
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
“Eeeaaakkkrrr! Eeeaaakkkrrr! Hahahak...!”
Suara teriakan yang dikejar oleh ratusan Pasukan Kaki Gunung itu justru terdengar menjauh di saat didatangi.
“Cepat kejar! Jangan sampai lolos!” teriak Komandan Juluk.
Dengan berbekal obor yang dibawa oleh sebagian prajurit, mereka terus mengejar ke tempat gelap menjauhi posisi kamp mereka.
Slet! Bdak!
Tiba-tiba beberap prajurit terdepan terpeleset dan jatuh keras di tanah. Tidak berapa lama, semakin banyak prajurit yang terpeleset, seiring aroma menyengat yang menusuk hidung.
Mereka yang terpeleset jadi curiga ketika merasakan mereka jatuh di tempat becek yang berbau khas, yaitu bau minyak.
“Berhenti! Berhenti! Ada minyak!” teriak salah satu prajurit yang jatuh.
“Hati-hati obor kalian!” teriak prajurit yang lain panik.
Namun, ada satu prajurit pembawa obor yang telat mengerti. Dia datang dengan berlari kencang dan terpeleset di tanah becek.
Bdak! Sless!
“Aaak! Akk! Aaa...!”
“Panas! Panaaas! Panas!”
Ketika obor ikut jatuh ke tanah, api seketika menyala di tanah dan menjalar luas. Puluhan prajurit yang berada di medan tanah berminyak jadi terbakar, terutama mereka yang jatuh dan pakaiannya berbalur minyak. Sementara yang hanya menginjak, buru-buru berlarian terbirit-birit ke segala arah sambil berupaya memadamkan api di celana mereka.
“Eeeaaakkkrrr! Eeeaaakkkrrr! Hahahak...!”
Kembali terdengar teriakan-teriakan dan tertawaan dari kejauhan di dalam kegelapan, seolah-olah menertawakan para prajurit yang terjebak.
Dug dug dug...!
“Aak! Aww! Akk...!”
Tiba-tiba para prajurit itu dihantam oleh batu-batu besar yang datang dari dalam kegelapan. Besaran batu-batu itu dari sebesar kepalan tangan hingga yang sebesar kepala kambing.
Kepala-kepala prajurit yang terkena lemparan batu jelas akan menderita kematian atau luka serius. Untungnya saat itu mereka tidak mengenakan pelindung kepala, jadi korban mati cukup banyak. Yang untung di sini maksudnya Pasukan Gajah Besi, bukan Pasukan Kaki Gunung.
“Eeeaaakkkrrr! Eeeaaakkkrrr! Hahahak...!”
Terus terdengar teriakan-teriakan yang sangat mengganggu pendengaran dan membakar perasaan para prajurit Pasukan Kaki Gunung, terutama komandannya.
Apa yang dialami oleh pasukan Komandan Juluk menjadi perhatian pasukan yang ada di kamp.
“Pasukaaan, bantu pasukan Komandan Juluk!” teriak Komandan Unggul Kerok di pinggir perkemahan.
“Eeeaaakkkrrr! Eeeaaakkkrrr! Hahahak...!”
Teriakan-teriakan Pasukan Gajah Besi terdengar menjauh seiring datangnya pasukan Komandan Unggul Kerok, menunjukkan bahwa para penyerang itu telah melarikan diri.
“Apa yang terjadi?” tanya Senopati Kampala yang baru keluar dari tenda besarnya.
__ADS_1
“Sepertinya ada pasukan musuh yang menyusup dan membakar tenda, Gusti,” jawab prajurit tangan kanan Panglima Kampala.
“Kumpulkan semua komandan pasukan!” perintah Senopati Kampala dingin. Dia sepertinya bersikap tenang.
“Baik, Gusti,” ucap pengawalnya.
Senopati Kampala lalu masuk kembali ke dalam tenda.
Di saat para prajurit di sisi utara bergerak agak ke tengah kamp untuk mengetahui lebih jelas kejadian di sisi selatan, dari dalam kegelapan di sisi utara bermunculan puluhan prajurit bertubuh kekar membawa kendi-kendi minyak.
