karena digendong oleh seorang lelaki dan wajahnya sangat dekat dengan wajah lelaki itu, dan malu karena dia bahagia telah diselamatkan oleh seseorang yang sejak kemarin mengganggu dan menggoda pikirannya.


“Apakah aku jatuh cinta?” batin Putri Ani Saraswani. (RH)


__ADS_2