
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Kaaak!
Suara koakan burung rajawali raksasa itu didengar oleh semua penghuni Kerajaan Sanggana Kecil. Itu tanda bahwa Prabu Dira Pratakarsa Diwana alias Joko Tenang telah pulang. Bukan hanya Ratu Tirana dan para permaisuri yang merasa riang gembira, tetapi anak-anak mereka juga.
Joko Tenang pulang dengan menunggangi Gimba, burung rajawali dari Alam Kahyangan milik Joko Tenang yang diberikan oleh Resi Putih Jiwa. Joko dan Gimba tiba di Kerajaan Sanggana Kecil menjelang senja.
Para istri Prabu Dira tidak memilih menunggu, karena mereka tahu, jika menunggu, Prabu Dira tidak akan datang kepada mereka. Mereka tahu ke mana Prabu Dira langsung pergi setelah mendarat, yaitu ke Istana Ratu Serigala.
Mereka sudah hafal dengan kebiasaan suami idaman mereka ketika pulang dari suatu tempat, yaitu langsung pergi ke Istana istri yang mendapat giliran jatah ranjang. Mereka semua tahu, jika nanti sang prabu pulang, Permaisuri Sandaria yang mendapat giliran jatah ranjang.
Istana Ratu Serigala adalah sebuah bangunan indah berwarna putih bersih. Halaman depannya adalah lapangan rumput. Ada dua pohon besar yang ditanam di situ. Kedua pohon itu tidak berada di situ sejak kecil, tapi pohon besar yang dipindahkan dari hutan ke halaman Istana.
Di gerbang halaman hanya ada dua prajurit jaga, demikian pula di gerbang bangunan Istana. Di halaman itu ada sekitar sepuluh ekor serigala dengan berbagai warna. Ada yang hitam, putih total, ada kombinasi, dan ada yang berwarna kuning keemasan. Serigala-serigala itu memiliki besar seperti kambing atau harimau dewasa. Namun, ada satu serigala yang sangat besar seukuran gajah.
Serigala besar itu berwarna putih bersih dengan pupil mata warna merah. Ada sedikit warna hitam pada bagian moncong hidungnya. Di lehernya melingkar gelang kulit tebal berbandul perak berbentuk bulan sabit. Serigala milik Permaisuri Sandaria itu bernama Bulan.
Bulan ibu dari beberapa serigala muda yang sibuk bermain di halaman Istana yang luas. Bulan sendiri memilih rebahan di bawah pohon besar sambil mengawasi anak-anaknya dan anak serigala lainnya.
Siapa yang berani datang mengacau ke Istana Ratu Serigala jika yang menjaga adalah para serigala besar? Jangan dijawab!
Serigala paling besar bukanlah Bulan seekor diri. Masih ada empat serigala lain yang bahkan lebih besar fisiknya. Keempat yang lain itu ada yang berada di dalam Istana, ada juga yang berada di halaman belakang. Ada pula satu serigala yang suka berdiam di atap Istana yang terkadang melolongi bulan di tengah malam.
__ADS_1
Ratu Tirana datang ke Istana Ratu Serigala bersama Permaisuri Nara dan dua anak, lelaki dan perempuan. Anak lelaki berusia sembilan tahun dan sudah memiliki ketampanan yang tinggi. Dia bernama Pangeran Getar Jagad, putra dari Permaisuri Getara Cinta yang bergelar Permaisuri Darah Suci.
Pangeran Getar Jagad sedang ditinggal lama oleh ibunya. Permaisuri Getara Cinta sedang mendapat misi ke Kerajaan Bhumi Campa bersama dengan Permaisuri Sri Rahayu yang bergelar Permaisuri Asap Racun.
Sementara anak perempuan yang berusia enam tahun bernama Putri Ginang Selaksa. Meski dia anak dari seorang ratu untuk tahun ini, tetapi dia memiliki julukan Tukang Ompol di kalangan saudara-saudaranya. Namun, itu tidak membuatnya merasa di-bully. Itu karena kehebatan ibunya dalam memberikan sugesti kepada sang anak.
Permaisuri Kerling Sukma alias Permaisuri Mata Hijau yang bermata hijau terang, datang bersama Permaisuri Yuo Kai yang berjuluk Permaisuri Negeri Jang. Kedua wanita cantik jelita itu membawa anaknya masing-masing.
Permaisuri Kerling Sukma membawa Putri Hijau Sukma yang berusia delapan tahun. Sementara Permaisuri Yuo Kai membawa putranya Pangeran Tutsi Chang Kok yang berusia empat tahun. Wajahnya sangat berbeda. Putih bersih dan bermata sipit.
Permaisuri Ginari alias Permaisuri Tangan Peri datang seorang diri. Tidak ada anak yang dibawanya. Dia memang belum memiliki anak selama sepuluh tahun menikah. Bukan mandul, tetapi memang belum ingin punya anak dengan dalih fokus berlatih. Maklum, dia pernah kehilangan seluruh kesaktiannya. Jangan ditanya bagaimana caranya berhubungan agar aman dari kehamilan!