Pasukan Gajah Besi itu bergerak senyap ke sekitar tenda-tenda besar tempat menyimpan stok bahan makanan yang banyak.
Para prajurit jaga yang tidak meninggalkan tempatnya, tapi pandangannya ke arah selatan, disergap dari belakang dan dibunuh.
Prak pra prak...!
Kendi-kendi berisi minyak dipecahkan di tumpukan bahan makanan.
Tidak berapa lama, api pun berkobar di tenda-tenda penyimpanan. Setelah itu, pasukan yang berjumlah dua puluh prajurit tersebut segera berlari pergi kembali masuk ke dalam kegelapan.
Ketika mereka semua sudah menghilang di dalam kegelapan, mereka pun berteriak.
“Eeeaaakkkrrr! Eeeaaakkkrrr! Hahahak...!”
Terkejutlah para prajurit Pasukan Kaki Gunung yang mendengar teriakan-teriakan ramai dari dalam kegelapan itu. Mereka kian terkejut karena api sudah berkobar besar di area tenda lumbung makanan.
“Tenda bahan makanan terbakaaar! Tenda bahan makanan terbakaaar!” teriak para prajurit yang melihat kebakaran itu.
Teriakan panik para prajurit di sisi utara seketika menarik perhatian warga kamp. Maka berbondong-bondonglah mereka ke sisi utara untuk membantu memadamkan api, sebab mereka tahu di sisi itu ada tenda bahan makanan.
“Eeeaaakkkrrr! Eeeaaakkkrrr! Hahahak...!”
Ratusan prajurit bekerja cepat untuk menyelamatkan bahan makanan yang menjadi harapan perut mereka.
Keributan baru yang tercipta di sisi utara kamp, memancing Senopati Kampala keluar dari tendanya. Kali ini wajahnya menegang marah, seperti orang tidur yang terbangun karena suara bising orang selingkuh. Belum lagi para komandannya berkumpul, sudah ada kekacauan baru.
“Lapor, Gusti! Bahan makanan kita dibakar penyusup, Gusti!” lapor prajurit tangan kanan sang senopati.
“Keparat!” geram Senopati Kampala.
Senopati memandang ke arah jauh di utara. Samar-samar dia mendengar suara teriakan dan tawa seperti setan di dalam kegelapan.
“Komandan Embo! Komandan Rungkat!” teriak Senopati Kampala keras memanggil.
Dua orang komandan yang dipanggil segera berlari datang menghadap.
“Kirim dua ratus pasukan berkuda mengejar pasukan musuh. Susul dengan dua ribu pasukan!” perintah Senopati Kampala.
“Baik, Gusti!” ucap kedua komandan itu patuh. Mereka segera berbalik dan pergi untuk menyiapkan pasukan dalam waktu secepat mungkin.
Drap drap drap...!
Dua ratus pasukan berkuda kemudian berlarian keluar dari kamp dan menuju ke sisi utara. Sebagian para penunggangnya membawa obor sebagai penerang jalan.
“Mereka mengejar dengan kuda! Cepat langsung ke sungai!” teriak pemimpin dari kedua puluh prajurit yang membakar tenda lumbung bahan makanan. Mereka tidak menyangka akan dikejar oleh pasukan berkuda yang pastinya lebih cepat.
“Eeeaaakkkrrr! Eeeaaakkkrrr! Hahahak...!”
__ADS_1
Kedua puluh prajurit itu berlarian dengan cepat sambil terus berteriak untuk menunjukkan posisinya kepada pasukan musuh.
Namun, kemarahan seolah-olah membuat Pasukan Kaki Gunung tidak peduli lagi, apakah itu jebakan atau pasukan musuh sekedar ingin membakar bahan makanan di kamp.
Drap drap drap...!
Dengan cepat pasukan berkuda datang mendekat, tepat ketika kedua puluh prajurit Pasukan Gajah Besi berlompatan ke dalam sungai. Seiring itu, suara teriakan mereka hilang.
