Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit

Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit
Pemuji 86: Kedatangan Pasukan


__ADS_3

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*


 


Drap drap drap...!


Krincing krincing!


Kereta kuda mewah warna merah-kuning berlari memasuki perkebunan pohon bambu. Kereta kuda itu ditarik oleh empat ekor kuda putih yang dihiasi jubah berwarna merah dengan setiap kuda lehernya dikalungi lonceng emas. Suara gemerincing empat lonceng terdengar kencang mengiringi suara putaran roda besi khusus pada tanah yang berlapis dedaunan bambu kering.


Kereta kuda itu disaisi oleh seorang lelaki berotot kekar dengan pakaian lapis besi, termasuk helm pengaman kepala.


Uniknya, ada belasan lelaki kekar lainnya yang berseragam sama sedang berlari mengejar kereta kuda, lebih tepatnya mengikuti. Para prajurit itu tidak lain adalah bagian dari Pasukan Gajah Besi.


Pasukan yang dipimpin oleh Bo Fei tersebut berhasil masuk dan melewati wilayah Kadipaten Senengek dan tiba tidak terlalu jauh di luar ibu kota Digdaya, di sisi yang tidak akan diduga akan ada pasukan musuh bersemayam.


Lalu di mana Bo Fei berada? Dia sedang nyaman duduk di dalam bilik kereta.


Dia akhirnya membuka pintu bilik kereta ketika kendaraan itu memelan jalannya. Sebelum jalan kereta benar-benar berhenti, Bo Fei telah melompat turun dan berlari kecil.


Ternyata mereka sudah tiba di sebuah tempat yang di kelilingi oleh banyak kelompok pohon bambu. Pagi itu masih terlihat dan terasa sejuk karena matahari pagi belum keluar dari selimutnya di ufuk timur.


Mereka telah tiba di depan sebuah gubuk bambu yang berdampingan dengan sebuah tenda kain. Bambu bahan membangun gubuk masih terlihat sangat hijau dan segar.


Jika tidak benar-benar masuk ke tempat itu, mungkin akan sulit melihat keberadaan gubuk dan tenda tersebut. Di halaman belakang gubuk ada aliran air yang kecil seperti saluran irigasi, tapi alami.


Tempat itu juga dijaga oleh puluhan prajurit yang tersebar, tetapi sebagian besar terkonsentrasi di sekitar gubuk dan tenda.


Akhirnya rombongan kereta kuda itu berhenti. Namun, rasa lelah para prajurit Pasukan Gajah Besi yang berlari semalaman hingga pagi, terhibur oleh satu pertunjukan yang mereka lihat di tenda.


Mereka melihat ada siluet bayang wanita bertubuh indah dengan sembulan yang besar di balik kain tenda, yang di dalamnya ada dian yang menyala. Kondisi pagi yang belum terlalu terang, membuat siluet itu tergambar jelas keindahan tubuh wanitanya yang aduhai.


Terlihat bayangan itu bergerak-gerak sedang merapikan rambutnya, kemudian mengenakan baju.


Meski perasaan para prajurit itu senang melihat pemandangan bayangan indah itu, tetapi tidak ada yang berani tersenyum. Mereka takut jika siluet wanita itu adalah Permaisuri Yuo Kai.


Setelah terlihat merapikan bajunya, siluet itu mengambil benda seperti pedang, lalu berjalan ke tirai pintu tenda. Tirai disibak dari dalam dan keluarlah sosok wanita yang bayangannya saja sangat indah. Ternyata aslinya lebih indah. Dia adalah Riskaya, tangan kanan Prabu Dira Pratakarsa Diwana.


Sebelum calon selir Prabu Dira itu memergoki mata-mata yang memandangnya, para prajurit buru-buru alihkan pandangan.


Riskaya keluar dari tenda dengan sikap yang biasa saja. Dia tidak sadar bahwa siluetnya yang sedang memakai baju menjadi tontonan di luar tenda.

__ADS_1


Pada saat yang sama, dari dalam gubuk bambu keluar Permaisuri Yuo Kai yang begitu anggun.


Bo Fei segera datang menghadap dan menjura hormat. Demikian pula dengan para prajurit Pasukan Gajah Besi.


“Pasukan Gajah Besi masih tertahan di perbatasan Senengek, Gusti,” lapor Bo Fei.


“Istirahatlah. Pasukan pendekar yang dipimpin oleh Anak Halus belum sampai!” perintah Permaisuri Yuo Kai.


“Baik, Gusti,” ucap Bo Fei patuh.


Dia lalu berbalik kepada kedua puluh prajurit Pasukan Gajah Besi yang terlihat terengah-engah, kecuali satu orang.


“Istirahatlah kalian!” perintah Bo Fei.


Setelah menjura hormat kepada Permaisuri Yuo Kai, kedua puluh prajurit itu berbalik pergi. Mereka langsung pergi menyebar ke bawah-bawah kumpulan pohon bambu. Di sana mereka langsung merebahkan diri dengan gaya bebas, tetapi tetap berseragam lengkap.


Singkat cerita.


Matahari baru saja naik dan sinarnya sudah mulai menyengat.


“Gusti Permaisuri, Anak Halus dan Pasukan Hantu Sanggana sudah tiba!” lapor Bo Fei kepada Permaisuri Yuo Kai.


Di luar gubuk memang terdengar suara orang banyak, baik suara langkahnya di atas dedaunan kering, suara obrolannya, dan suara tawanya.