Sementara Permaisuri Kusuma Dewi alias Permaisuri Pedang datang bersama putranya yang bernama Pangeran Angling Kusuma yang berusia delapan tahun. Anak itu paling suka membotaki kepalanya.
Selain Permaisuri Getara Cinta dan Permaisuri Asap Racun yang tidak berada di Kerajaan, Permaisuri Dewi Ara alias Permaisuri Geger Jagad juga sedang tidak di rumah. Dia dan putranya, Pangeran Arda Handara yang kini telah menjadi raja muda, sedang berkuasa di Kerajaan Kabut Kuning di Negeri Pulau Kabut.
Kedatangan banyak tamu, jelas membuat Permaisuri Sandaria alias Permaisuri Serigala begitu senang. Sambil tertawa nyaring dan heboh, dia menyambut hangat Ratu Tirana dan Permasuri Nara alias Permaisuri Mata Hati, juga para permaisuri yang lain.
Permasuri Nara dan Permaisuri Sandaria sama-sama buta. Namun, jangan ditanya tentang cara kedua wanita sakti itu melihat.
Sosok Permaisuri Sandaria adalah sosok wanita cantik jelita yang serba mungil. Tubuhnya yang mungil membuat kecantikan parasnya yang jelita dan seputih susu pun serba mungil. Hidungnya mancung tapi mungil. Bibirnya mungil menggemaskan. Sepasang alisnya tipis tapi warnanya begitu hitam pada wajah yang seputih susu. Sepasang kelopak matanya tertutup seperti orang tertidur dengan bulu mata yang lentik dan agak panjang. Jubah kuning berbulu tebal masih menjadi pakaian favoritnya.
Rambut keriting lebatnya dikepang dan ditata unik, sehingga kulit kepalanya yang putih terlihat dalam pola beberapa garis, membuat kecantikannya lebih memesona dibandingkan masa gadisnya. Karena sudah menjadi seorang ibu yang menyusui, ukuran dadanya tentu semakin besar dibandingkan di kala masa gadisnya.
Di tangan kanan Permaisuri Sandaria terpegang sebuah tongkat kecil berwarna biru terang, yang pada bagian ujung atasnya ada selingkar tali merah yang melingkar menyatu pada pergelangan tangan.
__ADS_1
Permaisuri Sandaria memiliki anak perempuan berusia enam tahun bernama Putri Sisilia. Meski dia kecil dan kurus, tetapi kecantikannya sudah terlihat dari pupil matanya yang biru, hidung mungilnya yang mancung, dan yang agak aneh adalah rambutnya yang semuanya berwarna putih. Itu bukan uban, tetapi kata ibunya itu mewarisi jenis rambut neneknya.
Ketujuh istri Prabu Dira itu duduk berkumpul di satu ruangan megah dan luas. Di salah satu sudut ruangan ada seekor serigala berbulu abu-abu dengan mata berwarna ungu. Dia berkalung seperti Bulan, tetapi bandulan peraknya berbentuk bintang. Dia bernama Bintang, suami dari Bulan.
Sementara itu, anak-anak, para pangeran dan putri, bermain bersama dengan para serigala yang jinak kepada mereka. Para pangeran dan putri termasuk majikan dari para serigala tersebut.
“Di mana Kakang Prabu, Permaisuri Serigala?” tanya Ratu Tirana lembut.
“Sedang membersihkan diri, Gusti Ratu,” jawab Permaisuri Sandaria sembari tersenyum lebar, menunjukkan kebahagiaannya.
“Kau tidak ikut mandi bersama Kakang Prabu?” tanya Permaisuri Nara dengan ekspresi wajah yang datar.
“Eh iya. Hihihi!” kejut Permaisuri Sandaria terkejut baru tersadar, lalu tertawa cekikikan. “Tapi, tidak sopan meninggalkan Gusti Ratu dan Permaisuri Guru.”
“Kita sudah tahu rahasia madu kita masing-masing. Jadi tidak usah malu, Sandaria,” kata Permaisuri Kerling Sukma.
“Hihihi! Baiklah. Aku mohon izin, Gusti Ratu, Permaisuri Guru. Aku tidak akan lama,” izin Permaisuri Sandaria sambil tertawa cekikikan dengan hidung direngutkan.
Clap!
Tahu-tahu Permaisuri Sandaria menghilang begitu saja.
“Eh! Sandaria!” sebut Prabu Dira yang sedang mandi di lima pancuran di sendang dalam Istana Ratu Serigala itu. Kondisinya buto.
“Aku mendapat izin dari Gusti Ratu untuk menemani Kakang Prabu mandi bersama. Hihihi!” kata Permaisuri Sandaria sambil bergerak gesit menanggalkan pakaiannya, sehingga dia pun ikut buto. Jangan dibayangkan seperti apa kemungilan yang disuguhkan oleh Permaisuri Serigala kepada suaminya!
__ADS_1
“Hahaha!” Prabu Dira hanya tertawa pelan bernada jumawa melihat tindakan istri termungilnya itu. (RH)