Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit

Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit
Pemuji 43: Nyai Bale


__ADS_3

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*


 


Wanita berpakaian serba hitam itu berdiri di dalam kegelapan memerhatikan apa yang terjadi di rumah sewa Joko Tenang.


Dia awalnya tidak memiliki niat untuk datang ke tempat tersebut. Namun, pergerakan Pasukan Keamanan Ibu Kota yang dipimpin oleh Brabean memancing minatnya untuk tahu apa yang akan dilakukan oleh pasukan itu. Bisa disebut apa yang dilakukan oleh wanita berpedang dan berambut panjang itu iseng-iseng berhadiah. Siapa tahu dari keisengan akan mendapatkan hadiah.


Wanita yang wajahnya dicoreng dengan cat hitam itu hanya memantau dari jauh, jarak yang sangat aman untuk tidak diketahui. Apalagi dia bersemunyi di dalam gelap.


Cira Keling. Sebutlah itu nama wanita tersebut.


Jadi, apa yang terjadi di rumah sewa Joko Tenang disaksikan oleh Cira Keling. Dia pun melihat kemunculan makhluk sinar merah berwujud macan besar di kejauhan yang membuat pasukan Brabean lari tunggang langgang.


Cira Keling juga melihat kemunculan Joko Tenang dari jarak yang jauh, sehingga dia tidak terdeteksi keberadaannya.


Kemudian muncul Pasukan Kaki Gunung yang dipimpin oleh Prajurit Wira.


Wanita yang telah membunuh Menteri Aduh Mantang itu juga menyaksikan pertarungan antara Joko Tenang dengan Pasukan Kaki Gunung.


“Putri,” ucapnya lirih ketika melihat kemunculan Putri Ani yang mendatangi Joko Tenang. Namun sayang, dia tidak bisa mendengar apa yang kedua insan itu bicarakan lantaran jauhnya jarak.


Cira Keling hanya menyaksikan visual tanpa audio, kecuali musik malam dari alam.


“Ke mana mereka?” ucap Cira Keling lirih tapi terkejut, saat melihat Joko Tenang dan Putri Ani Saraswani hilang begitu saja seperti setan.


Setelah itu, Cira Keling menunggu agak lama. Dia hanya melihat para prajurit Pasukan Kaki Gunung saling tolong-menolong setelah dihajar oleh Joko Tenang yang mereka remehkan. Adapun Joko Tenang dan Putri Ani sudah tidak muncul-muncul lagi.


“Jika Putri berkeliaran di Ibu Kota malam ini, berarti tugas Kelompok Manusia Atas gagal,” pikir Cira Keling.


Cira Keling kemudian memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu, karena dia ada janji. Maklum pendekar bayaran harus memiliki dedikasi yang tinggi dalam tugasnya.


Meski patroli pada malam ini begitu ketat dan ibu kota Digdaya ramai oleh pasukan gabungan, tetap saja itu tidak membuat Cira Keling kerepotan mencari jalan tikus.


Di dalam perjalanannya, dia sering melihat sekelompok prajurit lewat berpatroli di jalan-jalan umum. Dia bahkan memergoki beberapa prajurit yang menyendiri sambil memegangi burungnya di dalam kegelapan semak-semak. Tidak ada yang lain dilakukan selain pipis berdiri. Maklum lelaki. Namun, Cira Keling tidak berminat untuk menjahilinya karena tidak ada uangnya.

__ADS_1


Sebagai seorang pembunuh bayaran, Cira Keling selalu menilai segala pekerjaan dengan kepeng. Baginya hidup adalah materi. Tanpa materi, dirinya bisa mati.


Singkat perjalanan.


Tibalah Cira Keling di suatu tempat yang terpencil, gelap gulita. Tempat itu daerah bakau yang berair laut. Suara deburan ombak di pantai terdengar jauh. Namun, Cira Keling yang sudah beberapa kali datang ke tempat itu tidak perlu mengotori kakinya untuk turun ke air berlumpur. Ada daerah tanah kering di pinggiran area hutan bakau tersebut.


Cira Keling harus ekstra teliti karena dia tidak memiliki bantuan penerangan sedikit pun. Akan berisiko jika dia memaksa menggunakan obor sebagai menerang jalan.


Akhirnya, Cira Keling tiba di depan sebuah gua tersembunyi. Ada cahaya api di dalam gua, tapi tidak membuat area depan gua mendapat cahaya.


Ngik!


Tiba-tiba terdengar suara jeritan gesekan kayu, saat Cira Keling menginjak lantai anyaman bambu yang seperti jembatan di depan mulut gua. Jembatan yang di bawahnya hanya saluran air rawa, sengaja dipasang agar orang yang menginjaknya memberikan bunyi sebagai tanda ada orang yang datang.


Seperti saat itu, ketika Cira Keling menginjaknya, maka timbul suara deritan.


“Kata sandi!” kata satu suara lelaki di dalam kegelapan. Jika dilihat dengan teliti, lelaki itu duduk di atas sebongkah batu di depan mulut gua.