Permaisuri Yuo Kai keluar dari gubuk bambunya dengan dikawal oleh Bo Fei. Ini adalah pertama kalinya seorang putri Kaisar Negeri Jang tinggal di sebuah gubuk bambu. Kelak ini akan ditulis di dalam buku sejarah.


“Hahaha!” tawa puluhan pendekar yang berjalan di belakang Murai Manikam. Mereka menertawakan para prajurit Pasukan Gajah Besi yang tidur mendengkur kencang di bawah pohon bambu.


Ramainya kedatangan pasukan pendekar itu membuat para prajurit yang tertidur terbangun. Sadar bahwa mereka yang ditertawai, buru-buru mereka bangun duduk sambil mengusap jejak air liurnya di sudut bibir.


“Sembah hormat kami, Gusti Permaisuri Negeri Jang!” seru Murai Manikam sambil turun berlutut menghormat.


“Sembah hormat kami, Gusti Permaisuri Negeri Jang!” seru kelima puluh pendekar yang ada di belakang Murai Manikam. Mereka juga turun berlutut menghormat.


“Bangkitlah!” perintah Permaisuri Yuo Kai.


Pasukan pendekar itu bangkit ramai-ramai.


“Tengah hari nanti kita akan masuk ke ibu kota Digdaya. Kalian istirahat dan makanlah. Prajurit dapur sudah memasak makanan banyak,” perintah Permaisuri Yuo Kai.


“Terima kasih, Gusti,” ucap Murai Manikam.

__ADS_1


Pasukan Hantu Sanggana pun bubar jalan. Sebagian besar langsung menyerbu dapur umum. Ada pula yang memilih tidur, ada yang memilih pergi mandi di aliran air, dan ada yang memilih sekedar bersantai sambil menunggu antrian makan sepi.


Drap drap drap...!


Setelah pasukan pendekar itu bubar, ada seorang pendekar berkuda datang mendekat, memancing perhatian mereka, terutama pasukan yang berjaga.


“Anggota Pasukan Hantu Sanggana!” teriak pemuda penunggang kuda tersebut sambil angkat tangan kekarnya, memperlihatkan bulu ketiaknya yang lebat. Dia mengenakan baju warna kopi susu tanpa lengan.


“Biarkan lewat! Pendekar Pasukan Hantu Sanggana!” teriak Lengking kepada para prajurit yang berniat menghadang. Dia mengenal pendekar itu sebagai anak buahnya.


Teriakan itu membuat kelompok prajurit jaga tidak menghadang lari kuda tersebut.


Kedatangan pendekar anggota Pasukan Hantu Sanggana itu membuat Permaisuri Yuo Kai yang ingin masuk ke gubuk bambu jadi berbalik.


Pemuda berwajah ganteng itu dikenal dengan nama Garak Moyo dan berjuluk Pendekar Penebas Kaki. Meski julukannya “Penebas”, tetapi Garak Moyo tidak terlihat membawa senjata tajam.


Garak Moyo bukan termasuk dari lima puluh pendekar Pasukan Hantu Sanggana yang dipimpin oleh Murai Manikam. Rekan-rekan pendekar satu unitnya hanya memandangi dari jauh. Sepertinya dia membawa pesan dari Delik Rangka, Ketua Pasukan Hantu Sanggana yang memimpin keamanan pengiriman kayu.


“Hormat hamba, Gusti Permaisuri!” seru Garak Moyo setelah turun dari kuda dan berlutut menghormat di depan Permaisuri Negeri Jang. Lalu katanya dengan lancar, “Hamba Garak Moyo anggota Pasukan Hantu Sanggana membawa pesan untuk Gusti Prabu, Gusti Permaisuri!”


“Katakan!” perintah sang permaisuri.


“Utusan Pengirim Lintas Dunia yang ada di dalam ibu kota Digdaya membawa pesan untuk Gusti Prabu. Dua wanita bernama Subini dan Nangita disandera Pasukan Ibu Kota. Pasukan Ibu Kota menuntut pendekar Joko Tenang menyerahkan diri,” lapor Garak Moyo.


Mendengar itu, terlihat wajah Permaisuri Yuo Kai agak terkejut. Namun, dia tidak berkomentar selain menerima laporan tersebut.


“Laporanmu akan disampaikan kepada Gusti Prabu. Istirahatlah!” kata Permaisuri Yuo Kai.


“Terima kasih, Gusti,” ucap Garak Moyo, lalu dia menjura hormat dan berbalik pergi.


“Riskaya!” panggil Permaisuri Yuo Kai.


“Hamba, Gusti,” ucap Riskaya yang tidak jauh dari sang permaisuri.


“Pergilah kepada Gusti Prabu dan sampaikan, aku dan Pasukan Hantu Sanggana akan masuk ke Ibu Kota tepat tengah hari. Sampaikan pula tentang dua wanita yang disandera tersebut!” perintah Permaisuri Yuo Kai.


“Baik, Gusti,” jawab Riskaya.


Setelah menjura hormat, Riskaya pun segera pergi meninggalkan tempat itu untuk menuju ke hutan di Muara Jerit.


“Agak membingungkan. Pesan dari dalam Ibu Kota dikirim jauh ke Kadipaten Ombak Lelap, tapi kemudian dibawa lagi ke dekat Ibu Kota,” kata Permaisuri Yuo Kai kepada Bo Fei.

__ADS_1


“Mungkin karena pembawa pesan pertama tidak tahu harus menyampaikan pesan kepada siapa, Gusti,” kata Bo Fei yang dugaannya memberi titik terang atas keheranan junjungannya. (RH)


__ADS_2