“Lempar!”
Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari dalam kegelapan di seberang sungai.
Satu, dua, tiga.
Dug duk deg...!
Dari dalam kegelapan tiba-tiba muncul hujan batu-batu besar yang datang dari arah seberang sungai. Jumlah batunya tidak sepuluh atau dua puluh, tetapi ratusan.
“Aak! Akk! Akh...!” jerit para prajurit berkuda yang terkena hantaman batu segede-gede buah mangga.
Bukan hanya para prajurit yang menjerit, para kuda juga ikut menjerit dan kesakitan, akibatnya para kuda menjadi liar tidak terkendali.
Pasukan Kaki Gunung terkenal dengan seragamnya yang berlapis pengaman. Namun, pasukan kali ini tidak berseragam lengkap. Pengerahan mereka yang terburu-buru, membuat mereka tidak sempat untuk mengenakan perlengkapan pelindung, termasuk helm kulit. Mereka pun tidak berperisai.
Akibat dari tidak memakai lapisan pelindung, batu-batu yang menghantam mereka memberi derita yang tiada terkira. Apalagi batu-batu itu dilempar dari seberang sungai dengan pengerahan tenaga dalam. Kuda-kuda pun terkena timpukan batu.
Para prajurit itu berjatuhan dari kuda, bahkan bersama para kuda.
“Seraaangrrr!” teriak satu komando bersuara liar.
“Eeeaaakkkrrr! Eeeaaakkkrrr!” teriak banyak orang yang bersumber dari sisi kanan dan kiri pasukan berkuda, dari dalam kegelapan.
Kejap berikutnya, ratusan orang lelaki berbadan kekar-kekar bermunculan dari dalam kegelapan, di sisi kanan dan kiri pasukan berkuda yang kacau.
Semakin hancur pasukan berkuda itu. Mereka dihabisi dengan cepat. Targetnya selesai sebelum pasukan susulan dari kamp sampai di tempat itu.
Setelah membunuh satu prajurit musuh dengan tinju bertombaknya, satu prajurit Pasukan Gajah Besi langsung kabur. Itu cara kerjanya.
Ketika ratusan Pasukan Gajah Besi sudah menghilang kembali ke dalam kegelapan, seluruh pasukan berkuda sudah mati tanpa ada yang pura-pura hidup. Penyergapan itu berlangsung sangat ringkas.
Ketika Komandan Embo dan Komandan Rungkat tiba bersama dua ribu pasukannya, mereka terkejut. Keterkejutan mereka karena musuh bisa membantai dua ratus pasukan berkuda hanya dalam waktu durasi merebus telur.
“Eeeaaakkkrrr! Eeeaaakkkrrr! Hahahak...!”
Terdengar suara teriakan-teriakan liar dari seberang sungai, disertai tawa-tawa yang sangat mengejek. Itu benar-benar membuat panas kuping kedua komandan itu. Namun, mereka tetap berpikir tujuh kali ulang jika mau memaksa mengejar pasukan musuh ke seberang sungai.
“Kita mundur saja. Aku yakin mereka sudah siap di dalam air untuk menyergap kita. Kegelapan menjadi keuntungan bagi mereka,” kata Komandan Embo kepada Komandan Rungkat.
“Sepakat. Kita habisi mereka besok pagi saja,” kata Komandan Rungkat.
“Pasukaaaan, munduuur!” teriak Komandan Embo kepada pasukannya.
Kedua komandan lalu membalikkan arah kudanya. Pasukan besar itupun mengikuti perintah junjungannya.
“Eeeaaakkkrrr! Eeeaaakkkrrr! Hahahak...!”
Semakin keras teriakan-teriakan terdengar dari seberang sungai. Namun, itu sudah tidak memengaruhi keputusan kedua komandan.
__ADS_1
Rencana sergapan besar Pasukan Gajah Besi pun batal terlaksana. Padahal ratusan prajurit mereka sudah menunggu di dalam air sungai yang gelap. Ada pula ribuan prajurit yang siap di seberang sungai. (RH)