“Pangeran Tirta Gambang!” ucap Cira Keling.


Cira Keling lalu melanjutkan langkahnya setelah terhenti di atas jembatan anyaman bilah bambu. Dia berjalan masuk ke dalam gua. Ketika baru masuk, ternyata di dalam ada sepuluh lelaki berpakaian merah-merah bersenjatakan tombak seperti prajurit. Mereka hanya berdiri tanpa jelas formasi posisinya.


Cira Keling sebelumnya sudah pernah bertemu dengan kesepuluh orang itu beberapa kali. Mereka adalah orang-orangnya Gusti Raja, orang yang membayar Cira Keling. Mereka seperti patung penjaga, hanya berdiri tanpa senyum atau bicara. Wajah-wajahnya dingin yang memberi kesan menakutkan.


Di sisi dalam gua ada obor-obor yang di pasang di dinding.


Cira Keling tidak perlu terlalu jauh masuk ke dalam karena dia sudah menemukan teman-temannya, yaitu sesama pembunuh bayaran.


Di ruangan dalam gua itu sudah ada tiga orang lelaki. Ada pemuda yang berpakaian putih-putih, sebutlah namanya Ganteng Susa. Ada bapak-bapak yang berpakaian hitam-hitam seperti Cira Keling, sebutlah namanya Gedek Gelek. Dan ada yang berpakaian biru gelap, sebutlah namanya Ki Pulung.


Ganteng Susa dan Gedek Gelek bersenjatakan pedang. Sedangkan Ki Pulung yang berusia separuh baya, model pakaiannya terlihat rumit dengan memiliki kain tebal seperti sayap, yang jika kedua tangannya direntangkan, sayap itu akan berwujud seperti sayap kalong.


“Rupanya aku yang terakhir,” kata Cira Keling seraya tersenyum kepada ketiga lelaki itu.


“Jika kau yang terakhir, lalu aku yang keberapa?” tanya seorang wanita dari arah belakang Cira Keling.

__ADS_1


Pertanyaan itu mengejutkan Cira Keling. Dia cepat menengok untuk melihat siapa pemilik suara wanita yang jenisnya sudah termakan usia. Dalam arti lebih tua darinya.


Wanita lain selain Cira Keling itu adalah sosok separuh abad plus setahun saja. Rambutnya disanggul di pucuk, memperlihatkan leher gemuknya yang putih. Dia mengenakan pakaian warna kuning, tapi tidak seperti telur rebus dibelah, lebih mirip buah pisang dibelah. Di pinggang kanannya ada menggantung sebuah ring besi selebar piring.


“Nyai Bale!” sebut Cira Keling terkejut. Bagaimana tidak terkejut jika seorang pendekar perempuan sakti dari Kerajaan Werang bergabung bersama mereka sebagai pendekar bayaran.


Kemunculan Nyai Bale juga mengejutkan ketiga lelaki. Mereka semua mengenal Nyai Bale dengan julukan Majikan Setan Alam Ketujuh.


“Kalian pasti sudah mengenalku?” kata Nyai Bale sembari tersenyum.


“Benar, Nyai,” jawab Cira Keling dengan gestur yang menghormat. Memang level kependekarannya jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan Nyai Bale.


“Di sini aku hanya mengenal Ki Pulung, pemimpin Kelompok Manusia Atas,” ujar Nyai Bale.


“Hehehe!” kekeh Ki Pulung.


“Namaku Cira Keling, Nyai,” ucap Cira Keling sembari tersenyum sedikit membungkuk kepada Nyai Bale. Corengan cat hitam pada wajahnya membuat senyumnya tidak begitu kentara.


“Nama yang pantas dengan wajahmu. Hihihi!” kata Nyai Bale.


“Hihihi!” tawa Cira Keling.


“Aku bernama Ganteng Susa, Nyai. Aku Ketua Bayangan Putih,” kata Ganteng Susa.


“Hebat. Masih muda tapi sudah jadi ketua. Aku pernah mendengar sepak terjang kelompok Bayangan Putih,” kata Nyai Bale.


“Aku Gedek Gelek, Nyai,” kata Gedek Gelek juga, memperkenalkan diri.


“Hanya itu?” tanya Nyai Bale.


“Aku hanya pemimpin Pembunuh Setengah Kepeng,” kata Gedek Gelek.


“Oooh. Aku sering mendengar cerita Pembunuh Setengah Kepeng, tapi kebanyakan cerita lucunya. Hihihi!” kata Nya Bale lalu tertawa pendek.


“Nyai!” panggil Ki Pulung. “Kau bukan pembunuh bayaran, tetapi kenapa kau ikut?”

__ADS_1


“Aku sakti, tapi sulit mencari kepeng dengan cara berdagang atau jadi pengusaha kaya. Jadi aku memilih cara kependekaran untuk menyiapkan harta bagi anak cucuku,” jawa Nyai Bale. (RH)


__ADS_2